Day 5 in Norway, “All Lofoten Moods”

11 September 2018: Å, Munken, Reine
Tadi malem gue mimpi, dari jendela kamar gue bisa lihat Northern Lights, jelas banget ijo warnanya!
Saya masih inget itu kalimat pertama yang Adityo ceritain ke saya. Mukanya setengah nahan ngakak setengah takjub. Saking excitednya kami dengan Northern Lights, sampe kebawa mimpi. Saya sendiri lupa mimpi apa, saya tiap tidur selalu bermimpi, tapi ngilang begitu aja ketika terbangun.
Malam sebelumnya, saat kami pesta makan nasi gudeg di rumah Roy, Roy memang bercerita kalo Northern Lights bisa dilihat dari halaman belakang rumahnya. Bahkan dia ngajak kami buat keluar rumah menembus dingin, dan menunjuk-nunjuk langit. “There! Right there, you can see the Northern Lights around there! But it’s too cloudy, we can’t see it right now.
Setelah beres mandi, kami turun ke dapur, di ruang santai, Roy sedang membaca koran, TVnya menyala, tapi saya sendiri kurang perhatiin siaran apa yang lagi ditonton si Roy. “Good morning, Roy.”
Kami menyiapkan makan lumayan ekstra, karena selain untuk sarapan, kami juga nyiapin bekal untuk makan siang. Sekarang giliran satu kaleng beef corned yang dicampur telur yang kami jadikan menu, ditambah kalkun goreng yang dibalut tepung bumbu sisa tadi malem.
“Selamat pagi. Bisa tidur tadi malem?” Mbak Indah yang udah rapi nyapa kami. “Hari ini mau ke mana?”
Ah iya, tentang rencana hari ini. Kami berencana untuk hiking di Mount Munken, nggak terlalu tinggi tapi menyajikan pemandangan yang luar biasa, salah satu tempat hiking yang udah saya impi-impikan jauh-jauh hari sebelum sampai di Lofoten. Semua detil tetang tempat hiking mulai dari cara menuju ke Trailhead (titik awal pendakian), level kesulitan, jarak, dan elevasi, bisa kamu temuin di tulisan saya tentang hiking di Mount Munken.
Permasalahannya, selalu saja tentang transportasi. Jarak dari rumah Roy sampai ke Trailhead 2.4 kilo, kalo dilihat di google maps, tepat di tengah-tengah antara rumah Roy sampai ke Ferry Port tadi malam. Kami mau jalan kaki, dan syukur-syukur kalo ada yang mau ngangkut kami, lumayan menghemat waktu dan tenaga.
Jam 8.45 kami berangkat dari Airbnb kami. Telat 15 menit dari rencana awal, but that’s fine.
Lagi males nge-rotate foto. Maap yak.
Di samping rumah Roy ada Norsk Fiskeværs Museum (kadang ditulis fiskeværmuseum), atau Norwegian Fishing Village, yang baru buka jam 9 pagi. Kami kurang tertarik dengan museum, dan lagi memang harus ngejar mulai hiking, biar nggak terlalu sore.
Si Adit masih muka bantal.
Coba kamu perhatiin baju si Adityo. Kaosan doang! Padahal cuaca pagi itu mendung banget, angin juga bertiup kencang. Akhirnya pas kami sampai di jalan E10, tepat di samping terowongan, si Adiyo minta balik lagi ke rumah Roy, mau ambil jaket dulu. Hmm, saya sendiri cuma pake kaos dan coat tipis, jaga-jaga kalau hujan. Dari beberapa tempat hiking kami sebelumnya, saya nyesel pake winter jacket yang terlalu tebal, karena baru beberapa meter hiking, saya udah keringetan. Jadi dari pada ngeribetin harus nenteng-nenteng winter jacket, mending saya tinggal aja. Pakai coat yang tipis tapi waterproof ini sepertinya cukup. Bahkan pas berangkat dari rumah Roy, coat masih saya lipat rapi di dalam ransel.
Nggak lama setelah si Adityo ngambil jaket, hujan mulai turun, yang semakin lama jadi sangat deras. Saya mulai cemberut karena takut rencana untuk hiking ke Munken tinggal wacana. Sekitar 15 menit dan hujan tinggal rintik rintik, saya mengajak Adityo buat menerjang gerimis.
Trailhead kami ada di desa Sørvågen, tepatnya di tepi Sørvågvatnet (Lake Sørvåg), nggak jauh dari Sørvåg skole (Sørvåg school). Dari Å, sampai ke Trailhead kami sempat melewati desa Tind, menyusuri kembali sisi fjord seperti yang kami lewati malam sebelumnya saat berjalan dari Mosekenes Ferry Port ke rumah Roy Å. Dan beberapa kali ada mobil yang melintas tapi nggak satupun ada yang mau menepi buat ngangkut kami. Tapi nggak papa, kami jadi bisa menyaksikan jalan-jalan yang kami susuri tadi malem, yang gelap nggak kelihatan apa-apa, kini bisa jelas kami nikmati.

This slideshow requires JavaScript.

Tepat jam 09.30 kami sampai di tepi Sørvågvatnet, ada kursi taman dari batu dengan view pemukiman di desa Sørvågen.

This slideshow requires JavaScript.

Karena kami telat 30 menit dari rencana kami mulai mendaki, kami terpaksa tak berlama-lama di Trailhead, padahal sebenernya masih pingin duduk-duduk dulu di tepi Lake Sørvåg.
Di Norway, track hiking berwarna hijau berarti level trekkingnya easy, kalau merah berarti moderate, kalau hitam berarti difficult. Nggak tau juga tapi pake fitness level standard siapa. Wkwkwkwkw.
Track yang kami lalui sepanjang pendakian basah dan becek. Banyak kubangan lumpur yang memaksa kami buat lompat-lompat walaupun kepleset dan boots nyungsep ke lumpur. Mendung dan sesekali gerimis membuat saya harus keluar-masukin kamera berkali-kali. Beberapa kali kami juga harus mendaki batu yang sangat curam, untung sudah disediakan rantai/tali untuk berpegangan. Nggak cuma itu, bahkan tanjakan licin yang dialirin air juga sempet kami tebas.

This slideshow requires JavaScript.

Thank you Pak Adit, udah difotoin.
Selama pendakian, kami bertemu banyak danau. Danau-danau bersambungan satu dengan yang lain. Jadi air bermuara dari lelehan es/salju, juga mata air yang membentuk danau, lalu mengalir di sungai-sungai kecil, menuju danau-danau yang lain. Saya beneran takjub melihat danau-danau bertingkat ini. Ngebayangin punya kesempatan buat ikut helitour dan menjelajah Mount Munken dari udara.

Thank you for this photo, Superb! @prabowoadityo
Autumn comes earlier in north! Kami melihat hutan dengan pohon-pohon yang hijau lebat di selatan saat kami ber-Norway in A Nutshell, dan saat kami mendaki di Munken, alam liar Norwegia menunjukkan sisi lainnya. Sisi musim gugur yang membuat pepohonannya menguning, hamparan rumput berwarna emas, bersanding dengan gunung-gunung berwarna gelap yang kokoh menjulang, diselimuti kabut tipis. Disambut dengan jurang-jurang dalam dengan fjord di kejauhan. The crisp of autumn.
Can you count how many hikers in this photo?
Saya membayangkan dari bawah jurang-jurang, tiba-tiba muncul naga-naga yang terbang menukik, meraung dengan suara yang nyaring memekik. Satu yang paling besar di antaranya ditunggangi seorang wanita berambut silver, matanya memicing ke arah saya sebelum terbang berputar dan melajukan naga-naganya ke arah saya. Dia berteriak, “Dracarys!”
Gosong dong gue ya?

Nggak banyak kami ketemu dengan pendaki lain. Sempet bareng dengan pendaki cewek dari suatu kota di Norway selatan yang jalannya cepet banget. Dia bilang, “The mountains in northern Norway is very unique. They’re different with the mountains in the south. The shape, the color, I’m so amazed.” Laah, dia aja yang orang Norway asli amazed apalagi kami yang jauh-jauh dari negara nun jauh. Saya bercerita kalo Indonesia juga punya banyak banget gunung, semuanya indah (kayak udah sering naik gunung aja lu Bar!) dan tentu berbeda dengan yang ada di Norway. And we have beautiful bitches! I meant, beaches!
Selain si cewek tadi, ketemu juga dengan beberapa pendaki sekitar 6-7 orang yang sama-sama nggak kenal tapi tiba-tiba aja pada ngumpul di satu titik dan ngobrol. Kami yang kepo pun ikut nimbrung. Obrolannya seputar cuaca di Lofoten yang sangat labil, tiga di antaranya baru turun dari puncak setelah semalaman camping.
Katanya cuaca tiga hari kemaren sangat cerah, setelah seminggu mendung dan hujan di Lofoten. Tapi nggak tau tiba-tiba mendung lagi dan hujan lagi sejak tadi malam. Angin juga sangat dingin. Satu diantaranya menanyakan apa saya nggak kedinginan, karena emang cuma gue doang yang ternyata cuma bawa coat tipis.
Photographed by: @prabowoadityo
Berapa jam yang saya butuhkan untuk sampai di puncak Mount Munken? Tiga jam lebih. Kami sampai di Munkebu Hut jam 12.45. Wait, sebenernya kami nggak sampai puncaknya. Tujuan kami cuma sampai di Munkebu Hut. Hut ini adalah cabin yang disediakan khusus bagi pendaki yang terdaftar jadi member DNT (Den Norske Turistforening) atau Norwegian Trekking Association. Tentang DNT ini udah saya jelasin yah di tulisan saya tentang Hiking in Norway.
Begitu kami sampai di Munkebu Hut, kami langsung buka tuh bekal makan siang karena perut juga udah mulai menggerutu. Menunya sama dengan sarapan tadi, Cuma bedanya nggak pake kalkun goreng yang enak itu, karena udah kami habisin untuk sarapan.
Oiya, ini view yang kami dapet di sekitar hut:
Ini nih hutnya.

Dari Munkebu Hut sampai ke puncaknya sebenernya nggak jauh. 1.3 kilometer aja. Tapi kamu tau lah, 1.3. kilo untuk summit itu seberapa beratnya. Kami memperkirakan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke puncak. Pulang balik dan foto-foto pasti bisa sampai sejam setengah. No! Kami merencanakan untuk naik bus meninggalkan Å sekitar jam 14.15. Sudah tau tidak mungkin, jadi kami mengandalkan bus terakhir yang berangkat jam 16.00 dari Å. Jadi jam 13.30 kami meninggalkan Munkebu Hut dan segera turun kembali ke rumah Roy.
Rencana awal kami sih ransel dan tas duffel mau kami titipin di Sørvågen, mungkin ada tempat makan atau café yang bisa kami mintai tolong buat naruh barang bawaan. Tapi melihat Lofoten yang sangat sepi, bahkan jarang banget ketemu orang. Sangat nggak mungkin kalo kami nitipin barang bawaan di sembarang tempat. Yasudah, kami titipin aja di rumah Roy. Sekalian nanti kami cari tumpangan atau naik bus dari Å.
Kami agak ngebut saat perjalanan turun dari Munkebu Hut. Track licin bikin saya beberapa kali kepleset, ah sudah biasa. Kami sempet ketemu rombongan dari Perancis yang langsung menebak kami orang Indonesia. Satu diantaranya, laki-laki yang ramah bahkan sudah beberapa kali ke Indonesia dan pamer beberapa kata Bahasa Indonesia yang dia tau.
Jam 15.20 kami sampai kembali di Trailhead di Sørvågvatnet, sekitar setengah jam lebih cepet dari pada saat mendaki tadi pagi. Kami menuruni gunung sama sekali nggak banyak berhenti. Karena kalau sampai ketinggal bus, terpaksa kami harus hitchhike, karena jalan kaki sepertinya nggak mungkin. Desa tujuan kami selanjutnya berjarak 9.2 kilo!
Tepat sampai di Sørvågen, gerimis dateng lagi. Kami berjalan terburu-buru, karena waktu kami sangat mepet. Perjalanan dari Sørvågen ke rumah Roy terasa menyakitkan buat si Adityo, telapak kaki kanannya makin sakit, dan karena udah sangat mepet dengan jadwal bus, dia terpaksa mengikuti ritme jalan saya.
Kami sampai di rumah Roy jam 15.50, tinggal sepuluh menit dan Mbak Indah masih ngajak ngobrol lama. Dalam hati pingin motong dan segera ngibrit ke bus stop, eh ternyata pas pamitan kami dikasih satu kotak besar isi donat gula halus. Saya masih inget, isinya strawberry jam! Terima kasih Mbak Indah dan Roy!
Waktu kami kurang dari sepuluh menit untuk sampai di bus stop. Dan semakin menyakitkan buat Adityo, jalan biasa aja dia sakit, ini ditambah nenteng tas duffel dan saya lumayan ngebut. Saya jalan kayak setengah nyeret si Adit. Sorry ya cuy, dari pada ketinggal bus.
Bus stop ada di ujung terowongan, panjangnya 130 meter. Sudah hampir jam 4 dan akhirnya saya ambil tas duffel dari tangan si Adit dan ngibrit buat sampai di ujung terowongan. Bus besar berwarna putih masih terpakir saya bergegas naik dan menanyakan tujuan bus. Saya bayar dengan cash, 41 NOK per orang. Masih banyak kursi kosong dan saya duduk tepat di belakang kursi Pak sopir. Nggak lama setelah kami duduk, bus langsung bergerak meninggalkan Å.
I’m at village with the shortest name in the world. Nggak tau kenapa logonya kok siput.
Perjalanan kami berlanjut, bus nomor 18-722 membawa kami ke desa yang sangat saya idam-idamkan. Desa yang membuat saya browsing lebih banyak lagi tentang Lofoten, desa yang membuat saya berdiam lama menatapi gambarnya dari salah saru artikel yang saya baca di boredpanda, desa yang membuat saya memutuskan untuk mengajak Adityo ke Norway: Reine.
Sebetulnya banyak kami temui mobil yang melaju dari Å ke Reine, jaraknya 9 kilo lebih dan kalau kami sabar kami yakin akan ada yang menepi dan mau mengangkut kami. Tapi kami tak mau mengambil risiko hitchhike, kalo saat kami turun dari Munken masih jam 3 sore, tentu kami masih coba peruntungan untuk nungguin mobil lewat dari ujung terowongan.
Cuma 20 menit dan kami turun dari bus. Kami sampai di Reine, tepat di depan Circle K. Kami duduk-duduk sebentar, nggak bisa kami pungkiri, kami capek banget. Kaki pegel-pegel. Kami cek tempat Airbnb kami di Reine, jaraknya lumayan jauh, karena lokasinya bukan di pusat Reine. Kami harus balik ke jalan E10, dan menyusuri jalan E10 lagi sebelum berbelok dan sampai di rumah bertingkat dua berwarna putih. Saya cek, rumah Marta, host Aibnb kami, berjarak 1.7 kilometer dari bus stop. Mayan kan bro? Dan, harus berjalan memutar.
Jarak dari bus stop ke Airbnb.
Setelah kesasar mondar-mandir di sekitar rumah Marta, kami berpapasan dengan Om Om yang menunjuk sebuah rumah bertingkat dua nggak jauh dari jalan E10. “I’m pretty sure you’re looking for that house.”
Kami agak nggak nyangka karena pekarangan rumah lumayan berantakan, rumput-rumput tinggi belum dipotong. Setelah kami cocokin lagi dengan check in instruction dari Marta, dan betul. Rumah yang nampak kosong itu memang Airbnb kami.
Kami nemu kunci di bawah karpet, kami putar ke lubang kunci, dan pintu terbuka. Ada welcome note diletakkan di jendela tepat di samping pintu masuk. Instruksi lengkap tentang kamar, dapur, bahkan sleeping bag yang bisa kita pake kalo mau tidur di luar. Ya kale Mbak Marta ah, macem tamunya ada yang berantem terus yang laki disuruh tidur di luar sama si bini.
Rumah dua lantai yang sangat besar untuk dipakai berdua. Lantai satu berisi ruang santai, dapur, ruang makan, kamar mandi. Belum lagi dengan mudroom dan koridor di sisi tangga menuju lantai dua. Di lantai dua, berhadap-hadapan kamar dengan total empat ruang. Satu kamar berisi satu double bed, dua kamar berisi masing-masing dua single bed, dan satu lagi kamar paling ujung berisi satu single bed. Tanpa menghitung sleeping bag, Airbnb ini bisa diisi dengan tujuh orang!
“Serem juga kalo malem ya Dit?” Itu yang terbayang. Dipakai cuma berdua, lantai satu bakalan kerasa sangat luas, dan lantai dua terlihat sepi banget.
“Pelangi!” Kami langsung kaget ketika lihat pelangi yang kelihatan dari ruang makan. Dan segera berlarian ambil kamera dan bergegas keluar rumah. Sekitar 15 meter dari Airbnb kami, ada dermaga cukup luas, dari situ kita bisa lihat desa Reine di seberang fjord. Tepat di atasnya, pelangi melengkung sampai hilang ditelan mendung.
Rainbow above Reine
Sesaat setelah pelangi mulai hilang, kami bergegas kembali ke Airbnb untuk mengambil jaket. Kami akan berafternoon walk, berkeliling Reine. Yak, itu artinya harus berjalan 1.7 kilo lagi. Dan bahkan lebih.
Saat kami sampai di Reine, kami terkejut lihat langit yang tiba-tiba sudah cerah. Hampir nggak ada awan. Mendung bahkan gerimis yang dari tadi pagi kayaknya menyelimuti seluruh Mosekenes, tiba-tiba ilang. Bersih! Kami langsung merencanakan tempat untuk nungguin Northern Lights. Walaupun itu artinya kami harus bolak-balik lagi ke Airbnb. Ah, ini view yang kami dapet waktu jalan-jalan sore di Reine:

Credit to: Adityo Prabowo

Kami nyempetin buat mampir ke Circle K, beli postcard untuk teman-teman tersayang (halah). Satu postcard harganya 10 NOK. Tapi satu perangko untuk ngirim sampai ke Indonesia dari Norway 15 NOK. Lebih mahal ongkirnya. Pas bikin tulisan ini saya baru ngeh, si Prayoga yang saya kirimin postcard kok nggak ada pamer postcardnya udah nyampe. Ternyata udah lima bulan tapi belum sampe. Padahal postcard buat Ikhsanul udah nyampe cuma sebulan sejak postcard dikirim.
Kami sampai di Airbnb jam 8 malem, dan segera buat makan malem. Kami bikin Indomie dan telor, pilih yang cepet aja karena buru-buru pingin segera siap-siap buat nungguin Northern Lights.
Tujuan kami nungguin Northern Lights ada di ujung dermaga di dekat Circle K. Mulai kerasa males ngebayangin jalan 1.7 kilo lagi buat sampai sana. Tapi di dermaga itu posisinya sangat pas, karena nggak ada bangunan di sekitar dermaga, jadi bisa melihat sekitaran dengan bebas hampir 360 derajat.
Sudah agak gelap saat kami berangkat dari Airbnb. Belum jauh kami dari pintu keluar Airbnb, dari sisi timur tepat di atas Reine, tepat di mana tadi sore saya bisa melihat pelangi, muncul cahaya berwarna hijau terang. Padahal langit belum sepenuhnya gelap, di sisi barat langit masih berwarna biru muda. Si cantik ini menjalar naik ke atas kepala kami. Meliuk-liuk pelan seolah menggoda kami. Membuat kami melongo sebentar, sebelum menunjuk-nunjuk langit, dan saling berteriak,
“BAAAR ITU BAAAR!”
“WHOOOOA! ITU DIT! ITU DIT!”
Kami langsung mengurungkan niat kembali ke dermaga, terlalu jauh, karena si cantik Aurora Borealis sudah dapat kami lihat dari Airbnb kami. Kami berlarian, nyeri di kaki sudah nggak teringat. Buru-buru masang tripod dan nyetel settingan kamera.
Tangan saya sampai gemetar selagi memutar-mutar settingan kamera. Memastikan aperture sudah paling lebar, focus sudah infinity, shutter speed? Berapa dong shutter speed? ISO? Berapa nih ISO? Saya sampai panik mau atur berapa shutter speed dan ISO. Lalu saya arahkan kamera ke arah timur. Tampak di layar kamera, cahaya hijau dengan sedikit warna ungu di ujung bawah, bergerak-gerak pelan.
Belum juga dapat foto yang saya inginkan, pas saya noleh ke arah kiri saya, cahaya yang sama juga muncul. Di sisi utara kami, Northern Lights muncul lebih lebar tapi lebih pudar. Mungkin karena langit belum sepenuhnya gelap.
“ITU DIT! SEBELAH SANA! TENGOK NOH! ITU TUH!”
Mungkin bagi orang Norway kami seperti dua orang gila yang teriak-teriak kegirangan melihat Northern Lights. Atau, mereka malah sudah maklum dengan turis yang berekspresi heboh saat pertama kali melihat Northern Lights.

This slideshow requires JavaScript.

Banyak orang bilang kalau cuaca di Lofoten itu sangat moody. Apalagi saat autumn, kadang kita bisa ketemu Lofoten yang sendu, yang gelap, dengan mendung dan kabut yang menyeliputi gunung-gunungnya. Adapula Lofoten yang berangin, gerimis, bahkan hujan deras dan badai. Lalu Lofoten yang cerah, yang sinar matahari terik bisa kita rasakan. Di pergantian cuaca dari mendung, hujan, dan cerah, tak jarang kita melihat pelangi. Dan di malam-malam yang cerah itu, kita bisa menyaksikan lampu berwarna hijau terkadang ungu atau merah menyorot ke langit, menari-nari di atas Lofoten.
Kami menyaksikan semua mood Lofoten itu dalam satu kesempatan. Membuat saya lebih mencintai Lofoten, dan tulisan ini membuat saya lebih merindukan Lofoten.
Advertisements

7 thoughts on “Day 5 in Norway, “All Lofoten Moods”

    1. Saya waktu di Bergen, mampir ke mesjidnya Mas. Ada di cerita saya yang hari pertama di Norway. https://bardiq.me/2019/01/13/norwayday1/ Tapi karena kota besar sih ya, pasti ada.
      Nah, pas saya mulai di utara, sering ketemu refugee Mas. Katanya dari Somalia. Sempet ngobrol dan nanya mesjid, dianter ke suatu bangunan gitu Mas. Rumah yang terus disulap jadi mesjid. Tapi sayangnya pas kami mampir digembok karena belum pas jam sholat.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s