Kashmir to Ladakh

Jullay!
“Bang, backpackingan ke India yok.” Saya masih ingat, itu chat pertama yang memulai perjalanan saya ke India. WhatsApp dari Ikhsanul, 11 Maret 2017, satu minggu sebelum trip saya ke New Zealand. Dan kebetulan memang waktu itu lagi ada promo dari AirAsia. Jadi saya pikir, kenapa enggak? Beli dulu tiket untuk akhir tahun 2017. Bayangan saya ketika si Ikhsanul ngajakin ngetrip ke India, bikin jalur memanjang dari New Delhi sampai Bangalore, atau endtrip di Mumbai, atau atau atau… cuti agak panjang dan buat segitiga dari New Delhi – Bangalore – Mumbai. Epic! Tapi ternyata, setelah ngobrol lebih panjang dengan Ikhsanul, dia memperkenalkan saya dengan India utara, Jammu and Kashmir. Menjelajah kaki-kaki pegunungan Himalaya, roadtdrip dari Kashmir sampai Ladakh. Dan setelah browsing singkat sana sini, saya langsung setuju, ayok kita ke Ladakh! Ajakan Ikhsanul juga disambut baik sama Adityo. Awalnya saya lebih tertarik ke Iran. Tapi setelah liat foto-foto Ladakh di Instagram, sepertinya trip India ini harus lebih didahulukan.
Bisa dibilang Jammu and Kashmir adalah wilayah India yang penduduknya sendiri tidak mau disamakan dengan warga India, dan secara explicit beberapa orang yang saya temui bilang, “Kashmir is not part of India.” Wilayah Jammu and Kashmir masih sering terlibat konflik dengan pemerintah India, karena mereka ingin lepas dari teritorial India. Banyak protes, demo, bahkan baku hantam.
Setelah baca sana sini, wilayah Kashmir ternyata lumayan rumit. Saya coba ceritakan secara singkat dengan pemahaman saya ya. Tolong dikoreksi kalau ternyata saya salah tangkap. Untuk berbicara tentang wilayah Kashmir, terlebih dulu kita bicarakan wilayah Kashmir secara global terlebih dulu. Wilayah Kashmir adalah sebuah lembah di bawah pegunungan Himalaya utara. Wilayah Kashmir diduduki oleh tiga negara: Pakistan, India, dan China. Pakistan memiliki wilayah Azad Kashmir dan Gilgit-Baltistan. India memiliki wilayah Jammu, Kashmir Valley, dan Ladakh. Lalu China memiliki wilayah Aksai Chin dan Trans-Karakoram Tract. Tapi jangan salah, masing-masing negara masih saling claim antara tempat-tempat tersebut, termasuk Siachen Glacier yang posisinya bener-bener berada di titik temu perbatasan antara Pakistan, India, dan China. Pertikaian (tsah) di Kashmir juga melibatkan penduduk (gerilyawan?) Kashmir yang menginginkan berdiri sendiri. Kalau kamu googling tentang Kashmir, berita yang muncul dari BBC atau Aljazeera adalah konflik dan konflik.  Bahkah ‘sering’ terjadi baku tembak atau lempar-lemparan batu di wilayah Kashmir ini. Jadi aman nggak dong kalo mau ngeteng ke sana? Jawaban saya, Insyaallah aman. 🙂
Sekarang kita fokus tentang Kashmir di India. India adalah negara dengan penduduk terbanyak kedua di dunia setelah China, dan memiliki 29 negara bagian. Salah satu negara bagiannya: Jammu and Kashmir. Uniknya, ibukota negara bagian Jammu and Kashmir saat summer ada di Srinagar, sedangkan saat winter ada di Jammu. Nah, jadi Kashmir yang akan saya bicarakan di sini adalah Kashmir milik India yang di dalamnya terdiri dari Jammu, Kashmir Valley, dan Ladakh.
Jadi untuk perjalanan trip saya kali ini, karena izin visa saya dari India (baca juga tulisan saya tentang mudahnya mengurus e-visa turis India ya), saya ceritakan Kashmir di mata India ya. Saya ceritakan sebuah perjalanan luar biasa saya, a trip across Himalayas from Kashmir to Ladakh.
Ketika pertama sampai di daerah Srinagar, yang notabene kota terbesar di wilayah Kashmir, saya agak kaget dengan suasananya. Banyak banget militer India yang menjaga daerah ini. Mulai dari akses keluar masuk bandara yang dijaga ketat, sampai sepanjang jalan bisa kita temui militer India yang berjaga dengan senjata lengkap. Tenang, mereka bukan menjaga Kashmir dari turis gembel yang berpotensi jadi imigran gelap kayak saya, tapi mereka justru menjaga agar Kashmir tidak bergejolak. So, actually they are protecting gembel tourists like me.
Tanpa membahas konfliknya lebih lanjut, yang masih penasaran bisa googling sana sini deh. Banyak artikel yang bahas tentang konflik Kashmir.
Perjalanan ngeteng (bahasa ndesonya: backpackeran) ke Ladakh kayak saya, cocoknya buat mereka yang hobby jalan go show, alias minim perencanaan (lebih asik lagi kalo punya waktu luang yang panjang, nggak kayak saya, 10 hari itu terlalu ngepas). Saya tipe planner, jadi saya ngerasa trip saya ke Ladakh kemaren, the more I planned the trip, the more the plan ruined the trip. Ditambah lagi si Adityo yang cancel trip. Beneran, banyak kegalauan karena banyak hal, apalagi hari-hari awal sampai di Leh. Disimak pengalaman saya ya, you don’t want something like this happen to you.

This slideshow requires JavaScript.

Introducing my travelmate(s): Ikhsanul. Lho? Katanya ada Adityo juga yang menyambut baik ajakan trip ke India. Kok cuma Ikhsanul doang? Sadly¸ Adityo cancelled the trip. Karena dia kena mutasi dari Balikpapan ke Lampung. Dan cutinya nggak disetujuin karena terlalu mepet dengan jadwal pindahnya. Mau diotak atik untuk geser tiket pesawat pulang, terlalu mahal. Bisa beli Srilankan Air dari New Delhi ke Cengkareng dengan transit di Colombo, tapi harus ngeluarin biaya hampir 3 juta lagi. Karena mentok di izin cuti, mau nggak mau Adityo cancel trip kali ini. Padahal udah beli tiket pesawat jauh-jauh hari dan book beberapa penginapan. (Another trip, buddy?)
Seperti biasa, selama perencanaan, saya (masih) di Medan, Adityo di Balikpapan (belum pindah ke Lampung), dan Ikhsanul di Semarang. Kami bertiga ngandelin telpon dan internet: WhatsApp escpecially. Untungnya mengurus visa di India bisa diurus sepenuhnya lewat online alias e-visa. Jadi sangat mempermudah kami. Jadi, kami baru bisa ketemu di meeting point kami: Kuala Lumpur, sebelum bareng-bareng terbang ke New Delhi.
Trip saya dimulai dari kota Srinagar dan berakhir di kota Leh, kurang lebih seperti ini rutenya dengan total jarak perjalanan kurang lebih 1,510 kilometer.
Kashmir to Ladakh route
Bar, why India?” Banyak yang nanya begitu sama saya. Sama seperti mereka, ketika pertama kali dengar tentang India, kepikiran padatnya penduduk di sana, kumuh, transportasi yang kacau. Tapi setelah tahu tujuan kami adalah Kashmir sampai Ladakh, persepsi saya berubah. Jadi, why India? Come, let me show you why India.
Day 0, Medan-Kuala Lumpur-New Delhi
Day 1, Srinagar
Day 2, Sonamarg, Drass, Kargil
Day 3, Kargil, Mulbekh, Lamayuru, Khaltse, Alchi