Kashmir to Ladakh: Day 1, “The Houseboats above the Lake Surface”

21 September 2017 – Srinagar
Jam 5 pagi akhirnya kami masuk ke tempat check in. Dan nyempetin mampir di Praying Roomnya dulu buat tidur sesi kedua. Nope, buat sholat Subuh! Yah, walopun memang waktu itu ngantuknya kebangetan sih. Agak heran, India termasuk negara dengan warga Muslim yang banyak, tapi mushollanya susah dicari dan kecil. Paling sekitar 3×4 meter. Di situ juga nggak ada tempat wudhunya. Untuk wudhu kami harus jalan ke restroom dulu.

This slideshow requires JavaScript.

Salah satu tempat makan yang wajib saya coba ketika ke luar negeri adalah KFC. Biasanya ada menu-menu khusus yang nggak bisa kita temuin di KFC lain. Jadi kami sarapan di KFC di foodcourt lantai 2. Saya pesan Chick’n Fried Roll. Nih yang mau liat iklannya Chick’n Fried Roll dari Youtube.
Selain Chick’n Fried Roll saya juga pesan ayam goreng dengan nasi briyani. Kalo di Indonesia biasa pakai nasi putih, di Malaysia biasa pakai nasi gurih/nasi uduk, kalo di India ternyata biasa pakai nasi briyani.

This slideshow requires JavaScript.

Pesawat kami ada di gate 58, yang lokasinya jauh bener. Kalo menurut saya KLIA2 itu jauh, ini lebih jauh lagi. Seriusan! Asli! Beneran! Nggak tau ya gimana kalo dibandingin sama Terminal Ulitmate 3nya Soetta karena emang belum pernah nyobain.
Di sepanjang lobby menuju gate 58 ini saya lihat banyak kursi-kursi tidur gitu, dan banyak yang kosong. Saya otomatis langsung liat-liatan sama Ikhsanul, njiiir… enak banget tiduran di situ. Asli, begitu nempel kebangun udah adzan dzuhur.
Pesawat kami akhirnya take off meninggalkan New Delhi menuju kota terbesar di Lembah Kashmir, Srinagar.
Kami mendarat di bandara International Srinagar sekitar pukul 9 pagi. Jauh juga ya, sekitar dua jam perjalanan udara untuk menempuh dari Delhi ke Srinagar. Saya nggak sempat foto-foto di bandara karena dari beberapa blog yang saya baca, sangat disarankan untuk tidak mendokumentasikan dalam bentuk apapun selama di bandara Srinagar. Begitu kami masuk ke terminal kedatangan, kami dipanggil oleh beberapa orang berpakaian bebas, dari perawakannya sih bukan militer atau petugas bandara, seperti layaknya warga sipil biasa. Lalu kami disuruh mengisi suatu formulir, isinya mirip dengan formulir yang kita isi sebelum melewati imigrasi di bandara Indira Gandhi, termasuk nomor visa, dan emergency contact kita. Passport saya ikut dicek pas saya kasihkan formulir yang sudah saya isi.
Keluar dari bandara udara sejuk pegunungan langsung menerpa kami, seger banget di sini.
Kami sudah janjian dengan temen kami yang Ikhsanul kenal dari Couchsurfing, Shabir. Dia sudah janji mau jemput di sini. Tapi sepertinya janjian kami kurang rinci, di mana dan jam berapa. Kami lumayan berharap ada WiFi atau provider Indonesia yang ketika dipake di Delhi berubah jadi Docomo India, di sini bisa pake sinyal provider lain. Yah, paling enggak bisa ngabarin Shabir kalo kami sudah sampai (dan minta dijemput). Tapi yah, internetan di India memang susah, apalagi di Kashmir dan Ladakh. Jadi sesuai dugaan saya, nggak ada sinyal WiFi di bandara Srinagar. Jadi kami lumayan agak lama luntang lantung di bandara ini. Beberapa kali coba nolak tawaran Bapak-bapak yang nempelin kami terus, nanyain mau ke mana, nginap di mana. Yah, akhirnya kami nyerah dan menjawab juga tawaran Bapak-bapak ini. Informasi yang kami punya adalah tempat kami menginap nanti di Dal Lake, houseboat bernama Cheerful Charley. Dan si Bapak ini langsung sumringah mendengar tempat kami menginap. Dia bilang yang punya satu marga dengan dia, jadi sudah kenal dekat. Agak-agak ragu dengan kata-kata si Bapak ini, karena udah lumayan ditempa dengan percaloan di Indonesia, apa aja dibilang asal dapat pelanggan, but we had no other choice. Karena kami lihat juga tidak ada pilihan lain selain tawaran Bapak ini.
Lalu kami dibawa ke suatu pos sekitar 200 meter dari pintu kedatangan. Di pos itu banyak orang-orang duduk, ternyata mereka sopir-sopir taksi yang menunggu penumpang. Kami diminta untuk membayar Rs. 720, dan dikasih selembar nota. Kami coba nawar, tapi nggak berhasil, katanya no bargaining. Ya sudah, tanpa perlawanan lebih lanjut. Kami iyakan saja harga segitu.
Berita-berita yang saya baca tentang konflik di Srinagar ini tergambar jelas selama perjalanan saya dari bandara. Banar bener-bener dijaga ketat oleh militer berlaras panjang. Tembok-tembok pembatasnya ditutup kawat berduri. Pintu keluar masuknya dipenuhi penjaga.
Begitu keluar bandara, kami disambut dengan kota Srinagar yang ramai, sesekali macet, berdebu karena banyak konstruksi. Sepanjang tepi jalan, sekitar 100 meter sekali ada militer yang berjaga, beberapa sampai ada yang berjaga di benteng kecil yang dibuat dari tumpukan karung-karung. Sempat juga kami melewati keramaian. Ada ribut-ribut, saya pikir apa ada demo ya? Beneran rame. Ternyata ada yang berantem, nggak tau karena apa. Pas kami nanya sama driver taxi kami dia pun nggak tau ada apa, dan dia bilang kayak gini udah sering terjadi. Dan yang paling menarik perhatian, di sepanjang jalan, di trotoar-trotoar sampai di divider jalan, tertera spanduk-spanduk kecil bertuliskan, “Coming Soon, Gold’s Gym” Hahahaha.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah sekitar satu jam kami berkendara dari bandara Srinagar (lama juga ya ternyata, jauh dan macet. Rs. 720 jadi berasa lumrah), kami sampai di Dal Lake. Danau yang terkenal dengan ratusan (atau ribuan?) houseboat. Houseboat adalah rumah-rumah berbentuk kapal yang mengapung di atas danau. Beneran ngapung? Ini yang saya agak sangsi, beneran ngapung kaga nih? Ternyata, houseboat houseboat ini punya semacam penahan dan dikaitkan dengan jangkar di tepi danau. Jadi houseboatnya nggak kemana-mana.
Bermalam di houseboat hukumnya wajib. Satu houseboat biasanya disewakan untuk satu rombongan turis saja dan bisa ditempati untuk 2-6 orang. Tergantung ukuran houseboatnya sih sebenernya. Waktu itu saya lihat ada beberapa houseboat yang ukurannya panjaaaang. Jadi mungkin houseboat yang seperti itu bisa dipakai untuk banyak orang.
Houseboat di Srinagar dibangun mulai abad ke19, saya baca dari The Wanderer, kalo awal mula houseboat ini, adalah ketika orang-orang Eropa yang berada di India dilarang membeli properti berdasarkan Perda Srinagar, karena mereka ingin menetap, maka mereka membangun rumah-rumah apung ini. Kreatif apa licik?
Untuk Houseboat di Srinagar, bisa kita temui di beberapa tempat. Di danau yang terbesar: Dal Lake, ada juga di Nagin Lake, bahkan di sungai yang terhubung dengan Dal Lake, sudah mulai bisa kita temui houseboat houseboat ini. Saran aja, pilih aja yang di Dal Lake. Lebih dekat pusat keramaian, dan dari beberapa review yang saya baca, lebih dapat view yang lebih indah.
Untuk pembangunan satu houseboat membutuhkan biaya yang sangat besar dikarenakan membutuhkan banyak kayu, itulah mengapa hampir semua houseboat adalah peninggalan dari abad ke19. Banyak pengelolanya merupakan anak atau cucu dari pemilik pertamanya. Jadi jangan heran kalau houseboat di Srinagar memiliki interior bergaya kuno dan antik. Pemilik houseboat yang kami tinggali, Aslam Dongola, bercerita bahwa houseboat yang dia kelola, Cheerful Charley, sudah dikelola oleh keluarganya dari kakek dia. Jadi sudah generasi ketiga dan rencananya akan tetap diteruskan oleh anak-anaknya.
Repotnya, untuk menuju masing-masing houseboat ini kita harus naik perahu kecil yang berjejer di tepian jalan. Warga sekitar menyebut perahu-perahu ini Shikara. Shikara ini ada yang sudah satu paket dengan houseboat yang kita reserve. Jadi sudah termasuk fasilitas dari houseboatnya. Tapi ada juga yang belum. Seperti houseboat kami, Aslam punya shikara dan seharusnya bisa dijadikan fasilitas untuk kami, tapi sepertinya dia sudah lumayan berumur dan nggak fit lagi. Jadi setiap kami akan menyeberang, kami membayar Rs. 50. Kayak ojek lah, cuma di sini ojek dayung. Selain ojek dayung, bisa juga kita temui Wall’s dayung. Wall’s eskrim? Yes!
Tidak sampai 10 menit untuk menyeberang ke houseboat kami. Saat menyeberang kami ditemani pemandangan yang luar biasa indah. Pegunungan hijau di kejauhan, houseboat yang berjejer di seberang danau, permukaan danau yang memantulkan bayangan gunung lengkap dengan langit biru dan awan-awan. Ketika winter, danau ini akan membeku karena suhu di bawah 0 derajat Celcius.

This slideshow requires JavaScript.

Shikara kami menepi, kami sampai di Cheerful Charley, houseboat tempat kami menginap malam itu. Setiap houseboat memiliki teras kecil yang dilengkapi dengan kursi untuk bersantai. Jadi bisa ngobrol-ngobrol di sini, santai sore, ngopi ngopi, atau main gaple. Terdapat pintu geser yang terbuat dari kayu dengan ukiran dan tirai dari manik-manik. Lalu memasuki houseboat, kami sampai di ruang tamunya. Semua perabotnya antik. Dari kursi-kursi sofanya, tirainya, karpet, meja, lemari, lampu, sampai radionya juga. Setelah dari ruang tamu kami sampai di ruang makan. Tapi sepertinya ruang makan ini sudah lama nggak dipakai. Baru setelah ruang makan ini kami sampai di satu lorong yang menyambungkan kamar-kamar tidur. Semua dindingnya dari kayu, beberapa terdapat ukiran-ukirannya. Atap-atap ruangan juga menggunakan kayu yang diukir. Kalau lantainya menggunakan karpet. Kayaknya sih karpetnya jarang divacuum ya.
Kami sampai di kamar tidur kami, berukuran sekitar 4×5 meter, dilengkapi dengan satu double bed dan satu single bed, bisa dipakai untuk tiga orang. Mungkin satu lagi udah dipersiapkan buat Adityo.
Kamar ini dilengkapi dengan kipas yang menempel di atap-atap (yang nggak perlu dipakai karena udah dingin), juga connected dengan kamar mandi. Kamar mandinya berlantai keramik dengan toilet duduk, wastafel + cermin, juga bathtub yang dilengkapi dengan shower juga tirai penutup.

This slideshow requires JavaScript.

Kami merapat di Cheerful Charley sekitar jam 11:30, lalu kami diantar ke kamar kami. Aslam mempersilakan kami istirahat dulu, untuk mandi dan tidur, nanti sekitar jam 1, baru akan diajak ketemu Shabir ke kota. Nahiya, tidur memang hal yang paling saya butuhin waktu itu. Kami dijamu dengan teh khas Kashmir dan Ladakh, milk tea. Saya nggak suka milk tea, tapi perjalanan saya sepuluh hari lebih di Ladakh, saking seringnya disuguhin milk tea, jadi enak enak aja kerasanya. Hahahaha.
Jadi selesai lepas-lepas sepatu, saya makan sandwich yang saya dapat dari Vistara, lalu ke kamar mandi bentar untuk mandi, langsung saya tidur. Jam 1 siang saya bangun, dibangunin Aslam, “Hey, sleeping boy.” Begitu kata dia.
Setelah itu kami duduk duduk di ruang tamu. Ternyata ada yang perlu dibahas oleh Aslam, yaitu masalah transportasi dari Srinagar ke Leh. Nah, mulai nggak enak firasat saya. Hahahaha.. Pembahasan kami seputar biaya yang perlu kami keluarkan selama tiga hari dua malam perjalanan dari Srinagar ke Leh, dengan tempat pemberhentian di Kargil dan Alchi. Kami sudah terlanjur reserve penginapan di Kargil dan Alchi. Ini adalah momen pertama kami menyadari kalau memesan penginapan jauh-jauh hari untuk perjalanan di Kashmir dan Ladakh adalah kesalahan besar (silakan mampir ke mari kalau mau baca tulisan saya tentang mencari penginapan di Ladakh), dan bakal menemukan momen momen yang lain. Pada intinya, kalau mau ke Ladakh jangan pesan penginapan jauh-jauh hari.
Jadi, karena kami sudah terlanjur memesan penginapan di Kargil dan Alchi, mau tak mau perjalanan dan Srinagar ke Leh dipotong menjadi tiga hari dua malam. Memang sih seperti rencana awal kami. Namun, karena kami hanya berdua, nggak jadi bertiga (Ehm.), tentu biaya yang harusnya kami bagi tiga untuk perjalanan tiga hari dua malem ke Leh menjadi dibagi dua. Aslam menawarkan untuk mempersingkat waktu perjalanan. Karena sebenernya Srinagar ke Leh itu bisa aja ditempuh dalam waktu satu hari. Tapi, karena kami ingin menikmati roadtripnya, dan ingin sekalian proses aklimatisasi (monggo yang mau baca tulisan saya tentang proses aklimatisasi dan AMS mampir ke mari ya), paling nggak Srinagar ke Leh bisa lah dijalani dua hari satu malam. Sayangnya, penginapan di Alchi sudah kami bayar lunas.
Perbincangan kami sampai berdebat masalah tujuan. Kami sempat kepikiran untuk diantar sampai Kargil atau Alchi aja, habis itu mau menyambung bus.
Saat ditanya berapa harga penginapan yang kami pesan, setengah mengejek Aslam bilang kalau penginapan kami mahal. Kami bisa dapat penginapan yang jauh lebih murah, apalagi kami pergi dengan Shabir, warga lokal yang pastinya bisa dapat harga yang lebih murah. Bener juga sih.
Setelah mengalami perdebatan panjang (beneran panjang, sampe 2 jam kami ngobrolin tentang harga ini, bener bener bargaining yang alot), akhirnya disepakati harga yang nggak bisa saya sebutkan di sini. Sudah janji dengan Shabir.
Baru kemudian jam 3 lebih kami menuju kota untuk menemui Shabir. Kami naik bajaj, kalau di sini disebut Auto Rickshaw/Tuktuk. Saya dan Ikhsanul kepikiran, kalau kita jadi dijemput sama Shabir di bandara, jadi ketemu dulu nih sama Shabir, baru habis itu ketemu Aslam, apakah harga yang dikasih Shabir juga segitu? Atau bisa lebih murah lagi? Gara-gara perdebatan panjang itu, kami mencoret banyak tempat yang bisa dijadikan alternatif selama kami di Srinagar. Gulmarg Gondola, Shalimar Bagh, Masjid Jamia. Tapi untuk Gulmarg Gondola, memang kebetulan ketika kami di sana, ada pemberitahuannya dari official accountnya di Twitter, kalau sedang dilakukan maintenance. Oiya, kalau kami mampir ke Srinagar dari awal sampai pertengahan April, harus mampir ke Indira Gandhi Memorial Tulip Garden ya. Ini merupakan tulip garden seluas 30 hektar dan merupakan tulip garden terbesar seAsia.
Dari Dal Lake kami ke tempat makan milik Bapak Shabir dekat pusat kota Srinagar, Rock View. Di sini sudah ada Shabir nungguin kami. Kami dipersilahkan duduk dan ditawarkan makan siang. Makan siang di sini mirip di warung Padang, setelah nasi keluar, lauknya juga keluar semua. Kami agak ragu, ini dibayar semua atau yang kami ambil aja. Karena semua lauknya belum pernah kami cobain. Jadi tiga piring lauk kami cicipi satu satu. Kami coba makanan khas Kashmir, bakso daging berukuran jumbo, lalu daging dimasak semacam opor, satu lagi daging dimasak seperti kare. Tiga-tiganya mutton. Tau mutton nggak? Mutton adalah daging domba.

This slideshow requires JavaScript.

Selesai makan siang, kami diajak ke counter HP di dekat Rock View, mau beli SIM Card khusus untuk digunakan di daerah Jammu and Kashmir. Tulisan tentang internetan di Jammu and Kashmir bisa dibaca di sini ya. Setelah urusan SIM Card beres, kami kembali ke Dal Lake untuk berwisata mengelilingi Dal Lake, Shikara Ride.
Kami diajak Aslam menglilingi Dal Lake, tidak ada biaya yang kami bayar, my treat, begitu kata Aslam. Kami menyusuri danau sampai masuk di daerah perbelanjaan. Nah, kalau kamu suka belanja, ini kesempatan kamu. Banyak pertokoan yang menjual macam-macam barang mulai dari pashmina dan karpet (khas Kashmir memang paling terkenal dari segi kualitas dan harga yang lebih terjangkau), perhiasan dari batu (nih yang hobi batu pasti demen), ukiran, sampai hiasan keramik dan pakaian. Tapi karena saya termasuk budger traveler yang kenceng masalah duit untuk oleh-oleh, saya nggak beli apa-apa. Ini juga yang bikin saya nggak enak sama Aslam.

This slideshow requires JavaScript.

Karena udah sore, hampir semua toko udah sepi, beberapa udah siap-siap untuk tutup. Jadi para penjual ini cuma duduk-duduk aja di teras toko. Nah, beberapa toko (yang mungkin kerabat Aslam), sengaja shikara kami mampir. Saya curiga ini ada kongkalikong antara Aslam, shikara driver, dan si pemilik toko. Kami disuruh mampir ke beberapa toko, mereka nunjukin barang dagangan mereka, walaupun beberapa kali bilang dengan cara yang sangat sopan, kami tidak mau beli apa-apa. Tapi tetep aja, mereka nunjukin barang ini itu, kalau kami yang nggak dikit-dikit melipir ke luar toko, mungkin semua barang bisa mereka tunjukin satu-satu.
Dan ini serius, karena setelah pulang dari shikara ride, sampai beberapa pedagang datang ke houseboat kami. Kalo yang ini sih kemungkinan memang kerabat Aslam. Pedagang pertama, datang bawa dua tas tenteng besar. Isinya jaket-jaket kulit. Dibukanya dagangan dia, ditunjukkan satu-satu barang dagangannya. Padahal udah beberapa kali saya bilang, saya tidak mau beli jaket. Tapi dia tetep kekeuh. Sampai hampir dua tas itu dibuka satu-satu dan dikeluarin dagangan dia, akhirnya dia menghela nafas kecewa karena saya atau Ikhsanul nggak beli apa-apa. Pedagang kedua, datang bawa tiga tas tenteng besar, isinya adalah pashmina. Dibilang oleh-oleh untuk your mother, your wife, and your sisters. Sama kayak pedagang pertama, puluhan pashmina dibentangkan satu satu, ditunjukkan satu-satu, padahal kami juga udah bilang, nggak mau beli pashmina. Karena kami juga harus pinter-pinter cari alesan. Kalo alesannya lagi menghemat untuk trip, dibilang harganya murah. Kalo alesannya bawaan udah banyak, dibilang bisa dilipet-lipet jadi kecil bahkan masuk kantong. Dan akhirnya pedagang kedua juga menghela nafas tanda kecewa kami nggak beli apa-apa.

 

Pashmina Seller
Oiya, dari Dal Lake kita bisa lihat Durrani Fort, sebuah benteng yang dibangung di atas bukit Hari Parbat. Dan sayang, karena waktu yang terbatas di Srinagar, kami nggak sempat mengunjungi benteng di atas bukit ini.
Selesai sholat Isya, kami diajak ke rumah Aslam. Rumahnya nggak jauh dari houseboat yang kami inapi, nggak perlu nyebrang Dal Lake, cukup jalan kaki ngelewatin jembatan dari kayu yang udah reot sana sini. Jadi kami harus hati-hati agar nggak nyemplung ke danau.
Kami makan bareng dengan keluarga Aslam, dijamu seperti keluarga sendiri. Ada anaknya, Sahil, yang ramah dan banyak bercerita tentang dunia tour guide yang mulai dia jabanin, sampai cerita dia motoran dari Srinagar sampai Leh dan terus sampai Pangong Tso dan Tso Moriri.
Pulang ke houseboat, dengan niatan mau cepet-cepet ke kamar mandi terus istirahat, eh Ya Allah! Datang pedagang ketiga! Dia datang dengan dua koper ukurang sedang. Isinya, amplop-amplop kecil berisi perhiasan dari batu. Kami ngantuk-ngantuk nungguin dia buka satu-satu isi amplopnya. Padahal kami selalu geleng-geleng dan bilang nggak tertarik beli perhiasan. Tiap dia buka gelang, kalung, kami bilang nggak tertarik. Itupun masih bisa disela, “So what kind of bracelet do you want? What kind of necklace do you want?”
Akhirnya, alasan kami mau tidur menyelamatkan kami. Uyeah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s