Bukit Lailara si Pelipur Lara

Dengan perut yang kelaparan, dan ngemilin snack snack yang kami dapet di warung entah berantah, kami bergerak menuju Waingapu. Beberapa saat yang lalu sudah ada sinyal, dan sudah ada kabar dari guide kami, Helmi. Bahwasanya… Helmi.. ngabarin.. kalo… geng sebelah… ketinggalan pesawat… dan… memutuskan… untuk membawa geng sebelah… menuju… tempat lain… bukan sesuai kesepakatan, Pantai Tarimbang.
Sakit hati. Aseeeem. Sakit perut yang dari tadi saya tahan, jadi kerasa berkali kali lipat gara gara sakit hati. Satu mobil kami yang isinya Bapak Bapak ini ngomel ngomel terus. Nggak berhenti maki maki dan menyusun seribu satu rencana buat membalas dendam. Hahaha. No, we’re not that mean.
Sudah jam 5 tepat, suasana di dalem yang riuh membuat saya tidak memperhatikan sekitar. Pak Rais menepi, meminta kami untuk turun dan menyaksikan salah satu atraksi yang ditampilkan oleh Pulau Sumba. Nama tempat ini adalah Bukit Lailara. Saya turun dari mobil dan saya bisa melihat sekeliling kami adalah padang rumput berwarna hijau luas yang tak habis sampai hilang ditelan horizon. Di ujung barat, matahari sudah mulai lelah, hampir memasuki jam tidurnya.

Photographed by: @prabowoadityo
Kami yang dari tadi dongkol karena ulah guide kami, seketika lupa, seketika terbius keindahan Bukit Lailara. Dan kami sibuk bersenang senang, sibuk mengabadikan suasana ini. Terima kasih, wahai Bukit Lailara si pelipur lara.
Photographed by: @prabowoadityo

Bahahaha, mulai belang. Photographed by: @prabowoadityo
Ini Pak Adit beneran moto Pak Yoga loh. Yang mau lihat foto Pak Yoga bokeh full monitor bisa kontak saya aja langsung ya, nanti saya kirim email. Hehehehe.
Sudah mulai gelap, Pak Rais mengajak kami segera bergegas pulang ke Waingapu. Pak Rais bilang, Helmi dan geng sebelah akan makan malem di salah satu rumah makan seafood di Waingapu. Kami yang udah sangat dongkol berencana untuk makan sendiri tanpa gabung dengan mereka, terus langsung balik ke hotel. Tapi karena beberapa obrolan, termasuk masukan dari Pak Rais, akhirnya kami setuju untuk ikut bergabung makan malem dengan Helmi dan geng sebelah.
Jam 7 malem kami sampai di rumah makan seperti yang diinfokan Helmi. Kami disambut anak anak geng sebelah yang tertawa tawa meminta kami ikut menertawakan kesialan mereka karena ketinggalan pesawat. Saya cuma membalas senyum. Beberapa berupaya ramah menanyakan rencana mereka besok. Saya lihat Helmi keluar dari salah satu mobil dan mendekati kami. Saya menghindar, dan langsung masuk dan duduk di salah satu meja yang udah disediakan.
Saya lupa, entah Prayoga atau Anes yang ngasih tau saya, kata kata yang keluar dari mulut Helmi setelah menelantarkan kami, “Group sebelah kasihan tuh, ketinggalan pesawat.” Dah, gitu tok. Jangankan minta maaf, nanya kami ngapain/kemana  aja enggak.  Kami diam semua dan langsung duduk di meja makan tanpa menegur atau membahas apapun dengan Helmi. Dan lucunya, Helmi malah ikut menghindar. Nggak ikut gabung makan malem dengan dua geng asuhannya, dia malah masuk mobil dan menunggu di sana.
Yang kemudian kami tahu, kalo ternyata kami diajak makan enak dan sepuasnya adalah sebagai ganti rugi karena mereka telah menelantarkan kami di Pantai Tarimbang. Wait Mas Bardiq, kok elu tahu?
Yak, tentu bukan Helmi yang memberi tahu. Karena sampai akhir trip dia terus menghindar dan mengurangi obrolan dengan geng kami. Jadi, beberapa saat setelah pulang dari Sumba. Terjadi drama penyerangan di Instagram trip planner kami ini. Oke, saya akui itu tindakan yang kekanak kanakan dan nggak bijak. Jadi biar nggak makin rame, saya memutuskan untuk mengirim email ke trip planner yang bersangkutan, panjang lebar saya jelaskan mengapa kami kecewa. Dan setelah TUJUH HARI mereka mencoba crosscheck, terkait penelantaran makan siang mereka menjawab, “Kami memutuskan untuk memberikan budget lebih pada makan malam pada hari itu sebagai pengganti jatah makan siang.” Hmm…
Click here to see all of my Sumba stories.
Advertisements

17 thoughts on “Bukit Lailara si Pelipur Lara

    1. Nah itu spesialnya Mas. Ketika musim hujan, Pulau Sumba kelihatan ijo semua. Tapi ketika kemarau, semuanya jadi coklat dan kering. Jadi perlu dua kali harusnya ke Sumba ya kalo mau dapet dua view ini. Hahahahaha.

      Liked by 1 person

    1. Nah, jadi gini Mas. Geng sebelah udah ngasih tau kalo pesawat mereka jam 1 siang, tour guide juga udah ngasih tau kalo mereka harus balik ke Waingapu jam 12. Tapi geng sebelah lupa waktu di Bukit Warinding, dan tour guide juga nggak ngajak mereka buat segera berangkat. Jadi yang satu keasikan, yang satu kurang kontrol.

      Like

      1. Enggak Mas. Geng sebelah malah sempet juga salah beli tiket. Jadi udah ada di itin dari tour guide kalo trip bakal memanjang dari barat ke timur, jadi diminta buat beli tiketnya rute landing di Tambolaka, dan pulang dari Waingapu. Mereka malah pulang pergi dari Tambolaka. Jadi ya mereka emang sama sama misunderstanding.

        Like

      2. Hm, kalo gitu kondisinya, pihak tour menurutku nggak salah, cuma sebaiknya mereka bisa mengingatkan geng sebelah kalo sudah waktunya ke airport.

        Kalo tiket sudah termasuk dalam paket, aku bakal ngedumel ke orang turnya juga hahaha

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s