Gunung Sumbing via Butuh, Kaliangkrik. “My Kind of Honeymoon”

Lokasi
: Desa Kaliangkrik, Kabupaten Magelang
Lokasi Basecamp
: (-7.417386, 110.077765) or Google Location
Level
: Moderate
Ketinggian
: 3,371 mdpl (Ketiggian Basecamp 1,700an mdpl:
Tracklog
Click here to download. Tracklog by Kang Bison from kemanahore.com
Tibalah agenda utama saya setelah menikah: naik gunung! Ahahahaha. Setelah bermalas-malasan di Kvaltresna yang terlalu nyaman, saatnya liburan yang sebenarnya. Dari sekian banyak gunung yang ada di sekitar kota tempat tinggal kami, entah kenapa selalu Gunung Sumbing yang menarik perhatian saya. Pun juga Gunung Merbabu yang jadi opsi lain memang masih ditutup karena pandemi.
Jalur yang menjadi perhatian saya sejak beberapa bulan terakhir adalah via desa Butuh di Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Selain jalurnya yang terkenal lebih ramah (ketimbang via Cepit dari desa Cepag yang cerita tentang lelariannya sudah saya ceritakan lengkap di sini, juga memang akhir-akhir ini jadi salah satu jalur favorit, bukan karena spot Nepal Van Java yang lagi trending berkat Instagram. Justru gara-gara Nepal van Java ini saya akhirnya rela untuk ambil cuti sehari dan memilih hari kerja untuk memulai pendakian: Jumat.
Ini adalah rute pendakian gunung Sumbing via Butuh, Kaliangkrik by @kangbison. Click the image to visit the source.
PENDAFTARAN
Sejak pandemi menyerang Indonesia pertengahan Maret 2020, banyak pendakian gunung di Indonesia tutup. Ketika sudah dibuka pun, sebagian besar tentu diwajibkan menerapkan protokol kesehatan, termasuk dengan cara membatasi jumlah pendaki. Pendafaran pendakian gunung Sumbing via Butuh bisa melalui komen Instagram @reg.symphonysumbing.id dengan cara mendaftarakan data diri seluruh pendaki di kolom komentar. Setiap hari Minggu, Admin akan menyediakan satu post untuk satu hari jadwal pendakian, dan ketika kuotanya sudah full untuk tanggal tersebut, kolom komentar akan dimatikan. Jadi, silakan ketik di kolom komentar nama lengkap, tahun lahir, dan alamat kota/kabupaten.
Berapa kuota per harinya? Sudah dinaikkan jadi 100 orang per hari dari yang awalnya hanya 50 orang. Untuk persyaratan pendakiannya pun banyak. Simak nih:
1. Wajib membawa surat keterangan sehat. Kalau belum bawa, ada Puskesmas Kaliangkrik yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari Basecamp Butuh.
2. Wajib memakai masker, hand sanitizer (atau semprotan disinfektan), mencuci tangan dan jaga jarak di base camp.
3. Setiap rombongan maksimal 8 orang, kalau hanya dua orang laki-perempuan, wajib alamat serumah dengan bukti KTP (pakai fotokopi buku nikah juga boleh, karena KTP saya dan Dektsal memang belum serumah).
4. Setiap pendaki wajib membawa satu kartu identitas dan harus berusia paling tidak 15 tahun. Usia di bawah 15 tahun harus bersama orang tua.
5. Tenda sesuai kapasitas. Ini peraturan baru, karena dulu sempat diwajibkan wajib membawa tenda dengan kapasitas lebih besar. Misalnya, dua pendaki satu tenda wajib menggunakan tenda untuk 4 orang.
6. Pelayanan registrasi jam 07.30 s.d. 21.00 WIB. Basecamp tutup jam 22.00 WIB.
7. Waktu pendakian maksimal jam 01.00 dini hari.
8. Waktu turun jam 18.00 WIB harus sudah sampai di basecamp.
P.S.: Peraturan ini bisa berubah sewaktu-waktu, tetap selalu cek postingan Instagram mereka untuk mendapatkan informasi yang update.
Sudah memastikan semua persyaratan bisa kamu penuhi? Saatnya kita memulai pendakian!
PENDAKIAN
Basecamp KM 0 – 1,722 mdpl
Day 1 – 25 September 2020
Sebetulnya lumayan berat hati memilih hari Jumat untuk memulai pendakian, karena rumah saya yang terbilang dekat dari basecamp, jadi tetep harus nunggu sholat Jumat dulu baru bisa mulai pendakian. Padahal lebih seru kalau mulai pendakian gasik biar punya banyak waktu leha-leha sebelum gelap.
Kami berangkat naik motor berdua dari kota Semarang jam 06.15 pagi. Ternyata boncengan naik motor ditambah dua carrier besar yang penuh, jadi tantangan buat saya yang harus pinter jaga keseimbangan, dan juga Dektsal yang duduk di boncengan karena berkali-kali hampir ketarik carrier. Apalagi jalanan dari kota Semarang sampai di pertigaan Bawen yang full nanjak.
Waktu kami sampai di pintu masuk desa Butuh, lumayan banyak berjejer mobil-mobil plat luar kota yang sengaja dateng ke Nepal van Java. Dari area keramaian ini, untuk sampai di basecamp, kita masih harus berkendara naiiiik terus. Ngeri juga nih bawa motor matic di tempat begini. Lebih takut lagi kebayang ntar pas turunnya, takut rem blong.
Setelah sempet mampir di mini market di kota Magelang buat beli beberapa perintilan (dan teteep aja ada yang ketinggalan, lupa beli spare batre!), kami sampai di basecamp Butuh di Kaliangkrik Kabupaten Magelang jam 8.30 dan langsung melakukan registrasi. Pada saat registrasi kami diminta untuk mendata semua barang bawaan kami, termasuk obat, jajanan, dan air mineral dalam kemasan. Karena kita diwajibkan membawa seluruh sampah kita saat turun nanti, dan pada saat sudah sampai basecamp kembali, seluruh barang bawaan kita akan dicek sak sampah-sampahnya, cocok nggak dengan barang bawaan saat kita mulai mendaki. Jadi pastikan nanti saat turun, seluruh sampah kamu bawa jangan sampe ada yang tertinggal. Nggak mau kena denda atau dapat hukuman kaaan? Jauh dari alasan itu, seharusnya ada kesadaran untuk menjaga mother earth.

This slideshow requires JavaScript.

Biaya registrasinya 15 ribu per orang, biaya parkir sepeda motor 5 ribu per motor. Selain itu karena kami mulai sudah terlambat dari waktu mendaki yang saya dambakan, kami juga membeli voucher ojek 20 ribu per pendaki. Ojek di gunung Sumbing menurut saya must try sih. Saya ceritakan ntar deh yaa.

This slideshow requires JavaScript.

Cuaca cerah, gunung Sumbing sudah terpaku di depan mata. Saya tumbuh dewasa dengan pemandangan gunung Sumbing terlihat hampir di setiap sudut mata. Memang bukan yang pertama kali saya bisa berdiri di kaki gunung Sumbing sedekat ini, tetapi selalu ada ketertarikan sendiri dengan gunung yang satu ini untuk didaki.

This slideshow requires JavaScript.

Membuang waktu, kami memutuskan untuk ngeteh, ngopi, dan ngindomie~ sekalian mengisi perut karena rencananya setelah sholat Jumat beres, langsung manggul carrier, ngencengin semua strapnya, dan langsung memulai pendakian.
Basecamp KM 0 menuju Pos 1 – 1.6 KM (1,722 – 2,200 mdpl) – waktu kami: 30 menit.
Setelah beres sholat Jumat -yang lokasi mesjidnya lumayan buat pemanasan-, kami memutuskan segera memulai pendakian. Karena sudah beli dua voucher ojek gunung, kami langsung dihampiri dua bapak-bapak yang sudah ready dengan Mega Pronya. Kalau bonceng ojek gunung, saat mendaki, kita akan duduk di depan Bapaknya, karena tanjakan yang memang ekstrem, saya yakin kalo saya bonceng di belakang, ini motor bakal standing.
Difotoin Dek Bojo.
Dengan menggunakan ojek gunung ini, kita bakal menghemat waktu pendakian yang biasa ditempuh sekitar satu jam jadi cuma lima menit aja! Kalau mulai nanjak dari pagi mungkin enaknya nggak perlu naik ojek kali yaa. (ngeles)
Kalau tidak menggunakan ojek, pendakian dari Basecamp ke Pos 1 menurut saya lumayan banget bikin paha mulai panas, ditambah dengan jalanan dari bebatuan. Tetapi, pemandangan perkebunan warga saya jamin nggak bikin kamu bosen. It’s just a start to be honest. Jadi, waktu yang kami butuhkan untuk sampai di Pos 1 dengan bantuan ojek hanya 30 menit saja, sementara waktu yang kami perkirakan kalau tanpa ojek sekitar satu jam setengah.

This slideshow requires JavaScript.

Ada warung di Pos 1, kami ditawari beberapa pendaki yang sedang istirahat untuk ngeteh dulu. Tapi kami memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan.
Pos 1 menuju Pos 2 – 1.3 KM (2,200 – 2,458 mdpl) – waktu tempuh kami: 60 menit.
Mulai dari Pos 1, track berbentuk tangga dari tanah bercampur dengan akar, kemudian berganti dengan bebatuan yang disusun mirip tangga. Nanjaaak terus. Cuaca yang sedari tadi memang tak terik, terasa sangat nyaman meskipun saat itu sudah jam 1 lebih.

This slideshow requires JavaScript.

Perkebunan warga mulai digantikan dengan hutan pinus. Sepanjang perjalanan dari Pos 1 sampai ke pos 2 kami sama sekali tidak bertemu dengan pendaki lain.
Pos 2 Sumbing via Butuh Kaliangkrik
Pos 2 menuju Pos 3 – 1.9 KM (2,458 – 2,638 mdpl) – waktu tempuh kami: 110 menit.
Perjalanan dari pos 2 menuju pos 3 adalah perjalanan paling saya nikmati dari seluruh rangkaian pendakian gunung Sumbing kali ini. Meskipun jaraknya lebih jauh, tetapi track tanah terasa lebih landai, ditambah lagi cuaca yang terasa teduh. Apalagi belum jam 4 sore dan target kami mendirikan tenda di Pos 3 adalah sebelum jam 5. Jadi kami banyak menghabiskan waktu untuk cari konten di sepanjang jalur ini.
Dari sini kita mulai bertemu beberapa sungai yang akan kita seberangi, tetapi dialiri air ketika musim hujan saja dan kering saat musim kemarau.
Sungai Sumbing via Butuh Kaliangkrik
Sampai di pos 3 jalur Butuh masih pukul 16.20. Di sini ada persimpangan jalan dengan jalur Mangli yang kalau kita turun dari arah puncak, jalur menuju pos Butuh rada-rada ketutup apalagi ketika mulai banyak tenda. Hati-hati jangan salah ambil jalan, karena pas kami turun dari puncak, kami sempet nyasar di persimpangan ini.

This slideshow requires JavaScript.

Kami memilih untuk mendirikan tenda di pos 3 jalur Mangli yang jaraknya masih sekitar 20 menit lagi dan sedikit menuruni lembah. Area camp di pos 3 jalur Mangli jauh lebih luas ketimbang pos 3 di jalur Butuh tadi. Pun juga dapet view lebih bagus.
Pos 3 Sumbing via Mangli
Nggak banyak pendaki sore itu. Saat kami tiba di pos 3 hanya ada 3 atau 4 tenda yang sudah berdiri terlelbih dulu. Kami memilih area yang sedikit di atas, menjauh dari tenda-tenda lain meskipun nggak lama setelah tenda kami berdiri, ada satu rombongan yang mendirikan tenda tepat bersebalahan dengan tenda kami. Padahal area kosong lain masih luas bangeeet. Rombongan sebelah ini menginap dua malam, empat laki-laki dan satu orang perempuan yang hampir sepanjang malam saling curhat soal 20% kerjaan, 40% lamaran, dan 40% sisanya lagi membahas taaruf. Kami yang habis makan malem dengan nasi goreng sosis, 50% mencoba merem istirahat, dan 50% sisanya mau tak mau nguping obrolan tenda sebelah.
Day 2 – 26 September 2020
Sepanjang malam tidur saya bolak balik kebangun karena posisi tanah yang kurang rata, dan badan saya selalu nggelundung. Untung tepat di pintu tenda sudah saya susun carrier.
Sebelum jam 04.15 kami sudah sengaja bangun. Posisi tenda kami yang tepat menghadap arah Timur dengan view gunung Merapi yang berseberangan mesra dengan gunung Merbabu sangat pas untuk menanti sunrise. Rencana awal kami pingin summit buru-buru agar bisa menikmati sunrise di puncak, tapi rasa malas dan seribu alasan lain akhirnya kami memutuskan menikmati sunrise tepat dari depan tenda kami.

This slideshow requires JavaScript.

Pos 3 menuju Pos 4 – 1.5 KM (2,638 – 2,983 mdpl) – waktu tempuh kami: 90 menit.
Setelah kami memilah barang-barang yang akan kami bawa untuk summit, kami sengaja meninggalkan barang-barang di tenda kami. Sempet kepikiran juga, aman nggak nih ninggal tenda dengan banyak barang di dalamnya. Tapi yaudah lah ya, semoga aman nggak ada yang niat maling.
Sebelum jam 7 pagi kami sudah meninggalkan pos 3. Setelah dimanja dengan track dari pos 2 ke pos 3 yang terasa sangat nyaman, perjalanan menuju pos 4 tidak demikian. Track masih didominasi jalan setapak tanah, dan pepohonan memang sudah mulai kita tinggalkan sejak pos 3. Sepanjang perjalanan kita hanya ditemani rerumputan yang masih berwarna kuning kecoklatan sisa musim kemarau meskipun sesekali sudah turun hujan.

This slideshow requires JavaScript.

Track dari pos 3 menuju pos 4 full tanah dengan beberapa bagian akan ketemu jurang, jadi tetep hati-hati ya!
Kami sampai di pos 4 sebelum jam 08.30 Ada beberapa tenda yang kami temui di pos 4. Tidak terlalu banyak, padahal selain pos 3, hanya tersisa pos 4 saja yang lokasinya nyaman untuk dijadikan tempat ngecamp. Kami sempat mempertimbangkan untuk mendirikan tenda di pos 4. Tapi mengingat waktu mulai pendakian yang kelewat siang, agar tak terburu-buru kami akhirnya mencoret opsi ini.
Ternyata sangat bersyukur kami ngecamp di pos 3, karena saat summit kami tak perlu dibebani carrier besar terlalu lama.
Pos 4 juga dijuluki Pos Pohon Tunggal karena dulu ada satu besar di sini, tapi saat kami sampai di pos 4 sudah tidak ada lagi pohonnya. Apa kesamber petir ya?

This slideshow requires JavaScript.

Kami tak berlama-lama di pos 4. Hanya ngobrol sebentar dengan beberapa pendaki lain, dan saatnya summit attack!
Pos 4 menuju Puncak Sejati – 1 KM (2,983 – 3,371 mdpl) – waktu tempuh kami: 90 menit.
Waktu tempuh dari pos 4 sampai Puncak Sejati seharusnya tak perlu memakan waktu selama ini. Kami banyak duduk duduk dan cari konten di sepanjang jalan pendakian menuju puncak (gemilang cahaya). Tracknya pun terbilang relatif mudah, memang menanjak, tapi track tanah padat dan tak sampai banyak membutuhkan bantuan tangan untuk sampai ke puncaknya.

This slideshow requires JavaScript.

Gunung Sumbing memiliki beberapa puncak dan satu kawah besar (segoro wedi). Beberapa puncak seperti Puncak Buntu, Puncak Kawah, dan Puncak Rajawali dapat segera kita temui apabila mendaki gunung Sumbing dari sisi baratnya seperti Garung, Banara, atau Cepit. Dan karena sekarang kita sedang mendaki gunung Sumbing dari Butuh Kaliangkrik, maka puncak paling dekat yang bisa kita temui adalah Puncak Sejati. Dari Puncak Sejati untuk sampai ke Puncak Rajawali harus turun ke kawahnya dulu kalau tak mau melewati jalur ekstrem di tepian tebing.
So, here we are, standing on second highest mountain in Central Java, top of Mount Sumbing on 3,371 above sea level in our honeymoon!
Our kind of honeymoon.

2 thoughts on “Gunung Sumbing via Butuh, Kaliangkrik. “My Kind of Honeymoon”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.