Day 6 in Norway, “Two Bridges to Fredvang”

12 September 2018: Reine, Fredvang
Ada perasaan lega saat kami terbangun. Hari keduabelas di Norway, dan kami udah menyaksikan Northern Lights menari-nari di atas Reine. Di atas Reine! Desa yang emang dari awal ngerencanain perjalanan jadi tempat yang paling diidam-idamkan. Setelah dari pagi mendung, kok ya malamnya langit bisa secerah itu. Obrolan sebelum berangkat ke Norway sempet dibahas kalo sampai dua belas malam di Arctic Circle nggak kesampean lihat Northern Lights, kami rela deh nanti di Tromsø keluar sekian juta lagi buat ikut tour. Ehehehehe.
Ah iya, ada satu hal yang mau saya bahas tentang adaptasi. Saya percaya kalo tubuh seseorang itu bisa dengan sendirinya beradaptasi dengan aktivitas. Lima pagi sebelumnya, setiap bangun tidur saya selalu ngeluh karena badan yang selalu capek, selalu pegel-pegel, selalu ngerasa kurang tidur. Baru kerasa (lumayan) seger setelah dipaksa mandi, dan kerasa melek setelah kena kopi. Tapi pagi itu beda, badan nggak terlalu ngambek, kalo diliat liat di kaca juga muka saya nih, nggak muka bantal amat. Padahal pas saya cek di Health App di iPhone, hari sebelumnya saya sampe jalan kaki 29.5 kilometer sebanyak 42,820 steps! Seneng ngerasa nggak terlalu capek, karena hari itu kami berencana untuk hiking lagi.
Setelah sarapan dengan nasi dan Gudeng Kaleng andalan, kami bersiap-siap buat hiking. Tujuan kami adalah Reinebringen. Tempat hiking ini termasuk salah satu tempat hiking favorit setiap traveler saat ke Lofoten, karena di puncaknya bisa lihat desa Reine dengan gunung-gunungnya yang khas, Reinevatnet (Lake Reine) di atas gunung, dan tentu aja Reinefjord. Nggak terlalu tinggi, tapi beberapa artikel yang saya baca levelnya difficult, karena banyak tanjakan curam dan licin.
Di artikel Mas Cody Duncan, di 68north, udah diwanti-wanti kalo track menuju Reinebringen itu udah parah banget, banyak batu-batu sampe longsor karena dipijak. Tapi ya karena namanya udah kebayang-bayang bagusnya puncak Reinebringen, kami nekat untuk berangkat ke sana. Insyaallah kalo hati-hati bisa sampe puncak dengan aman.
Sebetulnya, saya udah baca di postingan Mas Cody kalo untuk sementara track ke Reinebringen ditutup karena lagi ada perbaikan. Biarpun saya udah tau, tapi sengaja nggak bilang sama si Adit sih. Jadi rencana langsung dateng aja, mana tau track udah dibuka. Tapi kalo memang masih ditutup, yasudah nggak usah maksa. Kalo urusan keselamatan nggak bisa ditawar lagi.
Traihead Reinebringen bisa kamu temukan di hyperlink ini, dan jaraknya nggak terlalu jauh dari Airbnb kami. Tapi, belum juga kita sampe Trailhead, tepat di persimpangan jalan dari arah jalan masuk ke Reine udah ada papan pengumuman di tepi jalan: Reinebringen is closed! Dan track ditutup sampai 30 September 2018. Hahahaha, nggak percaya sih lu Bar sama Mas Cody.

Batal hiking ke Reinebringen membuat kami harus ngecek ulang itinerary, bahkan diatur ulang kalo perlu. Ternyata untuk hari keenam, saya nggak cuma naruh satu tempat hiking, tapi tiga! Jadi keinget pas trip ke New Zealand, hari kelima saya bikin satu hari hiking di tiga tempat: Roys Peak, Rocky Mountain, dan Mount Iron. Padahal pulang dari Roys Peak pada tepar semua. Ternyata kali ini saya juga bikin tiga tempat hiking dalam satu hari. Pagi di Reinebringen, dan dua lagi saat sudah di Fredvang: Mount Ryten dan Røren. Dengan embel-embel ke Adityo seperti biasa, “Yaah, dicoba dulu ntar kalo capek ya udah nggak usah dilanjut.”
Jadi, gimana kalo kita langsung ke Fredvang aja, dari pada kelamaan di Reine? Toh juga nggak jadi hiking. Biar wacana untuk hiking di tiga tempat bisa terealisasi. Rencana awal yang naik bus dari Reine ke Fredvang jam 16.20, kita geser aja dengan bus yang nggak terlalu sore.
Masih jam 09.30, bus yang rencana kami naikiin jam 16.20 adalah bus yang sama kami naikin dari Å kemaren, bus 18-742 dengan tujuan akhir Leknes, yang akhirnya kita geser untuk naik bus 300 yang berangkat jam 12.10 dengan tujuan akhir Narvik. Masih dua jam lebih jadi kami putuskan untuk menikmati tepi Reinefjord dulu.

From all villages I visited in Lofoten back in September 2018, Reine is my favorite. The afternoon before, I might see its gloom after the rain. It had dark skies and cloud hanging above the fjords. The cold wind gave me shivering, but the night amazed me with all the hopes I could wish above my head: The milky way, the shooting stars, and the Northern Lights.
And the morning after: all the clouds gone, all the glooms disappeared, blue skies hanging, birds chirping. Reine is the hometown of all beauties to me.

Dan tentu saja…
A special photo by: Prabowo Adityo
Sudah saatnya berpisah dengan Reine, jam 10 lebih kami check out dari Airbnb. Bus 300 masih dua jam lagi. Sebelum ke Fredvang, kami mau mampir ke salah satu desa yang lokasinya berseberangan dengan Reine, Hamnøy. Dan emang satu arah kalau mau ke Fredvang. Jarak Hamnøy dari Airbnb kami adalah 4 kilo dan kami mau jalan kaki aja, sekalian mampir ke swalayan andalan kami, Coop, karena tas duffel udah kerasa enteng.
Beres belanja dan tas duffel kembali penuh dan berat dan sesak, saya rasa ini perjalanan dengan nenteng tas duffel paling berat kedua setelah perjalanan lima kilo Moskenes Ferry Port ke Å. Karena cobaannya emang nggak seberat waktu malem-malem jalan ke Å, tapi berat tas duffel kerasa kek kembali ke semula. Udah gitu harus ngelewatin beberapa jembatan yang bahu jalan buat pejalan kaki super sempit. Sementara tas duffel paling enak dibawa sambil jalan bersebelahan.
Ini view yang nemenin kami saat jalan kaki dari Reine ke Hamnøy…
One lamp for one seagull.
Perjalanan dari Reine ke Hamnøy saya hitung ngelewatin sampai lima jembatan, sempet juga mampir ke desa Sakrisøy yang punya icon rumah cantik berwarna kuning tua pucat dengan latar belakang gunung runcing (yang sering saya liat di Instagram). Tapi nggak sempet mampir, selain kelupaan, juga rasanya pingin cepet sampe Hamnøy.
Daan, sampailah kami di Hamnøy. Nggak perlu masuk jauh-jauh untuk dapet view cantik di Hamnøy, karena kebanyakan Hamnøy berisi rorbuer (penginepan).

Reine from Hamnøy.
Bus 300 yang kami tunggu pun akhirnya datang jam 12.30. Lumayan telat dari jadwal di tromskortet, tapi enaknya tuh jadwal bus di website ini bisa dipantai secara realtime. Jadi biarpun lumayan gelisah kok bus nggak datang-datang, bisa dicek di website udah sampe mana bus yang kita tungguin.
Perjalanan dari Hamnøy ke Fredvang nggak jauh, cuma 20 menit aja. Tapi udah beda municipality, kalo google translate bilang, municipality dalam Bahasa Indonesia artinya Kotamadya. Å sampe Reine masih di Moskenes, kalo Fredvang masuk ke Flakstad. Moskenes dan Flakstad sendiri sebenernya masih di sekitaran Lofoten selatan.
Salah satu jalan E10. Mikir ulang kalo mau jalan kaki, nggak ada bahu jalannya.
Perjalanan 20 menit ini kami bayar dengan biaya 74 NOK. Dan pemandangannya bagus banget, kami menyusuri fjord dan tebing, juga gunung-gunung tinggi di kejauhan. Karena perjalanan juga cuma bentar, nggak mungkin juga ketiduran dengan pemandangan sewah ini.
Kami turun di bus stop Fredvang. Bukan di Fredvangnya sih, tepatnya di Fredvang kryss, dalam Bahasa Betawi, Fredvang Cross, kadang ditulis Fredvang x. Fredvangnya sendiri sebenernya masih beda pulau. Dari Fredvang kryss kita bisa naik bus nomor 18-771 yang nyambungin antara Fredvang kryss ke Fredvang sentrum. Rutenya dari Bergland (desa yang lebih ke sono lagi dari Fredvang) menuju Ramberg skole (Ramberg school). Tapi kalo mau nungguin bus ini kami harus rela nunggu sejam lebih lagi. Jadi tentu saja kami berjalan kaki!
Kenapa namanya Fredvang kryss? Karena untuk sampai di desa Fredvang kita harus nyebrang jembatan, tak hanya satu, tapi dua! Dan kedua jembatan inilah yang menarik minat saya buat mampir ke Fredvang. Kalo ditotal nih, dari Fredvang kryss sampe Fredvang sentrum jaraknya tiga kilo saja. Saja? Hahahaha. Dengan ransel dan tas duffel yang udah kembali ke bentuknya yang penuh sesak, tiga kilo tak seperti tiga kilo biasanya.
Ohiya, kalo kamu punya drone, wajib diterbangin di sini. Kamu bisa dapet dua jembatan Fredvang dengan latar belakang gunung runcing yang unik. Dua jembatan Fredvang ini udah sering banget seliweran di Instagram. Sayangnya, memang harus pake drone. Padahal saya udah siap buat hiking kalo view dua jembatan dari atas ini bisa didapet dengan hiking.

Photographed by Adityo Prabowo.
Tak perlu nunggu lama-lama lagi, kami jinjing tas duffel dan segera menyeberang ke Fredvang. Selain kami berdua ada juga satu orang turis laki-laki berambut pirang dengan carrier besarnya yang juga berjalan melintasi jembatan.
Sambil sesekali kalo ada mobil melintas, kami mencoba melambaikan tangan sambil ngacungin jempol ke arah atas. Saya lupa ini percobaan hitchhike kami yang keberapa, tapi baru sekitar seratus meter kami melewati jembatan, sebuah sedan biru tua ngerem mendadak dan menepi. Yeay! Kami dapat tumpangan.
Buru-buru kami berlarian menuju sedan itu, ada dua laki-laki duduk di kursi depan. Saya langsung melompat masuk, bahkan ransel nggak sempat saya lepas, duduk di kursi belakang dengan posisi miring biar ransel muat ke dalem mobil.
Hello! Thank you for picking us up.” Saya menyapa mencoba ramah.
You’re going to the centrum?”
Yes, that would be perfect.”
Sebenernya saya nggak ngerti centrumnya di mana. Jadi karena lokasi Airbnb kami udah disave, saya cuma mantengin di maps.me, sepanjang tujuan kami searah dengan Airbnb, ya kami ngikut aja. Kalo tiba-tiba arah mobil berbeda arah dengan Airbnb kami, baru deh kami minta turun.
Bapak dan anak ini dari Jerman, Frankfurt tepatnya. Lagi liburan berdua dan nyewa mobil di Leknes (atau Harstad, saya lupa), dan lagi keliling Lofoten. Enak juga ya, kalo sewa mobil begitu mau ke mana aja kapan aja. Kalau nggak salah mereka cuma dua hari aja di Lofoten. Malam hari nanti mereka mau nginap di Reine.
Mobil menepi di Fredvang Sentrum, dan Airbnb kami kelewatan 20 meter.
Danke, Herr!” Saya menutup perjumpaan kami dengan skill Bahasa Jerman hasil belajar kelas 1 SMA dulu. Kami sampai di Fredvang, sebuah desa di Flakstad Municipality, Nordland County.
Bina, host Airbnb kami tidak begitu komunikatif, dijapri lewat Airbnb juga nggak begitu responsive, agak lama. Dia cuma bilang kalo tempat kami nginap berbentuk Rorbuer besar di dekat Sentrum. “You won’t miss.”
Setelah mondar-mandir di sekitaran Centrum, kami nemu sebuah penginapan berbentuk rumah-rumah besar khas Lofoten dengan kayu-kayu berwarna merah tua, dengan tulisan di sisi depannya, “Lydersen Rorbuer”. Ada tiga bendera yang dikibarkan di dekat pintu masuknya: bendera Norway, bendera Jerman, dan satu lagi saya kurang familiar berwarna biru-putih-merah horizontal. Rorbuer ini tepat di tepi fjord dengan latar belakang gunung runcing unik yang saya ceritakan tadi (kalo kamu nyimak).

Receptionist ada di lantai dua, karena nggak tau kamar kami di mana, jadi tas duffel yang sebenernya mau saya tinggal aja di bawah terpaksa saya ikut bawa naik. Receptionist kosong, dan setelah menekan bel beberapa kali, seorang wanita gemuk dan berambut pendek di atas bahu, datang dari salah satu kamar di ujung ruangan.
Hello.” Dia tersenyum ramah. Saya memperkenalkan diri. Gina bilang saya memang sudah ditunggunya. Dengan gaya bicaranya yang sambil tersenyum, saya langsung bisa menilai kalo dia wanita yang ramah.
You room is ready, we don’t have a lot of guests today so I upgrade your room. Come! Let me show you your room, it’s downstairs.” Waaah! Baik kali kakak ini ah! Seperti biasa kami selalu cari tempat nginap yang murah, dan udah persiapan kalo bakal dapat kamar dorm. Sebenernya kami nggak tau bakal dapet kamar tipe apa, karena di Airbnbnya nggak tertera jelas jenis kamarnya.
Kamar kami tepat di tepi fjord, dengan view langsung menghadap gunung runcing unik yang saya ceritain tadi (sekali lagi, kalo kamu nyimak. Ehehehehe.) Gunung ini ada namanya kok, kalo nggak salah Volandstinden, dan tentu saja bisa didaki. Trailheadnya ada di deket desa Skjelfjord.
Kamar kami luaaas. Dua single beds, dapur lengkap dengan peralatannya, meja makan dengan dua kursi, sebuah sofa untuk dua orang, dan tentu saja heater. Ah, makasih banyak pokoknya ya Bina!
Tapi pas kami nyiapin makan siang, kami nggak nemu cooking oil. Sempet kepikiran mau minta Bina tapi diintip-intip dari pintu kamar kok nggak keliatan. Akhirnya kami milih Indomie goreng Jumbo untuk makan siang ditambah telur rebus. By the way, ini adalah Indomie goreng terakhir kami. *sad
Beres makan siang kami siap untuk hiking. Jarak dari Airbnb kami sampai ke Trailhead sebenernya lumayan juga, 2.8 kilo. Masih jam 3 sore dan kami nggak terburu-buru karena langit gelap juga baru jam 9 malam. Jalan menuju Trailhead sangat cantik karena kami menyusuri fjord ditemenin sama si gunung runcing unik.
Ada dua titik Trailhead yang berdekatan. Satu menuju Mount Ryten, satu lagi menuju Kvalvika Beach. Sebenernya dua-duanya nanti juga nyambung sih. Kvalvika Beach memang lokasinya berdekatan dengan Mount Ryten. Semuamua yang mau kamu ketahui tentang hiking di Mount Ryten bisa dibaca-baca di tulisan saya di sini ya.
Track di awal-awal lumayan banyak yang berlumpur, bahkan ada beberapa tempat yang berupa kubangan lumpur, tapi untungnya udah dipasang kayu-kayu yang saling nyambung dibuat semacam jembatan agar mudah dilewati.

This slideshow requires JavaScript.

Kami nggak terlalu banyak berpapasan dengan hikers lain, satu dua orang aja yang bepergian dalam jumlah kecil.
Kita ketemu beberapa pesimpangan track, yang tujuannya antara ke puncak Mount Ryten atau ke Kvalvika Beach. Kami memang berencana untuk sampe ke Kvalvika Beach, tapi nanti aja deh kalo udah turun dari puncak Mount Ryten.
Sekitar dua kilo mendaki dan di sisi kiri kita sudah mulai kelihatan Kvalvika Beach!
Kvalvika Beach from Mount Ryten.
Ah, alam Lofoten semakin kami menjelajah, semakin menunjukkan sisi alam yang menakjubkan. Sepanjang pendakian di Mount Ryten, di kejauhan gunung-gunung seperti saling bersinggungan, saling berburu untuk menggapai awan, padahal langit sedang cerah. Gunung berwarna abu-abu gelap berselingan dengan rumput yang sebagian berwarna emas, menggeser rerumputan hijau yang mulai layu.
Karena langit cerah, kami terpaksa harus berhenti setiap beberapa menit. Alasannya hanya kami tak ingin melewatkan pemandangan di belakang kami, sementara puncak Mount Ryten setinggi 450 meter di atas permukaan laut sudah mulai terlihat.

Satu jam lebih kami mendaki, dan kami sampai di puncak Mount Ryten! Kami bisa melihat Kvalvika Beach yang pasirnya sudah berwarna gelap karena tertutup bayangan gunung. Banyak yang bilang kalau ke Mount Ryten paling tepat saat sekarang ini, sore saat menjelang matahari tenggelam. Agar bisa menyaksikan Kvalvika Beach dengan backdrop matahari yang mulai tenggelam di balik gunung besar.
Tapi saya sendiri lebih suka membayangkan Kvalvika Beach pas pagi hari, jadi sinar matahari beneran lagi menyinari Kvalvika Beach, untuk foto pun mengurangi risiko backlight.
Ini beberapa foto yang saya dapat di puncak Mount Ryten

This slideshow requires JavaScript.

Kami memutuskan untuk turun karena sudah jam 4 sore, biar bisa sampai di Airbnb sebelum gelap. Karena cuaca masih cerah, kami pingin segera makan malem dan nyiapin perlengkapan buat berburu Northern Lights.
Akhirnya setelah berdiskusi lumayan panjang, kami mencoret Kvalvika Beach. Paling nggak harus nambah waktu satu jam lagi kalo kami mau turun ke Kvalvika Beach. Pas turun ini, sempet kami istirahat, ada sepasang laki-laki perempuan yang nyalip, kami senyumin aja kasih tanda beremeh temeh. Dan si perempuan tiba-tiba menyapa, “Ni hao..”
“Noo, I’m not Chinese.” Saya membalas sambil tertawa ringan.
Errr.. Korean?”
Saya menggeleng.
Japanese?”
Hahahah.. No, keep trying.”
Menyerah, dan dia hanya membalas ketawa sambil melanjutkan perjalanan.

This slideshow requires JavaScript.

Tepat saat saya sampai di bawah Mount Ryten, tumit kiri gue kambuh! Sama kayak saat hari keempat di Bodø. Setiap kaki kiri melangkah kerasa nyut-nyutan. Karena udah di jalan aspal, dan perjalanan pulang ke Airbnb, jalan saya sampe ketinggal jauh sama si Adityo. Cuma nyengir-nyengir doang tiap kali si Adit berhenti nungguin saya jalan nyusul.
Sampe di Airbnb dan saya langsung lepas sepatu dan ke kamar mandi. Itu tumit disemprot pake air dingin kerasa enak banget, berasa dipijit.
Sudah mulai gelap dan kami segera nyiapin makan malem. Karena nggak ada minyak goreng, akhirnya kami cuma makan nasi pake telur rebus sama sambel bajak. Still tastes good.
Beres makan kami keluar Airbnb buat ngecek cuaca, dan mendung sekali sodara-sodara! Sangat berbeda dengan seharian saat kami hiking di Mount Ryten. Perasaan pas kami turun dari Mount Ryten, cuaca masih cerah. Ada sih awan-awan, tapi nggak mendung juga.
Bahkan hujan juga saat malem harinya. Saya yang udah males, selesai sholat langsung selimutan sambil merem-merem. Si Adit yang masih ngarep bisa lihat Northern Lights bolak-balik keluar kamar. Entah berapa kali, nggak saya itungin karena saya sendiri langsung ketiduran.

Click here to read all my stories in Norway.

23 thoughts on “Day 6 in Norway, “Two Bridges to Fredvang”

    1. Barusan udah diubleg ubleg di HP atau kamera ternyata nggak sempet motoin rorbuer bagian dalemnya nih Mas. 😁

      Hahahaha. Jangan jangan karena aku nggak bilang orang Indonesia, dia tetep ngira aku orang Asia Timur tapi denial.

      Wah, belum perlu pake beha kan tapi Mas? Wkwkwkwk.

      Thank you Mas Nug, udah ngikutin cerita saya sejauh ini. Hehehehehe. Setengahnya aja belom padahal. 😁

      Like

      1. Ah, tulisan mas selalu rame kok 😀
        Maklum mas, aku memang suka travel stories luar negeri yang bersambung kayak gini, udah jarang banget. Sekarang kebanyakan pada eksplor daerah dan udah nggak banyak yang pure travel blogger.

        Like

      2. Eksplor tempat yang nggak jauh dari rumah, lalu biasanya satu tulisan bahas satu tempat. Ini bukan masalah bagus atau jelek sih, cuma selera aja. Dari kecil emang udah minatnya sama geografi internasional 😀

        Like

      3. Oohiyaiya. Tapi kalo dilihat dari traffic Mas, kalo aku bikin tulisan tentang satu kota, wisatanya ke mana aja, atau weekend di kota mana ke mana aja, kuliner apa aja. Eh lebih banyak viewersnya. Wkwkwkwk.

        Like

    1. Halooo. How am I supposed to call your name? 🙂
      Iya setuju banget, dan nggak nyangka satu hari satu malem di Reine ketemu banyak moodnya. Kurang pas ketutup salju kali ya? Hahahaha.

      Like

      1. Apa ??? Setengahnya belum ??? Aduhhh mintak tolong kali aku jangan tulis lagi bang… makin ga tahan aku nanti nengoknya… 😂

        Like

  1. Pengalamanku pake maps.me kurang oke hahaha. Sempat dibuat nyasar. Eh ini kayaknya karena akunya yang gak bisa baca peta lol. Atau juga karena hape yang sudah sekarat dan memang saat dipake suka error.

    Soal ditebak sebagai orang Tiongkok, Korea atau Jepang aku juga udah “kenyang” padahal kulitku ireng hwhw.

    Fotonya cakep. Kayak di kartu pos owoooow

    Liked by 1 person

    1. Waktu di mana Mas? Aku selama bepergian selalu lancar-lancar aja pake maps.me, malahan bisa meng-cover tempat-tempat yang nggak muncul di googlemaps. Tapi consume batrenye memang boros banget sih.

      Hahahaha. Mungkin kita mirip orang Asia Timur yang sering berjemur Mas. Wkwkwkwk.

      Iya Mas, sampe pingin dicetak di kanvas, sekitar 400 ribuan sama bingkainya. Tapi ya belum sempet terlaksana juga. Hahahaha.

      Like

Leave a Reply to Matius Teguh Nugroho Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.