Day 2 in Norway, “Voss Touches the Cloud, Flåm Kisses the Fjord”

8 September 2018: Voss, Flåm
Setelah satu harian kami bersenang-senang di Bergen. Pagi itu, badan saya kerasa tidak enak. Badan pegel-pegel, mata kerasa anget, kepala sedikit berat. Ditambah cuaca yang terasa kurang nyaman meskipun kamar kami dilengkapi dengan heater. Malamnya saya sempet terbangun karena mules lalu mencret, untung nggak sampai diare. Capeknya perjalanan panjang dari Semarang sampai ke Norway, ditambah satu harian keliling dan hiking di Bergen sepertinya numpuk jadi satu.
Bus yang akan membawa kami dari Voss ke Gudvangen baru akan berangkat jam 10.10, jadi pagi itu kami masih menyisihkan waktu beberapa jam untuk mengelilingi Voss. Setelah memiih menu untuk sarapan, kami tergiur dengan Spaghetti Bolognaise instant yang saya beli dari Hypermart dekat kosan. Ditemani dengan secangkir kopi pahit dan mendung yang nampak dari jendela, kami sarapan sambil menyusun rencana mau ke mana aja pagi itu.
Our little breakfast in Voss
Saat menunggu Adityo di kamar mandi, saya nyicil merapikan barang bawaan yang sempat berhamburan di lantai kamar. Sambil berharap Salomon Soft Flask 500 ml saya ketemu. Botol minum ini saya bawa karena kemasannya yang fleksibel dan praktis, saat isinya tidak penuh botol bisa dilipat. Tapi sejak sampai di Voss kemaren sore, entah ke mana keberadaannya. Mungkin ketinggal di kereta api saat perjalanan dari Bergen ke Voss. Soooo sad.
Karena botol minum saya hilang, terpaksa satu botol minum milik Adityo dihemat untuk berdua karena kami belum juga nemu super market.
Pagi itu kami ber-morning walk tak jauh dari Airbnb kami, hanya berjalan tak jauh dari jembatan yang kemaren sorenya kami datangi. Berjalan-jalan di sekitar danau meskipun mendung sedikit membuat kami khawatir.

This slideshow requires JavaScript.

Sudah jam setengah 9 dan kami memutuskan untuk kembali ke penginapan, beberes untuk packing dan segera check out. Perjalan dari penginapan menuju bus stop tujuan kami hampir dua kilo. Sebetulnya sangat dekat dengan stasiun tempat kami tiba di Voss kemaren sore, namun karena lokasi Airbnb kami yang memang menjauh dari pusat kota, kami harus ngos ngosan dan sesekali beristirahat saat tangan mulai kesemutan karena nentengin tas duffel yang penuh berisi persediaan makanan.
Setelah mengelilingi sebagian Bergen yang sangat rame turis, Voss bisa saya bilang kebalikannya. Sangat sepi. Sabtu pagi dan kami jarang berpapasan dengan orang yang lalu lalang. Padahal Voss ini termasuk kota persinggahan dari serangkaian perjalanan Norway in A Nutshell. Ada sebuah gereja tua sesaat sebelum memasuki pusat kota. Saya tertarik untuk berkeliling, tapi kami memutuskan untuk mencari bus stop terlebih dulu. Dan memastikan tempat pemberhentian bus nomor 950 yang akan membawa kami ke Gudvangen.
Tak jauh dari gereja tua itu kami menemukan bus stop berupa lapangan luas dengan bilik dari kaca di sampingnya. Ada banyak tempelan jadwal bus, kami mencari bus 950 dan memastikan kalau jadwalnya sesuai dengan yang sudah kami cek di website operator bus, Skyss.
Benar! 10.10, Bus 950 berangkat dari Voss menuju Gudvangen. Saya lihat masih jam 09.30. Masih ada waktu 40 menit. Dan saya tidak ingin menyia-nyiakannya.
“Dit, gantian jaga tas yok? 20 menit:20 menit. Gua pingin keliling Voss.” Adityo yang juga penasaran dengan Voss mengiyakan. Dia duluan yang jaga tas, dan saya keliling di sekitar pusat kota Voss. Saya sampai harus pasang timer biar nggak keasikan jalan-jalan dan lupa giliran jaga tas di bus stop.
Saya melepas ransel besar saya dan menjajarkannya di sebelas tas duffel. Selain kami berdua, ada dua remaja perempuan yang sepertinya juga menunggu bus yang sama dengan kami.
Sama seperti kesan awal saat sampai di Voss. Kota ini sepi. Saya hanya berpapasan dengan beberapa orang turis yang juga berjalan ke arah bus stop. Apa karena weekend ya kota ini jadi sepi banget?

This slideshow requires JavaScript.

iPhone saya bergetar tanda timer saya sudah menunjukkan angka 00:00. Saya kembali ke bus stop, dan kini giliran Adityo yang melihat-lihat Voss. Jam 10 tepat datang bus besar berwarna oranye berpadu dengan putih tulang di sisi kanan dan kirinya. Di bagian depan bus terdapat nomor dan rute, “950: Gudvangen, Norway in A Nutshell”. Nah, rute ini nih yang harus kamu pastiin. Karena bus jurusan Voss ke Gudvangen nggak cuma satu dan nggak semuanya ngelewatin puncak Stalheim dan dapet pemandangan Nærøydalen atau Nærøy Valley.
Tentang Stalheim dan Nærøy Valley: terkenal karena oil painting karya Johan Christian Dahl dengan judul Fra Stalheim, yang menggambarkan keindahan lembah Nærøy yang bisa dilihat dari puncak Stalheim. Nah, kalo kamu mau juga melihat keindahan lembah Nærøy, jangan salah naik bus. Pastikan ya bus 950 dengan rute terpampang di depan bus: 950 Gudvangen, Norway in A Nutshell.
Begitu bus ini masuk, saya dan beberapa rombongan turis yang sedari tadi berdiri di tepian jalan langsung menghampiri bus. Padahal bus aja belum berhenti. Kami sama-sama ingin dapat tempat terbaik buat menikmati pemandangan. Saat bus berhenti, pintu tak kunjung dibuka, selain saya ada sekitar 6-7 orang yang ikut berdiri di depan pintu bus.
Pintu bus dibuka, dan seorang driver lelaki tua berbadan buncit turun dari bus. Tanpa menghiraukan kami, dia berjalan mengitari depan bus. Tak lama datang lagi bus dengan bentuk dan rute yang sama. Tak hanya satu, tapi dua sekaligus. Saya yang keduluan turis lain dapat front seat, mengurungkan niat untuk naik ke dalam bus, saya berjalan kembali ke tempat saya semula. Dan menyempatkan mengambil foto saat ketiga bus berjejer.

“Ada banyaaak. Gua duduk dulu ya.”
Begitu kurang lebih pesan yang saya kirim ke Adityo lewat WhatsApp karena dia belum juga kembali. Saya menghampiri bus yang di tengah karena belum ada penumpang yang masuk ke dalam bus. Biayanya 57 NOK per orang dan saya membayar dengan uang cash. Saya lumayan bingung mau duduk di sebelah kanan atau kiri, kursi mana nih yang dapet view lebih wah? Saya sempet nanya ke drivernya dan dia menjawab datar, “Both are the same.”
Akhirnya saya memilih duduk tepat di belakang driver dan meletakkan ransel di Adityo tepat di depan kursinya. Sekitar lima menit kemudian, Adityo baru muncul dan langsung duduk di sebelah saya. Bus berangkat tepat jam 10.10, total ada empat bus yang berangkat dan semuanya hampir penuh dengan turis.
Saya bersyukur karena sekarang sudah nggak pernah mabuk lagi kalau naik bus. Dulu jaman kecil, baru juga lima menit duduk, saya langsung kliyengen dan tiduran di pangkuan Ibu. Dan Ibu juga harus ready tas kresek karena nggak jarang saya muntah-muntah. Perjalanan dari Voss ke Gudvangen melewati banyak kelokan serta naik turun pegunungan dan lembah. Kamera saya pasang shutter speed paling kencang agar dapat menangkap foto sebanyak mungkin. Coba kalo Akbar kecil yang naik bus ini. Udah nggak usah ditanya pasti tiduran sepanjang jalan.
Perjalanan menempuh waktu kurang dari satu jam 15 menit, dan sempat berhenti beberapa kali. Sopir bus sengaja memberikan waktu bagi kami para turis untuk tak henti-hentinya menekan shutter speed, dan tak henti-hentinya berdecak kagum dengan pemandangan yang kami saksikan dari jendela. Kamu mau tahu sisi mana yang punya view lebih bagus? Kanan atau kiri? Baca-baca ke tulisan saya tentang mengatur perjalanan Norway in A Nutshell ya.

This slideshow requires JavaScript.

Kondisi di dalam bus:
Someone is not impressed.
Jam 11.15 bus melambat dan berhenti di sebuah dermaga. Tepat di depan kami sebuah kapal besar mewah berwarna putih dan kaca-kaca gelap mengitari. Setelah turun dari bus, kami diminta untuk antre dalam dua barisan. Satu barisan untuk yang membeli tiket dengan satu paket Norway in A Nutshell dan satu lagi antrean yang membeli tiket terpisah. Lebih banyak turis yang mengantre di barisan tiket paketan.
Gerimis mulai deras, kamera langsung saya masukkan ke dalam jaket, sementara tiket yang sudah saya print saya lipat dan sisipkkan ke kantong jaket, takut kena basah dan luntur. Tapi entah kenapa kami malah langsung dipersilakan naik ke atas ferry tanpa ngecek tiket.
Setelah sampai di atas ferry, kami langsung masuk ke dalam karena hujan yang semakin deras. Begitu sampai di dalam, udara dingin yang dari tadi membuat kami menggigil berubah hangat. Tak hanya itu, ruangan dipenuhi aroma roti yang baru selesai dioven. Ada food stall di sisi kanan, memanjang memamerkan banyak menu yang semakin membuat saya lapar.
Kami termasuk penumpang yang masuk duluan, dan segera mencari tempat yang jauh-jauh dari bau enak ini. Kami duduk di sebuah kursi panjang di sebelah jendela lebar. Tas-tas besar kami langsung kami letakkan tepat di ujung jendela. Kami mencari-cari tanda larangan membawa makanan dari luar. Setelah yakin aman, baru kami membuka tas duffel kami. Menu makan siang kami hari itu hanya roti gandum yang kami beli di Rema 1000 saat di Bryggen dan Nutella.
Ah Nutella!” Seorang wanita berambut pirang sebahu yang duduk di sofa belakang kami mengomentari makan siang kami.
Yea, our lunch” Balas saya singkat diakhiri dengan tertawa. “You want some?
No, it’s fine. I have my own Nutella.” Jawabnya sambil ikut tertawa.
Kami ngobrol singkat, dia dan suaminya dari Washington “not DC”  sedang liburan singkat di Norway. Kami mengomentari Norway yang sangat mahal. Bagi mereka Amerika tidak semahal ini, dan si wanita ini sampai melotot saat mengetahui kami akan menghabiskan 17 hari di Norway.
Saat di luar tak terlihat hujan, kami bergegas menyimpan sisa Nutella dan roti gandum ke sela-sela tas duffel. Angin kencang segera menerpa saat kami membuka pintu. Kami bergidik dan tertawa-tawa sendiri. Njiiir dingin banget.
Perjalanan ferry dari Voss ke Gudvangen melewati dua fjord paling terkenal: Nærøyfjord and Aurlandsfjord. Dua fjord ini merupakan serangkaian utama dari perjalanan Norway in A Nutshell dan diceritakan sebagai salah satu fjord paling sempit di Eropa. Gunung-gunung tinggi berwarna hijau menjulang tinggi, berjejer megah seakan mempersilakan kami menyusuri. Banyak kami temui air terjun yang langsung mengaliri fjord. Mendung dan angin dingin seakan menambah suasana mistis perjalanan ini.

Kalau saat di Milford Sound, kami sempet ketemu banyak seal pups pada berjemur di tepian sound, di sini saya ketemu sekumpulan kambing yang berlarian di tepian dekat fjord. Padahal itu terjal ya, kok bisa pulak itu kambing pada sampe situ.

Ferry sempat menepi di desa Undredal dan Aurland sebelum sampai di tujuan kami di Flåm.
Thank you Adityo, for taking this pic.

Setelah dua jam kami menyusuri fjord-fjord indah, ferry kami merapat. Masih jam setengah dua siang. Dan kami masih merasa lapar. Saya coba cek jarak dari dermaga ferry ke penginapan kami di Flåm: Brekke Gard Hostel: 1.5 kilo. Ini adalah satu-satunya hostel yang kami pilih sebagai tempat nginep. Karena kami nggak nemu Airbnb yang masuk ke itung-itungan kami. Harga semalamnya hampir 1.2 juta buat dua orang. Mahil.
Tak seperti pagi tadi, saat sampai di Flåm, badan yang kerasa remuk, capek dan tak enak badan seperti hilang ikut terbawa dinginnya angin saat menyusuri fjord. Dengan semangat saya menenteng sebelah tali tas duffel. Yang belum paham, kenapa kok saya bilang menenteng ‘sebelah tali tas duffel’, karena tas duffel yang penuh berisi makanan ini kami bawa berdua. Tau tas duffel kan? Kan ada dua talinya tuh, jadi karena berat masing-masing tali kami bawa satu-satu.

Dulu saat ngobrol-ngobrol sama Mbak Ika (@ikandorii) yang pernah duluan ke Norway, katanya kalo cari tempat nginep saat perjalanan Norway in A Nutshell, lebih baik di Flåm. Dan benar saja, sepanjang perjalanan saya dari dermaga menuju hostel, saya sangat sangat sangat menikmati Flåm. Sangat hijau dan menenangkan. Aspal yang basah sehabis hujan, gunung-gunung hijau yang mengitari kami, peternakan yang kami temui sepanjang jalan. You have to visit Flåm!
Saat di perjalanan ini kami berpapasan dengan sepasang laki-perempuan. Si perempuan wajahnya mirip-mirip dengan kami. Dan dia melakukan salah satu trik untuk ngecek kalo kami ini serumpun atau enggak. Kalo saya saat ketemu Alfi dan Mbak-Mbak di Bergen langsung aja saya tembak kan, “Dari Indonesia ya?” Nah, si perempuan ini tanpa melihat kami sedikit berteriak, “Dkdngkdnflali!” Saya yakin banget dia coba menyapa kami. Saya sampe berhenti dan membalikkan badan. Dia ikut berhenti.
Err.. I’m sorry?” Tanya saya, karena kali ini saya nggak yakin dia dari Indonesia.
Are you from Thailand?” Tanyanya ragu.
Oh I’m sorry, we’re from Indonesia.
Lalu dia hanya tertawa, melambaikan tangan, dan langsung berlalu. Ehehehehe.
Kami sampai di depan receptionist penginapan kami. Berbentuk rumah khas Scandinavia dengan dinding kayu berwarna putih. Saat saya masuk, ada seorang wanita muda menyapa kami. Dia menjelaskan kalo kamar kami ada di rumah utama. Dia keluar dari receptionist, kami mengikutinya. Dia menunjuk sebuah rumah besar sekitar 100 meter dari tempat kami berdiri.
That is where your room is.” Kamar kami ada di lantai tiga, paling ujung. Katanya ada enam kasur, dan kami berdua yang pertama datang. Dari kalimatnya saya menduga ada tamu lain yang bakal satu kamar dengan kami. Kami ditunjukkan sepasang kunci dan setumpuk sprei. Kunci dan sprei itu dia serahkan kepada seorang lelaki yang akan mengantar tas-tas kami. Yes, kami diminta berjalan kaki dan lelaki ini akan mengantar tas-tas dan sprei kami.
Well, no problem.
Sebenernya kami lumayan kesal. Bukan, bukan karena kami yang diminta berjalan kaki, tapi karena saat kami berjalan menuju rumah besar tempat kamar kami berada, sekitar 10 meter dari bangunan itu, lelaki yang membawa tas-tas kami dengan mobil berhenti. Dan begitu saja meletakkan tas-tas kami di tepi jalan. Hanya kasih kode melambaikan tangan, dia kemudian kembali ke mobil dan berkendara lagi. That’s not how you treat your guests, even the poor ones.
Rumah ini sangat besar. Kami masuk lewat pintu belakang yang langsung disambut dengan dapur dan meja makan dari kayu panjang di tengah. Ada ruang santai dengan TV kuno dan perapian, lalu ruangan lain lagi seperti ruang makan. Kami menemukan tangga pertama, berupa kayu. Agak kesulitan kami menaikinya karena tas-tas besar kami. Lantai kedua ada banyak pintu dan lorong dengan lantai kayu. Saya menemukan kamar mandi di lantai ini. Sebuah shower tertutup kaca, toilet duduk. Lantainya dari kayu yang dilapis dengan karpet plastik berwarna coklat.
The living room.
Tangga kayu menuju lantai tiga lebih sempit lagi dari tangga pertama. Di lantai paling atas ini saya sampai di ruangan remang-remang dengan dinding kayu berwarna cokat. Lantainya dari kayu yang selalu berderit saat diinjak. Ada meja bundar di tengah, sofa reot, dan sebuah alat seperti mesin jahit tua di ujung ruangan. Lumayan seram membayangkan suasana malam di bangunan tua ini.
Ada dua pintu yang sama-sama tertutup. Satu berwarna putih, satu lagi dekat dengan tangga, berwarna coklat. Kami menghampiri pintu yang dekat dengan tangga. Agak susah saat kunci kami masukkan sebelum akhirnya terbuka sebuah ruangan di loteng. Ada enam kasur berjejer dan satu jendela di ujung ruangan. Saya memilih kasur di ujung yang dekat dengan jendela. Menaruh tas-tas besar kami di lantai dekat jendela, dan menggantungkan coat tebal. Dengan malas-malasan saya memasang sprei-sprei berwarna putih.
Lagi males ngelurusin foto miring. Hehehehe. Maap yak.
Karena masih lapar, kami membawa serta turun sisa roti gandum dan kotak makan isi rendang yang sempat kami panasin pagi tadi di Airbnb kami di Voss. Kami makan siang di sisi belakang, ada sebuah meja taman yang menghadap ke bukit-bukti hijau tinggi. Biarpun dingin, saya sangat menikmati makan siang dengan roti gandum yang saya isi dengan rendang sapi.
Our kind of lunch.
Karena sudah nggak hujan, kami memutuskan untuk hiking. Masih jam setengah tiga sore. Kali ini kami sedikit random dalam memilih tempat hiking. Saya hanya membuka maps.me dan mencari viewpoint yang ditunjukkan dengan logo binocular: Brekkefossen. Saya langsung tahu kalo tempat ini salah satu tempat yang banyak dikunjungi orang. Di maps.me, setiap kita mencari viewpoint, kalau kita klik dan muncul nama tempatnya, berarti tempat itu sangat sering dikunjungin orang. Tapi kalo nggak banyak dikunjungin orang, biasanya cuma viewpoint, dan gitu aja.
maps.me kasih estimasi waktu sekitar 30 menit sekali jalan. Bisa lah paling lama juga satu jam udah sampai tempat tujuan. Jadi setelah memilah-milah barang yang mau kami bawa, kami memulai hiking sore di Flåm.
Semuamua yang kamu perlu tahu untuk hiking ke Brekkefossen bisa kamu temukan di tulisan saya tentang hiking di Brekkefossen ya. Just one click away, bro.

 

This slideshow requires JavaScript.

Ketika mau foto bareng tapi nggak bawa tripod, kita punya trik buat nawarin foto ke turis lain, biar ntar difoto balik. Sempet seneng ketika saya pinjemin kamera dan dia jawab, “Wah, the same camera as mine.” Tapi hasilnya…
Blur. Ya nggak papa la. Yang penting Flåmnya jelas.
Setelah turun dari Brekkefossen, langit masih terang, jadi kami mencoba mencari viewpoint lain di sekitar Flåm. Ada satu yang nggak jauh tempatnya. Dari lokasinya sih menuju pusat kota, jadi kami pikir viewpoint yang ini nggak pakai melewati track tanah atau bebatuan. Dan benar saja, viewpoint yang ini berupa kursi taman yang menghadap ke perbukitan dengan lahan luas di bawahnya. All I see is green!

Nggak terasa udah jam 6 lebih. Saat baru tiba di Flåm, dan jalan dari dermaga ke hostel, kami lihat ada Coop. Salah satu mini market yang kami andelin selama di Norway. Jadi karena bosan makan roti, sore itu kami pingin mampir ke Coop buat beli jajanan. Sekalian jalan-jalan ke pusat kota. Tapi oh no, sudah dua kilo lebih kami berjalan ke pusat kota, ternyata Coop sudah tutup jam 6 tadi. Jadi kami memutuskan untuk duduk-duduk di dekat fjord, ada dermaga kecil dari kayu.
Kalo kamu pernah lari marathon, setelah finish telapak kaki bakal pegel-pegel banget. Dan salah satu cara ampuh buat kasih relaksasi adalah ceburin kaki ke air es. Iya, beneran air es! Nah, kaki saya nih udah pegel banget, ngilu-ngilu karena kebanyakan buat jalan kaki. Saya cek di Health App di iPhone saya, hari  itu saya udah jalan kaki sejauh 20,8 kilo: 29,916 steps, mendaki ke Brekkefossen setinggi 268 meter dpl! Jadi saat saya lepas kedua sepatu, pelan-pelan saya rendem kaki saya ke air fjord. Cessss… air sedingin es menusuk-nusuk kaki. Muka si Adityo sampe merem-merem nahan dinginnya.

Sudah jam setengah delapan dan kami berjalan kembali ke penginapan. Masih bingung mau makan apa, masa iya baru kemaren pagi makan Indomie, malem ini mau makan Indomie lagi. Saat di perjalanan pulang, kami melewati sebuah food stall yang masih buka. “Local Food Experience. Green Norway” begitu judulnya. Lokasinya di dalam pekarang rumah, stall-nya berwarna hijau. Kami mengintip sebentar di daftar menunya, ada babinya enggak, mahal enggak. Kami memutuskan untuk mampir, karena tergoda dengan lamb sandwichnya.
Penjualnya dua cewek dari Polland yang ramah. Selain kami berdua ada seorang perempuan berambut hitam pendek duduk di atas meja selagi menunggu pesanannya. Kami pesan dua lamb sandwich dengan harga 75 NOK each. Kami banyak ngobrol dengan tiga perempuan ini. Yah biarpun kami lebih banyak dengerin si cewek berambut hitam ini curhat. Saya nggak nanya namanya, sementara kita sebut Mbak Beti boleh ya?
Jadi Mbak Beti ini kerja di salah satu toko di Flåm. Dan dia bercerita nerocos tentang bagaimana dia kerja dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore, memaksanya harus terus tersenyum dengan para pelanggan. Sementara banyak pelanggan yang rata-rata turis kadang menjengkelkan dia. Saya masih keinget bagaimana dia sangat jengkel saat dia sangat capek-capeknya tapi beberapa orang turis memaksanya foto bareng. Dan bagaimana dia akan menambah kerja sebagai care taker dengan shift malam. Juga curhatan tentang rindunya dia dengan Bali begitu tau kami dari Indonesia. Selain Bali dia rindu dengan krispinya kulit ayam KFC yang dia makan saat di Bali, bertahun-tahun lalu: Yes, di Norway tidak ada KFC. Dua cewek Polish hanya sesekali menimpali obrolannya.
Oiya, the lamb sandwich fits very well in my stomach!

Sudah hampir gelap dan kami kembali ke hostel. Di dapur, sudah ramai para tamu hotel. Mereka lagi memasak makan malem. Ada juga sekotak pizza di atas meja. Kami naik ke kamar sebentar, mengambil dua sachet jahe instant, dan ikut ngobrol dengan para tamu di ruang makan.
Hari yang melelahkan, dan kami pamit lebih dulu karena saya memang sudah sangat mengantuk. Saat sampai di kamar, ada perempuan yang sedang duduk di kasur di dekat pintu. Kami ngobrol sebentar, dia dari Australia, sedang libur kuliah dan traveling ke Norway. Dia nyetir sendiri dari Oslo ke Flåm, menginap satu malam sebelum besok paginya akan melanjutkan ke Tyssedal untuk mendaki Trolltunga.
Ah Trolltunga! I wish I had more time so that I could hike Trolltunga. 😦
Click here to read all my stories in Norway.
Advertisements

15 thoughts on “Day 2 in Norway, “Voss Touches the Cloud, Flåm Kisses the Fjord”

    1. Halo Mas Rizky. Thank you for visiting.
      Iya Mas, setuju. Cantiknya kebangeten. Ini kasih hari hari awal Mas. Nanti insyaallah saya share sampai perjalanan ke bagian utaranya.

      Like

  1. Selalu menyenangkan bisa mampir di blog ini. Seperti biasa, ceritanya detail! saking detailnya aku bingung mau komenin yang mana haha.

    Oh soal mabuk perjalanan. Aku dari kecil juga rentan, tapi gak yang sampe muntah parah. Sekarang kalau jalan masih tetap sedia antimo apalagi kalau tahu medannya berkelok-kelok. Yang parah itu kadang suka mabuk laut. Untungnya kalau jalan naik perahu di Sungai Musi gak mabuk hwhwhw.

    Penginapannya bagus, walau emang petugasnya rada rese haha. Dan, memang jadi PR banget minta foto sama orang, even dia punya kamera yang sama hahaha. Aku kalo liat orang pake DSLR secara otomatis suka berespektasi, “pasti dia bagus nih ambil fotonya.” Tapi langsung kecewa liat hasilnya hwhwhw, makanya fotoku kebanyakan pemandangan aja.

    Seru banget perjalanannya mas. Asli mupeng.

    Liked by 1 person

      1. Mas Nugi. Aku selalu terharus kalo baca komen seperti ini. Apalagi dari senior senior blogger. Makasih ya Mas. Semoga nggak bosen dan bisa terus nulis.
        🙂

        Like

    1. Mas Yan!! Thank your for your kind words! 😀

      Aku kalo bus udah berani bilang nggak bakal mabuk lagi Mas. Kalo jalanan parah banget, dan kerasa agak mual biasanya pake jurus ngeliatin jalan depan, biasanya terus sembuh sendiri. Tapi kalo laut, masih agak agak belum yakin. Terakhir ke Sabang 2017 itu masih muntah pas terombang ambing karena ombak kencang. 😦

      Nah, salahku juga sih Mas. Jadi settingan kamera masih manual pas aku ke kasih ke Mbak Mbak ini, sedangkan pas aku motoin dia pake kameranya, settingannya auto semua.
      Pernah juga aku mau pake trik ini, ada dua turis dari Jepang, pas saya tawarin motoin eh salah satunya ngejawab, “Noo no. We like selfie.” Terus aku tengsin. 😦

      Liked by 1 person

  2. Selalu suka saat jalan-jalan ke luar negeri dan mendapat teman baru (meski hanya temen ngobrol) dari wisatawan atau warga lokal. Mbak-mbak Polish itu memang ramah dan manis ya, ehehehe. Jadi ingat, tutor bahasa Inggrisku dulu pas di Jogja orang Polandia juga, cewek, namanya Claudia.

    Haha, 17 days are indeed a very looonggg trip mas. Bule aja heran, apalagi kita sesama orang Indonesia. Dua hari semalem ge dibabat xD

    Liked by 1 person

    1. Nah iya Mas. Dan ternyata ketika kita jalan ke tempat-tempat yang makin remote, ketika jarang ketemu turis, sekalianya ketemu turis beneran bisa ngobrol makin terbuka.

      Iya Mas. Beneran gambling kalo cuti ditolak, 17 hari trip impian beneran jadi mimpi. Hehehehe.

      Liked by 1 person

    1. Haaalo Mbak. Terima kasih sudah mampir yaa. Nah itu tujuan utamanya Mbak, ngeracunin orang orang. 😁

      Lagi berjuang keras melawan rasa malas buat nerusin cerita. Hehehehe. Sekali lagi terima kasih. 🙏🏼🙏🏼

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.