Day 8 in Norway, “The Devil’s Gate”

14 September 2018: Henningsvær, Svolvær
Rencana kami yang gagal untuk hiking di Festvågtinden hari sebelumnya, membuat kami berharap agar hari itu cerah. Yah, walaupun rada pesimis karena weather forecast sampai nanti siang cuma kasih logo antara awan dengan rintik-rintik atau bahkan petir! Sampe muncul obrolan dengan si Adityo, “Percaya ramalan cuaca itu nggak boleh, syirik.” Padahal, hasil googling bareng-bareng nemu kalo ramalan cuaca itu berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi, jadi bukan syirik.
Karena nggak ada dapur yang bisa dipinjem, kami kembali sarapan pake zaman-zaman awal trip ketika masih sombong nggak beli beras: roti dan Nutella! Eh, bukan Nutella lagi sekarang. Karena Nutella persediaan kami udah habis. Kemaren kami sempet beli Nutella-nya Norway: Nugatti. Ditambah jus dan keju. Walaupun kejunya cuma kami makan secuil karena rasanya aneh, hambar dan baunya kayak kaos kaki basah. Sok-sokan beli keju local, cuma berakhir ditinggal di kulkas Airbnb kami.
Setelah semua persiapan untuk hiking beres, kamar sudah rapih, kami nitip tas-tas besar kami di lorong panjang di depan kamar Airbnb kami. Jam 08.30 kami udah nunggu bus dari bus stop yang paling dekat dengan Airbnb, sekitar 20 meter aja kayaknya. Angin bertiup kencang, mendung lebih parah dari kemaren sore. Kalo kemaren sore, tantangan kami buat hiking ke Festvågtinden hanya mendung dan kabut yang nutupin sebagian besar Mount Festvåg, kali ini juga potensi untuk hujan! Kalo istilah di weather forecast, nggak cuma shower, tapi thunderstorm. Kami? Ya pasrah aja. Hiking pelan-pelan, toh juga nggak buru-buru. Tujuan kami hari itu setelah dari Henningsvær, adalah Svolvær, masih ada bus sampai hampir jam 9 malam. Toh juga Henningsvær dan Svolvær berdekatan.
Saat bus 18-743 datang, hujan mulai turun, gerimis dikit. Kalo saya bilang, gerimis denial. Gerimis denial adalah hujan saat saya ngerasa rintik-rintik tipis, terus temen kita ada yang bilang, “Eh, hujan ya?” Terus karena nanggung karena udah mau pergi, tangan saya menengadah terus bilang, “Enggak ah, mana? Nggak kerasa.” Padahal ya kerasa sih titik-titik.
Jadi kami nekat aja untuk naik bus. Trailhead untuk menuju Festvågtinden ada di sini. Bus stop paling deket namanya Festvåg. Dan saat perjalanan yang nggak sampai lima belas menit menuju Festvåg, hujan mulai turun semakin deras. Pas turun di bus stop Festvåg, kami mikir berkali-kali, lanjut hiking atau enggak. Kami rada kesulitan nyari Trailhead, belum juga kami mulai nanjak, hujan makin menjadi-jadi. Yasudah lah, kami memutuskan buat cari tempat untuk neduh. Nggak jauh dari Trailhead, ada beberapa bangunan semacam gudang, kami cuma melipir dan berteduh di depan pintu. Padahal atap-atap di atas tempat kami berteduh nggak terlalu lebar, nggak sampai satu meter. Bahkan sebagian punggung nggak bisa kabur dari terpaan hujan.
Welcome to Henningsvær.

Hujan tetep aja deres, sampai hampir sejam kami nungguin dan akhirnya memutuskan buat balik aja ke Henningsvær. Abbort the mission! Pun juga, nggak segampang itu kami balik ke Henningsvær. Bus paling cepet masih jam 11.00. Masih sejam lagi. Beberapa kali kami melambaikan tangan, coba numpang ke mobil yang melaju ke Henningsvær, akhirnya ada satu sedan warna hitam yang menepi. Kami berlarian menghampiri, a nice lady with the yellow coat mempersilakan kami masuk ke mobilnya. Mobilnya lumayan berantakan, dia sampai harus mungut-munguti barang yang berserakan biar Adityo bisa duduk di belakang.
Sepuluh menit berkendara, kami akhirnya turun di Joker Henningsvær, dan tak lupa ber-tusen takk! Agak gerimis, yasudah kita cari tempat makan aja kuy, kita coba local food di sini. Hasil browsing dan muncul beberapa recommended place, kami cari yang bintangnya banyak, tapi dengan logo ‘$’nya paling sedikit. Pilihan kami jatuh kepada, Henningsvær Lysstøperi. Yang sudah buka sejam jam 10 pagi. Tapi karena kami nggak mau rugi, karena kami tau bakal keluar duit banyak buat makan enak. Kami molorkan lagi sampai jam 12. Sementara nunggu sampai jam 12, di bawah gerimis, kami sekali lagi keliling desa Henningsvær.
A couple of seagulls.

Snapped by @prabowoadityo.
Sudah jam 12 lewat, dan perut pun udah meraung-raung. Kami berlarian karena masih gerimis. Begitu masuk restaurant, udara yang tadinya bikin menggigil langsung berubah jadi hangat, kacamata sampe harus saya lepas karena mengembun. Di dalam sangat sepi, cuma kami berdua pelanggannya. Saya disambut seorang pelayan cewek di meja kasir yang di sebelahnya bertumpuk-tumpuk kue.
Delicious photo by @prabowoadityo

Banyak banget jenis pie, dan kebayang itu ujung-ujung pie yang renyah dan topingnya yang lembut. Belum lagi cinnamon rolls! Aroma cinnamon sehabis dipanggang tercium manis mengisi ruangan. Pingin banget nyobain satu-satu, tapi saya sadar diri akan harganya dan kondisi keuangan. Saya memilih untuk memandang dari jauh. Cukup.
Lumayan lama kami ngobrol tentang menu yang dia rekomendasikan, akhirnya kami setuju dengan salah satu best local food from Lofoten: Bacalao. Kalau kamu juga mau ngicipin Bacalao, katanya nih, sempatkan saat di Lofoten. Karena mayoritas penduduknya sebagai nelayan, jadi dari segi kesegaran ikan dan harga, memang lebih unggul.
Bacalao adalah sup ikan, dengan banyak tomat dan bumbu-bumbu yang bikin rasanya sangat gurih. Lalu ditambah irisan kentang, ini ngetiknya aja saya udah kebayang lagi gimana enaknya Bacalao. Saya resmikan, ini adalah proper meal paling enak selama perjalanan kami di Norway dan Sweden. Mungkin karena laper dari tadi pagi, kehujanan, kedinginan, dan memang udah hampir dua hari kami nggak makan sesuatu yang boleh disebut makan berat. Bacalao layak mendapatkan predikat ini.
Kebayang nggak sih? Dua hari nggak makan yang proper, Dingin dingin, habis kehujanan, terus datenglah dua porsi Bacalao yang masih panas, yang dari kepulan uapnya tercium aroma seger ikan dan tomat di depan mata.
This is it! *goyang goyang dada
“Bro, cepetan dikit motonya. Gua udah laper.”
Nggak sadar, meja-meja yang dari tadi kosong, tiba-tiba udah penuh banget. Yha, rame banget ternyata. Mungkin karena pas jam makan siang juga. Lha untung banget kami udah ngeduluin orang-orang ini.

Harganya? Hahahaha. Saya sudah pernah cerita di tulisan saya tentang biaya perjalanan hampir tiga minggu ke Norway: kalau tidak ada yang murah di Norway. Satu porsi Bacalao harganya 179 NOK. Hehehehe, googling sendiri itu berapa Rupiah. Tapi ya sudah, toh juga hampir seminggu sekali makan enak begini.
Karena udah jam 1 lebih, kami akhirnya nyerah buat mencoba hiking. Lanjut saja yuk ke tempat berikutnya, sudah cukup kayaknya explore Henningsvær. Jadi setelah balik lagi ke rumah Tom, Airbnb kami di Henningsvær, jam 13.25 kami udah naik bus 18-743 dan menuju Svolvær. Nggak sampai 50 menit.
Kami dipesenin Anna Ewe-Lina, host Airbnb kami di Svolvær untuk turun di bus stop Circle K. dari Circle K cukup jalan kaki sekitar 20 meter, ada rumah berwarna coklat tua di sebelah kanan jalan. Sebetulnya kami diminta Anna untuk check in paling cepat jam 3 sore. Katanya masih perlu beresin kamar karena kamar kami baru selesai dipakai tamu lain. Jadi kami minta tolong buat nitip tas-tas ransel kami dulu, biar kami bisa jalan-jalan di sekitar Svolvær.
Kami sampai di Svolvær, kota di Vågan Municipality, Nordland County, dengan cuaca masih mendung dikit, dan semilir angin kerasa seger. Nggak terlalu dingin, dan kayaknya nggak bakal hujan juga. Jadi, kami merencanakan buat hiking! Di itinerary yang kami buat , hari kedelapan sebenernya udah dibikin, “Mount Fløya and Djevelporten”, tapi masih saya bintangin nih. Karena nggak banyak referensi yang saya dapet tentang tempat hiking ini. Dan levelnya: Hard. Curam dan lumayan tinggi. Tempat hiking lain yang jadi pertimbangan dan terkenal di Svolvær adalah Svolværgeita. Tapi tapi.. tapi.. untuk hiking di Svolværgeita membutuhkan beberapa peralatan khusus yang bisa kita sewa, karena selain hiking juga nanti saat summit perlu ber-rock climbing. Berminat? Tentu saja! Bersedia? Tentu tidak! Karena mahal bro, paket satu instructure yang bisa untuk dua orang adalah 4,000 NOK atau sekitar 7.5 juta Rupiah. Hanya untuk pendakian 3-4 jam saja. Jadi, kami banting setir melirik Mount Fløya.
Referensi yang saya dapet adalah dari blog hikingtheworldpunya Mas Oliver Descoeudres dari Australia. Kata Mas Oliver: sangat curam dan sangat slippery, apalagi kalo habis hujan. Yha, sama banget kayak kondisi saat itu. Mas Oliver pun nggak sampai summit karena cuaca yang kurang oke, hard rain and misty. Karena melihat cuaca yang lumayan enak buat hiking, setelah berdiskusi, kami pun mencoba untuk mendaki Mount Fløya.
Untungnya, Airbnb kami nggak jauh dari Trailhead Mount Fløya, sekitar sekilo aja. Dengan suasana yang syahdu sehabis hujan, kami sampe kaget melihat fjord yang airnya tenang banget. Berkali-kali kami sampai berhenti karena mau ambil poto.
Don’t let the shaddow fools you.
Difotoin Pak Adityo.
Kalau kamu mau tahu lebih detil tentang Mount Fløya, silakan mampir ke tulisan saya tentang mendaki Mount Fløya. Mount Fløya yang di Svolvær ya, jangan salah. Karena gunung yang ada cable carnya di Tromsø , namanya juga Mount Fløya.
Baru beberapa meter kami mendaki, langsung ketemu tanjakan-tanjakan curam, batu-batu besar, untungnya sudah banyak rantai dan tali yang dipasang untuk membantu kita mendaki. Kami lumayan cukup banyak berhenti, karena pemandangan kota Svolvær di bawah kami udah mulai kelihatan. Dari beberapa sisi juga kita bisa melihat Svolværgeita.
Svolværgeita dan Svolvær
Seperti tempat-tempat hiking kami sebelumnya, kami jarang berpapasan dengan pendaki lain. Mungkin karena cuaca yang lebih enak untuk selimutan sih dari pada untuk hiking.
Tapi beneran, anginnya enak banget. Nggak sedingin biasanya, seger, dan kerasa tenang banget. Selama pendakian kita bisa menyaksikan kota Svolvær di bawah, dan rerumputan yang mengelilingi kita.

Kami juga harus hati-hati, track sering hilang, kadang ketutup rumput, kadang juga memang ilang di tanjakan. Alhasil memang harus cari-cari sendiri. Sering kali ketika udah susah payah nanjak-nanjak batu, eh nggak ketemu track, jadi harus balik ke track awal dan ngira-ngira jalan track yang betul. Kami cuma mantengin track, nyari marking dengan cat warna biru dan putih yang bisa ditemuin di bebatuan, sambil nyocokin garis putus-putus yang ada di aplikasi maps.me, delapan hari di Norway dan maps.me masih bisa diandalkan.

Semakin tinggi kami mendaki, kota Svolvær terlihat semakin mengecil. Track sampai menuju summit tetap didominasi batu-batu besar berwarna abu-abu dengan rerumputan yang mengisi di sela-selanya.

Sebetulnya, tujuan kami nggak cuma menuju Mount Fløya, tapi juga mau ke salah satu viewpoint yang bisa kita jangkau selama pendakian ke Mount Fløya. Tapi viewpoint yang satu ini banyak yang bilang di Tripadvisor, kalo mereka nggak nemu jalannya. Viewpoint ini adalah Djevelporten, dalam bahasa gaul artinya, The Devil’s Gate. Kami sendiri agak kesusahan juga buat nemu track ke Djevelporten. Kalo kami lihat di maps.me, memang ada percabangan jalan gitu sih. Tapi yang kami lewatin bukan track lagi itu. Udah nembus bebatuan licin yang sesekali longsor pas dipijak. Sampai akhirnya, setelah ngelewatin bebatuan, sampai lagi di jalan setapak yang menembus rerumputan. Makin yakin kalo track saya ke Djevelporten sudah betul. Ada turunan tajam dulu sebelum akhirnya saya sampai di Djevelporten.
Kalo jatuh ya baybay.
Djevelporten
The Devil’s Gate. Sebuah batu besar yang terjebak di antara dua tebing. Jadi salah satu tempat menarik di Mount Fløya yang sebetulnya belum banyak orang tau. Tentu kalah pamor dengan batu serupa di Norway selatan sana, Kjeragbolten (bolten: boulder: batu besar). Mount Kjerag jauh lebih tinggi dari pada Mount Fløya, dan sudah rame orang. Lokasi Mount Kjerag yang nggak sama dengan rute kami membuat “daftar tempat-tempat di Norway yang nggak sempat kami kunjungin” bertambah. Di daftar itu, selain Mount Kjerag tentu saja ada Trollstunga! Mungkin biar dikasih kesempatan biar suatu saat bisa ke Norway lagi. 🙂
Karena tak kesampaian ke Mount Kjerag, akhirnya saya menemukan Djevelporten. Tapi, katanya Kjeragbolten udah terlalu rame, mau foto aja ngantrenya panjang, apalagi pas summer. Nah di Djevelporten, sepiiii.
Saya memang berencana mau berfoto di atas batu, tapi karena sehabis hujan, bebatuan jadi sangat licin. Ngeliat ke bawah, ratusan meter ada kayaknya, tinggi banget. Mana angin kenceng, dan cuma ada kami berdua di situ. Dari pada kenapa-kenapa tentu saya membatalkan niat untuk foto di atas batu. One slip to death.
Lumayan lama istirahat di sekitar Djevelporten karena emang view di sekitarnya pun bagus banget.

Dari Djevelporten, ada jalan memutar untuk menuju puncak (gemilang cahaya). Jadi nggak perlu puter balik. Toh juga kalo puter balik tracknya antara ada dan tiada sih. Jadi emang lebih baik ngikutin track muter sampai summit. Dan, pendakian ke puncak pun nggak mudah. Track semakin terjal, tebing sempit.

Tapi setelah bersusah payah, begitu sampai di puncak Mount Fløya, terbayar sudah dengan viewnya. Kami betah berlama-lama, meskipun angin membuat saya segera merapatkan resleting jaket.

Thank you Pak Adityo, for this photo.
Dan tentu saja… cookies coklat terenak sebagai reward.

Hampir satu jam kami duduk-duduk menikmati view di puncak, dan baru jam setengah enam sore kami memutuskan buat balik ke Svolvær. Kalo di Indonesia, jam segini udah mulai gelap ya, udah mau maghrib. September di Norway membuat kami lebih leluasa untuk pulang malem, karena jam 20.30 baru mulai gelap.
Hari itu untuk kedua kalinya saya gagal hiking ke Festvågtinden. Saya bisa saja memaksa untuk mendaki Mount Festvåg, menerjang hujan, bersusah payah sampai mungkin sering terpeleset. Namun di atas sana bisa saja saya malah tak bisa melihat apa-apa karena tertutup kabut. Mount Fløya yang kami rencanakan untuk jadi plan B, malah tersenyum manis menyambut kami. Cuaca sangat enak buat hiking. Tenang.
Superb photo by fotografer pribadi, @prabowoadityo.
Terkadang apa yang terjadi memang tak sejalan dengan yang kita rencanakan. Jangan terlalu memaksa, dunia sudah berputar dengan ritme yang paling tepat. Saat kita sudah bisa menyesuaikan berjalan mengikuti ritmenya, kita akan melihat dunia dengan cara yang lebih baik.
Click here to read all my stories in Norway.
Advertisements

6 thoughts on “Day 8 in Norway, “The Devil’s Gate”

    1. Vlog berarti ya Mas. Banyak sih sebenernya yang nyuruh bikin vlog aja. Tapi aku kok nggak suka denger suaraku sendiri Mas. Hahahahaha. Pasti nanti malah awkward. 😹

      Like

  1. Haha, satu sup segitu harganya hampir 300 ribu. (sengaja ngecek di XE haha). Tapi bener, sesekali bolehlah, apalagi kalau udah lama gak makan dengan bener.

    Tadi pas liat The Devil’s Gate aku langsung ngebatin, “kok batunya lebih panjang ya” ternyata emang beda dengan Kjeragbolten. Aku sendiri tahu Kjeragbolten dari file motivasi yang disebar-sebarin di milis dulu. (((MILIS) tahun jebot banget wakakak.

    Ditunggu kisah selanjutnya, mas.

    Liked by 1 person

    1. Iyaaa Mas. Mahal banget. Tapi ya memang enak banget. Hahahahaa.

      Ah iya, baru ngeh kalo Kjeragbolten sering muncul di slide power point motivasi-motivasi. Wah milis. Kayaknya itu socmed yang paling aku belum pernah gabung. Hehehehehe.

      Siap Mas Yan, terima kasih.

      Liked by 1 person

    1. Hahahaha. Aku bingung menjelaskan jenis hujannya sih Mas. Sepertinya denial kata yang cocok. 😹

      Iya Mas. Dari jaman awal kuliah udah klop. Jadi kemana mana bareng. Cuma kemaren pas ke India dia nggak bisa ikut, padahal udah beli tiket.
      Boleh Mas, silakan diintip IGnya, @prabowoadityo. 😁

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.