Kashmir to Ladakh: Day 10, “Jullay!”

30 September 2017 – Leh Palace
Empat tahun lebih saya tinggal di Medan, udah lumayan paham ketika sesama orang Batak menyapa dengan ‘Horas’. Kalo ditanya artinya, mereka cuma jawab, ‘ya.. sapaan’. Kalo masuk ke rumah orang, ‘Horas’ lalu dijawab, ‘Horas’. Pas ngangkat telpon, ‘Horas’, dijawab juga ‘Horas’. Kurang lebih begitu juga untuk orang Ladakhi. Mereka menggunakan ‘Jullay’.
What does Jullay mean? Setiap kita ketemu orang, masuk ke tempat makan, berpisah dengan orang, kita mengucapkan sapaan. Kalo di bahasa kita, bisa ‘halo’ ‘selamat siang’ ‘permisi’ ‘sampai jumpa’, kalo untuk Ladakhi, mereka cukup mengucapkan, “Jullay”. Jullay bisa untuk menyapa saat pertama kali bertemu, memasuki tempat makan, sampai berterima kasih, mereka mengucapkan Jullay. Untuk berterima kasih mereka kadang mengucapkan, “Oju” lalu dibalas dengan “Ojullay.”
Masih inget saya ketika trip New Zealand dulu, dua kali kami mampir di Queenstown, tapi malah minim explore tempat-tempat yang deket dengan Queenstown. Hari terakhir, pagi pagi banget sebelum ngejar pesawat untuk pulang, saya berniat untuk cari sunrise di Queenstown Hill. Tapi apa daya mendung dan gerimis mengundang rasa malas untuk balik lagi selimutan. Sama juga dengan apa yang terjadi di Leh di hari terakhir. Niat malem sebelumnya yang mau keliling kota Leh dengan harapan, ‘paling enggak dapet Leh Palace aja’ ternyata gagal karena belum beres packing dan disaranin oleh pihak peninepan buat berangkat menuju airport jam 7 pagi
Leh adalah kota terbesar di Ladakh, dengan banyak tempat yang definitely worth your visit. Tujuan utama kami ada di Leh Palace saat siang hari dan Shanti Stupa saat sunset. Rencana ini ada di itinerary kami untuk hari pertama sampai di Leh, alias hari keempat perjalanan kami dari Kashmir ke Ladakh. Bisa kami wujudkan kalo perjalanan ini mulus tanpa kendala. Jadi hari keempat sampai di Leh sekitar jam 10 pagi, lalu ngurus ILP (Monggo yang mau baca-baca Innerline Permit mampir ke cerita hari keempat ya), siangnya cari rentalan taksi dan seharian jalan di sekitaran Leh. Mampir ke Leh Palace, Hemis, Shey dan Thiksey, lalu menjelang sunset kami berkunjung ke Shanti Stupa. Tapi sayangnya, perjalanan tak seperti yang kami rencanakan. Hari keempat kami amburadul, sibuk ngurus ini itu dan akhirnya sampai hari kesepuluh kami nggak sempat keliling Leh.
Pesawat kami jam 9 pagi meninggalkan Leh menuju New Delhi. Bisa nih keknya habis bangun buat sholat subuh mampir dulu ke Leh Palace, dapet sunrise boleh juga. Tapi apa daya, setelah sholat subuh masih repot karena packing belum beres. Belum lagi udah janji sarapan jam 6 pagi minta disiapin.
Dengan sarapan yang buru-buru, kami minta tolong omelette kami untuk dibungkus aja. Karena taxi ke bandara juga sudah datang. Yang ternyata omelette kami ditahan sama petugas bandara, dan nggak boleh ikut naik ke cabin. Padahal petugasnya dua orang sedikit ada eyel eyelan, satu nyuruh omelette saya untuk dibawa aja, satu nyuruh buat ditinggal.
Jam 7 tepat kami check out dan diantar dengan taxi (yang minta cost Rs. 500). Dan sampai Kushok Bakula Rimpochee Airport di Leh sekitar jam 7.30. Deket juga ternyata. Kushok Bakula Rimpochee Airport adalah salah satu bandara komersial tertinggi di dunia, yaitu berada di ketinggian 3,256 meter di atas permukaan laut. Karena ketinggian itu juga yang menyebabkan bandara ini hanya di-take off-in dan di-landing-in pada pagi hari. Karena sepanjang siang sampai sore angin akan bertiup kencang. Dan termasuk ke dalam airport dengan best scenic. Jadi kalo landing atau take off dari bandara ini, jangan lupa minta window seat.
Tapi, proses di dalam bandaranya yang lama dan ribet. Tahapan security di bandara India memang ribet. Saat kami terbang dari New Delhi ke Srinagar dulu juga panjang, tapi di Leh lebih panjang lagi. Proses pemeriksaan yang berulang-ulang, sampai validasi terbang oleh Vistara Air yang ribet banget. Yak, silakan dibaca review saya tentang terbang dengan Vistara Air di sini ya. Padahal penerbangan domestik juga. Tapi ya, kebijakan tiap-tiap negara kan memang berbeda-beda.
Iya, ini adalah hari terakhir perjalanan saya di Ladakh. Sepuluh hari saya berkelana, sepuluh kisah juga saya sudah bercerita; mencoba meng-extend cerita menjadi satu postingan untuk satu hari. Banyak yang bertele-tele, ngetik-ngetik nggak jelas, yang mungkin buat sebagian orang dianggap nggak penting karena terlalu panjang. But somehow, I enjoy the process. Rencana awal bisa ngepos satu cerita (satu hari) dalam satu minggu, tapi karena banyak kesibukan, termasuk ngurus pindah dinas saya dari Medan ke Semarang, draft.word yang udah berpuluh-puluh halaman sempet terbengkalai.
Terima kasih yang udah meluangkan waktu untuk membaca secuplik, sebagian, sekilas sambil discroll-scroll, atau bahkan yang seluruhnya ngikutin perjalanan saya, saya ucapkan banyak terima kasih.

Jullay!

6 thoughts on “Kashmir to Ladakh: Day 10, “Jullay!”

  1. Akhirnya tamat jugaaa 😂😂😂
    Nice gan, ga bertele2 kok cuma buat penasaran aja ga abis-abis ceritanya haha
    Wew lama juga ya di Medan, kampungku tuh #penting
    Anyway, keep writing gan!

    Like

  2. Kak bardiq, minta kontaknya jigme/gyal dong. Hehehe aku mw trip ladakh sept. Ntar..dan 9 sept ada ladakh marathon..kebayang dong ramenya gmana. Mw booking penginapan dan travel skrg. Thanks kak bardiq..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s