Menantang Sadisnya BTS Ultra 2019

BTS will be dusty they say…
BTS will be full of dirt they say…
Itulah kata-kata yang sering kali saya dengar setiap kali bercerita akan ikut salah satu trail race yang katanyaaa… dari tahun ketahun terbilang sukses. BTS Ultra (Bromo Tengger Semeru Ultra, dengan tagline mereke Brutal Sadistic Torture), memang menjadi trail race yang sudah saya idam-idamkan sejak tahun lalu. Setelah memantapkan hati, saya sepakat dengan diri saya sendiri untuk menjadikan BTS Ultra target utama race tahun 2019. Selain saya yang bisa dibilang sangat newbie di arena trail, BTS Ultra juga menjadi race pecah virgin jarak ultra bagi saya: kategori tujuh puluh kiloh, broh!
Walaupun sebetulnya, wacana untuk pecah virgin ultra ini sempat ter-distract oleh MesaStila 100, yang dengan polosnya saya mengupgrade kategori yang awalnya ambil 42K untuk latihan BTS, menjadi 65K, hanya dengan embel-embel dari senior saya, Bang Roy, “Lu tuh udah finish Mesas 42 tahun lalu dengan catatan waktu nggak buruk, ya apa lagi yang dicari? Jangan takut DNF, urusan trail, DNF itu biasa.” Dan betul, MesaStila 100 saya DNF (Did Not Finish). Cerita lengkapnya tanpa malu-malu sudah saya ceritakan di sini.
runmdn at BTS Ultra
Introducing my running buddies: Mi Familia, runmdn! Ada Bang Goklas, Bang Asta, Maria, Andri, dan Faza.
Senang kali mereka mau menyempatkan jauh-jauh dari Medan sampai Probolinggo, ikut turun di BTS. Bisa bersamaan bareng mereka pun sebenernya kebetulan. Dari tahun lalu udah mulai kompor-mengompor dengan partner race di runmdn, Bang Asta, dan deal! Nggak cuma Bang Asta, racun buat pada turun di BTS juga diterima Bang Goklas, dan teruuuus meluas sampai Maria, Faza, dan Andri. Saya, Bang Asta, dan Bang Goklas ambil kategori 70K, lalu Maria, Faza, dan Andri ambil kategori 30K. Jadilah kami dua tim: trio 70, dan trio 30.

This slideshow requires JavaScript.

Selain udah janjian dengan wankawan runmdn, banyak juga ketemu temen-temen lain di BTS, Ada Bang Roy yang ambil 102K, Yohanes ambil 102K, Alief ambil 70K, Ayu ambil 30K, RBS ambil 30K, Ko Theo ambil 30K, lalu temen-temen dari Bocah Playon Gunung (BPG @bocahplayongunung), ada Mas Ari dan Mas Yannu yang bareng ambil 70K. Rame ya?
Saya DNF di MesaStila 100 di WS (Water Station) 2 di Wekas. DNF itu sedih, sakit, tapi terhormat. Dengan DNF kita tahu seberapa kemampuan fisik dan mental kita. Dengan DNF kita tahu target dan strategi baru kita. Jadi, mari kita membicarakan target dan strategi di BTS.
Adalah munafik kalo saya bilang target saya di BTS “yang penting finish”. So, let me cut the crap. Saya punya target untuk finish di BTS dengan catatan waktu 16 jam dari COT finish yaitu 18 jam. Ada satu CP (Check Point) yang punya COT, yaitu di CP 3 di Ranu Kumbolo, pada KM 27.7. COT yang diberlakukan adalah 7 jam.
COT (Cut Off Time) adalah waktu paling akhir bagi peserta untuk mencapai di titik-titik tertentu, bisa CP, WS, dan tentu saja garis finish. Kalau posisi COT di CP atau WS, terkadang ada juga yang menyebut COP (Cut Off Point).
COT di CP 3, KM 27.7, selama 7 jam. Sangat mirip dengan COT WS 2 di MesaStila 100, bedanya elevation gain di MesaStila pada WS 2 sudah mencapai 2,200 meter. Ehehehehe..
Selepas CP 3 udah nggak ada lagi COT, sisa waktu COT dari 18 jam keseluruhan, yaitu 11 jam tinggal dihabiskan di 42K sisanya. Nggak 42K juga sih, karena melihat GPX yang dishare panitia di website resmi BTS, kategori 70K nggak sampai 70K, didiskon 1.5K. Jadi total jarak hanya 68.5K. (HANYA?)
Satu lagi soal strategi, tentang B29. Salah satu puncak yang menjadi tantangan sekaligus teror buat seluruh peserta BTS. Puncak dengan ketinggian 2,690 (based on my Strava) menjadi salah satu kesulitan kami. Karena puncak ini akan ditempuh dalam jarak 800 meter dan elevation gain 380 meter. Lumayan curam kaaaan? (LUMAYAN?)
Sebetulnya, tantangan B29 tidak hanya ketinggiannya yang curam. Tapi justru pada sempitnya track. Saat di salah satu sisimu bukit tinggi, sisi yang lain adalah lereng curam. Jadi, susah banget kalo mau nyalip. Harus nemu di titik-titik tertentu yang lumayan lengang atau saat di kelokan. Strategi B29 cukup mudah sebenernya: ngebut di awal. Karena lokasi awal pendakian B29 berada di KM 5, tenaga bakal masih penuh. Tapi hati-hati, jangan terlalu ngebut, habis pulak tenagamu itu! Nggak ada tenagamu nantik buat mendaki B29!
Jadi, beginilah perbandingan empat kategori di BTS 2019…
Untuk detil map dan elevasi kategori 70K, bisa kamu lihat di gambar di bawah ini… Gambar-gambar ini, saya comot langsung dari website resmi btsultra.com
“Mas Bardiq, prolognya kelamaan ah.”
Iyee iye, sabar. Ayok lanjut ke segment berikutnya…
Desclaimer: Loooong Post ahead. Mari dibookmark dulu!

REGISTRATION

Namanya trail, racenya selalu tidak murah. BTS menjadi pembuka race yang pernah saya ikuti dengan biaya yang menembus satu juta rupiah. Kategori 70K dibandrol dengan harga 1,050,000 IDR untuk early bird, dan harga regulernya mencapai 1,300,000. Nggak mau kehilangan 250 ribu. Saya pun mendaftar dengan sangat early. Saya mendaftar di urutan kesepuluh dan bermodalkan certificate dari MesaStila Peaks Challenge 2018, finisher 42K.
Jadi, BTS memang ketat dalam memilih peserta. Peserta saat mendaftar di salah satu kategorinya, harus dianggap mampu dulu oleh panitia. Jadi nggak sembarangan pelari bisa asal mendaftar di salah satu kategorinya. Harus memenuhi kualifikasi pengalaman yang dipersyaratkan dari masing-masing kategori. Saya misalnya, qualified untuk mendaftar di kategori 70K karena telah finish di karegori trail 42K. Rincian detil kualifikasinya saya screenshotkan buat kamu ya. Nih…

PREPARATION

Tahun lalu, setelah beres MesaStila Peaks Challenge 2018, saya sempet ngobrol sama Mbak Santih Gunawan. Ada satu pesan yang sangat mengena buat saya, dia bilang begini, “Kalau mau ikut race trail, ya latihannya harus trail. Nggak bisa kita mau trail tapi latihannya cuma di road.”
And I was like… okay. Yes. I understand. Yes. Yes. *manggut manggut
Jadilah mulai pertengahan tahun 2019, diajak temen-temen dari BPG. Saya wira wiri tektok ke beberapa gunung di sekitar Jawa Tengah. Yang paling sering ya ke Gunung Andong, ngeloop 2-3 kali. Bahkan lima minggu sebelum BTS saya ngetrail di gunung terus. Hajaaaar! Walaupun selama Agustus berubah haluan ke road dulu karena perlu latihan untuk Bali Marathon.
Jangan lupa, untuk urusan trail, latihan core sangat berpengaruh, apalagi saya nggak pake trekking pole. Ini kerasa banget pas di tanjakan. Biasanya saya (lumayan) rajin plank dan knee roll out (kalo lagi nggak males).

RACE PACK COLLECTION

Perjalanan dari Semarang sampai ke race central di Lava View Lodge, Probolinggo, ternyata membutuhkan usaha yang nggak mudah. Untung aja panitia menyediakan shuttle langsung dari Terminal 2 bandara Juanda. Ada dua jadwal keberangkatan pada hari Kamis dan Jumat, pagi jam 09.30, lalu siang jam 13.00.
Tentu saja saya memilih keberangkatan Jumat pagi jam 09.30, biar nggak buru-buru juga kan. Siang sampe malem sebelum race bisa nabung tidur dulu.
Hari Jumat jm 09.15 pagi, saya sampai di T2 bandara Juanda, nyempetin sarapan bentar sebelum ketemuan sama Bang Roy yang dateng dari Jakarta.
Ngaret 15 menit dan dua elf dari panitia meluncur menuju Lava View Lodge.
Perjalanan menempuh waktu tak sampai tiga setengah jam. Jam 13:15 saya sampai di race central. Begitu pintu dibuka, udara dingin langsung menyerbu, langit terlihat mendung, dan kabut menutupi sekitar race central. Buru-buru saya pakai jaket, dan segera turun menuju tenda pengambilan race pack.

This slideshow requires JavaScript.

Di dalem race pack, isinya ada BIB, race tee, voucher dari Decathlon dan Hoka One One, juga V-Soy kotak. Tas racepack hasil kolaborasi dengan Decathlon dengan warna biru dan kuning.
Untuk urusan medical, tahun ini panitia lebih ketat. Selain mewajibkan setiap peserta untuk menyerahkan surat sehat yang telah ditandatangani oleh dokter, sebelum mengambil race pack, setiap peserta bakal diperiksa tensinya terlebih dulu. Kalau terlalu tinggi, maka panitia tidak akan mengizinkan peserta untuk ikut berpartisipasi.

THE DISASTER

The Disaster, segment yang kurang lebih sama dengan segment di postingan tentang MesaStila 100. Jam 12.40, beredar di group WhatsApp, sebuah file pdf dengan nama: MAP BARU OK. Feeling saya sudah nggak enak. Dan betul saja, secara unofficial sudah beredar rute baru BTS untuk kategori 70, 102, dan 170.
Jam 2 siang, setelah diundur selama satu jam, techmeet digelar di restaurant Lava View Lodge. Saya yang akhirnya udah ngumpul bareng temen-temen runmdn, memilih untuk tidak mengikuti techmeet. Dan lagi, memang suasana di dalem restaurant yang kelewat penuh. Saya memilih cari makan siang untuk carbo load, sambil memantau hasil techmeet.
Infonya, beberapa jalur di kawasan gunung Semeru masih kebakaran, sehingga tidak memungkinkan untuk dilewati. Saya pribadi, pengalihan rute itu hal yang wajar karena kalau alam yang sudah berkata, tak usah lah memaksa. Tapi, ya nggak sepuluh jam sebelum flag off juga sih. Kami seluruh peserta BTS jujur shock, secara mental kami tertekan. Strategi dan latihan yang jauh-jauh hari sudah dipersiapkan tentu terkena impact.
Saat map baru telah resmi direlease, GPX rute baru sudah dishare melalui email ke seluruh peserta, saya cuma bisa pasrah.Rute baru membuat perlarian ini tak sampai ke area Gunung Semeru, diputer-puterin di sekitar Gunung Bromo. Kategori 70K dan 102K harus naik B29 sebanyak dua kali, kategori 170K bahkan sampai tiga kali. Lucunya, tidak dijelaskan kepada kami letak-letak WS dan CP. Perubahan ini akhirnya memaksa panitia untuk meniadakan COT WS untuk semua kategori. Jadi lempeng aja seluruh peserta dilepas, dan tinggal ditungguin di garis finish. Kini tugas yang paling berat adalah sweeper.
Kadang saya sampai berdiam lamaa memikirkan rute baru, membayangkan strategi yang sudah saya ceritakan berparagraf-paragraf di atas, batal dilakukan. Yang paling membuat saya tertekan adalah jarak dan elevation gain yang berubah drastis. Di rute awal, kategori 70K tidak betul-betul 70 kilo, tapi 68.5 kilo dengan elevation gain sampai 3,340 meter. Sedangkan rute baru di GPX saya menunjukkan jarak sampai 73 kilo lebih, dan elevation gain sampai 3,622.
Rute baru berubah dari yang awalnya begini…
menjadi begini…
All I thought about was, “I’ve been through this much. The route changing won’t stop me for all the trains, time, pains, money, and efforts I struggled. I have to give it all out.”

THE RACE

Selesai makan siang bareng, kami balik ke villa tempat kami nginap, lokasinya sekitar tiga kilo jadi sangat nggak walkable. Sampai di villa dan agendanya cuma ngobrol-ngobrol, ketawa-ketawa, dan gegoleran, santai-santai aja, walaupun dalam hati kami masing-masing tentu merasa tertekan. Membayangkan waktu start jam 1 dini hari yang sudah bisa dihitung dengan jari.
Setelah sholat maghrib, kami yang ikut kategori 70K mencoba merem, nabung tidur. Sementara yang lain di lantai 2. Dan seperti biasa, dari jam 7 malam saya meremin badan, sampai alarm bunyi jam setengah sepuluh, nggaaak bisa tidur. Kalo udah grogi begini, adrenaline rush bikin makin melek. Akhirnya naik ke lantai 2 dan gangguin si Andri buat nemenin cari makan. Sebetulnya belum laper karena makan siang tadi yang porsinya kelewat banyak, tapi mau nggak mau harus makan karena kalau nggak ada makanan masuk, nanti jam 2 atau 3 pagi pasti laper banget.
Beres makan dan prepare pakaian tempur, kami berangkat ke race central. Rencananya sih pingin sampai di race central sebelum kategori 102K sama 170K dilepas. Tapi akhirnya baru sampai di race central jam 12.15 pagi.

This slideshow requires JavaScript.

Udara dingin menembus kulit di sela-sela leher yang tak tertutup, membuat kulit bergidik, setiap helaan nafas menghembuskan uap, kabut mulai menyelimut membuat titik-titik air terlihat saat headlamp menembus gelap.

Jam 1 kurang kami peserta kategori 70K sudah berjumpal di belakang garis start, lumayan berdesakan mencoba untuk mencari celah agar dapat tempat tak terlalu jauh di belakang. Semua peserta terlihat nervous. Beberapa mencoba rileks dengan ngobrol dengan peserta lain, berlari-lari kecil, atau seperti saya yang sekedar diam menatap timer yang menyala merah terang, berubah detiknya satu demi satu. Dada semakin berdegup kencang saat MC mengajak seluruh peserta untuk berdoa yang dilanjut dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Sampai kemudian waktu semakin mendekati pukul 01.00. MC pun menghitung mundur…
5.. 4.. 3.. 2.. 1..

Saya mencoba tetap merapat di barisan depan, mencoba menyalip peserta lain setiap melihat ada celah. Di kepala saya terbesit B29.. B29.. B29.. Hanya menyusuri jalan setapak yang diterangi headlamp, track masih terasa nyaman, ada beberapa turunan yang bisa dimanfaatin buat lumayan ngebut. Hingga sampai di kelokan yang mulai menanjak, jam tangan menunjukkan KM 5 lebih. Ah, sampai juga di B29.
Jalanan tanah bercampur dengan bebatuan, belum begitu banyak peserta yang sampai di B29, saya melirik jam: sudah 50 menit. Kedua sisi jalan ditumbuhi rerumputan tinggi, sangat membantu untuk pegangan. Sempat beberapa kali nyoba nyalip Bapak Bapak yang jarak kami semakin merapat, tapi setiap saya semakin mendekat, dia sekuat tenaga menjauh. Sampai ada di kelokan yang dia sempet kebablasan, dan wip! Saya memotong jalurnya.
Sisa tanjakan B29 saya selesaikan dengan lumayan lancar. Target saya yang 40 menit sampai di puncak, ternyata harus menghabiskan waktu 50 menit.
CP 1 ada di Puncak B29, KM 7. Saya cuma refill air aja habis itu langsung melanjutkan petualangan. Track mulai di puncak B29 termasuk menantang, track tanah untuk satu orang yang terdapat cekungan di tengah track. Cekungan ini terbentuk karena banyak warga yang melewati track ini pakai sepeda motor, jadi lama kelamaan bagian tengah track tergerus dan terbentuk seperti kanal. Cekungan ini hanya cukup untuk satu kaki, jadi terkadang malah membuat kaki terjepit ketika cekungan terlalu sempit. Saya berlari kecil mencoba menghindari cekungan. Nggak jauh setelah tanjakan, track dibalas dengan turunan, terkadang track terasa licin karena hujan tadi siang.
Masuk ke KM 15, kami mulai ketemu dengan aspal. Dan turunaaan dan turunaaaan. Jam sudah menunjukkan pukul 4, di sini pasti sudah adzan subuh. Sempet ketemu panitia, dan nanya bisa numpang sholat apa enggak, diarahkan untuk lanjut aja karena minim air, nanti bakal ketemu CP 2 di Ranu Pane, nggak jauh dari sana.
Akhirnya ketemu CP 2 jam 04.15, sekitar 20 meter dari CP 2 ada mesjid. Bisa boker! Yang sedari tadi memang perut udah kerasa mules dan perlu unloading buat mengurangi beban.
Refill air putih, minum teh panas, dan tiba-tiba merasa sangat kecewa karena makanan berat yang disediakan hanya bubur kacang hijau dan ubi cilembu rebus. Saya nggak suka kacang hijau, dan ubi cilembu rebus malah terasa eneg saat masuk ke perut. Sempet ketemu Mas Ari di sini, kaget juga karena malah saya duluan yang nyampe CP 2 karena setiap latihan biasanya saya yang ditungguin di atas gunung. Ternyata dia kesasar, sampe 1.5 kilo! Baru Mas Ari selesai cerita, ada Ibu-Ibu nyamber dengan nada ketus, “Makanya, ikutin marking!” Saya cuma bengong, why are you so hateful? Bisa sih ikut nanggepin dengan kata-kata yang lebih enak didengar.

This slideshow requires JavaScript.

Tepat sebelum meninggalkan CP 2, ketemu Bang Asta yang nggak lama sampai di CP 2. Ngobrol bentar dan saya langsung melanjutkan perjuangan ini.
Salah satu pelajaran yang saya dapet dari ke-DNF-an saya di MesaStila 100 adalah jangan terlalu lama di WS/CP. Cukup refill air, minum minum (bukan mabu mabuan), makan ini itu secepatnya, bawa makanan secukupnya, dah berangkat lagi. Nggak usah duduk duduk terlalu lama, nggak usah ngobrol ngobrol terlalu panjang. Ketemu temen ya tanya sekenanya, kalau mau foto-foto ya sebentar aja. Dah langsung lanjut.

Hari semakin terang, perjalanan selepas CP 2 mulai kembali memasuki hutan. Ada yang beda dengan hutan di sekitar sini, warnanya coklat kering, tanahnya berwarna hitam. Ini hutan sisa kebakaran. Masih ada aroma sangit tercium. Tanah yang dipijak masih mengendap karena hujan kemarin, mungkin kalo cuaca sedang kering, abu hitam sisa kebakaran akan beterbangan setiap kali diinjak.

This slideshow requires JavaScript.

Ada yang seru di sekitar sini, yaitu Tanjakan Pipa. Setelah menyusuri jurang yang dipenuhi hutan berwarna coklat, nampak tanjakan yang diisi ttik-titik peserta. Berbaris antre menyusuri tanjakan. Kalau dihitung-hitung sebenernya nggak terlalu panjang tanjakan ini, cuma malas ngantrenya aja karena track yang terbilang sempit.
Begitu sampai di puncak tanjakan, ada seutas tali yang diikat kuat di pohon, sekarang saatnya menuruni tanjakan pipa. Saya memasang badan menghadap ke belakang, menahan dengan tangan dan menuruni tanjakan sedikit demi sedikit, persis seperti orang rappelling. Bedanya penahannya pakai tangan aja, ya.. Alamat panas kalo nggak pake gloves.

This slideshow requires JavaScript.

Mulai masuk Desa Ngadas sekitar KM 30, mata mulai dimanjakan dengan kebun-kebun sayuran yang ditanam dalam terasiring, beradu dengan mendung dan semilir sejuk udara pagi. Suasana saat itu terasa menyegarkan, kaki masih sangat nyaman untuk berlari kecil meskipun selalu melambat saat ketemu tanjakan.

This slideshow requires JavaScript.

Melewati desa Ngadas, ditemani hutan kembali, tak sampai dua kilo sebelum kaki ini kemudian terhenti sejenak. Di depan saya terbentang savana luaaaaas. Berbukit-bukit sampai hilang di ujung mata memandang. Beberapa kali sempat terhenti buat foto-foto, walaupun ‘foto-foto’ saat race adalah pelajaran nomor kesekian yang harus diwaspadai, karena nggak sadar bakal makan waktu juga.

This slideshow requires JavaScript.

Di balik savana Bromo ini, kami disambut track rerumputan datar, sekitar dua kilo yang ternyata malah membuat kaki terasa letih. Dua kilo yang kayaknya dekat saya habiskan dengan kombinasi lari-jalan-lari-jalan. Gunung-gunung tinggi seperti membentengi kami, mengeliling di ujung track. Di KM 38, ketemu Check Point Pinus, Check Point entah ke berapa, dan dapet gelang pertama berwarna biru terang. Sudah jam 9 pagi, tepat 8 jam. Masih sepuluh jam lagi waktu yang kami punya.
Karena subuh tadi cuma makan ubi rebus yang satu aja nggak habis, saya berharap panitia menyediakan makan berat di sini. Jangankan nasi, Pop Mie yang saya haramkan aja pasti saya lahap. Tapi di CP Pinus, sama sekali nggak ada makanan (atau nggak ditawarkan?). Akhirnya karena banyak pedagang, kami pada beli bakso. Lumayan banget buat mengisi perut, walaupun makannya sambil buru-buru.

This slideshow requires JavaScript.

Selesai makan saya nggak mau berlama-lama, saya langsung melanjutkan perjalanan.
Thank youuuu @candugoreng.
Beberapa ratus meter saya berlari, satu dari gunung-gunung yang mengelilingi kami ternyata adalah B29. Yes, kami sedang menuju ke penanjakan B29 yang kedua.
Keliatan nggak B29nya????
Nih, yang lebih jelas dari panitia.
Saya mulai berjalan perlahan, karena track mulai terasa berat, jalanan tanah mulai menanjak. Saya pandangi B29 yang akan didaki, dipenuhi rerumputan kering yang puncaknya tertutup kabut pekat. Sepanjang pendakian, kaki dan nafas terasa berat, tak seperti pendakian tadi dini hari yang tak sampai ngantre, justru di pendakian kedua ini saya lumayan banyak barengannya nih. Ada sekitar 4-5 peserta yang barengan dan terpaksa kesusahan saling salip dan disalip karena track yang memang tak lebar. Sesekali saat mencoba menarik nafas dalam-dalam, di bawah saya terlihat padang rumput luas membentang, view sebagus ini terpaksa dihabiskan dengan terburu-buru.
Pendakian kedua di B29, diselesaikan dalam waktu satu jam tepat. Lebih lama sepuluh menit dari pendakian pertama. Kondisi di CP puncak B29 sudah gelap, entah kabut entah awan, gelap sudah menutup pandangan. Badan sudah kerasa capek banget, nggak ngantuk sih, cuma kerasa lesu.
Saya ditawarin kopi, rasanya lega banget akhirnya nemu kopi pahit. Masih panas banget, udah lama saya tiup-tiupin, tapi setiap tegukan terasa membakar lidah, meninggalkan rasa nggak nyaman saat lidah mengecap. Terpaksa setengah doang yang saya minum, takut kelamaan kalo ngopi ngopi dulu di puncak B29. Ada peserta lain yang nanya makanan, dan cuma ditawarin manisan. 😦
A hot tea in B29 Peak
Oke, mari kita hajar sisa course. Check Point berikutnya ada di CP Jemplang, jaraknya 9.3 kilo dari CP B29.
Masih teringat rute ini yang tadi dini hari dengan nyamannya saya lewatin, saat downhil terasa mudah karena nggak banyak ranting, lawannya cuma satu, cekungan di tengah track tanah yang kalau salah pijak bisa bikin kaki terkilir. Kopi yang tadi saya minum sedikit-sedikit sepertinya mulai ngefek, badan mulai kerasa seger, mata mulai melek lagi.
Tak lama, air dari kabut yang terasa lembab di sekeliling saya mulai berubah menjadi titik-titik gerimis. Saya berhenti sebentar untuk memakai jacket, dan kembali ngelanjutin perjalanan. Baru beberapa menit berjalan, gerimis mulai berubah menjadi deras, saya masih cuek aja, hanya berdoa semoga hujan nggak sampai membuat kaos kaki basah. Tapi ya basahpun saya udah sedia kaos kaki kering di vest. Sejauh ini masih merasa aman terkendali meskipun hujan semakin deras.
Semakin lama saya menanjak, cekungan di tengah track ini mulai dialiri air. Di sini firasat buruk mulai datang. Saya masih mencoba optimis. Lama kelamaan, aliran air semakin deras, cekungan semakin penuh. Terpaksa saya berjalan mengangkang untuk menghindari terjangan air yang semakin deras. Tanah yang saya pijak, mulai basah dan terasa licin. Air semakin tinggi, semakin deras, sesekali sepatu kepleset dan tercebur, aliran air sudah setinggi mata kaki. Saya tak lagi bisa berlari. Pelan-pelan saya berjalan menyusuri track. Sesekali saya tingak tinguk, mencoba mencari peserta lain, tapi nihil. Saya sendiri di tengah hutan. Saya cek jam tangan, masih KM 48. Saya perhitungkan CP Jemplang ada di KM 56. Masih delapan kilo lagi.
Derasnya hujan mulai membasahi celana, mulai merembes sampai compression dan daleman, saat langkah kaki saya salah, kaki terpaksa terendam banjir. Dingin yang luar biasa langsung memenuhi kaki, sambil meringis cepat-cepat saya angkat kaki.
Sampai track berubah menjadi turunan, pijakan di track tanah terasa licin. Kadang ada satu dua peserta yang nekat berlari-lari kecil, saya hanya bisa mempersilakan jalan.
Kondisi saat itu terasa sangat dingin, dari pinggang ke bawah sudah basah kuyup, saya menggigil, kadang kalau pijakan tanah kelewat licin, saya sengaja celupkan kaki sekalian, berjalan di cekungan track entah kenapa malah terasa lebih mudah. Tapi saat kaki mulai mati rasa, saya memilih jalan ngangkang lagi.
Ada beberapa titik di mana track berada tepat di lereng gunung. Sebagian pohon-pohon sisa kebakaran yang mati membuat jantung makin berdegup, karena takut akarnya nggak cukup kuat menahan tanah yang sudah banjir, lalu longsor jatuh ke lereng gunung. Sesekali mulut malah menyanyi lirih Champagne Supernova dari Oasis, “Someday you will find me, caught between the landsliiiiiiide~
Amiiit amiit. Astaghfirullah.
Saya cuma bisa berdoa semoga Allah menjaga saya, melindungi sisa-sisa jarak sampai bertemu dengan panitia.
Karena saya memutuskan untuk DNF.
Saya sudah nggak kuat dengan kondisi cuaca dengan dingin yang ekstrem. Tangan terasa beku, sekujur kaki basah kuyup membuat badan menggigil, kaki yang sesekali terendam banjir semata kaki seperti mati rasa, saya takut kena hipotermia. Ditambah laper yang terasa mencengkeram perut. Saya punya jas hujan, sengaja tidak saya pakai. Saya bawa Emergency Blanket, juga sengaja tidak saya pakai. Saya berencana sampai di Check Point nanti mau lepas semua pakaian basah, saya pakai spare kaos kaki yang masih kering, lalu membungkus badan dengan jas hujan dan emergency blanket yang saya persiapkan tetap kering.
Saya udah nggak punya strategi lagi, On every race, I have a mantra, “Remember your game. Remember your game. Remember your game.” But this time, I tried to remember my game in BTS, but my head was blank. Maybe I lost the game, I had nothing. Akhirnya saya cuma berpegang satu prinsip, keep moving forward to save my life.
Sudah memang keputusan yang paling baik, saya memutuskan DNF di CP Jemplang nanti, nyawa cuma satu, race masih ada lain waktu.
Tak jauh di depan saya, ada dua pelari. Saya sedikit mempercepat langkah nyari temen. Semakin mendekat ternyata salah satunya Mas Yannu, anak BPG yang sebenernya belum pernah ngetrail di gunung bareng. Sama satu lagi Mas Patrap dari Campur Sari Runners. Nggak ada obrolan di antara kami, mungkin sama-sama menahan dingin. Tak lama akhirnya kami sampai di jalan aspal. Jam bergetar, saya melirik KM 54, jam 1 tepat. Saya lalu memecah keheningan, “Mas, ini kita berarti DNF di Jemplang?”
Mas Yannu yang berjalan di samping saya menoleh, “DNF? Emang sekarang jam berapa?” Saya jawab pendek, “Jam 1 pas Mas.”
Jarak e piro?”
“Pas 54 Mas.”
Mas Yannu pasang muka heran, “Laah. Masih enam jam bro. Tinggal dua puluh kilo masih sanggup ini. Kira kira bisa lah kita sejam dapet empat kilo, jam 6 sore kita sampe.”
Saya diam sebentar. “Serius Mas? Adem e koyo ngene Mas?”
Iso broo, iso! Tak kancani ayo.”
Mas Yannu ini udah beberapa kali finish trail race kategori 100an, tapi kali ini dia ambil kategori 70 karena ada temen Mas Patrap yang minta dipacerin, setelah setuju, eh malah temen Mas Patrap yang DNS (Did Not Start). Dan akhirnya saya setuju untuk melanjutkan perjuangan. CP Jemplang mungkin sekitar satu setengah kilo lagi, kami berencana makan sebentar, lalu langsung lanjut.
Setelah turunan yang curam, dan beberapa tanjakan aspal, kami sampai di CP Jemplang, dan sedih sekali pas tahu makan siang cuma ada bakso. Tapi ya sudah, dari pada perut makin meraung-raung. Untung baksonya dilengkapin dengan lontong. Mayan beneeeer. Sampai di CP Jemplang hujan mulai reda, saya memutuskan buat sholat dulu. Jadi terpaksa Mas Yannu dan Mas Patrap duluan. “Duluan aja Mas, nanti aku nyusul.”
Saya sholat dua rakaat dzuhur disambung dengan dua rakaat ashar. Bersajadahkan jacket, diguyur tiitik-titik air dengan badan tak berhenti menggigil dan gigi terus bergemeletuk. Selesai sholat saya berdoa meminta petunjuk, meminta diberi kekuatan dan kelancaran. Saya mencoba berdiskusi dengan diri sendiri, memantapkan dan membulatkan keputusan,
Okay, let’s finish what we started. Let’s recreate the game.”
Saya mulai berlari kembali mencoba pelan-pelan nyusul Mas Yannu. Baru setelah di belokan menuju savana Bromo untuk yang kedua kalinya, saya sudah bisa menyamakan jarak dengan Mas Yannu.
Iyaa, kita kembali ke savana Bromo. Bedanya arah kita akan menuju Laut Pasir ke arah Gunung Bromo.
Kami sampai di Lautan Pasir berwarna hitam sekitar KM 60, masih ada sekitar 15 kilo lagi. Hujan selain membuat saya menggigil basah kuyup, ternyata membawa berkah. Lautan Pasir yang menjadi tantangan di 15 kilo akhir seluruh kategori, ternyata saya lalui dengan tak seperti yang saya bayangkan. Biasanya, pasir tak hanya membentang seperti lautan, tapi juga ikut terbungkus angin, pun ketika diinjak akan melorot. Sore itu, hujan membuat pasir menjadi basah dan padat.
Nggak jauh, ada seorang peserta yang berjalan cepat sambil memainkan trekking polenya membentuk lubang-lubang di lautan pasir. Saya ngobrol sebentar, namanya Mas Dani dari Bali. Pelari yang sudah beberapa kali menuntaskan ultra course. Hasil ngobrol singkat, dia sudah memperhitungkan akan finish jam 6 jika berjalan cepat dengan pace 11. Saya pun akhirnya ikut nempel pace Mas Dani. Sesekali sambil berlari menyusul kalau jarak kami terlalu jauh. Biarpun lumayan annoying karena setiap beberapa ratus meter sekali saya bakal nanya distance. Jam tangan saya mati saat perjalanan menuju Jemplang tadi, “KM berapa Mas? KM berapa Mas? KM berapa Mas? Jam berapa Mas? Jam berapa Mas? Jam berapa Mas?” Saya ngebayanginnya pertanyaan-pertanyaan saya pake dengan nada Spongebob. Ahahahaha… ahahahah… ahahaha…
Jalanan semakin menanjaki gundukan pasir, pita-pita marking terlihat melambai-lambai di atas tumpukan pasir yang menjulang seperti gunung. Setiap langkah menanjak, tumit kanan saya yang dari tadi terasa nyeri semakin menjadi-jadi. Kadang saat kaki kanan melangkah harus dimiringin, baru rasa nyeri sedikit berkurang.

This slideshow requires JavaScript.

Official Photo.
Jalanan semakin nanjak, dan sampailah di lereng Gunung Bromo. Lereng ini terbentuk dari pasir yang memadat, dengan rongga-rongga besar dan curam di setiap langkah kami. Membuat saya sampai berjongkok-jongkok, memilah milah pijakan agar nggak longsor.

Tapi kami tak mendaki sampai bibir kawah Gunung Bromo, kayaknya sih aktivitas vulkaniknya sedang tinggi, jadi memang diputarkan di lerengnya, tapi ya justru itu yang lebih berat. Saya lihat di bibir kawah malah ada track yang lebih mendingan dari pada nyusurin lereng.
Thank you @iliveshots!
Di ujung tanjakan ini sudah ada panitia yang nunggu, ada gelang kedua yang kami dapet, kali ini warnanya kuning.
Turun dari Gunung Bromo, tempat finish kami sudah kelihatan, walaupun keciiiiil banget di atas gunung. Sementara jarak masih sekitar 66K. Kalo dari perhitungan GPX dari panitia, tinggal 7 kilo lagi. Dan, rute kami pun tidak seenak langsung memotong lautan pasir ke tanjakan menuju Lava View Lodge, rute masih harus diputar mengelilingi Gunung Batok dulu. Katanya, masih ada Check Point terakhir. Katanya…

Susah payah saya melangkah menahan tumit kaki kanan yang terasa berdenyut, mencoba power walk menyamakan dengan pace Mas Dani. Menyusuri Gunung Batok sampai ketemu panitia yang ternyataaa, Checking Point hanya dilakukan dengan mencatat manual nomor BIB. Nggak ada gelang atau apapun yang dibagi. Dari CP terakhir di ujung Gunung Batok ini kami masih harus berlari mengitari lautan pasir, literally mengitari. Finish Line yang nampak dari tempat saya tertatih-tatih, terlihat sangat jauh di atas gunung. Selain saya, ada tiga orang lagi yang saling buru-buru menuju tempat finish. Saya, Mas Yannu, Mas Dani, dan Mas Mur temen satu rombongannya Mas Dani.
Kami berharap bisa finish jam 18.00, sementara langit sudah semakin gelap. Headlamp mulai kembali dinyalakan. Mas Yannu di belakang mulai resah dan ngajak untuk lari-lari kecil. Terpaksa Mas Dani dan Mas Mur saya tinggal, karena saya tak mau finish over COT.
Sampai di kaki bukit, mulai terlihat jalur kuda, jalan setapak yang mengular menanjak. Ada beberapa peserta yang mulai saya jumpai sedang sedikit demi sedikit menaiki jalur kuda. Saya nggak lagi bertanya tanya tentang jarak dan waktu. Saya hanya terus bergerak, terus meniti tanjakan demi tanjakan. Hingga akhirnya saya sampai di jalanan aspal. Ada marshall yang menunggu, mengarahkan jalan, sambil berujar, “Dua kilo lagi Mas.” Sebetulnya hati ini mulai panas. Karena sejak dari Check Point yang dibagikan gelang di Gunung Bromo, marshall bilang enam kilo lagi, lalu di Check Point terakhir dibilang dua kilo lagi, yang ternyata sangat nggak seperti dua kilo. Dan kini di belokan terakhir lagi-lagi marshall nyebut nyebut dua kilo lagi. Ada satu peserta di belakang saya yang sampai menjawab dengan nada tinggi, “DUA KILO LAGI! TADI PUN DUA KILO LAGI! INI UDAH 77 KILO MAS!” Marshall juga membalas dengan nada tinggi. Saya nggak terlalu menghiraukan karena saya udah nggak tau tinggal berapa menit lagi yang tersisa. Jalanan aspal masih menanjak, saya nggak kuat lagi berlari, hanya berjalan cepat karena tumit kanan terasa semakin sakit. Mas Yannu di belakang saya mencoba mengajak buat berlari-lari kecil, sampai kami tiba di belokan tepat sebelum naik menuju Lava View Lodge.
Banyak orang-orang duduk-duduk di tempat makan, beberapa berdiri memandangi kami. Mereka bertepuk tangan, mereka memberi semangat, mereka berteriak-teriak, “Sedikit lagi Mas! Semangat Mas! Ayo finish Mas! Ayo Mas, bisa Mas, dikit lagi!”
Saya mencoba berlari kecil-kecil, menahan sakit, mengikuti jalan. Orang-orang menunjuk-nunjuk jalan ke arah garis finish. Di tanjakan terakhir, mulai terdengar suara beberapa lonceng yang terus berdentang bersautan dengan gemuruh orang-orang berteriak dan bertepuk tangan. Samar-samar mulai terlihat garis finish dengan gapura berwarna biru, lalu terlihat jam LED merah menyala yang terus berdetik. Saya bisa melihat waktu menunjukkan pukul 18:28:35 sebelum kemudian terlihat kabur. Air dari mana ini yang nutupin mata wooooy! Hujan udah redaaaaa!
Tepuk tangan orang menyambut saya di garis finish, saya melihat wajah-wajah familiar yang telah menunggu saya di garis finish. Terima kasih Andri, Maria, Faza, Ayu, dan RBS! Saya mengucap syukur masih bisa menuntaskan sadisnya cuaca dan jalur baru BTS kategori 70K. Perjuangan yang nggak pernah saya kira mampu untuk saya selesaikan.
Saya finish dengan catatan waktu 17:28:00. Sampai tulisan ini diposting, ceritifate belum direlease. Dari total 315 peserta yang memulai perlarian ini, 2 kena disqualified, 182 dinyatakan DNF, dan hanya 131 peserta yang finish (41%). Nama saya masih bertengger di urutan nomor 78.
Finish!
“After reaching the finish line, I could hardly catch my breath, as the air was racing against my tears.”
Sebenernya, ini bukan activity Strava saya. Jam saya sudah mati menjelang KM 55. Ini detail activity punya Mas Dani. Jadi, karena kami finish hampir bersamaan, saya minta diadd di activity BTS dia, jadi otomatis activity Mas Dani ini nambah juga jadi activity saya.
Lewat satu jam setegah dari target yang saya buat. Tapi tak apa, target itu bukan untuk BTS tahun ini, target 16 jam itu untuk BTS dengan rute Kalimati dan Ranu Kumbolo. Jika sudah sampai di medan trail, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi. Cuaca seperti apapun bisa terjadi dan bisa berubah-ubah sedemikian cepat. Kebetulan, peserta kategori 70K BTS tahun 2019 selalu ditemani mendung-gerimis-hujan deras-dan kabut, tanpa bertemu dengan matahari.
Ini saya dan Mas Yannu, penyelamat saya dari keputusan DNF.
Harga satu juta lebih yang saya keluarkan untuk mengikuti BTS 2019 sebetulnya memiliki ekspektasi lebih dari yang saya dapatkan. Terutama masalah WS. Water Stationnya literally Water Station. Air mineral, teh, kopi, Coca Cola. Dari sekian banyak Water Station yang menyediakan makan berat hanya WS Jemplang, itu pun hanya bakso lontong. Di WS Ranu Pane seingat saya disediakan kacang hijau dan ubi cilembu rebus. Padahal di Ranu Pane itu kondisi saya butuh asupan karbohidrat, laper cuuy. Kami butuh lebih banyak karbohidrat, kami orang Indonesia pingin nasi. We want rice! We want rice!
Untuk refreshment pun sangat susah ditemui, seingat saya, cuma ada dua WS yang menyediakan semangka. Dan nggak ketemu pisang.
Race Pack Collection berjalan dengan lancar, vibesnya dapet banget, meskipun hari terakhir pengambilan racepack cuaca sudah mulai berkabut, mendung, dan hujan deras. Mungkin karena udah ketemu banyak temen-temen dan senior pelari trail. Jadi makin nggak sabar untuk segera ganti kostum tampur dan ngacir.
The medal is very solid and beautiful! Asliii, sampe dipegang-pegang terus, diliat-liatin, ada perasaan bangga campur aduk dengan terharu setiap pegang itu medali. Kombinasi warna dan designnya asik. Lalu race tee bahannya halus, designnya keren. Setiap kategori punya warna sendiri-sendiri, dan design keempat kategori semuanya mantep, nggak ada yang norak. Apalagi finisher teenya, dengan campuran warna night sky yang penuh bintang lalu gunung-gunung gelap saat malam. Bahannya adem. Setiap dipake, berasa banget perjuangan dapet finisher tee itu! Nice!
Credit photo: Goklas Situmorang (@goklasbobo)
Sepanjang rute, marking jelas dan jalan mudah diikuti. Rute yang dilalui pun sesuai dengan GPX. Walaupun tetep ada beberapa peserta yang kesasar. Biasanya yang kesasar jauh itu ngikutin peserta di depannya sih, paling depan nggak teliti baca marking, sampai belakang kesasar semua.
Well, Brutal Torture Sadistic! Tagline itu saya bilang sangat cocok untuk BTS tahun ini.
F One Sport sebagai Race Organizer seharusnya sudah sangat berpengalaman dalam menyelenggarakan sebuah trail race bertaraf internasional. Tahun-tahun sebelumnya banyak review bagus tentang BTS. Makanya, sepanjang 2018 saat memilah-milah di trail race mana saya mau virgin ultra, saya memilih BTS. Katanya pemandangannya bagus. Setuju! Katanya WSnya melimpah. Nggak setuju! Katanya ROnya bagus. Kurang setuju!
Sepuluh jam sebelum kategori 102K dan 170K dilepas, panitia mengumumkan pengalihan rute, dengan sangat tidak jelas. Hanya dishare map dan GPX. Sementara, berapa jumlah WS/CP, lalu di mana aja lokasinya tidak diupdate di website/diinformasikan. Padahal jarak dari WS satu ke WS berikutnya, beneran menguji diri buat memanajemen bekal terutama air. Ini merupakan keputusan yang tidak bijak. Jika kiranya memang ada jalur yang tidak memungkinkan untuk dipakai, panitia seharusnya berani mengambil keputusan menggunakan rute baru 2-4 minggu sebelum race berlangsung. I know it sucks.
Lari ultra, terlebih lagi di medan trail sangat berpengaruh dengan mental peserta. Sudah jarak semakin jauh, elevation gain pun makin tinggi. Di titik ini, mental saya langsung down. Semua strategi yang sudah dibangun langsung runtuh. Sepuluh jam menjelang flag off saya cuma bisa ketawa-ketawa aja bareng temen untuk mengusir resah. Dan saat tahu hampir seluruh WS sangat minim makanan, rasanya dongkoool banget. Ditambah lagi sepanjang rute mengelilingi Gunung Batok setelah turun dari lereng Bromo, itu berasa kayak dikerjain. Kami ikut kategori 70K, bukan 75K. Kalau setelah turun dari lereng Bromo langsung dipotong naik ke Jalur Kuda saya yakin jarak udah dapet 70K. Pun juga, setelah memutari Gunung Batok, nggak dapet gelang juga. Cuma dicatat sekenanya.
Ada lagi. Setelah saya finish, ada beberapa orang yang mengarahkan saya buat ambil finisher tee dan medal. Setelah saya antre, finisher tee dan medal langsung dibagi. Tanpa dicek berapa gelang yang saya pakai, dan tanpa mencoret BIB. Beberapa peserta begitu ambil finisher tee dan medal ya langsung pergi aja. Saya yang sempet negur, “Mas/Mbak. Ini BIB saya nggak dicoret? Kalo saya ambil lebih gimana?”
Hello panitia, these were BRUTAL mistakes.
“Panitia udah capek, masih aja disalahin.” Hmm.. tugas panitia adalah memastikan acara berlangsung dengan lancar dan aman. Ketika ada masalah dalam kelangsungan acara, adalah tugas peserta untuk mengingatkan panitia. Nah, inilah yang sedang saya lakukan. Untuk kebaikan panitia juga. Untuk perbaikan BTS Ultra tahun-tahun berikutnya.
Mau panas terik atau hujan badai, BTS Ultra is always TORTURING! Ketika BTS terkenal kemampuan torture dengan lautan pasirnya yang terik dan kering. Tahun ini datang dengan kemampuan torture yang berbeda. Hujan deras dan udara yang dingin menggigit membuat banyak peserta memutuskan untuk DNF atau finish over COT. Termasuk saya juga yang sempat bertekad untuk DNF, sebelum akhirnya berpikir ulang untuk recreate my game.
AND THE VIEW! OH MY GOODNESSSS! Sepanjang perjalanan banyak disajikan alam yang luar biasa SADIS! Bagusnya kebangeten. Dari savana yang berwarna coklat kering terasa tak pernah habis, lautan pasir dengan gunung-gunung besar yang membentengi Bromo. Kalau lah tak dikejar waktu COT, kalau lah cuma ngetrail piknik, banyak spot yang cocok dijadikan tempat untuk berlama-lama.
Credit photo: Goklas Situmorang (@goklasbobo)
BTS sangat menguji mental dan fisik saya, membuat saya semakin sadar apapun bisa terjadi di arena trail. Thank you, BTS!
P.S.: Postingan ini akan dilakukan update sekenanya. Terutama foto-foto dan result dari panitia. Yaah, yang belum bosen liat muka saya boleh dicek secara berkala.

2 thoughts on “Menantang Sadisnya BTS Ultra 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.