Yang Wajib Kamu Bawa Saat Traveling ke Ladakh

A better preparation for a better trip. Biarpun saya udah beberapa kali ngetrip ke beberapa tempat, tetep aja di trip berikutnya ternyata persiapan saya kurang. Apalagi trip ke Ladakh ini yang H-1 di saat saya seharusnya repot nyiapin barang-barang untuk packing, saya malah demam. Jadilah trip ke Ladakh ini saya berbekal persiapan yang kurang prepare. Ikhsanul bilang packing saya nggak niat. Setuju deh sama kamu. Hahahaha.
For you, don’t be like me. Okay? Okay? Berdasarkan kesalahan saya kemaren, saya akan kasih list-list barang-barang penting yang harus kamu persiapkan untuk menghadapi Ladakh. Write it down. Jadi listnya saya bikin jadi tiga bagian ya.
List pertama untuk barang-barang yang wajib dibawa kalo mau traveling ke Ladakh, tapi beberapa barang saya sering kelupaan:
1. Obat-obatan
Obat-obatan yang wajib kamu bawa adalah paracetamol dan obat diare. Kalau kamu mau mengantisipasi AMS, silakan bawa Diamox/Acetazolamide. Selain Diamox juga bisa bawa oralit yang diminum untuk yang udah kena AMS, menjaga tubuh agar tidak dehidrasi. Paracetamol atau obat flu tentu kalo tiba-tiba kamu merasa meriang atau mulai kerasa demam. Obat diare ini bagi saya wajib dibawa. Karena kalo paracetamol bisa kita beli di apotek saat di Leh, sedangkan obat diare, saya cocok dengan satu merk aja, atau norit sekalian yang lebih aman. Ke tempat baru pasti nyobain makanan baru, yang belum tentu cocok sama perut kita, beberapa kali saya m*ncr*t, termasuk di trip Ladakh ini. Minyak kayu putih atau balsem juga boleh dibawa. Tapi minyak kayu putihnya bawa yang kecil aja, jangan yang di atas 100 ml, nanti ditahan Avsec.
2. Topi
Nah, ini barang yang  untuk saya paling sering kelupaan. Paling kerasa pas trip ke New Zealand, saya nggak pake topi padahal sepanjang di sana lebih sering terpapar sinar matahari, alhasil aset penting saya gosong.
3. Lotion dan Sun Block
Dua benda penting saat ngetrip ke Ladakh yang dua-duanya nggak saya bawa. Ladakh itu kering banget, sepanjang tahun dan puncak paling keringnya adalah saat trip saya ini, September akhir sampai Oktober pertengahan. Preventifnya, gunakan lotion setiap pagi, saat mau memulai hari kamu, dan malam sebelum tidur. Kalau kamu nggak mau hal buruk terjadi, seperti yang saya alamin. Kulit saya di sekitar lutut bagian dalam, sampai paha pecah-pecah dan perih banget, lama kelamaan pecah-pecahnya jadi membentuk luka. Karena udah ada luka, udah terlambat kalo mau dikasih lotion, setahu saya lotion jangan dikasih ke luka terbuka. Lalu sunblock. Ladakh berada di ketinggian yang ekstrem, tentu matahari kerasa jauh lebih terik dari pada di Indonesia. Saya bawa? Enggak dong. Udah dibilang packing saya kemaren ini nggak niat. Dan saya menyesalinya. So please, prepare better than me.
4. Lipbalm
Bawa Bar? Enggak juga. Hahahaha. Padahal sampai hari kelima bibir saya pecah-pecah dan semakin parah. Akhirnya saya mampir ke mini market di Leh, dan beli lipbalm. Dan, masalah selesai.
5. Tisu Basah
Sepanjang perjalanan dari satu tempat ke tempat lain itu jauh banget. Dan nggak ada toilet di pinggir jalan. Bayangkan dengan kondisi yang kering, terik, dan menjaga bada agar tetap terhidrasi, kita harus banyak-banyak minum air putih. Konsekuensinya, makin sering juga kita pipis. Jadi sedialah tisu basah karena saat kita kebelet, belum tentu berada di tempat yang ada toilet atau di sekitar sungai. Kalo di tengah tengah padang tandus?
List kedua untuk barang-barang yang pasti dibawa tapi bakal nanya, “Harus bawa yang kayak gimana ya Bar?”
6. Colokan
Colokan di India tuh kekmana Bar? Beli di mana converternya? Jadi, colokan listrik di India pake yang berbentuk tiga bulat. Saya sendiri belum pernah lihat sebelum sampai di India. Sempet muter-muter di toko listrik sama Ace Hardware, tapi ya nggak nemu tuh. Ternyata, colokan dari Indonesia bisa dipakai di India. Jadi nggak perlu nyari-nyari converternya.
7. Jaket
Untuk jaket, sebenernya tergantung dengan musim saat kamu ke Ladakh ya. Kalo sepanjang Oktober-April saya rasa wajib pake jaket untuk musim dingin, sekalian syal dan penutup telinga juga bisa. Selama summer Juni-Agustus tetep harus pake jaket tapi nggak perlu pake yang terlalu tebel, karena udara di ketinggian di atas 3 ribu meter di atas permukaan laut pastilah dingin, biarpun matahari terik. Nah bulan sisanya adalah nanggung. Peralihan antara Summer ke Winter: Autumn. Karena terkadang winter datang lebih cepet. Saya sendiri pakai jaket waterproof tapi tidak terlalu tebal. Bisa melindungi saya di 90% tempat. 8% sisanya saya dobelin pake sweater, jadi aman. Nah 2% sisanya saya kedinginan walaopun udah pake kaos, sweater, jaket, bahkan selimut tebal rangkap dua. Saat malam saya di Korzok. Baca ceritanya di sini ya.
8. Jeans
Banyak yang tidak merekomendasikan jeans untuk dipakai di tempat-tempat yang dinginnya kebangeten. Dan saya salah satu yang ngeyel. Akibatnya? Yah, kulit pecah-pecah saya semakin parah karena kegesek dengan celana jeans, selain itu jeans memiliki pori-pori kain yang lebar, jadi kalo kena angin ya langsung nembus ke kulit.
9. Sepatu
Sebenernya trip saya ke Ladakh kemaren berbeda dengan trip saya ke New Zealand. Trip ke Ladakh tidak banyak trekking, pakai sepatu kets sebenernya cukup. Tapi kemaren saya pakai sepatu trekking dan Ikhsanul pakai sepatu lari. Saya lihat kok lebih nyaman saya ya. Biarpun nggak banyak trekking, beberapa medan berbatu. (Sebenernya saya sedih karena si Ikhsanul pake Ultraboost, kan sayang ya)
List ketiga untuk barang-barang yang bagusnya sih dibawa, tapi kalo enggak ya nggak papa.
10. Buff
Untuk menghadapi angin Ladakh yang kering dan berdebu, buff penting untuk dibawa.
11. Cemilan
Salah satu barang yang nggak pernah saya bawa, tapi begitu ketemu si Ikhsanul yang selalu bawa cemilan, saya jadi merasa sangat tertolong karena cemilan dia beberapa kali menyelamatkan saya dari kelaperan. Selain itu, cemilan bisa dibagi ke anak kecil di Ladakh, biar mau difoto. Asal jangan dikasih permen narkoba.
… Nanti ya kalo ada inget yang lain, tulisan ini bakal saya update.
Saya termasuk traveler yang berprinsip, travel as light as I can. Saya anti nenteng-nenteng. Jadi, kalo kamu juga nggak suka nenteng-nenteng barang, bawalah baju secukupnya. Nggak usah banyak-banyak. Karena di Leh ada laundryan. Saya nemu tempat laundry di deket Ancient Tracks, satu kilonya sekitar Rs. 90. Lumayan murah karena saya nemu juga ada yang satu kilonya Rs. 150. Dan traveling di Ladakh adalah traveling yang (biasanya) mengharuskan kamu untuk bolak balik ke Leh. Jadi saat di Leh, sebelum melanjutkan trip ke tempat-tempat berikutnya, ada baiknya kamu masukin baju ke laundryan, nanti dua atau tiga hari setelahnya tinggal diambil, baju udah bersih dan siap kamu pakai lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s