Pantai Mandorak yang Bergejolak!

Jam 07.00 udah ngumpul di restoran ya, kita sarapan terus berangkat.”
Begitu kurang lebih kalimat si Helmi, tour leader kami, malam sebelumnya. Jadi karena emang udah terbiasa dengan instruksi dan on time, jam 6.45 kami udah mulai ngunci kamar masing-masing dan bergerak menuju restoran. Sampai di restoran ternyata baru geng kami aja yang ready. Jadi tanpa menunggu geng sebelah dan Helmi, kami langsung aja sarapan.
Photographed by: @prabowoadityo
Lelah menanti geng sebelah
Dan hey, satu per satu geng sebelah baru muncul jam 08.00an. Mereka ada enam orang tapi baru tiga orang cowok yang keliatan, tiga sisanya ntah masih make-upan apa masih luluran. Jam 08.20 si Helmi baru keliatan di meja makan. Kami udah bosen nungguin, mending ditinggal renang dulu tadi yak.
Jam 09.00 akhirnya kami memulai perjalanan hari kedua. Mobil bertiga yang rencana awal dibagi jadi 6:6:5 (dengan driver), akhirnya karena geng sebelah minta dijadikan satu mobil, jadilah tiga mobil ini punya formasi 8:5:4. Yowis ben, mah penak.
Pada dari kedua ini, tujuan pertama kami adalah Pantai Mandorak. Saya lupa berapa jauh perjalanan karena cuma duduk manis aja di kursi belakang, kalo nggak salah sekitar satu jam dari hotel kami di Tambolaka. Dan sampailah kita di Pantai Mandorak. Tempat untuk memarkirkan mobil juga nggak jauh dari pantai.
Pagi itu langit ceraaaah! Matahari yang seharian kemaren ngumpet, kali ini mentereng jelas. Banyak anak-anak kecil ikut berlarian saat kami datang ke Pantai Mandorak, sesekali malu-malu mendekat, tapi pose juga pas lensa kamera diarahin ke mereka.

Awas ada Om Om!
Foto bareng Rizky Hanggono
Yang spesial dari pantai ini adalah dua karang yang membentengi pantai, masing-masing menjorok menutup sebagian pantai, membuka sedikit celah di tengah seperti pintu masuk, dengan view laut sampai hilang habis diujung cakrawala. Kedua karang ini seperti memeluk Pantai Mandorak dengan warnanya yang biru jernih.
Hari itu air laut lagi ganas-ganasnya, mendobrak Mandorak, kami yang mau foto pun juga harus hati-hati, mana tau tiba-tiba ombak dari belakang menyapu kencang.
Pantai Mandorak, Sumba, Nusa Tenggara Timur
Pak Frengky.

Lalu, kami naik ke atas karang besar di sisi sebelah selatan pantai. Niat hati pingin ngambil foto dengan latar belakang laut dan tentu saja ombak yang menerjang-nerjang batu karang. Karena ombak sedang besar, angin juga sedang kencang, setiap ombak yang menerjang karang menyisakan hujan air laut karena setelah ombak berbenturan dengan karang, air laut terhempas ke udara, dan kami kegirangan melihatnya.
Pak Prabowo
Funny face. Wkwkwkwk.
Pantai Mandorak by: @prabowoadityo
Prayoga.
Yohanes Tampu
Di sela-sela batu karang ini, sering terasa angin yang berhembus. Karena saking kencangnya ombak yang menghantam karang, dan air laut menerjang sela-sela batu karang, angin ikut terbawa masuk ke sela-sela batu karang. Terkadang juga air lautnya sendiri ikut terhempas. Kayak adek ini nih, mainan daun yang ditaruh di sela-sela tangannya, begitu angin datang, dan whooosh! Daun beterbangan.
Sampe ketika saya sedang ngefotoin salah satu geng kami (yah, lupa siapa yang lagi saya foto), seinget saya Jopur ada di sisi lebih dekat dengan laut, lalu Adityo lebih di belakang saya. Tiba-tiba datang ombak tinggi, lima meter lebih, menerjang kami. Saya yang posisi saat itu sedang melihat ke arah laut, reflek balik badan dan ngumpetin kamera di dalem kaos. Langsung air laut menghujani punggung, saya pasang kuda-kuda kuat, takut kedorong atau malah keseret air laut. Karena kalo sampe jatuh, karena tangan kiri saya pegangin kamera, pasti badan jatuh langsung ke batu karang.
Mandorak Bergejolak!
Saat air sudah surut, saya langsung berlari menepi. Matiin kamera, lepas hood dan batre. Saya, Adityo, dan Jopur yang saat itu bawa kamera langsung meringis was was kalo kenapa-kenapa sama kamera kami. Baru hari-hari awal nih!
Setelah kami biarin lama, nunggu kering, kami angin-anginin, akhirnya satu-satu kami coba nyalain.
Adityo’s: Nyala! No problem.
Mine: Nyala juga! Worked well.
Jopur’s: Gelap! Nggak mau nyala! Jadi karena tragedi ini, kamera si Jopur nggak mau nyala. Sempet lama setelah balik ke hotel dari trip hari itu, direndem pake beras (kameranya bukan Jopurnya), juga nggak mau nyala. Harus masuk bengkel. Tapi kata Jopur, setelah dibawa ke bengkel, ternyata cuma batrenya aja yang bermasalah. Tapi kan sayang juga, jadi nganggur selama dibawa ke Sumba.
Kang poto juga minta dipoto.
Photoception. Photographed by Raja I think?
After the tragedy.
“Bar Bar, fotoin gw lagi moto rumah itu dong ya.” “Udah?” Bha!
Photographed by: Helmi.
Puas di Pantai Mandorak, kami bergegas ke tujuan berikutnya: Danau Waikuri!
Click here to see all of my Sumba stories.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s