Cerita Trail Run: Gunung Sumbing via Cepit, “My Obsession with Mount Sumbing”

Lokasi : Cepag, Temanggung
Trailhead : (-7.331926, 110.094508) or Google Location
Level : Moderate – Hard
Ketinggian : 3,351 mdpl (elevasi awal: 1,284 mdpl)
Elevation Gain : 2,130 meters
Jarak : 17 km
Waktu Tempuh : 9-11 jam(Pulang Pergi)
Bulan Pendakian : Juni
Data berdasarkan Strava : Click here to see My Strava Activity
GPX : Download GPX File
Setelah belasan tahun saya tinggal di Magelang, dan hampir setiap hari saya bisa melihat gunung Sumbing dari dekat rumah saya, selalu ada keinginan buat mendaki. Padahal saya terlalu skeptis dengan segala keribetan untuk mendaki gunung. Kalau bisa satu hari pulang pergi, kayaknya boleh juga dicoba buat mendaki gunung Sumbing. Tapi Sumbing itu tinggi bro, hampir semua pendaki selalu sedia tenda untuk ngecamp, kompor untuk masak, beras atau minimal Indomie untuk bekal. Toh juga di situ seninya orang main ke gunung.
Saat mulai sering jalan-jalan ke luar negeri, dan nyempetin untuk hiking di sana, mulai dari Roys Peak di Wanaka sampai Mount Storhaugen yang puncaknya udah ketutup salju, sering ditanya di Indonesia udah pernah naik gunung apa aja? Yah, saya cuma bisa senyum doang, karena seumur-umur di Indonesia belum pernah naik gunung. Di belakang rumah ada Bukit Tidar pun malas didaki, padahal ketinggian cuma sekitar 500 mdpl, elevation gain nggak sampe 200 meter, track udah paving, mayan buat latihan lari nanjak.
To be honest, gunung pertama di Indonesia yang pertama saya daki justru saat ikut race trail run: MesasStila Peaks Challenge 2018 (MPC). Saya ambil kategori 42K, dan mendaki tiga gunung ketinggian rendah. Gunung Andong, Gunung Terlomoyo (yang tak sampai puncak) dan Gunung Gilituri (yang juga tak sampai puncak).
Semangat untuk mulai naik gunung mulai menggebu-gebu karena finish dengan sehat walafiat di MPC kategori 42K dan memutuskan untuk menaikkan target di 2019: Bromo Tengger Semeru kategori 70K. Saya nggak boleh main-main, saya harus latihan, saya harus mempersiapkan strategi, termasuk mengiyakan ajakan dari senior-senior di dunia per-trail run-an, buat tektok, alias naik sampai summit dan langsung turun gunung.
Ajakan buat tektok paling sering dateng buat mendaki gunung Andong. Hampir tiap minggu temen-temen dari Magelang atau Semarang ada yang lari tektok di Gunung Andong. Dan saya sendiri juga sebenernya ngincar buat tektok di Gunung Andong dulu. Tapi saat saya nge WA Mas Dakon, senior lari dari Semarang Runners yang udah wira wiri tektok, muncul ajakan ke gunung lain: Gunung Sumbing.
Begitu denger gunung Sumbing, mata berbinar-binar, ada perasaan menggelitik di dalam diri, yang perlahan membuat jantung memompa darah lebih kencang, dan muncul perasaan semangat luar biasa. “AYOK MAS DAKON! GASKAAN SUMBING.”
Jadi ayook, saya ceritakan pendakian tektok pertama saya ke gunung Sumbing!
SEKILAS TENTANG GUNUNG SUMBING
Gunung Sumbing berada di Jawa Tengah, tepatnya berada di tiga Kabupaten: Magelang, Temanggung, dan Wonosobo. Gunung Sumbing memiliki ketinggian 3,371 meter di atas permukaan laut dan merupakan gunung tertinggi ketiga di pulau Jawa setelah gunung Semeru dan gunung Slamet. Fakta ini juga yang membuat saya agak kaget pas ikut briefing sebelum mulai pendakian. Hlaa, nekat juga saya ternyata. Pendakian tektok pertama langsung ke Gunung Sumbing. Tapi ya sudah, mumpung banyak senior yang bisa membimbing.
Ada beberapa jalur untuk mendaki sampai puncak gunung Sumbing, untuk tektok kali ini saya ngikut dengan pilihan jalur para senior, Jalur Cepit yang didaki dari Basecamp Cepag di Temanggung. Untuk lokasi Trailhead bisa kamu cek di header postingan ya!
THE PREPARATION
Mas Dakon njapri saya di WA, informasi singkat tentang rencana tektok ke gunung Sumbing. Judulnya “Endurance Training”, jarak kurang lebih 18 KM dan elevation gain sekitar 2,200 m. Mandatory Gear: Headlamp, personal food and medicine, Survival Blanket, HP, Air minum 1.5L, windproof jacket/raincoat, dryfit clothes. Lumayan begidik juga baca jarkomnya, jarak 18 KM pulang pergi dapet elevation gain 2,200 m. Sementara MPC 2018, dengan jarak total 42 KM elevation gainnya 2,600an. Jadi langsung kebayang gimana nanjaknya ini jalur Cepit.
Jarkom dari Mas Dakon lengkap dengan informasi location google maps di desa Cepag, saya coba search di google maps, lokasinya 38 kilo aja dari rumah, diperkirakan nggak sampai sejam sampai. Start trail run jam 02.00 dini hari, jadi paling nggak jam 01.00 saya harus udah sampe Base Camp. Saya orang baru, dan nggak boleh jadi orang yang ditungguin.
Jadi, setelah isi perut dengan makan malem kedua (iya, seharian itu saya makan sampai lima kali dengan porsi sedang buat nambah kalori, cari energy) jam 23.00 saya berangkat dari rumah. Saya sengaja berangkat lebih awal karena belum tau di mana lokasi Base Camp dan kekmana kondisi jalan ke Base Camp. Jaga jaga aja bro, mana tau jalannya susah dicari, karena cuma ngandelin google maps buat sampai ke Base Camp.
Setengah jam sebelum saya berangkat, saya menyeduh kopi panas sachet yang ada campuran rempah-rempahnya. Kopi ini dibawain temen kantor saya, Deni, yang asli Wonosobo. Udah kebayang kopi panas apaan yang saya minum? Eheheheeh, Purwaceng. Sebenernya Purwaceng ini rempah-rempah khas Dieng yang katanya punya khasiat untuk ‘ceng’. Hmm, bahasa sopannya: untuk staminanya lelaki (wkwkwkwkw, bahasanya macem iklan obat kuat). Kata si Deni, Purwaceng yang asli rasanya nggak enak, jadi agar lebih bisa dinikmatin, memang disediakan versi sachet yang udah dicampur kopi dan gula. Dia bawa satu kotak isi lima sachet dan dibagi-bagi satu ruangan. Kata temen saya yang minum duluan, efeknya bikin nggak ngantuk, bikin badan seger. Temen saya ini minum sore, semaleman nggak bisa tidur dan besok paginya badan masih aja seger. Omaaak, mayan juga buat kalau mau lari trail begini kan.
Jadi gimans rasanya? Beneran ‘ceng’?
Hmm. Sebagai penikmat kopi pahit, menurut saya untuk ukuran kopi rasanya terlalu manis, tapi kerasa rempah-rempah yang bikin badan anget. Tapi karena butuh gula untuk energy booster, Purwaceng dengan kopi sachet begini cocok lah untuk bahan bakar sebelum trail run. Jadi yang saya rasain, Purwaceng lebih berpengaruh ke stamina dari pada ke ‘ceng’nya.
Seharian sebelum saya berangkat ke Base Camp, lumayan deg degan juga tuh. Langit mendung, gunung Sumbing dari rumah sama sekali nggak kelihatan karena tertutup awan. Bukan mendung yang gelap gitu sih, tapi tetep aja lumayan keder nih. Gimana kalo mendung, atau bahkan hujan. Menjelang keberangkatan dari rumah juga nggak kelihatan bintang sama sekali.
Perjalanan menuju Base Camp gampang-gampang susah. Dari rumah saya di Magelang lalu menuju Temanggung dan terus aja ke arah Parakan. Lalu berbelok ke kiri di daerah Butuh lalu jalan bakal terus terusan nanjak. Dari belokan ini masih harus naik sekitar sembilan kilo lagi. Jalanan yang awalnya lebar dan banyak pemukiman/perkantoran mendadak mulai berubah sempit, dan gelap. Rute dari google maps juga perlu beberapa kali ketemu persimpangan, jadi perlu sesekali menepi buat ngecek rute, jangan sampe kesasar juga.
Jalanan semakin menanjak, kanan kiri masih kebon dan sawah. Beberapa kali ketemu kampung, tapi tetep aja karena udah jam 12 malem, nggak ada ketemu orang. Horror juga. Sampe kemudian pas di tengah-tengah sawah gitu, kabut mulai kelihatan, dan terus semakin tebal. Satu-satunya penerangan cuma lampu dari sepeda motor yang lumayan membantu karena saking tebalnya kabut, saya cuma bisa melihat nggak sampe 10 meter ke depan. Ada perasaan pingin ngebut biar cepet sampe Base Camp, tapi ada perasaan takut kalo tiba tiba jalan ketemu tikungan tajam, atau entah apa yang tiba-tiba nyebrang.
Pernah kah kamu, yang ngaku pemberani nonton film horror, merasakan hal yang saya rasain juga? Di kondisi seperti ini, tiba-tiba semua adegan ngeri di film horror yang pernah ditonton kayak keputer di otak pelan-pelan dan satu-satu. Nggak Cuma itu, cerita-cerita horror yang bahkan udah bertahun-tahun silam diceritain temen tiba-tiba keinget lagi. Menepis itu semua saya cuma bisa berdoa dan lumayan mundurin posisi duduk di jok motor. Yah, berusaha menggusur opini ada yang lagi membonceng di jok belakang. Ehehehehe.
Setelah lima kilo meniti jalan yang terasa tak nyaman, ketemu juga kampung warga, dari rute yang saya baca di google maps, Base Camp tingal beberapa ratus meter lagi. Sampe kemudian ketemu di sebelah kanan jalan, sebuah lahan agak luas dengan beberapa mobil dan sepeda motor yang terparkir. Ada beberapa Mas-Mas yang lagi duduk-duduk aja di depan.
“Mas, Base Camp Cepag di sini ya?” Tanya saya.
Nggih Mas. Parkir mriki. Mas saking pundi?”
Oh yeay! Sampai juga saya di Base Camp! Begitu saya masuk, sudah ada Mas Dakon yang cengir cengir menyambut saya. Katanya sampai dua puluh orang yang ikut ngetrail, tapi baru beberapa aja yang datang termasuk saya.
Selesai markir sepeda motor, saya kaget luar biasa. Langit sepenuhnya cerah. Bintang-bintang terlihat menyebar luas baik di langit yang mengitari bulan, atau di bawah saya! Lampu-lampu rumah warga di kejauhan membuat sepanjang mata melihat, banyak kelap-kelip. Ternyata kabut yang saya tembus tadi adalah awan yang saat saya di Magelang nutupin sebagian gunung Sumbing. Mohon maaf, nggak bisa difoto, karena cuma bawa HP doang. Memang di setiap petualangan selalu ada hal-hal yang hanya bisa disaksikan dengan mata, bahkan kata-kata pun masih susah untuk menerjemahkannya.
THE HIKE
Setelah kami ngumpul semua, total ada 21 runners! Dan saya baru diperkenalkan dengan komunitas ini. Namanya, Bocah Playon Gunung (@bocahplayongunung) yang sebagian besar berdomisili di Semarang. Malam itu Pak Adi memulai kegiatan dengan briefing singkat, kasih gambaran sepintas pendakian ke gunung Sumbing via Cepit. Bahwasanya…. gunung Sumbing adalah gunung tertinggi ketiga di pulau Jawa setelah gunung Semeru dan gunung Slamet. Saya langsung mendongak ke arah Pak Adi. We? Tektok pertama saya dan ternyata langsung ke gunung setinggi ini. Saya cuma senyum simpul sambil balik menundukkan kepala. Dan juga… jalur Cepit merupakan jalur pendakian paling berat di antara beberapa jalur pendakian gunung Sumbing, jalur relatif sepi dan tidak ada sumber air. Lagi, saya mendongak ke arah Pak Adi.
“Jadi pastikan bahwa kita semua membawa air minum sendiri-sendiri, paling tidak 1.5L per orang.”
Saya tersenyum dan kembali menundukkan kepala. Oalaah. Semoga kuat lah ini ya, nggak ngerepotin orang, karena saya cuma bawa dua soft flask masing-masing 500 ml untuk persediaan air.
“Tapi tenang, kita pakai porter yang khusus bawain air minum. Tapi karena porter jalan kaki, jadi ya kalau mau refill air, harus nunggu porter, atau jemput bola.”
Kali ini senyum simpul saya merekah ikhlas, nggak sepet lagi, lumayan lega karena air minum tersedia banyak.
Dari start di Base Camp, pengelola menyediakan jasa ojek yang bisa antar jemput sekitar 2.5 kilo dari Base Camp. Karena masih seger dan semangat, saya menolak buat naik ojek, rame rame aja mulai start dari Base Camp.
A little brief.
Setelah berdoa bareng, tepat jam 01.30 dini hari kami memulai pendakian.

Pendakian menuju 2.5 kilo yang ditawarkan bisa naik ojek ternyata lumayan juga nanjaknya. Kami memulai pendakian dari ketinggian 1,284 mdpl dan sampai di titik akhir naik ojek ada di ketinggian 1,700 mdpl. 2.5 kilo dengan elevation gain hampir 500an meter. Nafas langsung ngos-ngosan, punggung langsung keringetan.
Lama kelamaan, kami terbagi jadi kelompok-kelompok kecil yang tanpa sengaja bareng karena pace yang hampir sama. Awalnya saya nggak kenal satu sama lain selain Mas Dakon (yang udah ngibrit duluan ninggalin saya). Di sini saya sering bareng Mas Iwan dan Mas Andy.
Track saat itu kering dan gampang berdebu, karena sudah masuk ke musim kemarau dan jarang sekali hujan. Saya sampai beberapa kali harus pakai buff walaupun jadi agak susah bernapas. Saya mendongak ke langit, perasaan biarpun gelap kok saya bisa dengan mudah melihat ke sekeliling. Ternyata bulan lagi bersinar terang-terangnya!
Dengan dibantu headlamp kami terus menyusuri track tanah dan terus melewati pos 1, pos 2 tanpa banyak istirahat. Dan sampai di pos 3 jam 03.50
Pos 3. Yeay!
Berarti dari Base Camp sampai Pos 3, saya dan beberapa temen yang pacenya sekata dan seirama memerlukan waktu dua jam 30 menit. Biarpun judulnya trail run, tapi hampir nggak ada ‘run-run’nya, cuma sebisa mungkin jalan cepat dan sesekali berhenti sambil nunggu temen kalo jarak terlalu jauh (atau ditungguin).
Saat perjalanan menuju Pos 4, samar-samar mulai terdengar adzan subuh. Saya berhenti sejenak. Duduk dan mengamati titik titik lampu di bawah saya dan kelap kelip bintang di langit. Dengan bantuan sinar bulan aku akan menghukummu (halah), dengan bantuan sinar bulan bahkan saya bisa samar-samar melihat gunung Sindoro di sebelah kiri saya. Dan terlihat titik-titik cahaya yang mengular dari bawah hingga puncak gunung Sindoro. “Sindoro lebih rame ternyata ya.” Titik-titik lampu itu dari headlamp para pendaki gunung Sindoro. Saya sendiri kaget bisa sampai terlihat dari gunung Sumbing.
Di sekitar Pos 3 ke Pos 4 ini ada jalur baru, yang sebenernya saya yang newbie ini nggak tau di persimpangan mana jalur baru dan jalur lama. Kalau melewati jalur baru, bakal sampai di Pos 4 di Puntuk Sejengking. Melanjutkan kembali pendakian, dan sampailah saya di Pos 4 jam 5 tepat.
Pos 4 at 5 o’clock.
Di Pos 4, Pak Adi senior kami kasih briefing singkat, kalo selepas Pos 4 kita akan menuju Puncak Kawah, Segoro Wedi, dan merupakan track terberat karena nanjaknya bakal lebih ekstra. Sampai Pos 4 dan track sejauh ini nggak bisa dilariin, cuma bisa jalan cepet dan sesekali istirahat pas detak jantung udah kerasa kayak hentakan musik dugem. Jadi ketika Pak Adi bilang Pos 4 sampai Puncak Kawah bakal lebih berat, saya cuma bisa mengeluarkan jurus andalan: senyum simpul.
Setelah beristirahat sebentar di Pos 4, kami melanjutkan perjalanan kembali. Pohon-pohon sudah tak lagi menemani kami. Berganti menjadi rerumputan pendek dengan track lebih banyak bebatuan. Tanpa sadar, batre headlamp udah mulai meredup. Pas saya duduk buat ganti batre headlamp, saya menghadap ke arah timur, ternyata di ufuk timur segaris horizon sudah berwarna oranye. Dan saya memilih untuk tidak mengganti batre headlamp karena tanpa bantuan headlamp pun mata sudah bisa melihat kondisi sekitar.
A rising star.
Saya lupa siapa yang bilang ke saya, tapi dia ngajak saya buat naik lagi, “Udah ditungguin di atas tuh, pemandangannya di sana lebih bagus lho.” Saya mendongak, tanjakan dan hanya tanjakan yang berada di depan mata, pun puncak yang kami tuju belum terlihat.
Saya menguatkan kaki, dan terus menyusul temen-temen, diterjang angin yang langsung bikin kandung kemih berdenyut-denyut.
Sudah lumayan terang dan saya ketemu beberapa temen yang udah asik foto-foto duluan. Ada Mas Dakon sama sepupunya, Mas Dani, Mas Andy, Mas Iwan, dan Mas Nino. (Mas Mas semua, mana Mbak Mbaknya Bar?)
Saat membalikkan badan, ternyata saya disajikan pemandangan yang memang luar biasa! Words are limited, but I’ll try my best to describe it for you.
Di sebelah kanan saya, lautan awan tebal membentang, sebuah gunung menyembul di tengah-tengahnya. Di kejauhan matahari memang belum terlihat, tapi sebaris warna oranye mulai nampak dan mengusir bintang-bintang yang sedari pendakian menemani kami, dan langit kala itu terlihat berwarna biru gelap. Lautan awan tadi semakin menipis saat saya melihat ke arah kiri saya, mencoba merangkul gunung Sindoro yang mendampingi gunung Sumbing, dan di belakangnya gunung Prau terlihat mengintip malu-malu.
Perfect place to sit down.

This slideshow requires JavaScript.

Karena angin bertiup kencang, tapi kami masih ingin berlama-lama, kami sampai nyari batu besar untuk berlindung dari terpaan angin.

Hampir sejam saya menikmati sunrise di sini, dan karena takut kesiangan, saya dan beberapa temen lain memutuskan untuk melanjutkan pendakian. Sebagian ada yang tetep tinggal, termasuk Mas Andy tuh, sampe tidur pulak setengah jam di sini sendirian.
Jam 08.15 saya sampai di Puncak Kawah. Ada dua kawah di gunung Sumbing. Kawah yang saya lewatin ini sudah membeku, jadi sudah membentuk dataran luas berwarna abu-abu terang dan bisa dipijak. Tempat ini juga disebut Segoro Wedi. Ada satu lagi kawah di sisi yang lainnya, dan masih aktif, masih mengepulkan asap. Di kawah yang satunya lagi ada makam Kyai Makukuhan. Jadi jalur Cepit ini lebih sering dipakai peziarah.

Foto ini diambil saat turun dari puncak, karena pas naik batre iPhone tiba-tiba ngedrop dan mati, kedinginan keknya. Tapi anehnya, saat suhu udah mulai hangat, coba saya nyalain, dan balik ke 60%an lagi. Foto ini Mas Dani Chika sebagai modelnya.
Setelah sampai di Puncak Kawah, tujuan terakhir adalah Puncak Rajawali. Nah, di gunung Sumbing ada beberapa puncak yang mengelilingi Puncak Kawah dan semuanya bisa didaki. Masing-masing puncak memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Ada puncak Sejati, puncak Buntu, dan puncak tertinggi yang kami pilih untuk daki: puncak Rajawali. *ada lagi kah puncak yang lain?
Itu dia puncak Rajawali.
SUMMIT ATTACK!
Tak perlu buru buru, karena konten nomor satu.
Lumayan lama saya untuk summit dari puncak Kawah. Selain medannya yang makin terjal, juga pemandangan beberapa meter sebelum puncak yang sangat cantik mulai terlihat. Kalau tadi saya bisa menyaksikan pemandangan di sisi Timur gunung Sumbing, sekarang saya bisa melihat sisi Baratnya.
Pas summit ini saya ditemenin (dan juga difotoin) sama Mbak Umi.

This slideshow requires JavaScript.

Dan sampailah saya di puncak Rajawali di atap gunung Sumbing!

This slideshow requires JavaScript.

Rupanya udah banyak yang summit duluan nih anak-anak Bocah Playon Gunung.
BPG BPG…
Saya sampai di puncak Rajawali jam 08.45. Jadi total perlarian yang tak ada larinya ini, dari Base Camp sampai ke Puncak Rajawali memakan waku sekitar 6 jam 15 menit. Kalo nggak pake nongki nongki santai selepas Pos 4 mungkin bisa jadi 5 jam 30 menit.
Saya memandangi ke arah Timur gunung Sumbing. Saya merasa sedang melihat jauh ke arah rumah saya. Bertahun-tahun saya hampir setiap hari dapat melihat gunung Sumbing dari dekat rumah, kini giliran saya berada di puncak gunung Sumbing, merasa dapat melihat balik ke arah rumah saya. My obsession with Mount Sumbing: achieved.

Jam 09.15 akhirnya kami memutuskan untuk turun. Banyak yang mulai downhill ugal-ugalan. Saya sendiri bisa lari downhill hanya sekitar sampai Pos 4, karena setelah itu ujung-ujung kaki saya udah nggak keruan rasanya. Sakit semua. Biasanya kalo downhill, lutut saya yang paling nggak kuat. Kali ini malah ujung kaki. Ketika nggak sengaja kepentok batu, hadeuuuh.. cenut cenutnya nggak ilang-ilang.
Mulai Pos 2 saya ketemu Mbak Ayu yang kakinya juga sakit. Baru ditemenin sama Mbak Ayu sampai hampir di Base Camp. Sebelum kemudian ditinggal Mbak Ayu karena saya kebanyakan foto foto dulu. Ehehehehehe.
Ini view yang sempet saya foto sepanjang menuruni gunung Sumbing.

This slideshow requires JavaScript.

Saya sampai lagi di Base Camp sekitar jam 13.00. Jadi untuk menuruni gunung Sumbing via Cepit saya membutuhkan waktu sekitar 3 jam 45 menit. Alhamdulillah, nggak ada rintangan yang berarti, pulang sampai rumah, sehat, dan dilanjut tidur cepet sebelum besok paginya harus balik lagi ke Semarang.
Kapan nih muncak lagi?

Silakan, yang mau mampir ke vlognya Mas Dani…

Advertisements

14 thoughts on “Cerita Trail Run: Gunung Sumbing via Cepit, “My Obsession with Mount Sumbing”

  1. PEMANDANGANNYA CAKEP BANGET!
    Aku baru sekali dapet view samudera awan seperti itu, yaitu di Gunung Cikuray, sekitar tahun 2016. Waktu itu bisa lari downhill sekitar 3 jam dari puncak hehe.

    Oalah jadi trail run itu nggak terus lari dari awal sampai akhir ya, mas. Intinya naik gunung dengan cepat tanpa nenda ya?

    Setuju, mas. Aku juga kalo ke tempat-tempat baru selalu berangkat lebih awal untuk estimasi nyasar hehe.

    Liked by 1 person

    1. BANGEEET MAS. Setelah khawatir bakal mendung, ternyata nyampe Base Camp kami udah di atas mendung. Heheheeh.

      Ngecamp Mas di Cikuray? Aku malah belum pernah ngecamp Mas.

      Kalo dari judulnya sih harusnya ‘run’ ya Mas. Tapi kalo memang medannya berat, ya nggak perlu dipaksa ‘run’. Hehehehehe.

      Bener Mas. Apalagi berangkatnya bareng temen-temen yang baru pertama ketemu ya. Dari pada bikin orang bad mood.

      Like

      1. Sebetulnya dari dulu pingin nyobain ngecamp juga Mas. Tapi lihatnya udah males. Bawa bawa carrier gede, tenda, kompir, belum nanti habis capek summit harus ngepak pak lagi.
        Tapi katanya yang suka naik gunung, justru di situ seninya ya. Hehehehehe.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.