Day 9 and 10 in Norway, “Long Road to North”

15 September 2018: Bardufoss
Dulu pas buat itinerary, kami sampai di titik ini. Titik di mana kami stuck untuk lanjut ke mana lagi, karena ternyata Lofoten itu meskipun sudah di utaranya Norway, tapi yaa ternyata belum utara-utara amat lah. Dan kami bingung mau sejauh mana setelah meninggalkan Lofoten. Setelah memutukan untuk tak jadi ke Senja Island, kami banting setir lebih jauh ke utara. Yah, walaupun mimpi sampai ke Svalbard harus dikubur dulu untuk saat ini.
Pagi itu, saya bangun lebih pagi dari biasanya. Sengaja karena kamar mandi di Airbnb kami jadi satu dengan host kami, Anna. Dia punya dua anak yang masih kecil-kecil banget. Jadi saya takutnya kalo make kamar mandi terlalu siang, bakal rebutan. Dan ternyata udah bangun pagi banget, masih gelap, lagi seru-serunya nangkring di atas closet, sempet juga tiba-tiba pintu didorong agak kuat. Sebelum akhirnya dari luar saya dengar suara Anna minta maaf.
Kami sarapan pake nugget ikan, yang ketika digoreng sebagian nempel di teflon. Kami sarapan bareng Anna dan anaknya yang paling kecil. Anna dan keluarganya ngontrak di rumah mertuanya, dan karena ada satu kamar yang nganggur, disulap dan disewakan pake Airbnb buat bantu-bantu bayar tagihan rumah ke mertuanya sendiri. Rumah besar bertingkat dua itu disekat, sebagian masih ditempati mertua Anna, sisanya ditempati keluarga Anna.
Mereka nyewa ke orang tuanya sendiri, saya ngerasa kagum sekaligus miris. Kami sendiri nggak sempet ketemu sama suami Anna. Karena akses yang dipake bareng dengan keluarga Anna cuma dapur dan kamar mandi.
Setelah kami beberes, kami check out jam 09.15. Terima kasih Anna dan dua anaknya yang lucu-lucu~
Bus kami pagi itu, bus 300, bus yang menghubungkan jalan E10 di Lofoten Islands dari Å sampai overland Norway di Narvik, akan melewati Svolvær jam 09.51. Karena kami bakal menempuh jarak yang jauh dengan public transport yang jarang, jadi kami udah siap nungguin bus di bus di depan Circle K dari jam 09.20. Begitu udah sampai di bus stop, kami sengaja bergantian jaga di bus stop, dan sendirian keliling Svolvær 10 menit. Lumayan, memaksimalkan 10 menit.

This slideshow requires JavaScript.

Saat kami berdua lagi nungguin bus datang, kami sempet ngobrol sama seorang turis cewek yang solo traveling di Norway. Dia bawa carrier besar dan nanyain kami mau ke mana, naik apa. Karena menurut dia, hari Sabtu tuh nggak ada public bus di Norway. Kami sempet ragu-ragu, tapi di website tromskortet, ada kok bus hari Sabtu apa Minggu juga. Bahkan dia nyaranin buat hitchhike bareng dia. Agak gentar juga, tapi kami masih percaya kalo bus 300 bakal datang jam 09.51.
Baru juga nggak lama habis si cewek ini ngencengin strap carriernya, dan mulai berjalan ninggalin kami, bus 300 kami dateng. Walaupun si driver awalnya nggak lihat kami di bus stop dan bikin kami sampe berlarian karena bus berhenti lumayan jauh.
Kami naik dan membayar tarif bus paling mahal yang pernah saya bayar, 431 NOK atau sekitar 720 ribu Rupiah untuk perjalanan dari Svolvær ke Narvik! Perjalanan kami hari itu memang sangat jauh, tujuan kami adalah desa Jovollen di Djupvik, Olderdalen, Kåfjord, yang udah berbatasan dengan Finland. Tapi ternyata untuk sampai ke Jovollen, nggak gampang. Total kami harus naik bus sebanyak empat kali, dan dengan rute dan jadwal bus, kami sampai harus memotong perjalanan dan bermalam salah satu kota di antara perjalanan kami, kami memilih Bardufoss.
From Svolvær to Djupvik
Yak, bisa kita saksikan bersama, ini rute kami setelah meninggalkan Lofoten, 495 kilometer yang sebenernya kalo rental mobil dan nyetir sendiri bisa ditepuh 8 jam, tapi bisa sampai memakan dua hari perjalanan. Rute yang membuat hari-hari saya saat nyusn itinerary menjadi suram, lumayan stress karena ribet ngotak-atik jadwal bus, dan mata sampai pedih karena saking seringnya mantengin Google Maps.
Perlahan bus kami meninggalkan Svolvær, meninggalkan Lofoten, kepulauan yang kami idam-idamkan. It sounds cliché: tapi beneran nggak kerasa. Perasaan yang masih terasa lekat saat ferry kami dari Bodø merapat di Mosekenes, saat pertama kami sampai di Lofoten dulu, disambut Lofoten yang mendung, yang sangat moody. Lima hari kami menyusuri satu demi satu desa di sepanjang jalan E10. Mendaki gunung-gunung tinggi asing, yang puncaknya mengintip di balik mendung, namun sehabis turun malah menjadi akrab dan membuat rindu. Desa-desa dengan rumah-rumah para nelayan berwarna merah atau kuning terang di tepi fjord atau di kaki gunung, yang beberapa diantaranya, kami mencuri hangat, kami bersembunyi dari malam. Sesekali saat malam tanpa awan, kami melihat lampu berwarna hijau terang menggeliat menyapu bintang-bintang, kami yang berasal dari negara jauh dari arctic, yang gumun ketika melihatnya, menari dan tertawa dan melompat dan kegirangan. Sampai jumpa Lofoten. Sampai nasib mempertemukan kita kembali.
Photo by @prabowoadityo
Tiga jam lebih kami duduk di dalam bus, setelah beberapa puluh bus stop, kali ini bus menepi di sebuah bus stop di tepi fjord. Walaupun cuma di bahu jalan, ada beberapa bus yang juga transit di sana, karena emang lebar sih bahu jalannya. Dengan mata yang agak merem-merem, saya melihat bus 100 tepat di bus 300 yang kami naiki. Otak saya langsung ngeinget-inget, kayaknya sih dari Narvik ke Bardufoss juga naik bus 100. Kalo di itinerary kami, jam 13.40 tuh baru nyampe Narvik, terus dari Narvik naik bus 100 jam 15.45 tujuan akhir Tromsø dan berhenti di Bardufoss jam 17.25. Tapi, kalo bus 100 yang ini nih, bisa kami naikin dari sini, nggak perlu dong ya sampai Narvik. Jadi saya langsung nanya ke driver, kalau saya naik bus 100 itu, apa bisa turun di Bardufoss. And he said, yes! Buru-buru saya ngajak si Adityo turun langsung, dan bergegas naik ke bus 100.
To Bardufoss?I asked the driver.
Yeah, sure. 330 kroner for two.” Nggak semahal sebelumnya, sekitar 200 ribu per orang karena memang nggak terlalu jauh.

Tantangan berikutnya muncul, bus stop apa nih yang paling deket dengan Airbnb kami di Bardufoss? Karena pas ditanyain ke host kami, Svein Kyrre, dia pun nggak tau. Jadi seperti biasa, setelah dapet location dari maps Airbnb, kami save locationnya, dan mantengin dari maps.me. Sekitar satu jam lebih, dan bus udah hampir mendekati Airbnb kami, kami pun berhenti di salah satu bus stop yang kami rasa paling deket dengan Airbnb, Rustadhøgda.
Kami menyusuri jalan, agak bingung juga, karena instruction dari Svein juga nggak begitu rinci. Setelah bolak-balik, akhirnya ketemu juga tuh, ada tanjakan sebelum sampai di halaman rumahnya. Rumahnya, gedeee banget. Kami cuma ditinggalin kode untuk masuk dari pintu depan. Kode diinput, pintu unlocked, kami dorong pintu pelan-pelan. Kami mencoba sengaja bersuara, agar kalo ada orang di dalam rumah, mereka tau ada orang yang masuk ke rumahnya. Ditunggu beberapa detik, nggak ada orang yang muncul. Kami masuk dan lepas boots kami.
Dari check in instruction emang kami disuruh buat langsung ke lantai dua, kamar kami ada di sebelah kanan di ujung lorong, berseberangan dengan kamar mandi.
When we opened the room…
Ini kamar Airbnb terbaik yang kami inepin selama trip Norway. Luaaas banget, dan jendela besar berbentuk setengah lingkaran yang paling mencuri perhatian kami, dengan view pohon-pohon besar yang daun-daunnya sudah menguning, jalanan berkelok yang di sekitarnya diisi rumah-rumah, dan pegunungan yang di puncaknya terutup salju di kejauhan. Ada meja di tengah ruangan, di letakkan beberapa tourism books, di sampingnya ada welcome note dari Svein, lengkap dengan instruksi tentang rumahnya. Saya masih ingat kata-kata yang ditulis Svein di bagian bawah welcome note-nya, “If there’s something wrong with your room, if you need anything, please tell me, don’t tell it in my Airbnb review coloumn.”

Bus stop tempat kami transit tadi ada di Bjerkvik, dan sangat menghemat perjalanan sampai di Bardufoss, yang rencananya baru sampai Bardufoss jam 17.25, ternyata jam tiga sore kami udah sampai di Airbnb, dan langsung mencari-cari dapur buat makan siang.
Sengaja kesasar, sekalian kami pingin a little tour di rumah Svein. Rumahnya gede banget, dari hiasan ruangan yang kami lihat, pemilik rumah pasti suka traveling, ada peta dunia gede banget terpajang di koridor dekat kamar, ada peta Senja Island dari puzzle yang sengaja dipigura.
Jendela-jendela kaca besar, membuat ruangan terasa semakin lega. Dapur dan ruang makan ada di sebelah ruang keluarga dengan TV flat super gede, sofa-sofa yang sangat empuk, bahkan foot massager yang diam-diam kami coba pake. Aaaaah, sampe merem-merem saking enaknya kaki dipijit.

Dapurnya super besar, dengan banyak cabiet yang kata Svein boleh kami pinjem. Meja makan panjang sampe terasa sepi karena cuma dipakai kami berdua. Menu makan siang kami cuma nasi dan telur rebus, masaknya pun sekaligus. Ya menanak nasi, ya telur sekalian dicemplungin. Nasi mateng, telur pun siap jadi lauk.
Memang nggak ada orang di rumah Svein, dari ngobrol di aplikasi Airbnb, Svein sedang di summer housenya di Senja Island. Betulan orang kaya ini mah. Saya sengaja nggak ambil foto di dalam rumah Svein karena selain kamar kami, adalah privacy pemilik rumah, saya nggak ada hak untuk ambil foto bahkan share.
Sore itu kami nggak kemana-mana. Karena kami mau nyuci baju kotor yang udah numpuk. Washing machine dan dryer-nya ada di kamar mandi. Kalo dulu pas nyuci di rumah Roy di Å, ada Roy yang ngajarin make mesin cuci, lah ini nggak ada yang punya rumah, dan mesin cucinya beda kayak punya di rumah Roy. Karena bingung kami sampe buka YouTube dan cari video tutorial nyuci. Keyword: “How to use Miele Washing Machine.” Daaan, ketemu walaupun tipenya beda tapi caranya kurang lebih sama sih.
Kami coba googling tentang tempat-tempat yang bisa dikunjungin di sekitar Bardufoss, hasilnya nihil. Dari maps.me, nyari tempat hiking di sekitar Bardufoss, ada tapi dari Airbnb kami terlalu jauh. Jadi setelah nyuci, kami cuma foto-foto di sekitaran rumah Svein.

Sampai malam datang, cuaca masih mendung. Sudah empat malam sejak kami terakhir melihat Northern Lights di Reine, dan belum ketemu lagi cuaca cerah. Sempet sih beberapa kali ketemu sinar matahari, tapi nggak lama, sebelum kemudian mendung bahkan sesekali gerimis.
Malamnya, setelah makan malem pake Indomie rebus dengan nasi dan telur, kami memilih langsung tidur.
16 September 2018: Bardufoss, Nordkjosbotn
Minggu pagi, dan perjalanan kami ke utara masih jauh. Perjalanan berisiko yang begitu ketinggalan satu bus, bisa-bisa nggak sampai di tujuan kami di Djupvik. Kami nggak mau nyobain hitchhike, karena risikonya terlalu besar. Tujuan kami terlalu jauh, hampir 500 kilo dan kemungkinan sangat jarang juga ketemu tumpangan yang berkendara sejauh itu. Kalo sampe ketinggal bus, dan terpaksanya harus hitchhike, pasti juga berkali-kali diturunin di entah berantah.
Bus kami yang akan meninggalkan Bardufoss baru jam 12.08, pas banget dengan jadwal check out dari Airbnb. Jadi, setelah sarapan pake nasi dan corned plus telur, kami ber-morning walk di sekeliling Bardufoss!
Kami nemu coat motif loreng dengan badge nama “Svein” yang tergantung di mudroom, dan setelah keliling Bardufoss, kota ini rupanya kota militernya Norway. Mungkin ada markas militer atau semacam Akmilnya gitu kali ya. Beberapa kali ketemu sekompi tentara yang pada bawa peples, lagi baris dan jalan berkeliling. Tentu saja niatan mau ngefoto saya urungkan dari pada ternyata nggak boleh terus kamera saya kenapa-kenapa.
Captured by @Prabowoadityo

Sudah jam 11 dan kami balik ke Airbnb, beberes untuk check out dan harus meninggalkan rumah Svein yang nyaman banget.
Jam 12 lebih bus 100 kami datang. Ini bus yang sama yang kami naikin dari Bjerkvik. Sebetulnya bisa aja kita kemarin nggak perlu turun di Bardufoss, langsung turun di persimpangan terakhir di Nordkjosbotn sebelum berpindah ke satu bus lagi. Sudah saya ceritain di tulisan saya tentang gimana stressfulnya bikin itinerary trip ini, kalau kami memilih untuk nginap di Bardufoss, karena kami berniat untuk berbelok ke barat menuju Finnsnes di Senja Island, tapi  karena tujuan kami berubah, dan Airbnb di Bardufoss udah terlanjur dipesen, jadinya kami terpaksa memotong perjalanan di Bardufoss. Tapi melihat Airbnb kami di Bardufoss yang kelewat nyaman, kelewat bagus dengan harga yang nggak mahal, kami tak menyesal.

Sekitar jam 13.30 kami turun di Nordkjosbotn. Mirip rest area gitu sih tempatnya, ada pom bensin, ada pertokoan berjejer, ada bus stop dengan bangunan lumayan besar, biarpun kantornya tutup karena hari Minggu. Bus 160 yang akan kami naiki baru datang jam 16.20. Hampir tiga jam kami harus nunggu.

This slideshow requires JavaScript.

Gerimis membuat kami langsung berteduh meskipun nggak ada kursi. Ada café di seberang jalan, kami coba masuk, sliding door otomatis terbuka. Pas kami melangkah, udara hangat kopi ikut menyambut. Suasananya rame dan hangat. Orang-orang duduk di mejanya masing-masing, ngobrol satu sama lain, sesekali terdengar tawa renyah dari beberapa sudut ruangan. Kami berdiri sebentar di samping meja kasir, memandangi makanan yang dipajang di etalase, asik kami berdiskusi tentang menunya yang hanya menyediakan roti dan pastry, sementara kami mau makan berat. Dengan harga yang per porsinya sekitar 200 ribu Rupiah, kami membatalkan kehangatan yang ditawarkan.
Kami keluar lagi menembus angin dingin dan gerimis. Kami mempercepat langkah menuju Coop Extra, swalayan besar yang emang sering kami mampirin. Daaan, tutup. Kami mencoba cari kehangatan lagi di Circle K nggak jauh dari Coop. Saya beli satu cup teh panas, yang disruput pelan-pelan biar panasnya nggak buru-buru hilang. Kami mau makan siang di sini, tapi pas kami duduk-duduk di meja tepat di depan Circle K, ada peringatan yang intinya meja hanya boleh dipakai untuk makanan yang dibeli di Circle K. Hehehehehe. Berlarian kami cari tempat teduh, akhirnya nemu kursi taman di pinggir sungai yang ada rumah-rumahannya, dari kayu berwarna coklat tua dan terlihat futuristic. Hmm, begini nih bangunannya…

Bekal nasi kami buka, diterpa angin dingin dan sedikti tampias hujan, kami makan siang pake corned telur dan sambel bajak. Karena dingin, nasi pun udah keras.

Sampai jam 16.15 kami memilih tetap duduk di kursi taman ini, yah biarpun kami nggak bisa sepenuhnya berlindung dari angin dan gerimis, paling nggak ada tempat duduk. Dari pada harus berdiri nungguin di bus stop.
Ada sebuah bus besar berwarna putih dateng, saat kami hampiri ternyata bukan bus kami. Baru sekitar sepuluh menit kami nungguin, datang bus dengan label 160 tujuan ke Storslett. Bus merapat, drivernya masih muda, badannya kurus dan rambutnya coklat gelap acak-acakan, perawakannya mirip Shaggy. Ini driver bus di Norway pertama yang saya temuin masih muda, biasanya Bapak-bapak. Dia menyapa kami sebentar, dan suruh kami nunggu ketika saya tanyain tujuan bus.
Mas Shaggy malah ambil tas dan turun dari kemudi, rupanya ganti shift. Seorang laki-laki tua duduk menggantikan Mas Shaggy. Kami segeera naik dan bayar 330 NOK untuk dua orang. Perjalanan kami menempuh sekitar dua jam, dengan tujuan Djupvik skole.

Host Airbnb kami di Djupvik adalah Tor Henning. Host yang udah aktif ngajak ngobrol di aplikasi Airbnb sejak beberapa minggu sebelum kami sampai di Norway. Bahkan seminggu sebelum kami sampai di Norway dia sempet aja mamerin foto di depan rumahnya, view Lyngenfjord lengkap dengan background Lyngen Alps yang beberapa puncaknya tertutup salju.
And he said, “Crispy morning here in Djupvik. :)”
Aaaah! Pas pertama lihat foto dari Tor langsung ngebayangin itu di atas Lyngen Alps menari-nari Northern Lights! Maka ketika perjalanan ke Djupvik saya beneran resah, masalahnya udah tiga hari yang lalu mendung terus di Lofoten. Kalau udah ngomongin cuaca, emang sih nggak bisa lagi tawar-tawaran, terima apa adanya aja.
Karena Tor sendiri nggak tau bus stop apa yang paling deket dengan rumahnya. Kebetulan dia nggak bisa nemuin kami, dia lagi ada perlu di rumahnya yang satu lagi di deket Sørkjosen. Banyak kali keknya rumahmu Tor, sombong! Yah, paling nggak Sørkjosen masih di Norway sih, nggak di Asgard.
Beberapa kali ngobrol dan dia cuma bilang, “My house is 1 km south from Lyngen Lodge.” Dari Google Maps memang muncul Lyngen Lodge, tapi ngira-ngira satu kilometernya yang agak susah kan. Akhirnya Tor ngirim location pake angka-angka bujur dan lintang, baru setelah disearch di google ketemu exact locationnya. Kami runut rute bus yang udah kami pantengin di maps.me, sampe akhirnya begitu muncul lokasi bus stop paling deket, kami tekan bel tanda kami mau turun. Bus merapat di bus stop, Jovollen.
Rumah Tor tepat berada di tanjakan tempat kami turun dari bus, sebuah rumah dari kayu bercat warna putih. Ada kunci diletakkan di bawah sapu di samping pintu masuk. Dan terbukalah, tempat kami akan bermalam untuk dua hari ke depan. Ini adalah satu-satunya tempat kami nginap sampai dua malam. Dan sebetulnya juga tempat nginep paling mahal! Semalemnya hampir 850 ribu per orang. Dan emang ketika search di Airbnb, cuma muncul satu ini tok. Penginapan lain di sekitar sini ada Lyngen Lodge yang emang beberapa kali disebut sama Tor. Kami nggak berminat ngecek harga per malemnya, karena Lyngen Lodge hotel bintang 4, atau ada juga Lyngen Arctic View yang per malemnya 3.9 juta untuk berdua. Jadi, pilihan di Airbnb punya Tor udah yang paling mending.
Rumah dua lantai dengan gaya yang sangat khas Scandinavian. Kami disambut mudroom yang langsung menyambung dengan kamar mandi dan tangga untuk ke lantai dua. Lalu sebuah dapur yang digabung dengan meja makan, dan ruangan di paling ujung sebuah living room luas dengan perapian dan jendela besar menghadap ke Lyngen Alps! Oh wait, ada sebuah teleskop panjang yang bersender tepat di samping jendela. Berebut kami coba ngintip, Lyngen Alps yang jauh di seberang bisa kelihatan sangat deket. Luar biasaaaa.
Dan lagi, saya sengaja nggak foto interior rumah Tor karena selain kurang sopan, juga saya emang lupa sih. Hehehehehe.
Malam itu sambil makan malem pake gudeg kaleng saya banyak ngobrol dengan Tor lewat aplikasi Airbnb, tentu saja tentang tujuan hiking kami besok pagi. Kami akan mendaki Mount Storhaugen, yang setelah berkali-kali googling nggak banyak nemu artikel tentang hiking di sana. Dari artikelnya Mas Oliver Descoeudres di blognya, Trailheadnya ada di deket Djupvik cemetary, sementara Tor Henning nyaranin lewat his special route, tepat di belakang rumahnya. Kalo dirinci emang sih, jarak dari rumah Tor sampe Trailhead di deket Djupvik cemetary itu hampir satu kilo, dan bakal memutar. Yah, kalo bisa dipangkas sih mending lewat Tor’s special route. Yang bikin kepikiran malem itu adalah kalo special route buatan Tor ini udah mulai ketutup. Track terbuat karena banyak dan sering orang yang lewat. Jadi kalo special routenya cuma dia sendiri yang make, saya khawatir bakal kesasar.
Ah iya, kamar kami lumayan kecil, double bed dan nggak banyak sisa ruang. Tapi ada sebuah jendela yang tepat menghadap ke Lyngen Alps. Sepanjang hari itu mendung, jadi saya nggak banyak berharap bisa menyaksikan Northern Lights.
Tomorrow, maybe?

Advertisements

21 thoughts on “Day 9 and 10 in Norway, “Long Road to North”

    1. Betul sekali Bang. Selain gudeg kami juga bawa rendang kaleng nih. Selain Indomie pastinya. Hehehehe.Saya beli online Bang, lumayan buat persediaan kan.
      Makasih Bang Harlen udah mampir. 🙂

      Liked by 1 person

  1. Penasaran sama penampakan kamar kalian di rumah Svein, di atas nggak ada soalnya hehe. Kalau pas di AirBnB Svein berapa harga kamarnya, mas?

    Nggak tergoda kulineran di Bardufoss mas?

    Kalau harga makanan di Circle K itu berapa? Haha, maap komentarnya nanya semua 😀

    Liked by 1 person

    1. Iya nih Mas. Ngublek ublek di galeri kamera sama HP ternyata nggak sempet moto Mas. Di tempat Svein semalem 800 ribu buat berdua Mas. Standarnya di sana segituan semalem.
      Kami mengusahakan kulineran lima hari sekali Mas. Hahahaha. Biar nggak tekor. 😹

      Nggak papa Mas. Amaan. Di Circle K kebanyakan snack Mas. Di swalayan kek Coop atau Joker yang jual roti roti. Seporsi 30-60 ribuan.

      Liked by 1 person

  2. Kok bisa supir busnya gak liat ya? haha, aku jadi teringat pengalaman naik TransMusi di sini. Ternyata, supir bus gak akan stop ke semua halte kecuali orang yang ada di halte berdiri atau bahkan kasih kode pake tangan kalau mau naik bus. Mungkin supirnya kapok kalau orang di halte itu cuma numpang duduk doang hahaha.

    Soal airbnb, bener juga, sepintas kesannya rada miris. Rumah mertua sendiri nyewa. Tapi begitu lebih baik karena memang ada biaya yang harus dibayarkan jika mau pake. Lebih baik terbuka gitu dan apa adanya. Di sini kan mertua suka pada ngeluhin biaya pdam dan pln bengkak karena pemakaian yang jadi lebih banyak. Dilema 🙂

    Liked by 1 person

    1. Di bua stopnya emang ada kursi tamannya gitu sih Mas. Jadi kami emang sambil duduk duduk. Dikiran nggak lagi nungguin bus kali ya.

      Iya Mas. Kebayang di Indonesia pasangan masih tinggal sama mertua itu lumrah, di sana disewain ya. Tapi lucunya Mas, di Lofoten jarang banget ketemu anak muda. Orang lokal isinya orang tua. Apa pada merantau kali ya.

      Like

  3. Halo om bardiq, salam kenak, sy Arie, berencana jg ke Norway tp cm bentar. Uda baca buanyak bgt tulisan ttg norway ini. Tp dlm foto2nya ga keliatan salju ya? Bulan2 segitu apa emang dah ga ada ato gmn? Mengingat ini kan didlm lingkar kutub dan msh winter. Sy renc ke norway awal nov thn ini

    Liked by 1 person

    1. Halo Mas! Terima kasih banyak udah mampir. 😭

      Iya betul Mas. Kami keteku salju cuma ketika hiking Mt. Storhaugen. Salju mulai turun sekitar Oktober pertengahan sampai April Mas. Sisanya memang nggak ada salju. Kami memang menghindari winter Mas. Cost lebih banyak, gear lebih repot, dan hiking juga lebih susah.

      Semoga lancar tripnya ya Mas Ari!

      Like

      1. Aamiin… Msh nyusun itinerary kasar sy. Sy ke norway memang pengen lihat northern light. Tp jatah wkt sy paling cuma 2 hr. Utk itu sy akan ikuti saran ttg berburu northern light yaitu mau ga mau gabung sama agen tour. Kadung dah sampe sono kalo ga dpt sayang bgt.
        Oh iya, sy baca di halaman2 sblm ini ktnya mau ke Tromsø tp kok ga ada tulisan ttg kota ini? Apa memang blm semoet nulis bagian ini? Krn sy tujuannya nanti akan lgsg ke Tromsø, pengen baca ulasan kota ini.

        Liked by 1 person

      2. Euro Trip gitu ya Mas? Ke mana aja nih rutenya?
        Iya Mas. Kalo cuma dua malem mending join tour aja. Mahal sih memang. Soalnya Tromsø kota besar juga, jadi harus NL yang kuat banget biar bisa keliatan di Tromsø.

        Hehehehe. Belum sempet ngelanjutin nih Mas. Di Tromsø nanti hari ke 13-14.

        Liked by 1 person

  4. Hehe ga bs dibilang Euro Trip sih krn sy cm punya wkt 12 hari aja om.
    Maren awal2 ga kepikir Norway, tiba2 terlintas Northern Light dan sy modif itin sy, akibatnya jd byk tempat yg tdk bs sy kunjungi.
    Dgn wkt yg hanya 12 hari, maka kalo sy ambil 4 negara jdnya rata2 hanya punya jatah 3 hari. Sy masuk dan kekuar kewat Amsterdam om, ga bs ambil multi city jd hanya bs via Amsterdam aja.
    Renc rute sy Amsterdam – Tromsø – Paris – Brussel – Rotterdam/Amsterdam.
    Ya memang sih jd ga maksimal di 1 negara krn hanya 2-3 harian aja rata2 per negara. Tp sy pikir kapan lg sy bs balik ke Eropa?? Jd sptnya sy memang hrs sempatkan utk ke Tromsø demi mencontreng salah 1 waiting list sy.
    Sy bawa pasukan om, ada anak 1, jd ga bs bebas keluyuran krn hrs pertimbangkan kondisi anak/istri jg.

    Jd kapan mau nulis tentang Tromsø nih hehe 🙂

    Liked by 1 person

    1. Amsterdam-Tromsønya naik apa tuh Mas? Kayaknya harus ke Oslo dulu terus terbang ya? Agak repot emang transport ke daerah utara utara ini.

      Hahahaha. Lagi nyuri nyuri waktu nih Mas. Dulu selalu bikin deadline harus beres sebelum jadwal traveling berikutnya. Lha ini belum ada jadwal ke mana mana lagi, jadi malah molor terus ngelanjutin nulisnya. 🙈

      Like

      1. Ke Tromsø dari Amsterdam. Flight via Bergen buat transit bentar. Baliknya dari Tromsø yg lewat Oslo, nginep semalem baru lanjut Paris. Beda gaya travelingnya ya om hehe…
        Tdnya pengen sekalian melipir ke jerman tp wkt ga cukup.
        Btw itu pake kamera apa ya? Bagus bgt poto2nya

        Liked by 1 person

      2. Nggak papa Mas. Memang kalo udah traveling jauh-jauh harus bisa manfaatin waktu ya.

        Aku pake Fujifilm X-T20 Mas. Sama Fujinon 23mm f1.4. Dimensinya pas, nggak terlalu wide, nggak terlalu zoom. Buat potret bokeh kece, buat landscape masih mumpuni.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s