Danau Waikuri yang Mencuri Hati

Tujuan kami setelah Pantai Mandorak adalah Danau Waikuri. Danau Waikuri lokasinya tidak jauh dari Pantai Mandorak. Jadi pastikan dua pantai ini jadi satu trip perjalanan untuk menghemat waktu.
Dari tempat kami memarkirkan mobil, kami harus berjalan menuruni beberapa anak tangga. Tenang, nggak terlalu jauh. Selama trip di Sumba ini baru Pantai Mbawana yang buat sampai di tempat tujuannya harus ngeluarin energi (lumayan) lebih. Selebihnya nggak terlalu susah.
Pastikan kalo ke Danau Waikuri bawa baju ganti ya, because you will be wet! Sebenernya Waikuri lebih cocok disebut Laguna. Karena Waikuri merupakan danau air asin yang dikelilingi oleh karang. Laguna ini hasil dari air laut yang terjebak, yang masuk dari sela-sela karang. Lokasinya juga bersebelahan dengan laut kok. Tapi karena terhalang karang, jadi air di Waikuri ini tenang, selaw. Biarpun begitu, tinggi rendahnya permukaan air tetap terpengaruh dari saat pasang atau surutnya air laut.
Begitu sampai di tepi Weekuri Lagoon, kami langsung copot-copot casing dan nyemplung ke air. Karena emang begitu lihat jernihnya air, pasti nggak bisa menahan diri buat nyemplung. Seperti biasa, anak-anak kecil ikut ngintilin kami nyemplung ke danau.
Diajarin apaan mereka nih Bang?
Agak miring ya? Males nge-rotate nih. Wkwkwkwk.
Pingin ikut nyemplung juga kan?
Pak Tuo in Weekuri
One of the exciting things in Weekuri Lagoon that you have to try: The Jump Spot! The Jump Spot di Waikuri dibangun dari kayu-kayu, yang tingginya kira-kira 3 setengah kalinya tinggi saya. Lah? Tinggimu berapa Mas Bardiq? Yah, sama kayak Mbak Anne Hathaway. Sana googling dulu tinggi Mbak Anne Hathaway. Wkwkwkwkwk. Tapi, seperti yang saya bilang tadi, tergantung pasang surutnya air laut ya.
Jadi berapa kali lu lompat Mas Bardiq? Hahahaha, I didn’t count.
Abaikan yang lagi manjat manjat di belakang
Lompat, kuy? Cabs.
Ketahuan yang paling berat yang nyampe air duluan.

 

Di sekitaran laguna, sudah dibangun jalan dari kayu untuk mengelilingi laguna. Jadi nggak perlu jalan di atas batu karang, kasihan nanti kaki kamu luka luka~
Ohiya, saya punya cerita tentang adek-adek di bawah ini. Pas kami lagi bersiap pulang habis ngelilingin laguna, ada tiga adek kecil lagi duduk duduk di sekitaran jump spot. Saya iseng deh nyuruh mereka lompat satu-satu mau saya poto.
Abang Adek kah?
Tiga adek-adek ini dari usia keknya berurutan. Kakak pertama, kakak kedua, dan adek terakhir. Kita sebut aja begitu. Kakak pertama dengan percaya diri langsung berdiri dan setelah saya kasih aba-aba diapun lompat.

Aksi Kakak Pertama
Begitu juga dengan kakak kedua, nggak lama setelah kakak pertama lompat dia bersiap di tepian papan lompat, menunggu aba-aba dari saya terus nyemplung dia.
Kakak kedua beraksi
Lalu begitu juga dengan adek terakhir. Dia berjalan ke tepian papan lompat, melihat kondisi di bawah.

Tapi pas saya kasih aba-aba buat lompat, dia malah meringis, meliat ke arah saya lama, terus malah menjauh dari tepian, eh dia habis itu pegangan kayu pinggiran kenceng.

Hoalah, terus diledekin dia sama temen-temennya di bawah.
Kami beristirahat sekaligus makan siang di sini. Karena di tempat ini nggak ada air tawar, jadi ketika wudhu dan cuci tangan juga pakai air asin.
Anak anak muda.
The team.
Pak Yohanes.
Weekuri stole my heart

Di sini lah kulit kami digosongkan, ternyata doa kami agar langit cerah dan matahari terik dikabulkan. Weekuri Lagoon jadi terlihat berwarna berlapis-lapis antara biru tua-biru muda-biru tosca-hijau tua, gituuu terus nggak habis-habis.
Sekitar jam 2 siang, akhirnya kami meninggalkan Danau Waikuri yang cantik ini. One of the beautiful places that make me feel content.
Click here to see all of my Sumba stories.
Advertisements