Day 11 in Norway, “Dancers Under the Northern Sky”

17 September 2018: Djupvik
Djupvik adalah satu-satunya desa di Norway yang kami singgahi sampai dua malam. Setengah mati kami ngotak-atik rute perjalanan biar bisa sampai ke Senja Islands, tapi karena rute bus yang nggak bejodoh, akhirnya kami sampai di Djupvik, lebih utara dari yang kami bayangkan. Karena saya bayangin trip di Norway ini hanya sampai di ujung utara Lofoten, berbelok ke Senja Islands sebelum sampai di Narvik dan menembus Sweden dengan kereta api. Dan menurut saya memang Tromsø kurang menarik, kecuali kalo kami sampai ke Svalbard.
Kami kehabisan bekal makan. Terpaksa pagi itu cuma sarapan roti+ pasta kaviar dan susu. Bekal makanan kaleng yang kami bawa dari Indonesia tinggal sekaleng rendang, gudeg kaleng juga ternyata udah abis. Ransum yang bikin tas duffel si Adityo penuh, habis di hari kesepuluh. Kadang kata-kata adalah doa. Keinget pas saya ngeluh nenteng tas itu di awal-awal trip, I said, “Berat amaat, bisa buat sepuluh hari lah ya ini.” And poof! Hari kesepuluh dan ludes lah semua bekal kami. Thank you for all these life savers!
Saya perkenalkan, para life savers kami di trip Norway saat masih lengkap. Dari kiri ke kanan Kopi Aceh Gayo dari Jalan Kruing Medan, Rendang Sapi Kaleng “Magek”, Wedang Jahe “Anget Sari”, Corned sapi “Pronas”, Coklat Sachet “Cadburry”, Gudeng Kaleng “Bu Tjitro”, Sambal Bajak “ABC”, dan tentu saja… Indomie.
Kemaren sempet ngechat host Airbnb kami di Djupvik, Tor Henning, di mana supermarket paling deket sama rumahnya, katanya harus jalan sekitar 700 meter ke selatan, ntar ada tuh mini market. Jadi karena kami mau hiking hari itu, setelah masak nasi dan manasin satu kaleng rendang terakhir untuk bekal nanti siang, kami sempetin buat belanja dulu di mini market.
Airbnb kami tepat di tepi Lyngenfjord, dengan view Lyngen Alps di kejauhan, berjejer gunung-gunung yang di atasnya tertutup salju.
“Dit, ntar kalo ternyata tempat hiking kita udah bersalju kek gitu gimana yak? Nggak mungkin gua cuma pake coat tipis ya.”
“Apaan nama gunungnya?’
“Storhaugen.” Jawab saya ringkas. “Jangan-jangan itu tuh gunungnya.” Saya sambil nunjuk gunung tinggi di balik Airbnb kami, sebagian puncaknya tertutup awan, sebagian lagi puncaknya terlihat tertutup salju.
Kami ngikik aja biarpun dalem hati sama-sama resah, jangan-jangan iya.

Ketemulah mini market di tepi fjord. Saat kami masuk, seorang wanita sekitar umur 50an, berambut pendek menyapa kami. Kami lumayan lama juga mondar-mandir, karena hampir semua description makanannya nggak ada dalam Bahasa Inggris. Untuk urusan belanja begini, sosis adalah yang paling kami hindari, karena jarang yang nggak ada campuran daging babinya. Kami lama milih-milih di sekitar makanan kaleng. Ada beberapa yang udah mau kami pilih tapi masih ragu sama ingredientsnya. Pas Ibu-Ibu yang jaga warung lewat, kami cegat. Eits, nggak boleh lewaaat.. nggak boleh lewaat..
Hello, do you mind checking the ingredients for us? No English written here.” Dan dia cuma senyum aja sambil geleng-geleng. Ah, Ibu ini ternyata nggak bisa Bahasa Inggris.
Err. Pork? Is there pork here? We can’t eat pork.” Saya mencoba menjelaskan pelan, sambil menggeleng-geleng saat bilang ‘pork’.
“Ah.” Dia menjawab singkat. Lalu mengambil daging kaleng dari tangan saya. Dia bergumam pelan saat membaca ingredients di bagian bawah kaleng. “Hmm. Ya ya, pork.” Katanya sambil mengangguk angguk.
Aw, shit.
This?” Saya serahkan bakso kaleng yang di gambarnya berwarna putih pucat.
Hmm… No, no pork” Dia berpikir pelan. “Reindeer.”
Ah, reindeer meatball! Nice.
This?” Saya serahkan kaleng yang lainnya.
Dia bergumam lagi sambil membaca. “Fish! No pork.”
Alhamdulillah..
And.. this?” Kaleng terakhir saya sodorkan ke Ibu ini. Spaghetti kaleng. Dia mengambil dan membaca pelan.
Hmm. Ya, no pork. Hmm….” Lalu dia berpikir lama. Saya tahu dia sedang mengingat-ingat Bahasa Inggris hewan ini.
Err.. cow?” Saya coba menebak. Dia mengernyit. Lalu melanjutkan ber-hmmm- panjang.
Chicken?” Dia tetap ber-hmmm sambil mengangkat setengah kedua tangannya. Dan melakukan hal yang sangat nggak terduga.
Coo.. coo.” Katanya sambil kedua tangannya dilipat di samping badan, dan dikepak-kepak naik turun. Dalam hati pingin literally ngakak sambil rolling on the floor. Tapi terharu kebaikan Ibu ini mau sedemikian ngototnya menjelaskan.
“Ah, ya! Chicken!” Kata saya sama Adityo hampir bersamaan, mungkin sengaja agak kenceng untuk mengusir hasrat ingin menertawakan Ibu yang super baik ini. Kami langsung menuju kasir, dia mengikuti kami. Mungkin curiga kalo kami mau merampas uang di lacinya.
Di samping kasirnya ada sederet magnet. Harganya satu 39 NOK, magnet kulkas doang. Hampir 65 ribu. Saya beli satu karena ada satu yang bagus, dan rencana beli oleh-oleh masih nanti ketika sampai di Tromsø.
Dadah, Ibu-ibu penjaga mini market yang super ramah dan super baik, Tusen takk!!
Diplom is, salah satu merk es krim yang laris di Norway. Kalo kamu nanya “Masa iya es krim laris di tempat sedingin Norway utara?” Jawabannya, iyes! Saat milih-miih kartu pos di Circle K Reine, atau duduk kedinginan saat neduh hujan di Circle K Nordkjosbotn, banyak seliweran orang sana yang beli es krim!
Kami nyempetin balik lagi ke rumah Tor Henning, buat naruh belanjaan sebelum ngecek barang bawaan sekali lagi untuk hiking di Storhaugen. Kalo kamu juga berpikiran untuk hiking di Storhaugen, atau Dalberget, atau Hammersletta, bisa baca tulisan saya di sini yak. Sudah saya bahas habis-habisan.
Ada dua Trailhead untuk menuju Storhaugen. Trailhead utama ada di deket Lyngen Lodge. Satu lagi adalah Tor Henning Special Route alias track buatan Host Airbnb kami sendiri, yang lokasinya cuma di samping “red farmhouse behind my house”. Saya intip farmhouse yang dimaksud Tor Henning, ada jalan setapak tepat di sampingnya.

Keputusan kami: Tor Henning Special Route! Ini rada-rada nekat sih, pertimbangan utama sebenernya karena jarak Trailhead di deket Lyngen Lodge sampai satu kilo dari Airbnb kami. So yeah, let’s take Tor Henning’s.
Going on my “trail” is also possible, you then go up from the farmhouse and cross the small river. You then go straight up till the forest is getting thinner, on about 375 metres. Start crossing to the left, jump over the small river again and walk towards dalberget. You will then follow the trail towards Storhaugen.
Ini chat dari Tor yang saya baca berulang-ulang. Naik dari farmhouse lalu nyeberangin sungai kecil, naik lagi sekitar 375 meter, menepi ke kiri, lalu melompati sungai kecil lagi lalu jalan ke Dalberget. Lalu ikuti trail ke Storhaugen. Hmm. Seems simple. Buat seorang Tor Henning, I guess.
Jam 9 teng kami memulai pendakian.
Ada gerbang sebelum meninggalkan lahan rumah Tor Henning, lalu nyeberangin sungai dengan jembatan seadanya. Masih ada track yang mulai tertutup rerumputan, dan kami mencoba terus naik sambil mencari-cari sisa track di depan kami.
go straight up till the forest is getting thinner…
Saya coba ngikutin bener-bener instruksi dari Tor, jam tangan udah saya nyalain GPS dari tadi, 375 meter sampai hutan di sekitar mulai “thinner”? Saya agak bingung sebetulnya, mungkin maksud Tor “thicker” kali ya?
Sungai yang dimaksud Thor nggak small small amat. Sekitar tiga meter, sedangkan bayangan saya small river itu cuma satu meter. Karena Tor bilang, “jump over the small river”. Kalo small river bisa dilompatin, paling satu meter lah ya, dua meter masih masuk toleransi. Lah ini tiga meter, atau lebih. Nih, cok klen tengok sendiri.
Small river he said.

Karena belum yakin dengan “jump over the small river” yang dimaksud dengan Tor, kami pun memutuskan terus bergerak naik meniti sungai. Sampai akhirnya track semakin menanjak dan ketemulah “small waterfall”. Yah, kalo sudah sampai sini, udah nggak mungkin juga kami “jump over the small waterfall”, jadi kami mencari-cari batu atau dahan kayu yang bisa kita pake buat “jump over the small river”. Setelah nemu dahan kayu yang kami kira paling mending, saya persilakan Adityo dulu buat nyebrang duluan.
“Dit, gua fotoin ya, mana tau pas lu nyebrang, pas kepleset nyungsep ke air.”

Masih inget apa yang saya bilang tadi? Kadang kata-kata adalah doa. Pas giliran saya nyebrang, kaki kanan kepleset dan satu kaki kanan saya nyemplung ke sungai. Air dingin langsung menuhin kaki kanan. Brrrrr! Air es ini mah. Si Adityo sampe jongkok-jongkok karena ngakak. Paling nggak, si Adityo ini baik, nggak sambil ngefotoin. Atau mungkin karena lebih sibuk ngetawain dibanding ngeluarin HP.
That small waterfall.
Dengan kondisi kaki kanan yang dan boots yang sangat basah, kami melanjutkan perjalanan. Ada dua tempat yang jadi tujuan kami pagi itu: Dalberget dulu, baru Storhaugen. Langit masih mendung, hutan di sekitar kami terasa lembab, rerumputan basah. Kini nggak ada lagi track. Kami mencoba-coba melihat ke sekeliling, mana tau ada jalanan setapak yang terlewat. Hasilnya: nol. Kami di tengah belantara hutan, perlahan kami jalan agar tak kepleset, agar bebatuan yang kami pijak tidak longsor, agar rerumputan di sekitar kami bukan semak belukar yang saat salah pijak, ternyata lubang, jurang, atau bahkan rumah ular.

Satu-satunya yang membantu kami adalah maps.me. Memang saat saya pantengin maps.me, kami beneran “in the middle of nowhere”. Hanya ada garis putus-putus di atas kami, yang biasanya menandakan track. Kami berjalan ke arah garis putus-putuh itu, mungkin sekitar 1-2 kilometer. Tapi ya dengan kondisi hutan yang menanjak, 1-2 kilometer tak seperti biasanya. Kami cuma berharap, di depan kami bukan tebing atau jurang.
Tapi, dengan kondisi yang mirip kesasar, kami selalu mendapatkan momen yang bisa kami abadikan.

Setelah bersusah payah, dan akhirnya kami lancar sampai di garis titik-titik yang dimaksud map.me, ada jalan setapak dari batu yang semakin menanjak. Yeay! Nggak jadi dipatok ular.
There is no sign to Dalberget, but the treeline is in the same height.
Ini chat Tor tentang Dalberget. “…treeline is in the same height…” Agar nggak ngerti dengan maksud di Tor ini. Mungkin maksudnya pepohonan udah di bawah kami gitu kali ya? Karena semakin lama, memang pepohonan makin sedikit, di sekitar kami tinggal rerumputan dan bebatuan. Selama ada track, kami merasa aman. Nggak akan lah ya kesasar.
There is a pile of stones on dalberget,not sure what it is called in English 😉
Hmm. A pile of stones? Sepertinya maksud Tor, Cairn. Nggak lama kami berjalan, and we found it!
Kami lihat tumpukan batu besar di tengah ruang lapang, pepohonan terlihat coklat menyebar di bawah kami, terlihat jalan raya mengukir tepi fjord dan Lyngen Alps mematung di kejauhan.

Captured by @prabowoadityo
Ada logbook yang disimpan di semacam kotak pos. Dan tentu saja, saatnya mencoret-coret.

This slideshow requires JavaScript.

Beristirahat sejenak, dan saatnya melanjutkan perjalanan. Ada persimpangan jalan yang kami temui, satu menanjak dengan sign ke Storhaugen berwarna hitam, satu lagi Dalberget berwarna biru. Untuk urusan hiking di Norway, warna biru biasanya punya hiking level Medium, kalau hitam berarti hiking level Hard. Dan tiba-tiba saya makin yakin kalau gunung yang dengan salju di puncaknya, yang sebagian tertutup awan, yang tadi pagi kami jadiin bahan becandaan, yang kami ketawa cekikian… adalah benar Storhaugen yang akan kami daki. Yhaa, dijalanin aja.
To Storhaugen.
Dari semua tempat hiking kami di Norway, menurut saya saat mendaki Storhaugen adalah yang levelnya paling “Hard”. Paling tinggi, paling dingin, dan paling berbahaya. Beberapa ratus meter setelah kami meninggalkan Dalberget, track yang kami temuin tadi semakiin hilang, lalu tersisa bebatuan berukuran sedang yang saat kalo kita salah injak, langsung meluncur.
Photo taken by my talented friend, @prabowoadityo
Selain itu, suasana di sekitar semakin gelap, awan masih menutupi puncak Storhaugen, jarak pandang semakin pendek. Sempet ketemu sekelompok unggas entah jenis apa yang nggak bisa terbang, diikutin yah semakin lari entah ke mana.
Can you spot them?
Tantangan kami tidak hanya itu, karena udah nggak ada lagi track yang kami ikutin, penanda track kami hanya stick berwarna merah dan small cairn yang lokasinya agak susah ditebak, satu ke kanan, lalu kemudian ke kiri, terus nanti tiba-tiba di kanan lagi.
The red stick as marking.
Dan bebatuan yang jadi pijakan kami, semakin naik, semakin banyak yang tertutup salju. Apakah terlihat menarik? Atau menantang? Hmm. Bisa keduanya, karena salju-salju itu saat kami pijak sangat licin. Dan ini menjadi summit yang lama.
Kami mulai menggigil meskipun winter coat saya sudah saya pakai sejak tadi. Kami menembus awan, sekeliling kami hanya putih. Tadi saya membayangkan akan ditemenin pemandangan Lyngenfjord dan Lyngen Alps selama perjalanan. Tapi ternyata malah putih pekat. Untung nggak hujan atau badai sih, jadi kami tetap melanjutkan pendakian.

This slideshow requires JavaScript.

Sampai akhirnya mulai terlihat cairn besar. Ah, kami yakin itu puncak Storhaugen. Bersusah payah kami, dan akhirnya sampai di cairn itu. Menulis-nulis di logbook sebelum bersembunyi di tumpukan batu yang dibuat mengeliling. Kami bersembunyi dari dingin, dari angin yang bertiup pelan, tapi membawa udara super dingin. Kami membuka bekal, jam 13.45 kami makan siang sambil menggigil hebat. Tangan terasa beku, nasi sudah nggak keruan kerasnya, tapi karena emang udah laper banget, tetep aja kerasa enak.

Ini tempat kami berlindung pas makan siang dari angin yang super dingin.
Sebetulnya, dalam hati saya masih ingin berlama-lama di puncak Storhaugen, berdoa dalam hati awan segera menghilang, masih berharap ada kesempatan menikmati puncak Storhaugen tanpa tertutup awan. Tapi kami nggak tahan dinginya, kami terus menggigil karena cuma duduk-duduk aja. Kami harus bergerak untuk mengahangatkan badan. Akhirnya kami setuju untuk turun.
A lake behind the fog. Can’t imagine how beautiful Storhaugen when it’s clear.
Saat turun pun ternyata lebih menantang dari pada saat summit attack tadi, bebatuan yang tertutup salju kelewat licin saat dipijak, sementara turunan terasa tajam, dan entah kenapa si Adityo kelihatan bisa turun tanpa masalah.
Tak lama kami meninggalkan puncak Storhaugen, doa kami terkabul, awan semakin menghilang. Yang dari tadi sekeliling kami pekat, semakin menghilang, dan di depan kami mulai tersaji pemandangan yang menakjubkan. Saya berdiri di ketinggian dan merasa Storhaugen ada di bawah kaki saya, kelihatan juga hutan yang tadi pagi membuat kami resah takut kesasar, dan rumah-rumah kecil terlihat di sekeliling jalan yang berkelok di tepi fjord. Saya sampai beberapa kali terduduk. Karena saya tak ingin segera turun, tak ingin segera meninggalkan pemandangan di depan mata, tak ingin pepohonan segera menutupi perpaduan sajian indah ini.
Saat awan seperti tirai dalam sebuah panggung, perlahan mulai menyingkap pertunjukan sebenarnya.
What will you say when you find a nice spot to have a picture of you? Ofcourse, “Gantian bro.”

Dan perjalanan pulang kami, terasa sangat membekas. Kami seperti penari di atas panggung Storhaugen, di bawah langit cerah Norway, mengukir track yang berkelok, semak-semak dengan warna paduan coklat dan merah terang. Kami menari dengan suara angin sebagai pengiringnya, dan duet Lyngenfjord dan Lyngen Alps sebagai latar belakang. Kamu, saat ini saya persilakan duduk manis menjadi penonton.

Langit cerah menyambut kepulangan kami dari Storhaugen. Ada sedikit perasaan ingin kembali ke puncak Storhaugen, mencoba peruntungan menikmati puncak Storhaugen. Tapi ya sudah, sudah terlanjur sore, kakipun mulai terasa pegal. Sampai kemudian kami sampai di sebuah persimpangan lagi, dengan penunjuk arah dari kayu. Satu untuk menuju Storhaugen (1,192 m) dan Hammersletta (350 m). Masih jam 5 lebih, gelap masih lama. Dan sepertinya masih bisa mampir ke Hammersletta, tapi Adityo udah kelewat capek. Jadi kami berpisah jalan. Saya mau ke Hammersletta dulu, dan Adityo kembali ke Airbnb.
Tidak susah untuk sampai ke Hammersletta, apalagi baru mendaki Storhaugen yang curam dan licin, Hammersletta terasa seperti pendinginan.
Hammersletta
Hammersletta is the northernmost point I’ve ever experienced in my lfe. Looking forward to having trip to farther north though.
Ini adalah viewpoint di Hammersletta, melihat fjord dari teluk Spåkenesøra yang semakin menjauh menyatu dengan lautan, samar-samar masih terlihat gunung-gunung di ujung lautan. Ah, mungkin itu Hamnes, yang sempet juga saya lirik tapi perlu nyebrang ferry dari Rotsund.
Perjalanan pulang dari Hammersletta sebenernya saya kesasar. With the stupid reason: ngejar dua ekor domba yang nggak sengaja papasan.

Lumayan jauh ngejar dua ekor domba ini, baru nyerah pas mereka berbelok di sebuah tikungan dan terus lari ke dalam hutan. Okay, bye bye my fluffy friends.
Entah track pulang saya betul atau enggak, saya sampai di sebuah peternakan. Ah, sepertinya dua ekor domba tadi kabur dari sini.

Saya harus ngelewatin pagar kawat sebelum sampai di track yang benar, ternyata saya sampai di Lyngen Lodge. Rupanya ini Trailhead utama ke Storhaugen.

Perjalanan pulang saya menyusuri jalan satu kilo meniti Lyngenfjord dengan langit yang sangat cerah, langkah saya berjalan cepat, jantung mulai berdebar hebat, dengan langit secerah ini, saya nggak sabar menunggu malam. Tak sabar menyiapkan tripod, menyiapkan batre kamera cadangan, dan tak sabar menatap langit menunggu Northern Light menari di langit Norwegia.

Saya sampai Airbnb jam 6 sore, si Adityo lagi tidur di sofa depan TV. Kalau dibandingkan dengan hiking di Mount Munken hari kelima dulu, perasaan saya lebih capek Mount Munken, meskipun Storhaugen lebih tinggi. Selain Mount Munken lebih jauh, pasti karena fisik saya waktu itu yang masih belum terlalu menyesuaikan.
Boots yang basah langsung saya jemur, mumpung di luar masih cerah. Saya ngajak Adityo nyiapin makan malem, biar setelah itu kita langsung bisa prepare buat nungguin Northern Lights. Malam itu kami buka satu kaleng bakso ikan yang kami beli di mini market tadi pagi. Kami baru sadar kalo kami nggak punya pembuka kaleng. Makanan kaleng yang kami bawa dari Indonesia udah dilengkapin opener di tutup kalengnya, tinggal tarik, terus tuang ke wajan. Kali ini kami harus bongkar-bongkar laci dan cabinet dapur, nyari can opener. Walaupun nggak ketemu dan diakalin pake cara klasik, pakai pisau dan untungnya ada palu.
Kami makan malam dengan terburu-buru, karena langit sudah semakin gelap.
Jam 20.30 kami memakai pakaian terhangat yang kami punya. Saya hitung, setelah celana dalem, saya pakai long john atas dan bawah, T-shirt dan jeans, sweater dari Vishesh, dan winter coat. Jeans bukan pilihan yang tepat, karena sepanjang malam saya masih tetap menggigil. Saat saya coba mengatur tripod saya, si Adityo tiba-tiba teriak kenceng, “BAAAR! NOOOH! ITU ITU ITU!”
Saya ingat malam itu, saat saya mendongakkan kepala ke langit Norway, saya bisa melihat samar-samar sebuah cahaya berwarna hijau muncul dari gunung di belakang rumah Tor, dan memanjang terus sampai memudar dan hilang. Saya hanya melongo, kucek kucek mata, sebelum ikut memekik kegirangan. “YA ALLAH! IYA ITU IYAA!”
Saya atur tripod sampai tegak setengah badan, saya setting kamera saya: All manual settings, apperture paling kecil, focus infinity, ISO 100-200, dan Shutter Speed 10 detik. Saat saya arahkan ke langit, cahaya hijau yang tadi memanjang dari balik gunung kini semakin lebar, bahkan dari ujung Lyngen Alps, berkelok-kelok dia sambil bergerak-gerak perlahan. Dari sebelah kiri saya, muncul dengan sedikit warna ungu, menggores langit malam Djupvik. Saya memandang lama ke arah langit gelap dengan jutaan bintang, Northern Lights muncul dari segala penjuru, bergerak perlahan.
Kami memandang takjub sebelum tangan tak berhenti menekan shutter kamera. Sampai habis suara kami karena berteriak-teriak, tertawa senang. Kami meloncat-loncat, menari-nari, lupa kaki yang masih pegal sehabis mendaki Storhaugen, lupa udara dingin yang dibawa angin menusuk tulang.

Saat siang di bawah langit Norway, kami menari meniti jalan pulang dari Storhaugen, di bawah langit cerah Norway dengan latar belakang panggung Lyngenfjord dan Lyngen Alps yang saling berpadu, kini kami meloncat-loncat kegirangan, menari di bawah Aurora Borealis yang menyapu langit Norway penuh bintang. Aurora Borealis memenuhi langit kami, hingga saat kami mendongak ke atas, langit malam tak lagi terasa hitam, tapi bercampur warna hijau dan sesekali warna ungu tipis.
We were smiling , we were laughing, and jumping around like kids. We were like dancers under the Northern Sky.
Disuruh anteng 5 detik aja, badan menggigil dan tetep blur. Photographed by: @prabowoadityo
The Northern Lights above Tor Henning’s House. Photographed by: @prabowoadityo
Kami memutuskan kembali ke dalam saat semua baterai kami udah abis. Bahkan Adityo sempet beberapa kali maksa bolak balik ngecharge baterai cadangan. Saat kami masuk ke dalam, kami baru sadar kalo suhu udara sampai -2 derajat.
Malam itu saya tidur nggak berhenti menatap langit dari jendela kamar. Saya ingat cerita Adityo pagi hari pas kami nginap di rumah Roy Finstad di Å. Dia bilang,
“Tadi malem gue mimpi, dari jendela kamar gue bisa lihat Northern Lights, jelas banget ijo warnanya!”
Iya Dit, sekarang bukan lagi mimpi. Malem ini kita bisa lihat Northern Lights dari jendela kamar.
Click here to read all my stories in Norway.
Advertisements

6 thoughts on “Day 11 in Norway, “Dancers Under the Northern Sky”

  1. Terpujilah ibu-ibu penjaga minimarket. Untung kamu juga nggak menyerah, mas. Kebayang sih gimana lucunya dia saat memeragakan jadi ayam 😀

    MAASSS SALUT BANGET SAMA KEBERANIANMU! Aku itu kalo nanjak males banget sama medan licin, lebih suka ketemu medan berbatu terjal. Naiknya susah, turunnya lebih susah. Tapi mas, kalo memang nggak ada prepare buat medan seperti itu, lain kali jangan diulangi ya 😦

    Gue liat aurora borealis dari fotomu aja udah amazed, mas. Apalagi kalian berdua ya.

    Liked by 1 person

    1. Hahahaha. Itu beneran kami setengah mati nahan ketawa Mas. Tapi nggak sopan amat, udah dibantuin malah ngetawain. 😀

      Sebenernya kalo sepatu masih mumpuni buat nanjak medan salju Mas, jaket kayaknya yang kurang. Di puncak pas makan siang beneran menggigil. Hehehehe.

      Semoga suatu saat berkesempatan juga buat witnessing Northern Lights ya Mas. Aamiin.

      Liked by 1 person

  2. bang bang… dibagi beberapa paert dong… wuaahhh ini luar biasa… rasanya aku juga bakalan ikut rolling in the floor sama ibu penjaga super market. i wish i were there, enjoy the aurora. it is beautiful!!!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.