Day 7 in Norway, “A Sweater Made of Wool”

13 September 2018: Henningsvær
Meskipun udah selimutan tebal, tapi pagi itu terasa sangat dingin. Saya mencoba menggapai iPhone yang udah meraung-raung tak jauh dari kasur. Sambil ngumpulin nyawa, saya masih enggan untuk beranjak. Ternyata gerimis, dan malam sebelumnya saya lupa buat masukin sepatu. Sepatu jadinya sedikit basah, dalemnya juga lembab. Saya coba taruh di atas heater ruangan, mana tau lumayan ngeringin kan. Kayak trik diajarin Bapak jaman saya SD dulu, tiap kehujanan pas pulang sekolah, sepatu semaleman dicepit di belakang kulkas, besoknya jadi kerupuk.
Jam 06.30 tet setelah beberes kami segera check out. Setelah semua bersih, kunci kami tinggalin aja menggantung di pintu, karena memang begitu instruksi dari Bina, host Airbnb kami di Fredvang.
Gerimis semakin menjadi sehingga kami setel outfit tempur mengadapi hujan. Seperti saat kedatangan kami ke Fredvang sehari sebelumnya, kami mau jalan kaki aja nyebrang jembatan, menempuh dua jembatan dengan total jarak tiga kilo lebih. Bus yang akan kami naiki dari bus stop Fredvang kryss akan berangkat jam 07.25 menuju tujuan kami berikutnya.
Sekitar satu kilo kami berjalan kaki sambil nentengin tas duffel isi ransum, ada suara mobil dari belakang. Kami melambai-lambaikan tangan sambil mengacungkan jempol tangan, mobil double cabin berwarna biru itu tua melaju kencang sebelum kemudian melambat dan menepi. Yeay! Ada orang baik mau mengangkut kami di tengah hujan.
Mobilnya bersih, saya sampe harus meminta maaf karena boots saya basah. Seorang laki-laki muda yang menyetir dengan rambut pirang dikuncir membalas singkat, “It’s okay.” Saya sempet nanya tujuan dia ke mana, karena kalo ke arah utara seperti tujuan kami, kami mau minta bareng sampai tujuan kami terpisahkan. Eh ternyata dia mau berangkat kerja, lokasinya di selatan Fredvang. See you then, thank you brother.
Tiga kilo yang kami rencanakan berjalan dan bakal makan waktu sampai 40 menit, karena dapat tumpangan, jadinya jam 7 kurang kami udah duduk-duduk di bus stop. Untung bus stopnya punya bilik, karena banyak bus stop yang nggak ada apapun selain sign berwarna biru dan bergambar bus warna putih.
Waiting for the bus. Photo by talented @prabowoadityo
Tujuan kami selanjutnya adalah desa Henningsvær. Lokasi desa ini tidak berada di tepi jalan utama E10. Jadi kami harus berhenti di salah satu bus stop di E10, dan cari tumpangan lagi untuk sampai di Henningsvær. Masalahnya adalah, kami nggak tau apa nama bus stop tempat kami turun nanti. Nanti kami bakal mantengin aplikasi maps.me, kalau lokasi persimpangan untuk menuju desa Henningsvær sudah dekat, kami langsung turun di bus stop terdekat.
Rencananya, kami akan naik bus 300 tujuan Narvik. Tapi ternyata, kami salah naik bus! Jam 07.30 ada dua bus yang datang hampir bersamaan. Bus pertama kami ditolak untuk naik, kata drivernya bus ini adalah school bus. Dan tujuannya memang cuma sampai Ramberg sih. Jadi begitu ada bus satu lagi datang, kami langsung naik. Padahal udah kami pastiin ke driver, kami mau ke Svolsvær, dan dia mengiyakan. Selama bus sampai di Svolvær, berarti aman. Svolvær adalah kota terpadat di Lofoten, dan berdekatan dengan Henningsvær, di Vagan Municipality, Nordland County.

Nih, tiket kami dari Fredvang kryss ke Svolvær, kami bayar 172 NOK per orang. Karena di tiket sudah tercetak ke Svolvær, kami makin yakin kalo bus ini memang akan berhenti di Svolvær. Bus meninggalkan Fredvan kryss terlambat sekitar 10 menit dari jadwal. Sekitar satu jam berkendara, bus menepi. Banyak penumpang turun, dan kami juga diminta turun. Saya tanya ke driver, kenapa kami diminta turun. Katanya, bus ini memang hanya sampai Leknes, dan kami harus nyambung bus lain untuk sampai ke Svolvær.
Saya tanya, berapa lama kami harus nunggu, si driver membalas paling lama 10 menit. Belum puas dengan jawabannya, saya tanya lagi, di mana saya harus menunggu bus, katanya cukup menunggu tepat dia menurunkan kami. Saya melihat sekitar, Leknes school. Banyak anak-anak seumuran 10 tahun ikut turun dari bus berlarian dengan teman-temannya, mengenakan jaket tebal. Biarpun hujan sudah berhenti, tapi angin masih bertiup dengan sisa-sisa udara lembab sehabis hujan, jaket langsung saya tutup.
Selain anak-anak sekolah ini, ada tiga orang asing lain selain saya dan Adityo yang diturunkan sama si sopir bus. Kami nurut aja sama kata-kata si sopir, tunggu aja di sini 10 menitan lagi ada bus lagi datang dengan tujuan sampai Svolvær. Tapi sampai hampir setengah jam kami nungguin, nggak ada datang bus, kami mulai  khawatir. Seorang wanita yang ikut diturunkan bareng kami akhirnya memutuskan buat nanya ke swalayan Rema 1000 nggak jauh dari tempat kami diturunkan. Saya masih ingat dia berlarian kecil, angin yang lumayan kenceng membuat pakainnya yang serba biru tua berkibar-kibar.
Pas dia balilk, dia bilang mending kita nunggu di bus stop Leknes, masih sekitar satu kilo lagi. Saya dan Adityo setuju buat bareng tiga orang asing ini untuk berpindah ke Leknes bus stop. Sempet ngobrol sebentar dan wanita ini sempet muji kami yang bepergian di Norway hampir tiga minggu tapi bisa packing sangat ringkas. Yah, gua senyumin aja sih sambil nahan tangan kanan yang mulai linu-linu nentengin tas duffel.
Bus stop Leknes, ada di dekat gas station dan berjejer pertokoan yang semuanya terlihat sepi. Di bus stop ada jadwal bus yang ditempet di dinding. Kami saling ngecek bus kami masing-masing yang bisa kami naikin selanjutnya. Sepertinya bus yang kami naikin tadi adalah bus 18-742, padahal kami harusnya naik bus 300. Di website tromskortet, saya cek lagi dan memang seharusnya ada bus 300: tujuan akhir Narvik. Mungkin maksud si driver tadi kami bisa nyambung ke Svolvær dengan bus 300. Di jadwal ini bus 300 sampai di Leknes jam 08.15, tapi saat udah jam 9 lebih, jadi saya yakin kami udah ketinggalan bus 300. Dan bus paling cepat yang bisa saya naiki adalah bus 300, masih jam 13.30. Hahaha, masih empat jam lagi.

This slideshow requires JavaScript.

Kami, lima orang terdampar di Leknes, akhirnya memutuskan untuk duduk mengelilingi meja taman di dekat bus stop, and talk to each other to kill the time.
Sarah. Satu-satunya wanita dan yang paling ramah diantara kami. Sarah yang pertama kali ngajak ngobrol semenjak kami diturunkan di Leknes school. Dia berasal dari Italy, meskipun sejak usia 19 tahun sudah meninggalkan kampung halamannya. Sekarang dia tinggal di Guatemala, dan terus traveling bahkan nggak pernah pulang sejak dia meninggalkan rumahnya dulu. Dia sudah berkeliling ke puluhan negara, tapi belum pernah ke Indonesia. Hal kedua yang dia tanyakan setelah menanyakan nama adalah, “Did you see the Northern Lights yesterday evening?” | “Yes, Sarah. I can’t describe my feeling by words.”
Vishesh. Teman traveling Sarah, dari namanya juga sudah ketahuan kalau dia orang India. Rambutnya panjang hampir sepinggang, berewoknya lebat, dan dia masih mengenakan baju khas orang India yang ditutupi dengan jaket. Vishesh adalah musisi, dia memainkan alat-alat musik tradisional. Dan langsung banyak bercerita tentang gamelan saat tahu kami dari Indonesia. Temannya pernah berbulan-bulan belajar gamelan di tanah Sunda (saya lupa tepatnya). Berdua dengan Sarah mereka akan menuju Tromsø. Vishesh dan group musiknya bakal manggung di Tromsø, tapi memilih untuk berkeliling Lofoten dulu sebelum acara.
What’s your name?” | “Flo… Err.. Just Flo.” Flo. Lelaki tinggi asal Jerman dengan rambut pirang dikucir dan brewok tebal, adalah guru TK. Dari perawakannya yang sangar, kaget juga waktu dia cerita kalo dia ini guru TK. Dan selalu menyempatkan buat traveling – khususnya trekking dan camping. Dia berencana untuk mendaki gunung (yang saya kurang familiar nama gunungnya). Dia mengeluhkan waktu berjam-jam yang terbuang karena salah naik bus. Saya masih inget responnya, ketika saya cerita kalo kebanyakan orang Indonesia selalu makan nasi, baik pagi-siang-atau malam. “And you have breakfast with rice too? I would love to! I like rice.” Katanya sambil tersenyum.
Vishesh sempet membuka bekal, dia bawa roti tawar dan special recipe yang baru kali pertama saya makan: dengan Kaviar original yang dilapisi dengan irisan keju tipis. Enaaak! Kaviarnya bukan yang berwarna hitam ya. Warna oranye, merknya Mills, dan bungkusnya seperti pasta gigi besar. Rasanya amis, ditambah keju yang gurih, sangat membantu perut yang emang udah keroncongan.
Ini dia nih Mills Kaviar, rasanya ada banyak, tapi kata Vishesh paling enak yang original. Saya akhirnya nyempetin beli pas ketemu supermarket di Tromsø.
Banyak yang kami obrolkan, nggak terasa kami orang-orang asing yang nggak sengaja sama-sama salah naik bus, sama-sama terdampar di Leknes, dan sama-sama menunggu bus 300 yang baru datang jam 13.30, bisa saling bercerita dan ngobrol banyak. Kami saling bercerita tentang kampung halaman, film bollywood, tempat-tempat yang pernah kami kunjungin, tempat-tempat yang ingin kami kunjungin, bahkan saat saya bercerita kalau saya pingin banget ke Ireland, Vishesh menimpali, “Why Ireland? You’ve been in Norway and Norway is sooo beautiful. You don’t want to go to Ireland if you’re already in Norway.” Sebelum akhirnya dia ketawa ngakak karena melihat mimik muka saya yang cuma bengong. “No, I’m just kidding. Ireland is so beautiful, you have to be there someday.
Akbar, you’re not cold?” Sarah bertanya sambil menunjuk jaket saya. Jaket saya sudah cukup tebal, tapi emang cuma ada sehelai kaos sih di balik jaket saya. “No, I’m fine. Still bearable.”
Still bearable…” Sarah mengulang kata-kata saya sambil menghela nafas. Sebelum berbicara pelan dengan Vishesh.
Ah, you’re right.” Vishesh berujar dengan Sarah.
Akbar, I have this sweater. My friend gave me, this is a warm sweater, and I want you to have it.” Vishesh mengembil sebuah sweater berwarna broken white yang dari tadi memang sudah diletakkan di atas kopernya.
No, Vishesh. I can’t have it. I’m not cold. I’m fine.” Saya mencoba menolak karena merasa tak enak hati.
It’s okay Akbar. His friend works in a tourism office in Reine. So as you can see, there’s a small picture of Lofoten house here.” Sarah ikut menimpali sambil menujuk rajutan berbentuk rumah merah di sebelah dada.
No, Sarah. I can’t. Don’t worry about me.” Sampe detik ini saya masih mencoba menolak, karena emang saya ngerasa nggak enak menerima barang sebagus itu. Bahkan sweater itu pemberian dari teman Vishesh.
Vishesh already brings his sweater, even our bags are very full. We can’t bring another sweater. The sweater is for you.
Please Akbar, consider this as a gift for you.Vishesh ikut menimpali.
Saya yang dari tadi udah mencoba menolak, akhirnya nyerah karena Sarah juga udah terus menyodorkan sweater itu ke arah saya. Akhirnya tanpa malu-malu lagi saya terima juga sweaternya. Halus, hangat, bagus. Di bawah rajutan berbentuk rumah berwarna merah bahkan ada tulisan, “Å i Lofoten.”

Tentu saja foto ini nggak diambil langsung, malu lah foto-foto begini di depan orang-orang ini. Terima kasih Vishesh dan Sarah. I will take care of this sweater.

We’re a group of strangers, strayed in Leknes, cold due to Norway’s autumn wind, but still could warm the situation up by getting to know each other.
Empat jam lebih kami menunggu, dan bus 300 tujuan Narvik datang. Karena tiket saya dan Adityo sudah beli dengan biaya sampai di Svolvær, jadi kami nggak perlu bayar lagi. Cukup nunjukin receipt tiket waktu kami naik dari Fredvang kryss tadi pagi. Untung aja nggak ilang.
Waktu di Leknes tadi, saya coba runutin, di bus stop mana saya harus turun. Dari website tromskortet, bus stop di persimpangan jalan menuju Henningsvær adalah Rørvik bussmøteplass (bussmøteplass: bus meeting place). Satu demi satu kami pun turun, Flo yang pertama. Setelah satu jam setelahnya, kami pun turun di Rørvik. Saat bus berjalan, saya melihat Sarah yang duduk di samping jendela tersenyum, saya membalas senyumnya dan melambaikan tangan. Terasa berat berpisah dengan orang-orang baik meski baru dikenal beberapa jam.
Sampai di Rørvik dan kami masih harus menunggu bus 18-743 dengan rute Svolvær ke Henninsvær. Bus paling cepat jam 15.35, masih sekitar satu jam lagi. Kami melipir di dalam bilik halte bus karena angin bertiup kencang, berharap jangan hujan dulu, emang sejak hujan tadi pagi langit terus-terusan mendung.
Beberapa kali kami coba buat hitchhike saat mobil melintas, tapi nggak ada satupun yang mau berhenti. Sementara jarak dari Rørvik ke Henningsvær sampai 8.7 kilo. Kalo jarak segini sih nggak mungkin juga kalo mau jalan kaki. Sampai akhirnya bus 18-743 datang dari arah Svolvær. Saat kami naik bus, si driver mau lihat tiket kami sebelumnya. Kayaknya mau ngebandingin rute yang kami ambil dengan biaya yang kami bayar, dilihat sepintas dan dia kasih kode kalo kami nggak perlu bayar lagi. Ihir!
Host Airbnb kami di Henninsvær, Tom, kasih instruksi buat berhenti di dekat swalayan Joker. Saya coba pastiin ke driver bus kalo bus ini ngelewatin Joker yang saya maksud. Dia mengangguk dan bus langsung berangkat. Nggak sempe seperempat jam, bus berhenti di seberang Joker. Dan akhirnyaaaa, sampailah kami di Henninsvær, salah satu desa di ujung selatan Vågan Municipality, Nordland County. Kami mengira-ngira rumah Tom dari check in instruction di Airbnb, nggak terlalu jauh, sekitar 30 meter dari Joker.
Kami memencet beberapa kali bel sebuah rumah dari kayu berwarna putih, sebelum seorang lelaki lumayan gemuk dengan celana pendek membukakan pintu. “Hello, come on in.
Ada dua kamar yang disewakan, dengan shared bathroom. Kamar kami kecil, cuma muat satu kasur besar untuk berdua dan space hanya sekitar satu meter di samping kasur. Nggak ada dapur, nggak ada water heater. Beneran cuma kasur aja. Ada kulkas juga di dekat kamar mandi yang bisa dipake bebarengan. Saya sempet nanyain water heater, dia malah nunjukin kamar yang satunya. Luas, ada satu single bed selain satu double bed, ada juga dapur kecil yang bisa dipake buat masak.
You can have this room if you pay for extra price.” Hahahaha. Nggak ah, kamar yang kecil cukup. Batinku, pokoknya nggak ada lagi uang keluar untuk tempat nginep. Tight budget!
Setelah kami ditinggal, space kecil di samping kasur langsung penuh dengan barang-barang kami. Kami langsung ngeluarin roti tawar dan Nutella. Yes, makan siang terlambat kami. Karena nggak bisa buat sarapan saat di Fredvang, dan ternyata Airbnb di Henningsvær juga nggak memungkinkan untuk masak. Roti tawar dengan Kaviar + Keju dari Vishesh tadi siang udah lumayan ngganjel perut, but we need more.
Beres makan, kami tidur siang! Hahahaha, ini pertama kalinya dalam sejarah pertravelingan saya, tidur siang! Mungkin karena kelewat capek, merencanakan buat hiking, suasana mendung, jadi yang awalnya cuma leyeh-leyeh berakhir dengan nyetel alarm jam 16.00.
Jam 4 sore setelah kami lumayan seger, kami bersiap untuk hiking. Tempat tujuan kami adalah Festvågtinden (tinden: summit). Dari Henningsvær masih harus naik bus sekali dan berhenti di bus stop Festvåg, ada lahan parkirnya, memudahkan kalo kamu bawa kendaraan sendiri.
Saat kami bersiap keluar rumah, kami berpapasan dengan Tom. Dia nanyain kami mau ke mana aja. Pas kami bilang mau hiking ke Festvågtinden, dia sangat tidak merekomendasikan. “It’s so cloudy up there, you won’t see anything from there.” Dia mengajak kami ke depan rumahnya, ternyata Gunung Festvåg kelihatan loh dari halaman rumahnya. Nampak besar walaupun setengah dari gunung tertutup mendung. Saya langsung ciut, kalo itu gunungnya, dengan cuaca kayak gitu udah bakal nggak kelihatan apa-apa.
And it will be raining too. I checked the weather forecast. See?” Dia mengeluarkan HPnya, dan nunjukkin ramalan cuaca. Sambil discroll-scroll terus. “It will rain until… tomorrow. It’s not a good time to go to Festvågtinden. When will you leave Henninsvær?” Saat kami jawab besok siang, dia berpikir sejenak sebelum membalas singkat. Nah, jawabannya ini yang bikin saya ngakak dalam hati, “Come again next year?
Hahahaha.
We will.I replied.
Karena tak jadi hiking, kami menuju soccerfield­-nya aja. Lapangan sepak bola di Henningsvær memang jadi alasan utama kami rela untuk menyimpang jauh dari jalur E10. Dan termasuk dari one of the most beautiful soccer fields, versi Mas Bardiq. Lokasinya ada di ujung pulau, menjorok dan berada di tepi laut. Cara paling pas tentu mengambil fotonya dengan drone. Padahal drone saya ketinggalan, nggak dibawa, ketinggalan di toko maksud gua. Ahehehehe.
Pas perjalanan ke soccer field ini saya ketemu turis berkulit gelap yang pegang remote drone, pasti habis diterbangin sih. Jadi saya cegat aja tuh, ajak ngobrol, pingin lihat hasil video dia. Manteeep, kamu kalo mau lihat juga googling aja, atau ke Instagram, search image “Henningsvær” dan sebagian besar yang muncul adalah foto soccer field diambil dari drone.
Yang ini hasil jepretan si Adit yang lensanya lebih wiiiide. By the way, kalo anginnya lagi kenceng, apa bolanya nggak terbang ya?
Itu tuh, keliatan dikit gunung Festvag.
Selain lapangan sepak bolanya, yang membuat kami semakin ingin ke Henninsvaer adalah banyak pulau kecil yang dihubungkan dengan jembatan, tentu saja jika dilihat dari Festvågtinden. Karena nggak jadi hiking, kami memutuskan untuk keliling desa saja, and praying for nice weather for tomorrow. Well, let’s see. 🙂
Cloudy Henningsvær.
Itu tuh Festvågtinden.
Itu lagi di belakang kelihatan sedikti Festvågtinden. Ya emang kalo maksa naik nggak nampak apa-apa sih.
Bonus photo, captured by: @prabowoadityo.
Click here to read all my stories in Norway.
Advertisements

4 thoughts on “Day 7 in Norway, “A Sweater Made of Wool”

  1. La elah, busnya kayak bus Jogja-Semarang gitu ya. Pas mau naik bilangnya ke Semarang, tulisan di depan juga Jogja-Semarang, tapi tau-tau di Magelang disuruh turun dan ganti bus haha.

    Maaasss, pengalaman terjebak dalam penantian bersama ketiga orang itu berkesan bangeeettt. Sweaternya bagus lho, dan pasti akan jadi sweater tak terlupakan haha. Menurutku harusnya itu jadi highlight kamu di judul, lebih menarik. Aku suka Sarah, cantik anggun. Flo walaupun gondrong tapi rapih.

    Liked by 1 person

    1. Hahahaha. Kami pun bingung Mas, mana kebetulan bahasa Inggris si driver juga kurang lancar. Jadi dia juga cuma kasih isyarat sambil ngangguk ngangguk.

      Iya Mas, betul sekali. Tiap traveling gini, ketemu orang-orang baru dikenal dan langsung nyambung selalu bikin haru pas pisah. Kayak ada invisible connection, mungkin karena sama-sama lagi menjelajah di negara orang.
      Nah iya Mas. Sebenernya cerita hari ketujuh emang lebih fokus ke bagian ketemu sama mereka, cuma judulnya saya ambil hadiah dari Vishesh dan Sarah aja, biar lebih tersirat.
      Thank you Mas Nugi.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.