Kashmir to Ladakh: Day 4, “We almost Fell Down in Leh”

24 September 2017 – Alchi, Magnetic Hill, Leh
Seperti pagi sebelumnya, saya terbangun sebelum alarm saya berbunyi. Tetep dimeremin juga nggak ngantuk. Setelah sholat subuh, saya cuci muka dan gosok gigi. Kami siap-siap untuk keliling Alchi!
Alchi adalah desa kecil dengan main attraction: Alchi Monastery. Jadi pagi itu kami berencana untuk mengunjungi monastery. Sebelum menuju monastery, kami berjalan ke arah jalan masuk desa Alchi. Jalanan masih sepi, belum ada kami temui warga, hanya beberapa hewan ternak yang dibiarkan lalu lalang.

This slideshow requires JavaScript.

Saat akan memasuki Alchi Monastery, banyak pedagangan oleh-oleh mulai membuka dagangan. Ada teman di kantor yang pingin dibeliin gelang, cuma saya lihat kok di Alchi gelang yang dijual kurang sreg. Bukan kayak yang saya pingin. Jadi saya lewat sepintas aja, nggak beli apa-apa. Beli oleh-oleh juga sudah diagendakan nanti aja di Leh yang pilihannya pasti lebih banyak.
Ada penunjuk jalan menuju Indus View. Wah, seru nih keknya. Jadi sebelum sampai di Alchi Monastery, kami mampir dulu di Indus View.
Indus View adalah satu pelataran di dekat Alchi Monastery untuk menikmati Sungai Indus yang lebar dan berwarna hijau pucat. Masih sepi sekali pagi itu, cuma kami berdua yang mengunjungi Indus View.
Dari Indus View kami memasuki area Alchi Monastery. Selain kami hanya ada satu Bapak-bapak yang sedang menyapu membersihkan area monastery. Dia tersenyum ramah menyapa kami, “Jullay.”
Beberapa area di monastery ini mulai bisa dikunjungi mulai jam 8 pagi. Tapi kalau mau jalan-jalan aja di sekitaran monastery, sebelum jam 8 pagi pun sudah boleh.

This slideshow requires JavaScript.

Karena sudah jam 7.30, kami memutuskan untuk balik ke home stay. Selain kami lapar, kami harus mulai packing karena Shabir bakalan jemput kami jam 9 pagi.
Hari ketiga meninggalkan Srinagar, dan masih terisolasi dari dunia luar Ladakh. Belum dapet sinyal juga. WiFi juga nggak ada. Nemu satu tempat makan yang nyantumin logo WiFi di bannernya, tapi masih tutup. Jadi ya sudah, baru ini sih tiga hari bener-bener terisolasi. Seru juga ya? Hehehehe.
Sampai di homestay kami buru buru mandi karena ternyata air panas sudah dimasakin, yah walopun mandi bebek seadanya kayak malam sebelumnya.
Pagi itu kami sarapan bareng Mentok dan Rijzin. Kami disuguhi dua roti bakar khas Ladakh, omelette, butter, pickles sauce, apricot jam, satu gelas apple juice, satu gelas milk tea panas, dan ditutup dengan satu cangkir teh panas dengan daun mint. Yang paling mencuri perhatian saya adalah roti bakar yang makannya pake pickles sauce dan apricot jam. Roti bakar ini berbentuk bulat. Untuk memakannya, kita belah roti setengah bagian, dalemnya kosong, kita olesi butter, lalu kita isi pakai apricot jam atau pickles sauce. Bisa juga omelette di potong-potong, lalu dimasukkan ke dalam roti ini. Apricot jam ini enak banget, manis. Dan pickles saucenya… hiaks. No, nggak masuk di lidah saya.
Semua bahan makanan kecuali apple juice Sonam ambil sendiri dari kebun mereka.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah selesai packing dan turun dari kamar, Shabir sudah duduk di ruang keluarga. Sudah jam 9 lebih rupanya. Jadi kami langsung masukkan barang bawaan kami ke bagai mobil Shabir. Lalu berpamitan dengan keluarga yang super ramah. Thank you for letting us stay at your place, Jullay!

This slideshow requires JavaScript.

Jam 10.15 kami meninggalkan Alchi. Pemandangan meninggalkan Alchi pagi itu memberikan bekas yang dalam di memory saya. Sebuah kota kecil di tengah pegunungan batu: tenang, asri, damai (kayak jargon lama lama dah).
Tujuan kami selanjutnya adalah Magnetic Hill, sebelum kami sampai di kota pemberhentian kami berikutnya, Leh. Kami berencana untuk sampai di Leh sekitar jam 12 siang. Karena kami akan menghadapi beberapa pesoalan yang harus diselesaikan sebelum gelap: mengurus permit dan mencari transportasi ke trip hari berikutnya. Selain itu, Shabir juga harus meninggalkan Leh sebelum gelap. Jadi, perjalanan kami dari Alchi ditempuh dengan lumayan buru-buru.
Kami melewati kota Saspol yang terletak di lembah pegunungan Himalaya. Gigit jari aja mau foto karena emang udah nggak sempat. Beberapa kali juga kami melewati jalan-jalan cantik, dan nggak bisa buat saya abadikan. Yah, memang setiap trip selalu ada tempat-tempat yang cukup dinikmati mata sendiri aja.
45 menit berkendara dan kami sampai di Magnetic Hill. Magnetic Hill adalah salah satu tempat yang memiliki kekuatan magic berupa telekinesis. Semacam Phoenix. Nope, becanda. Hanya ilusi optik saja. Jadi, jika berada di Magnetic Hill, mobil yang tidak dihidupkan mesinnya seolah-olah dapat bergerak menanjak. Beneran menanjak? Enggak. Jalanan yang berupa turunan, karena ilusi optik tadi seolah-olah berada di tanjakan. Mobil yang kami kendarai walaupun jalanannya menanjak, cukup digas sedikit bisa melaju kenceng dan stabil.
Ada café dengan harga yang mahal di Magnetic Hill, rame turis, iya rame banget. Kami mampir sebentar untuk ngeteh dan tentu saja, hunting foto.

This slideshow requires JavaScript.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Leh. ketika berada di salah satu tanjakan, saya melihat pemandangan yang bagus banget, menghadap ke lembah, dapet view sungai Indus, pepohonan dan tentu saja: Kota Saspol yang nggak sempet saya foto tadi. Apik! Jadi saya minta ke Shabir buat mampir sebentar, “Sure Akbar.” Begitu kata Shabir.
Setelah kami menepi, ada satu mobil yang udah duluan diparkir di situ. Beberapa turis lagi sibuk moto-moto pemandangan yang memukau ini. Dan eits, kayak pernah lihat orang-orang ini, orang-orang yang ketemu waktu ngantre di imigrasi India hari pertama kami menginjakkan kaki di India. Saya lihat Mbak Jean! Ya Allah, rombongannya Jebraw sama Naya! Nggak sengaja lagi ketemu! Di tengah-tengah gurun. Buru buru saya samperin sambil nyodorin tangan lagi minta uang saku. Mereka awalnya bingung, baru habis itu inget, “EH KETEMU LAGI!” Hahahahaha.

This slideshow requires JavaScript.

Mereka mau ke Lamayuru, menginap satu hari di Lamayuru, baru balik lagi ke Leh. Hari Selasanya mereka baru menuju Nubra Valley.
Kami cari view agak turun mendekat ke lembah. Lalu dari kejauhan si Naya teriak ke kami, “BESOK MALEM KETEMUAN YA. DI SUMMER HARVEST JAM 7 MALEM!” Dari jauh kami kasih tanda OK.
Sekitar jam 1 siang kami sampai di Leh. Kota terbesar di Ladakh, yang ternyata rame banget, berdebu, dan banyak polusi. Lagi ada konstruksi jalan jadi beberapa rute ada yang ditutup.
Shabir akan mengantar kami ke penginapan, baru setelah itu kami akan berpisah. Tinggal berdua sama si Ikhsanul, it’s us against Ladakh. Penginapan hari pertama kami di Leh: Nubra Eco Lodge. Ketika saya buka file pdf konfirmasi penginapan, saya langsung pucat. Penginapan untuk tanggal 24 September 2017, SUDAH DIBAYAR dan tinggal check in. Nubra Eco Lodge, Sumur Village, Nubra Valley. NUBRA VALLEY! SERATUS ENAM PULUH KILO DARI LEH, ngelewatin Khardung La yang seharusnya jadi rute perjalanan kami untuk besok. Bukan sekarang. Momen ketiga kami menyadari kalau memesan penginapan jauh-jauh hari untuk perjalanan di Kashmir dan Ladakh adalah kesalahan besar, entah apa yang kami pikirin waktu pesan penginapan dulu, kalo nggak ngelamun pasti ndlenger. Kami memesan Nurba Eco Lodge untuk malam pertama di Leh, dan nggak baca dulu lokasi penginapan itu di mana. Pas kami kasih tau ke Shabir, ekspresi dia melotot. “MY FRIENDS, NUBRA IS 6 HOUR DRIVE FROM HERE. THAT’S IMPOSSIBLE YOU GO TO NUBRA TODAY.” Iya, kagetnya Shabir lebih kaget dari kami. Mungkin karena janji dia mau nganter sampe di penginapan kami itu kali ya. Dia ngebayangin nganter kami ke Nubra, 6 jam lagi berkendara lagi, ditambah lagi ngelewatin Khardung La. Mungkin di pikiran dia, “YOU GUYS ARE CRAZY!!!”
Jadi kami jelaskan ke Shabir, kami cari penginapan aja dulu di Leh. Masalah Nubra Eco Lodge, kami mau cari sinyal HP atau internet untuk menghubungi Nubra Eco Lodge, berharap bisa direschedule.
Akhrnya Shabir mengatar kami ke peninginapan milik kawannya, Silver Line. Sebuah penginapan sederhana dengan fasilitas dan pelayanan yang memuaskan. Air panas, selimut ekstra, dan tentu saja: WiFi! Yes, I do recommend this hostel. Yang mau menghubungi ownernya, Dorje, bisa baca-baca di tulisan saya tentang penginapan di Kashmir sampai Ladakh.
Seperti biasa, kami dijamu milk tea panas dan kue. Kami duduk di rooftop penginapan itu. Dari sana kami bisa melihat jajaran pegunungan Himalaya di kejauhan yang puncak-puncaknya tertutup salju. Ada saya, Ikhsanul, Shabir, Dorje, dan satu lagi kawan Dorje yang saya nggak ingat namanya, untuk sementara boleh saya sebut Mas Joko?
Di sini kami membicarakan tentang rencana kami besok. Hari Senin 25 September 2017 kami berencana berangkat dari Leh menuju Nubra Valley, menginap di Hunder atau Deskit. Tapi, karena sudah terlanjut memesan penginapan di Sumur, kami berencana meminta Nubra Eco Lodge untuk mereschedule stay kami dari hari itu tanggal 24 September, menjadi 25 September. Lalu tanggal 26-nya pulang dari Sumur kembali lagi ke Leh, menginap satu malam di Leh. Tanggal 27 berangkat ke Pangong Tso, menginap satu malam di Pangong Tso karena kami udah terlanjur memesan dan membayar penginapan di dekat Pangong Tso, lalu tanggal 28 dari Pangong langsung lanjut ke Tso Moriri, menginap satu malam. Dan tanggal 29 dari Tso Moriri pulang ke Leh. Menginap satu malam di Leh, lalu tanggal 30 kami akan kembali ke New Delhi naik pesawat.
Respon mereka? Sebagian bengong, sebagian garuk-garuk kepala. Mungkin mereka heran, kami yang cuma berdua, yang dari bentukannya kelihatan budget traveler, kok banyak banget mintanya. Itinerary sedetil dan serinci itu harusnya untuk mereka traveler berduit banyak yang tinggal nyewa taksi dan nyuruh ke sana ke sini seenaknya. Atau untuk rombongan yang udah janjian dulu dengan trip organizer di Leh. Jadi semua penginapan yang dipesan, tinggal dipasin dengan jadwal perjalanan. Lah kami? Mblaik.
Akhirnya Mas Joko yang notabene adalah driver taksi angkat suara. Dia bilang dia bisa menyediakan transport sesuai dengan keinginan kami tadi. Tapi tentu dengan biaya yang nggak sedikit. Dia mematok perjalanan dua hari satu malam. Leh-Nubra Valley-Leh dengan biaya all in Rs. 13,000 atau sekitar 2,75 juta Rupiah. Lalu dia bilang, menginap di Pangong Tso adalah mustahil. Karena sudah mulai musim dingin, suhu udara di Pangong Tso mulai anjlok, jadi tidak memungkinkan menginap di sana. Jadi dia nyaranin untuk sekali pulang pergi di Pangong Tso: esoknya setelah kami pulang dari Nubra Valley. Dan belum ada obrolan tentang Tso Moriri. Sekarang gantian kami yang bengong dan garuk-garuk kepala.
Kalau mau, Mas Joko minta passport kami berdua untuk pengurusan Innerline Permit (ILP).
Apa tuh Innerline Permit? Innerline Permit adalah ijin yang dikeluarkan oleh Pemprov Jammu and Kashmir kepada turis baik domestic ataupun foreign untuk mengunjungi tempat-tempat yang dikategorikan protected. Jadi, untuk mengunjungi tempat-tempat di sekitar Leh, kita akan melewati beberapa pos penjagaan militer. Tempat-tempat mana aja yang wajib menggunakan Permit ini? Saya comot dari devilonwheels, tempat-tempat wajib Permit adalah: Nubra Valley, Khardung La, Pangong Tso, Tso Moriri, Dah, Hanu Villages, Man, Merak, Nyoma, Loma Bend, Turtuk, Tyakshi, Chusul, Hanle, Digger La, Tangyar (for trekking only). Nah, untuk pos pos penjagaan menuju protected area tadi, akan meminta fotokopi Innerline Permit. Pengurusan Innerline Permit bisa dilakukan secara manual di kantornya yang berada di depan Polo Ground Leh, dan pelayanan permohonan permit buka dari hari Senin-Jumat jam 09.00 sampai 19.00, dan Sabtu-Minggu dari jam 10.00 sampai 14.00. Bisa juga pengajuan permohonan Innerline Permit secara online melalui website Leh District Permit.  Saya belum coba sih, mana tau ada yang mau share? Silakan ya.
Untuk biayanya, ada rumusnya nih. (ILP= nE+nD+WnD).
n= Jumlah applicant
E= Environment Tax (Rs. 400)
D= Red Cross Donation (Rs. 100)
W= Wildlife Protection Fee (Rs. 20)
D= Jumlah hari.
Contoh soal: Akbar dan Ikhsanul mengajukan permohonan Innerline Permit untuk mengunjungi Pangong Tso, Nubra Valley, dan Tso Moriri, dengan jumlah keseluruhan selama 5 hari. Berapakah harga Innerline Permit yang harus dibayar masing-masing oleh Akbar dan Ikhsanul?
Jawab:
Diketahui:
n= 2
E= 400
D= 100
W= 20
Ditanyakan= ILP
Hitung:
ILP= nE+nD+WnD
      = (2×400)+(2×100)+(20x2x5)
      = 800+200+200
ILP= Rs. 1200
Karena yang ditanya adalah masing-masing, maka Akbar dan Ikhsanul masing-masing membayar Rs. 600 untuk pengurusan ILP.
Berbeda dengan pos penjagaan sepanjang Srinagar sampai Leh yang tidak meminta dokumen apapun (selama trip kami. Tapi beberapa tulisan saya baca, pos-pos sepanjang Srinagar sampai Leh meminta fotokopi Passport). Jalur selain Srinagar-Leh yang tidak membutuhkan Innerline Permit adalah Manali-Leh, dan Zanskar Valley.
Karena kami bingung untuk menentukan, kami minta waktu untuk piker-pikir dulu. Nanti kalo memang nggak ada pilihan lain, mau nggak mau kami terima tawaran dari Mas Joko tadi. Kami belum makan siang, pingin mandi, capek, jadi kami minta waktu untuk istirahat dulu.
Perpisahan dengan Shabir pun tiba. Dia pamit, meninggalkan kami berdua menghadapi Ladakh. Thank you my brother Shabir, shukriya~ Yang mau minta kontaknya Shabir, bisa kontak saya ya.
Masuk ke kamar dan pertama yang saya lakukan adalah connect WiFi. Setelah tiga hari ngilang dari peradaban, HP saya diserang ribuan notifikasi. Dan yang pertama saya lakukan adalah menghubungi Nubra Eco Lodge. Karena kami sampai di Nubra hari Senin, maka kami minta agar kamar kami direschedule ke hari Senin. Email sent, dan saya lanjut mandi. Ahhh, proper shower setelah 35 jam dari proper shower terakhir.
Selesai mandi kami membahas banyak hal. Mempertimbangkan segala kemungikinan agar itinerary kami berjalan sesuai rencana, juga dengan biaya seminim minimnya.
Jadi kami memutuskan untuk mencari Tourist Information Centre. Ini adalah langkah terbaik setiap traveling saat sedang dipertemukan oleh Yang Maha Kuasa dengan pilihan pilihan yang sulit, atau bahkan seperti tak da pilihan. Saat itu saya yakin, pasti ada pilihan yang lebih baik, meskipun harus ada yang dikorbankan. Tak lama, datang email balasan dari Nubra Eco Lodge, kalau untuk hari Senin, penginapan full book, tinggal satu kamar cadangan kalau kami bersedia. Duh Gusti. Momen keempat kami menyadari kalau memesan penginapan jauh-jauh hari untuk perjalanan di Kashmir dan Ladakh adalah kesalahan besar. Email itu pun belum saya balas, nanti aja beres dari Tourist Information Centre.
Leh Tourist Information Centre berada di Fort Road, di depan J&K Bank. Di sini selain bisa nanya nanya sama Mbak Mbak yang judes dan lebih baik nggak banyak nanya, juga bisa minta cek kadar oksigen, sangat dianjurkan untuk turis yang baru aja sampai di Leh.
Sekali lagi saya berterima kasih kepada aplikasi yang selalu sangat membantu di setiap trip, Maps.me. Dari mulai nggak punya duit jadi nggak beli SIM Card untuk internetan di Macau dan Hong Kong, nyampe pelosok pulau Selatan New Zealand yang sinyal di HP berubah No Service, sampai akhirnya di Leh yang tak ada sinyal, Maps.me selalu ada untuk saya. :’)
Jarak dari penginapan saya di Silver Line sampai ke Tourist Information Centre tidak jauh, karena memang Leh tidak begitu luas, jadi masih bisa (dipaksa) untuk berjalan kaki. Sekitar 650 meter saja. Jadi setelah leyeh leyeh bentar, kami menuju Tourist Information Centre.
Sampai di Tourist Information Centre, saya ketemu dengan Mbak Mbak penjaga Tourist Information Centre yang judes abis. Kami diminta menunggu sebentar karena dia sedang ngecek kadar oksigen beberapa turis. Jadi kami nunggu di loket depan. Dia datang. Well, memang dari gayanya, dia Mbak Mbak penjaga Tourist Information Centre paling modis yang pernah saya temui.
Q: Bagaimana cara menuju Nubra Valley dengan public transportation?
A: (Mengambil selembar peta, –yang sampe sekarang ternyata masih terlipat kucel di dalem tas) Bus umum ke Nubra dari Leh menuju Deskit, yang tidak dia sarankan karena nggak tiap hari. Jadi lebih baik datanglah ke Polo Ground (sambil ngelingkarin Polo Ground di map yang dia kasih), setiap pagi ada kendaraan menuju Deskit. Berangkat jam 06.30 pagi dan langsung balik lagi ke Leh setelah menurunkan penumpang. Biayanya Rs. 400 each.
Q: Bagaimana cara menuju Pangong Tso dengan public transportation?
A: (Senyum sinis) Ada bus berangkat dari Bus Stand (sambil ngelingkarin Bus/Taxi Stand di map), menuju desa Man dan Merak. Berangkat setiap hari Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu jam 6 pagi. Dengan biaya Rs. 270 per person.
*saya liat liatan sama Ikhsanul, melongo karena jadwal bus yang nggak tiap hari*
Q: Bagaimana cara menuju Tso Moriri dengan public transportation?
A: (Ketawa kecil) Ada bus berangkat dari Bus Stand menuju Karzok, setiap tanggal 10/20/30, not everyday.
*liat liatan lagi sama Ikhsanul. Ancur nih trip kalo naik public transport*
A: Atau.. datang lah ke Ancient Tracks. Mereka mengumpulkan turis untuk share cost taxi, bisa ke Pangong Tso atau ke Tso Moriri. Ask them. (Sambil ngasih bintang di salah satu ruas jalan, ngasih tanda Ancient Tracks)
*liat-liatan lagi untuk kesekian kalinya sama Ikhsanul. Lalu kami mulai membahas opsi mana yang kami pilih. Opsi pertama, kami reschedule jadwal nginap di Nubra Eco Lodge jadi hari Senin. Besok pagi (Senin, 25 September 2017) berangkat ke Nubra naik shared taxi dari Polo Ground. Tapi, share taxi itu akan langsung balik ke Leh. Jadi hari Selasa kita dari Nubra ke Leh naik opo?*
Q: Kalau dari Nubra ke Pangong, adakah public transport yang bisa kami naiki? *Ngarep bisa lanjut trip ke Pangong Tso dari Nubra tanpa harus balik ke Leh*
A: (Ketawa sinis) No. No public transport from Nubra directly to Pangong.
*Hmmmmm.*
Q: What about public transport from Pangong Tso to Tso Moriri without getting back to Leh?
A: (Ketawa ngakak) No! Pangong Tso ke Tso Moriri nggak bisa dilalui secara langsung.
Q: Tapi ini di map, ada jalurnya? (Nunjukin rute jalan berwarna hitam dari Pangong Tso ke Tso Moriri, ada lebih dari satu lagi jalurnya)
A: (Ketawa ngakak lagi) No way! Itu jalan ditutup, sudah masuk China Border, kalian nggak akan bisa ngelewatin jalur ini (ngasih tanda x di salah satu jalur) dan sini (ngasih tanda x di jalan satunya) No other way, kalian harus balik ke Leh.
*Dan saya mulai pening, Ya Allah, ribeeeeet*
Saya dan Ikhsanul mulai berdiskusi panas. Ada wacana untuk ngarepin buat nebeng rombongan Jebraw dan Naya. Rombongan mereka sampai di Leh hari Senin, malamnya ketemuan, bisa lah cincai cincai buat nebeng, mau share cost juga boleh. Jadi email dari Nubra Eco Lodge, diundur biar bisa stay hari Selasa. Tapi, satu hari (Senin) bakal kosong, di Leh doang. Sedangkan kami udah mengatur aklimatisasi jauh jauh dari Srinagar biar hari Senin tanpa makan waktu bisa melanjutkan ke tujuan berikutnya. Mundur satu hari berarti bisa mengorbankan satu tempat tujuan, takut nggak dapet Tso Moriri.
Saya masih kekeuh untuk stick to the plan. Senin langsung ke Nubra Valley karena ngarepin tebengan dari rombongan orang lain adalah risiko. Iya kalo mereka mau, iya kalo tujuannya sama. Kalo enggak? Apa nggak sia sia satu hari Senin yang berharga.
*While we were having a hot discussion, this lady took his iPhone out and had some selfies*
Atau… Senin berangkat seperti rencana ke Nubra Valley via Deskit naik share cost taxi dari Polo Ground, lalu besoknya lanjut ke Pangong Tso, let’s hitchhike! Begitu kata saya. Dan Ikhsanul nanggepin, “Boleh sih kalo mau nyobain hitchhike.” Dan Mbak Mbak penjaga Tourist Information Centre ikut nanggepin, “Hitchhike? Pfffft.” THE CRUELEST, MEANEST, MOST EVIL TOURIST INFOMRATION CENTRE B*TCH! Takada ramah ramahnya blas. Kami yang sedari tadi ngobrol pake bahasa Indonesia biar si doi nggak ikut nimbrung, eh keceplosan bilang hitchhike.
Q: Is that… possible?
A: Possible? Yes. Very rare. Very very rare. Turis menyewa mobil/taksi untuk privacy, jadi sangat jarang ada yang mau ngangkut hitchhiker.
Logis sih, biar pun dengan gaya penyampaian yang nyebelin.
Oke, kami putuskan buat nanya nanya langsung ke Polo Ground, Bus/Taxi Stand, dan Ancient Tracks. Habis itu kita bahas habis-habisan semua probabilitas. Jullay, miss!
Dari Tourist Information Centre, karena kami udah oleng karena kelaperan. Kami makan di Dreamland. Sebuah restaurant dengan tempat yang cozy dan harga yang mahal. Bleh.
Setelah mengisi perut, kami berangkat menuju Polo Ground. 1.2 kilo dengan jalanan yang menanjak. Udara dingin, terik matahari, tanjakan jalan, tipisnya oksigen, jalan berdebu. Serius, saya ngos ngosan. Setelah melewati jalanan kecil dan pasar kami sampai di Polo Ground. Semacam terminal gitu, dengan tenda bekas Ladakh Festival yang belum diturunkan. Sampai di Polo Ground kami bingung mau nanya siapa, mobil mobil seliweran, nggak ada kantor atau petugas yang kira-kira bisa ditanyain. Lumayan lama kami mondar mandiri di sekitaran situ, sampe akhirnya memutuskan nanya ke Abang Abang yang ngatur keluar masuk mobil.
Kami nanya shared taxi untuk ke Nubra Valley, apa perlu pesen dulu tiketnya atau gimana. Dia bilang langsung datang aja besok pagi jam 6. Ohgitu, oke deh.
Perjalanan kami berikutnya, ke Taxi Stand Main Office. Buat nanya tarif taxi ke Nubra Valley untuk perjalanan besok. Kami harus berjalan lagi sekitar satu kilo. Yang ternyata, (baru aja tau barusan habis ngecek lokasi di maps.me) lokasinya ada di deket Tourist Information Centre. Ternyata waktu itu kami cuma puter balik. Kami nanya dengan salah satu sopir taxi yang lagi duduk duduk di depan kantor Taxi Stand Main Office. Kami dikasih tunjuk daftar rate untuk perjalanan ke Nubra Valley selama dua hari satu malam. Seperti yang saya ceritakan di tulisan saya tentang transportasi selama di India, kalau taxi driver di Leh sudah dibekali daftar dari pemerintah Ladakh, jadi rate ke tiap tiap tempat dan berapa lama, sudah ditentukan harganya. Tinggal penyewa aja yang membagi nilai sewanya dengan jumlah penumpang. Rate untuk perjalanan dua hari satu malam ke Nubra Valley adalah sekitar Rs. 13,500. Lebih mahal dari rate yang dikasih Mas Joko.
Dari Taxi Stand Main Office, kami berjalan kembali ke penginapan. Berjalan gontai, capek, ngantuk, dan bingung. Obrolan kami muter seputar coba nebeng ke Jebraw Naya-yang berisiko kehilangan satu hari nggak ngapa ngapain-atau pakai tawaran Mas Joko yang kelewat mahal untuk dibagi berdua. Belum kepikiran rencana setelah Nubra Valley mau digimanain.
Saat kami berjalan menuju penginapan, rencana mau istirahat dulu, ngademin pikiran karena bingung. Kami melewati suatu kantor yang saya nggak ngeh itu kantor apa, tapi ada white board di samping trotoar, “Need @ 3 packs to Nubra, Pangong 3 day 2 nights from 25/9 – 27/9.” Saya ngecek kalender, tanggal 24 hari ini. Wih, pas banget sama jadwal kami. Pas kami lihat nama kantornya, Ancient Tracks.
Kami masuk ke kantornya, dan disambutlah kami dengan senyum Mbak Mbak yang super ramah. Mbak Mbak terbaik di dunia pertravelan, Kesang. “Jullay.” Begitu dia menjawab Jullay-an kami.
Ancient Tracks adalah tour agent yang membantu para traveler kere untuk saling bergabung dan menemukan jodohnya demi kelangsungan itinerary. Trip yang ditawarkan dari white board tadi adalah trip tiga hari dua malam. Tapi ketika saya ngobrol dengan Kesang, ada sedikit perbedaan rute.
“Oke Akbar, this is where we are.” (Pake pulpen nunjukin Leh di map besar yang nempel di atas meja dia) “Tomorrow morning, you will go to Turtuk.” (Lalu ditariknya pulpen dia, ke utara, nyusurin satu garis jalan berwarna biru terang, ngelewatin Nubra Valley yang awalnya jadi tujuan utama kami, teruuuuuuus naik ke utara, jauh dari tujuan kami yang awalnya cuma sampai Hunder atau Deskit di ujung selatan Nubra Valley).
*kami agak agak mendelik*
That far?” Itu respon pertama saya.
“8 hours drive, Akbar.” Dia menatap saya, mencoba meyakinkan. Jadi nih, si Kesang ini bertugas cari tumbal. Biar bisa dijodo jodoin sama traveler lain yang lagi cari mangsa buat digabung dengan trip mereka, biar dapet cost untuk taxi lebih murah. “You will visit Khardung La, stop for 15 minutes. And then directly go to Turtuk.”
“No Nubra Valley?” Kami bertanya balik.
Yes, yes. Of course Nubra Valley. This is all Nubra Valley.” Dia menunjuk suatu lembah besar di map dia. “From Deskit here, “ dia menunjuk Deskit yang jadi tujuan kami, “until up here” Dia menunjuk satu titik di ujung jauh utara.
Lalu dia menjelaskan kalau kami akan beristirahat satu malam di Turtuk, besok paginya melanjutkan perjalanan ke Deskit/Hunder, satu malam lagi di sana, dan hari ketiga melanjutkan ke Pangong Tso. Nah, setelah itu belum diputuskan apakah mau bermalam di Pangong Tso lalu besok paginya balik ke Leh, atau hari itu juga langsung pulang ke Leh.
Dan kami mulai mengawang awing. Turtuk sangat jauh, dan lumayan melenceng dari itinerary kami.
“Akbar, Turtuk is very very beautiful.”
Kesang menjanjikan untuk bermalam hari kedua di Deskit/Hunder. Padahal penginapan kami di sekitar daerah situ, ada di desa Sumur, lebih ke Timur lagi. Saya jelaskan ke Kesang, dia mikir-mikir bentar. “Oke, you can stay at Sumur on Day 2.”
Yeay.
Jadi kami minta waktu sebentar untuk berunding. Kami sampai membuat tiga lajur dalam selembar kertas. Lajur pertama berisi tanggal-tanggal selama kami berada di Ladakh. Lajur kedua berisi kota-kota yang kami rencanakan untuk bermalam, dan lajur ketiga berisi kota-kota yang Kesang tawarkan akan kami inapi.
25 – Sumur – Turtuk
26 – Leh – Sumur
27 – Pangong Tso –Pangong Tso/Leh
28 – Tso Moriri – Trip End
29 – Leh – Trip End
30 – To New Delhi
Lalu kami lingkari Sumur di tanggal 25, Leh di tanggal 26, dan kami lingkari (sampai berulang ulang) Pangong Tso di tanggal 27. Kenapa kami lingkari, karena kami sudah memesan penginapan di tanggal tanggal tersebut. Dan sudah kami bayar! Untuk Sumur (Nubra Eco Lodge), bisa kami mundurkan lagi ke tanggal 26. Untuk penginapan di Leh tanggal 26 (Sia La Guest House) bisa coba untuk dimundurkan ke tanggal 29. Nah, yang menjadi masalah adalah penginapan di Pangong Tso, belum jelas apakah menginap dulu satu malam di Pangong Tso, atau langsung balik ke Leh. Jadi gimana dengan nasib penginapan kami di Pangong Tso???
Muncul lagi banyak pembahasan antara saya dan Ikhsanul. Kalau jadi nginap di Pangong Tso, artinya penginapan di Pangong Tso nggak jadi hangus. Tapi, pada itinerary kami, setelah beristirahat satu malam tanggal 27 di Pangong Tso, tanggal 28 langsung lanjut ke Tso Moriri tanpa balik lagi ke Leh, beristirahat satu malam di Tso Moriri, baru tanggal 29 pulang ke Leh. Berarti, kalau jadi ikut trip ini, menginap satu malam di Pangong Tso, tanggal 28 balik ke Leh, adalah mustahil kalau kami bisa mengunjungi Tso Moriri di tanggal 29. Karena Tso Moriri terlalu jauh untuk satu hari perjalanan pulang pergi. Harus beristirahat satu malam, dan sampai lagi di Leh tanggal 30. Sementara tanggal 30, pesawat kami dari Leh ke New Delhi adalah jam 9 pagi.
Maaf kalo penjelasan saya membingungkan. Pada intinya, kalau kami mau dapat Pangong Tso dan Tso Moriri tanpa rugi penginapan di Pangong Tso hangus: setelah beristirahat di Pangong Tso satu malam, harus berangkat ke Tso Moriri. Jangan lagi pulang ke Leh!
Pembuka trip adalah Rina, Israeli. Jalan satu-satunya agar rencana kami berhasil adalah membujuk Rina untuk melanjutkan satu hari lagi ke Tso Moriri setelah menginap satu malam di Pangong Tso. Kami sempat merayu Kesang, untuk minta ditinggal di Pangong Tso, dan digabung dengan group lain untuk lanjut ke Tso Moriri. Yeah, that’s impossible. I knew it. Saat itu adalah momen kelima kami menyadari kalau memesan penginapan jauh-jauh hari untuk perjalanan di Kashmir dan Ladakh adalah kesalahan besar.
How is it Akbar? You take this trip with Rina? It will be a lot cheaper. Rina’s group is two persons, your group is two persons. So the taxi fare will be devided into 4. Very very cheap.”  Sampe sekarang saya masih inget banget gimana cara Kesang bilang dengan logatnya yang khas. “And I heard Israeli girls are very beautiful.”
Lalu saya kebayang Gal Gadot. “Oke, we’ll take it.”
Setelah kami menyetujui untuk gabung trip dengan Rina, Kesang menelpon Rina, ngasih kabar kalau udah dapat dua mangsa lagi untuk dijadikan satu trip. Sempat saya dengar Kesang juga merayu Rina agar mau menginap di Pangong Tso dan nambah buat satu hari satu malam lagi di Tso Moriri. Setelah telpon ditutup, jawaban Kesang kurang sesuai harapan.
Teman trip Rina sakit kepala, jadi mereka mau nginap di Pangong Tso tapi nggak mau lanjut ke Tso Moriri. Yak, resmi sudah hotel di Pangong Tso nggak hangus, tapi trip ke Tso Moriri yang hangus. Sedih gaes, saya mending hotel di Pangong Tso yang hangus, tapi tetep dapet Tso Moriri. Sore itu kami nggak bawa uang cash, jadi kami mau balik lagi ke hotel buat ngambil uang. Dan sudah terlambat untuk mengurus ILP karena sudah jam 5 sore, sedangkan Permit Office kalau hari Minggu tutup jam 2 siang. Jadi kami titipkan passport kami untuk diuruskan permitnya. Jadi permit bakal dibantu urus oleh Ancient Tracks, dan karena kantor ILP baru buka jam 9 pagi, maka trip ke Turtuk baru bisa berangkat jam 10. Rina tidak keberatan.
Begitu sampai di penginapan, hal pertama yang saya lakukan adalah kirim email ke Nubra Eco Lodge, minta kalo penginapan kami bisa direschedule (lagi) menjadi hari Selasa tanggal 26 September. Dan lagi-lagi dibalas kalo kamar penuh tersisa kamar cadangan tanpa kamar mandi dalam. Karena hotel ini sudah terlanjur dibayar, mau tak mau kami ambil kamar cadangan itu.
Jam 8 malam, setelah mandi kami berangkat ke Ancient Tracks untuk kasih uang trip kami ke Kesang. Sebetulnya uang sejumlah yang Kesang minta udah saya bawa dari tadi sore. Kami alesan pulang dulu buat ngomongin segala macem kemungkinan kemungkinan yang bisa terjadi. Karena sudah sepakat, akhirnya kami bayarkan uang tadi. Untuk makan malem kami pesan dari penginepan aja, jauh lebih murah dari makan siang kami tadi. Memang luar biasa pelayanan Silver Line ini, karena nggak ada meja di dalem kamar, dan meja-meja yang bisa dipakai untuk makan ada di outdoor, mereka angkat-angkat meja sama kursi masuk ke kamar kami.
Sepanjang makan malem kami ngobrol tentang Turtuk. Apa seworth it perjalanan delapan jam ya? Ikhsanul sempet beberapa kali browsing tentang Turtuk, termasuk penginapan yang recommended di sana. Saya cuma tanya, “Turtuk bagus?” Nggak mau nanya lebih, nggak mau ikut browsing juga. Udah terlanjur deal, jadi let Turtuk surprise me.
Jam 9 lebih, ketika kami makan malem di dalam kamar. Pintu kamar ada yang ngetok, karyawan penginapan kami berdiri di sana. Di sampingnya ada perempuan yang pake jaket tebal, sambil gosok gosokin tangan dia sendiri tanda kedinginan menerjang angin malam Leh, Kesang.
Sampai dicari lho hotel kami sama si Kesang ini. Untung tadi kami kasih data lengkap berikut nama hotel dan kamarnya. Kesang ngasih kabar, perubahan rencana mendadak. Rina dan kawannya merubah jadwal untuk membatalkan menginap di Pangong Tso. Jadi langsung pulang. Dan efek dominonya, hotel kami di Pangong Tso resmi hangus tapi masih ada kesempatan buat mampir sampai Tso Moriri. Yeay!
Sekarang gentian saya yang cari mangsa. Saya minta tolong ke Kesang untuk membuka trip ke Tso Moriri dua hari satu malam, dari tanggal 28 September 2017-29 September 2017. Saya bahagia malem itu karena dapet pengalaman dan cobaan trip yang banyak banget. We almost fell down that day. The trip was almost ruined. We almost gave up!
P.S.: Saya nggak nyangka kalo tulisan hari keempat ini bakal sepanjang ini.

This slideshow requires JavaScript.

11 thoughts on “Kashmir to Ladakh: Day 4, “We almost Fell Down in Leh”

  1. Hari keempat agak berat yaa mas 😅
    Ceritanya panjang & kompleks, bacanya di hape pulak haha pusing berbie mesti ngulang scroll atas bawah biar ngerti 😂😂
    All hail Ancient Tracks!

    Like

      1. Gapapa mas, tar aja sekalian siapa tau dibahas dicerita selanjutnya. Ditanya sekarang juga nanti lupa lagi haha

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s