Kashmir to Ladakh: Day 3, “Affable Ladakhis on the Moon Land”

23 September 2017 – Kargil, Lamayuru, Khaltse, Alchi
Saya belum pernah ke bulan. Tapi dari foto dan film yang saya lihat, jika disuruh membandingkan permukaan bulan dengan bumi, mungkin Himalaya yang paling bisa menggambarkan. Di sinilah saya, Moon Land on Earth.
Pagi pertama saya selama perjalanan di Ladakh, kebangun sekitar 20-30 menit sebelum alarm yang saya pasang bunyi. Setelah kebangun juga nggak ngantuk lagi. Kan nanggung, waktu istirahat saya yang berharga. Apa karena AMS ya? Dan sering banget terjadi.
Shabir bilang akan jemput kami jam 9 pagi. Jadi setelah sholat subuh, saya cuci muka dan gosok gigi, mengemasi barang-barang, dan bersiap untuk morning walk. Saat pulang dari Ashina Eco Resort kemarin, saya melihat ada spot cantik sekitar 1-2 kilo dari penginapan kami. Jadi pagi itu kami merencanakan untuk mengunjungi tempat itu. Sekalian cari sarapan.
Kargil menunjukkan kepada saya how water gives lives. Kargil terletak di tepi sungai Suru, di tengah gunung-gunung batu yang tandus. Pohon-pohon dengan daun-daun yang menguning petanda musim gugur menjulang tinggi di sekitar sungai, lalu rumah-rumah warga tersusun di sekitar sungai mirip rumah semut.
We started our morning walk around 7 a.m.  Jalanan masih sepi, kami melewati pasar yang sudah mulai banyak orang berdagang. Kami menyusuri sungai Suru dan mencari tempat untuk dapat menikmati kota Kargil di pagi hari.

This slideshow requires JavaScript.

Kami kembali ke penginapan sekitar jam 8.15, ada sebuah warung makan tak jauh sebelum kami sampai di penginapan. Kami sarapan di situ. Ada salah satu pengunjung yang ngajak kami ngobrol, walau dengan bahasa Inggris yang seadanya. Yang saya suka dari Kargil, tidak banyak turis. Sepanjang jalan hanya kami bedua yang bukan Kargili.
Kargil adalah kota peninggalan perang antara India dan Pakistan pada tahun 1999, Kargil War. Karena memang lokasi kota ini yang tidak jauh dari perbatasan antara India dan Pakistan, Yang mau baca baca tentang Kargil War bisa mampir ke India Times.
Kami sarapan dengan chapatti, omelette, meat samosa (seperti kue pastry yang diisi dengan mutton), dan tentu saja satu cangkir milk tea panas. Sarapan berdua dan hanya bayar Rs. 90, nggak sampai 20 ribu Rupiah, murah bener.

This slideshow requires JavaScript.

Beres sarapan kami balik ke penginapan, Tata Tiago Sunburst Orange sudah terparkir di halaman hotel. “Good morning, Shabir!”
Setelah check out, kami singgah dulu di museum Munshi Azuz Bhat, yang lokasinya agak menanjak. Actually, I’m not too into historical things, tapi karena si Ikhsanul pingin mampir, yeah, we still had time.
Bagi turis asing, untuk memasuki Munshi Azuz Bhat Museum dikenakan biaya Rs. 100. Munshi Azuz adalah pedagang yang melewati jalur sutra. Isi dari museum ini adalah segala macam peralatan dan perlengkapan yang dimiliki Munshi Azuz Bhat dan timnya dulu ketika melewati jalur sutra, termasuk bisa kita lihat uang yang digunakan kala itu. Pengelola sekaligus yang menjadi guide kami adalah keturunan Munshi Azuz Bhat sendiri.

This slideshow requires JavaScript.

Karena sudah jam 10, kami meninggalkan Museum dan melanjutkan perjalanan. Ternyata ketika kami melewati kota, macet banget. Nggak jelas jalan yang kami lalui ini satu atau dua arah. Sekitar setengah jam akhirnya kami baru berhasil meninggalkan Kargil. Agak sedih ninggalin Kargil, kota terbesar kedua di Ladakh setelah Leh, dan bagus banget. Baru beberapa menit kami berkendara, ternyata si Shabir belum sarapan, kami menepi di sebuah tempat makan, ada sebuah peternakan di seberang jalan nggak jauh dari tempat Shabir makan. Jadi, saya dan Ikhsanul memutuskan untuk mampir ke peternakan untuk ngambil beberapa foto.

This slideshow requires JavaScript.

Oiya, kalau mau foto penduduk lokal, jangan lupa minta izin dulu ya. Jangan asal jepret. Sebagian besar mereka bersedia aja kok di foto. Apalagi Ladakhi, kadang beberapa orang malah mereka yang minta difoto. Habis itu mereka yang datengin kita, minta liat hasil jepretan. Saya suka ketika melihat ekspresi mereka pas lihat hasil jepretan saya.
Tujuan akhir kami hari ini adalah Alchi, hanya 160 kilo dari Kargil. Jika ditempuh secara langsung, sekitar 4 jam. Dan menurut saya kami terlalu nyantai di Kargil, baru ninggalin kargil sekitar jam 11. Ini juga yang bikin saya agak cemberut, karena kami harus sampai Alchi sebelum gelap, dan 38 kilo terakhir kami ngebut tanpa berhenti.
Namika La dan Fotu La adalah dua mountain passes yang berada di ketinggian ekstrem. Namika La ada di ketinggian 3,700 meter di atas permukaan laut, dan Fotu La berada di ketinggian 4,108 meter di atas permukaan laut. Belum, belum cukup tinggi. Kami belum ketemu salju berserakan di pinggir jalan di dua mountain pass ini. Kami duduk duduk di kedua tempat ini. Saya suka pemandangannya, berada di ketinggian dengan jalanan berkelok di bawah kami yang mengukir di pegunungan batu. Di kejauhan alam menyajikan lukisan gunung bebatuan terjal sejauh mata memandang. layaknya permukaan bulan.

This slideshow requires JavaScript.

Jam 2 siang kami melanjutkan pejalanan kami, menuju Lamayuru. Perjalanan dari Kargil ke Alchi betul-betul memberikan kesan yang dalam untuk saya. Beberapa kali saya minta Shabir untuk menepi. Itu pun beberapa kali ada view bagus yang kelewat, dan hanya bisa moto seadanya dari dalem mobil. I couldn’t ask him to pull over every 15 minutes!
Kami sampai di Lamayuru jam 2.30 siang, dan kami kelaparan. Kami mampir di Lamayuru Restaurant, sebuah tempat makan dengan konsep outdoor yang menarik. Saya memesan Thukpa dan pizza satu pan untuk bertiga. Thukpa adalah makanan khas Tibetian, kayak mie kuah kuning gitu. Untuk minum saya pesan hot ginger tea with honey and lemon (soon to be my favorite drink while in Ladakh).

This slideshow requires JavaScript.

Perjalanan kami selanjutnya: Moonland. Moonland terletak sekitar 10 menit dari pusat keramaian Lamayuru. Sebelum sampai di Moonland, ada jalan berkelok yang menyajikan Moonland dari jauh. Saya udah sempet minta Shabir buat menepi sebentar, tapi Shabir bilang, “Be patient Akbar, we’ll arrive soon.” Padahal maksud saya mau ngefoto Moonland dari jauh, kelihatan hampir semua bagiannya gitu.
Moonland di Lamayuru (bukan Moon Land – the title of this post), adalah batu batuan yang tersusun luas di tengah-tengah pegunungan, berwarna coklat terang. Karena warna dan bentuk batuan yang berbeda secara mencolok dengan batu-batuan di sekitarnya, tempat ini disebut Moonland.

This slideshow requires JavaScript.

Kami meninggalkan Moonland jam 4 sore. Udah lumayan mepet buat ngejar sampai di Alchi sebelum gelap. Jadi kami tancap gas biar bisa mampir dulu di Khaltse buat beli apricot kering. Kata Shabir, apricot paling murah ada di Khaltse. Musim apricot di Ladakh sudah lewat kalau datang bulan September akhir. Tapi buah-buah yang sudah dipanen, masih bisa dibeli dalam bentuk olahan, termasuk apricot kering yang dibuat seperti kismis.
Walaupun kami ngebut buat ngejar ke Khaltse, tapi saya masih sempet sih minta berhenti di satu tempat. Asli, bagus banget tempatnya. Ada satu jalan ngelewatin di bawah tebing batu dengan sungai Yapola mengiri sepanjang jalan.

This slideshow requires JavaScript.

Kami sampai di Khaltse, dan berhenti di salah satu penjual apricot kering. Apricot kering bentuknya mirip kurma, rasanya manis sedikit kecut, dan bijinya lumayan besar. Kalau dihancurkan bijinya, ada almond di dalamnya. Tapi keras juga tuh bijinya. Saya beli satu plastik untuk oleh-oleh di kantor. Harus pake palu kali ya untuk buka bijinya, atau cobek. Kami mengorbankan satu pembolong kertas (apa ya namanya?), rusak kami buat pukul pukul biji apricot.

This slideshow requires JavaScript.

Di Khaltse kami menjumpai satu kerabat Shabir, namanya Dorje. Kami diantar Dorje untuk ke Alchi. Sekitar 45 menit lagi menuju Alchi. Dan cara nyetir si Dorje, ngebuuuut. Shabir juga senyum senyum karena skill nyetir si Dorje yang jauh lebih kenceng dari dia. Dan perjalanan ke Alchi cuma bisa saya abadikan dari kamera di dalam mobil karena nggak sempat lagi untuk berhenti-berhenti. Sudah mulai gelap.
Untuk sampai di Alchi, kami harus berbelok dari jalan utama menuju Leh. Sebelum sampai Saspol, ada belokan ke kanan, melewati jembatan melintasi Indus River. Dari situ masih harus berkendara sekitar 5 kilo lagi.
Kami sampai di Lharjey Home Stay. Di sinilah kami bermalam. Kami memesan penginapan ini dari Airbnb. Sudah sering ngobrol dengan yang mengelola dari Airbnb, Smanla. Ketika kami sampai, kami disambut satu keluarga Ladakhi yang sangat, sangat, sangat ramah. Very affable and heartwarming people, “Jullay!” Begitu mereka menyapa dengan tersenyum hangat saat pertama kami menyambangi halaman rumahnya.
Lharjey Home Stay adalah tempat tinggal satu keluarga yang menerima tamu untuk tinggal bersama mereka. Rumah ini bergaya khas Ladakh dengan kebun luas di samping rumah. Kebun ini tempat mereka menanam bahan-bahan untuk makanan mereka. Jadi, makanan mereka beneran organik dan seger banget.
Mereka adalah Sonam dan keluarganya. Rumah ini ditinggali sepasang kakek nenek, Sonam dan suaminya, lalu dua anak perempuan yang cantik-cantik banget, Mentok dan Rijzin. Sedangkan Smanla adalah saudara Sonam yang tinggal di Amerika. Jadi yang ngurus soal promosi Lharjey ini Smanla, mantau aja dia dari Amrik.
Begitu sampai di Lharjey Home Stay, Shabir balik ke Khaltse, nginap di tempat Dorje. Ini dia yang sebenernya jadi pembahasan kami bertiga (Iya bertiga, si Adityo masih diitung ikut), gimana dengan penginapan si Shabir, apa kita tanggung juga? Ternyata dia selalu punya tempat nginap, entah saudaranya, entah temennya.
Setelah kami beresin barang-barang kami di kamar yang disediain untuk kami, kami dijamu di ruang keluarga. Kami dijamu seperti keluarga sendiri. Sonam membuatkan kami secangkir milk tea panas, dan cemilan dari kacang-kacangan. Lalu baru muncul Mentok dan Rijzin. Mentok berusia 9 tahun, dan Rijzin 6 tahun. Setengah mati saya nahan ketawa waktu denger namanya “Mentok”. Astahgfirullah, maafkan Oom ya Adek adek cantik.
Malu-malu mereka duduk di ujung ruangan, kadang sambil senyum-senyum mondar-mandir sengaja cari perhatian. Ngingetin saya jaman kecil dulu. Suka pingin kenalan kalo ada tamu mampir ke rumah. Kami ajak kenalan, ajak ngobrol, awalnya mereka malu-malu. Tapi akhirnya mau duduk di sebelah meja kami.
Kami dimasakin air panas untuk mandi, walopun hanya satu ember air panas untuk berdua. Asli kurang banget air segitu buat bedua. Akhirnya kami bagi pakai ember satu lagi di kamar mandi. Saya yang kebagian mandi belakangan, air panasnya udah mulai dingin.
Selesai mandi air anget seadanya, kami diajak untuk makan malem bareng. Selagi nunggu makan malem disiapin, kami ngobrol-ngobrol sama Mentok dan Rijzin. Ternyata dua adek-adek ini bisa empat bahasa. Ladakhi, Urdu, Hindi, dan Bahasa Inggris. Luar biasah. Mereka sekolah di sekolah untuk anak berusia 6-15 tahun, mirip SD dan SMP lah ya kalo di Indonesia. Sekolah mereka ada di Alchi, masih dekat. Ada juga bus jemputan di dekat rumah. Nanti setelah lulus, baru mereka melanjutkan lagi. Nah, sekolah lanjutannya ini paling dekat ada di Leh.
Menu makan malemnya adalah Veg Momo. Udah tau Momo kan? Street food yang beli di Kargil di cerita hari kedua trip ini. Nah yang ini, momonya berisi sayuran. Karena keluarga Sonam adalah Buddhist, jadi mereka vegetarian. Selain Veg Momo, ada juga satu mangkok sup jagung panas. Yah, mirip kok dengan sup asparagus. Enak? Kenyang? Banget!
Sepertinya budaya di Kashmir dan Ladakh, jika ada tamu, maka tamu akan dipersilakan untuk makan terlebih dahulu. Selesai tamu makan, baru yang punya rumah makan. Kami sampai memaksa Mentok dan Rijzin biar makan malem bareng kami. Barulah Sonam mengantarkan makan malem buat Mentok dan Rijzin. Begitu juga waktu di rumah Aslam, kami memaksa anaknya, Sahil, untuk makan malem bareng kami.
Malam itu kami tidur kedinginan, meringkuk di balik selimut. Kami melongok ke luar jendela, asli gelap, nggak lihat apa-apa. Nggak ada cahaya apa-apa. Kami belum sempat melihat kecantikan Alchi malam itu.

This slideshow requires JavaScript.

2 thoughts on “Kashmir to Ladakh: Day 3, “Affable Ladakhis on the Moon Land”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s