Day 1 in Stockholm, “A Decent Touristy City Called Stockholm”

22 September 2018: Stockholm
Di balik selimut, mata saya mulai menyesuaikan dengan cahaya dari balik jendela. Kereta api masih melaju, pemandangan di luar jendela masih menyajikan entah danau atau laut. Saya mencari-cari iPhone saya di sela-sela kantung yang menempel di dinding kereta api. Membuka google maps, memastikan posisi kami pagi itu. Oh, itu teluk Bothnia, teluk yang memisahkan Sweden dan Finland. Kalau kamu pernah membaca teori tentang Pangaea si supercontinent di bumi, kamu pasti setuju kalau Sweden dan Finland dulunya tidak terpisah. Karena posisi sisi timur Sweden yang cekung terbuka sangat pas jika digabung dengan lengkungan sisi barat Finland. Dari tempat saya bermalas-malasan di balik selimut, Finland terasa begitu dekat hanya di seberang teluk.
“Oy. Oy.”
Merasa dipanggil-panggil, saya melongok ke bunk bed bagian bawah. Si Adityo yang mukanya udah seger nyengir, “Woy. Lama bener lu tidur. Kek orang mati. Naikin kasur lu noh, nggak bisa duduk gw. Pusing kelamaan tidur.”
Saya ngecek jam. Wah! Udah jam delapan! Saya inget-inget saya mulai tidur sekitar jam 8 malem setelah beres makan malem pake nasi (yang udah super keras) dengan lauk kalkun tepung hasil belanja di Tromsø. Hampir 12 jam saya tidur. Masih keinget tadi bangun subuh jalan sempoyongan ke toilet di ujung gerbong, sebelum lanjut tidur ronde kedua.
Review lengkap tentang kereta api SJ Train yang sukses membuat saya teler sepanjang perjalanan dari Narvik di Norway sampai Stockholm bisa kamu baca di sini ya Mas dan Sis.

Sebagai pembaca cerita Lisbeth Salander versi Stieg Larsson, Uppsala termasuk salah salah satu kota yang punya kesan melekat di imajinasi saya.
Kereta api mulai melambat, orang-orang mulai terlihat grusak-grusuk di sepanjang koridor kereta api. Sebagian menarik-narik koper besarnya, sebagian lagi sibuk membetulkan strap dari tas carrier besarnya. Sekali lagi saya ngecek di google maps. Oh iya, udah hampir sampai Stockholm. Kami ikut beberes, memastikan sekali lagi nggak ada barang yang tertinggal, memastikan kami siap menghadapi dua hari terakhir dari perjalanan panjang kami meniti Norwegia sampai ke utara dan memutar balik menuju Stockholm.

Selamat datang di Stockholm! Kota terbesar dan terpadat di Scandinavia. Dari banyak artikel yang saya baca, Stockholm adalah kota yang sangat menyenangkan untuk ber-city tour. Untuk menjawab rasa penasaran, mari yuk saya ajak jalan-jalan selama dua hari di Stockholm.
Setelah kereta api berhenti, saya turun dan berjalan cepat menyeberangi beberapa rel. Sebenernya bingung mau jalan ke arah mana. Kami hanya mengikuti arah dan tempo berjalan para penumpang lain. Kami mengikuti Exit Sign meskipun kemudian terjebak di lautan manusia, kebingungan membaca rute jadwal kereta yang terpampang di monitor. Kami akhirnya menepi dulu, mencoba browsing sana-sini. Untungnya provider internet yang saya pakai sejak pertama kali sampai di Bergen dulu masih lancar. Thank you Telia!

Tujuan pertama kali adalah menuju Airbnb kami di daerah Torsgatan. Sudah sering saya ngobrol dengan host kami di Stockholm, Svante. Dan dia menyarankan menggunakan Tunnelbana (Metro Subway). Kebanyakan Airbnb baru mempersilakan tamunya untuk mulai check in sekitar jam 2 siang. Selama kami di Norway, sudah sering kami menitipkan ransel kami dulu, karena terkadang kamar belum siap atau bahkan kamar kami masih dipakai tamu sebelumnya. Tapi pagi itu, Svante mempersilakan kami datang kapanpun. Sepertinya karena tak ada yang menyewa kamarnya hari itu.
Kami akhirnya menanyakan arah menuju Metro Station ke salah seorang security yang kami temui. Barulah kami sampai di hall besar dengan atap melengkung yang berjejer jendela di atasnya dan dipenuhi pertokoan di sisi-sisinya. Tak jauh, ada information center. Yes, the first help you need when you get lost.
Di information center saya membeli Travelcards. Kartu akses metro, bus, bahkan ferry di Stockholm yang memang diperuntukkan untuk para turis dengan piilihan durasi waktu antara 24 jam, 72 jam, dan 7 hari. Informasi tentang Travelcards ini bisa kamu baca di tulisan saya di sini yes. Saya sendiri sebenernya berharap ada Travelcards yang 48 hari aja, karena kami memang hanya akan menghabiskan waktu dua hari di Stockholm. Untuk Travelcards selama 72 jam kami membeli seharga 250 SEK setiap kartunya (sekarang 260 SEK).

Kami berjalan menuju T-Centralen, sentralnya jalur metro di Stockholm yang dindingnya didominasi warna biru dan putih tulang dengan mural berbentuk tanaman menjalar. Dari T-Centralen kita menuju metro station paling dekat dengan Airbnb kami, St. Eriksplan.
Begitu keluar dari stasiun metro, udara dingin mulai menyapa dari balik resleting yang sedari tadi memang masih saya biarkan terbuka. Sudah menjelang akhir autumn, cuaca sudah mulai membuat bergidik setiap kali angin membasuh permukaan kulit. Tapiiii, pagi itu Stockholm sangat cerah. Enak banget ternyata setelah belasan hari jarang ketemu sinar matahari, lalu disambut dengan cuaca yang begitu menyenangkan.
Susah menahan hati untuk nggak sejenak berhenti dulu buat foto sana sini. Setelah dua minggu lebih kami ditemani gunung-gunung tinggi yang di kakinya ditemani lembah dan fjord, kini sekeliling kami berubah drastis menjadi gedung-gedung tinggi kuno didominasi warna coklat dan kuning pucat yang di kakinya berupa jalanan aspal lebar mulus dan di pinggirnya berupa jalanan batu rapih untuk pejalan kaki.

This slideshow requires JavaScript.

Airbnb kami ada di sebuah apartemen yang jalanannya tertutup daun-daun musim gugur. Tempat Svante ada di lantai 4, di ujung lorong. Kami diminta langsung masuk aja, dengan door lock berupa empat kode angka yang udah dikirim saat kami ngobrol di aplilaksi Airbnb. Baru selesai kami memasukkan empat kode di door lock, lalu terdengar pintu ter-unlocked, pintu ditarik terbuka dari dalam. Seorang lelaki muda kurus dengan brewok lebat membukakan pintu. Dia tersenyum menyambut kami.
“Hai.” Saya membalas sapaannya sambil menjabat tangan.
Wow, nice shoes.” Komentarnya pertama kali saat kami berjongkok-jongkok bergelut melepas shoe laces. “You guys hiked in the mountains?”
Yeah, like a lot.” Jawab saya pendek sambil tertawa.
Dia mempersilakan kami masuk dan langsung mengantar kami ke kamar kami. Nggak terlalu luas, hanya dua twin bed yang hampir berselisih, dengan space yang lumayan lebar. Wallpaper ruangan berwarna krem muda dan satu sisi memilih warna kuning cerah bermotif burung, dengan sepasang jendela yang masih tertutup. sayangnya nggak disediakan kitchen. Hanya water heater dan sepaket teh gula di dalam ruangan.
Kami ngobrol banyak dengan Svante. Mumpung ketemu langsung kan. Karena banyak juga host Airbnb kami yang cuma sebatas bisa ngobrol banyak dari aplikasi, tapi tak sempat kami berjabat tangan. Tentu saja tentang local food dan akses ke bandara karena pesawat kami Senin pagi akan terbang dari Stockholm Arlanda Airport jam 06.50 pagi.
Oke, setelah semua beres. Svante meninggalkan kami. Dan kami bersiap untuk menjelajah Stockholm!

Tujuan pertama kami adalah untuk ber-metro station hopping! Alias mengunjungi beberapa metro station. Apa sih yang spesial? Metro station di Stockholm sangat tidak biasa, karena banyak didesign dengan sangat unik dan artsy. Mungkin karena saat winter orang-orang Stockholm lebih memilih di dalam ruangan ketimbang berhadapan dengan gelap dan dingin. Jadi, mereka lebih berkreasi di bawah tanah. Just my humble opinion.
Menjelang siang, kami memulai ber-metro station hopping. Sudah saya siapkan daftar metro station yang mau saya sambangin, walaupun ternyata banyaaak sekali yang nggak kesampaian. Tau-tau perut udah laper aja. Jadi kita sudahi dulu saja, nanti kalau pas kebetulan lewat di metro station yang lain, boleh kita mampir sebentar.
Kalo kamu mau juga ber-metro station hopping di Stockholm, saya udah buatin artikel khusus buat kamu. Biar lebih gampang buat mengexplorenya! Just one click away!
Setelah membandingkan banyak referensi local food dari Tripadvisor dan tentu juga saran dari Svante. Kami memutuskan untuk mencoba Köttbullar alias bakso! Köttbullar atau biasanya di Indonesia dipanggil Swedish Meatball. Bakso daging ditemani dengan mashed potato, dituang brown sauce dan ditemani dengan lingonberry sauce. Atau kadang orang-orang sering bilang Bakso IKEA. Biasanya lengkap dengan bendera Sweden kecil di atasnya. Saya belum pernah makan Bakso IKEA, jadi mari kita ngicip langsung di negara asalnya.
Nyobain di mana nih Mas Bardiq? Kami pilih Stockholm’s Gastabud. Sebuah tempat makan yang sebenernya kecil tapi rameeee. Untuk masuk aja kami harus berdesak-desakan, lumayan lama menunggu sampai akhirnya seorang perempuan mempersilakan kami duduk di meja yang baru aja ditinggal.
Stockholm’s Gastabud lokasinya berada di Gamla Stan. Salah satu tourist trap yang memang udah kami rencanakan buat kami explore hari kedua di Stockholm. Karena hari pertama agendanya mamam ajah. Jadi sengaja untuk hari ini kami cuma mampir aja di Stockholm’s Gastabud.

This slideshow requires JavaScript.

Menu dibagikan, membaca sederet local food mulai membuat perut makin keroncongan. Yang awalnya kami sepakat mau pesan dua porsi Köttbullar, akhirnya kami pesan dua makanan berbeda. Biar bisa ngicip yang lain juga. Seperti biasa, nanti makanan bakal kami bagi dua dan tuker piring. Inilah trik jitu saat ingin makan banyak tapi nggak mau terlalu kenyang. *bohong, sebenernya ingin makan banyak tapi nggak mau keluar uang banyak

Selain Köttbullar, kami memesan Fried Salmon. Wait, menunya sebenernya nggak sependek ini, tapi panjaaaang dengan bahasa Swedish. Ini barusan saya iseng googling dan nemu dua menu yang kami pesan. Udah siap kecetit lidahmu wak?
Smörstekt lax med Ört- och tryffelmajonnås, serveras med dillslungad potatis. (Butter fried salmon with a herb and truffle mayonnaise, served with dill potato)
dan tentu saja,
Hemgjorda köttbullar med potatismos, gråddsås, rårörda lingon och ättiksgurka. (Swedish meatballs with mashed potatoes and lingonberry). 
Dua menu ini tidak murah. Sepiring köttbullar harganya 159 SEK, sekitar 230 ribu. Yang Smörstekt lax lebih mahal lagi, 198 SEK, sekitar 280 ribu. Noh mamam ajah.
Sekitar 10 menit kami menunggu, dan dua piring pesanan kami langsung dihidangkan.
Hemgjorda köttbullar med potatismos, gråddsås, rårörda lingon och ättiksgurka.
Smörstekt lax med Ört- och tryffelmajonnås, serveras med dillslungad potatis. Captured by @prabowoadityo
Setelah kenyang, tanpa menunggu uang jajan makin terkuras, kami menuju ke salah satu cafe yang lagi dipenuhin anak mudanya Stockholm, Mr Cake, yang lokasinya dekat dengan KTH Royal Institute of Technology. Pantes aja sih rame anak muda, deket kampus.
Pun kebetulan jaraknya nggak terlalu jauh, tiga kilo saja. Ketika masih di daerah suburbnya Norway, tiga kilo mah dibabat jalan kaki aja. Sekarang karena udah ada metro, yaa mending naik metro aja lebih cepet.
Kami ke Mr Cake sekalian mau ketemuan sama dua temen saya dari SMP, udah nikah dan yang cowok lagi lanjut S2 di Stockholm, Andung dan Ernita. Sampai di Mr Cake udah kelihatan antrean sampai ke luar ruangan. Karena Andung dan Ernita belum sampe, jadi sambil nunggu saya antrein sekalian.
Disclaimer: Some photos might make your stomach growling. Swet treats!

This slideshow requires JavaScript.

Karena udah hampir sampai di ujung antrean, tapi Andung dan Ernita tak juga sampai, akhirnya saya WA aja tuh, mau pesen apa. Mana tau mereka udah hapal menunya. Saya juga jadi gantian sama si Adityo yang antre, karena saya beberapa kali ke luar ruangan, ngecek mana tau Andung dan Ernita udah keliatan. Nggak lama, saya melihat dua orang yang udah lama saya kenal berjalan menghampiri saya. Si Andung senyum-senyum dari jauh sambil gendong Baby Khaira dan si Ernita dorong-dorong stroller.

Nggak kerasa obrolan kami sudah menjelang sore, meskipun matahari sore Stockolm di akhir September masih terasa terang. Kami pun menyudahi obrolan di salah satu meja di seberang pintu keluar Mr Cake. Eits, tapi kami nggak langsung pisah. Karena Airbnb kami nggak nyediain dapur, mana mau kami langsung pulang. Mari kita manfaatkan acara reunian kecil ini. Kami tanpa malu-malu minta diajak ke apartment Andung dan Ernita, mau minjem dapur brooo. Masak untuk makan malem, dan sarapan besok paginya. Karena memang kami udah nyiapin beras sisa dan lauk untuk makan. Eheheheheh.
Saya lupa apartment Andung dan Ernita ada di daerah mana, tapi seinget saya kami turun di salah satu metro yang ada basement di mall, Kista Galleria bukan ya? Auk dah Bar, malah lu nanya gua.
Sampai di apartment Andung dan Ernita ternyata kita diajak makan bakso! Perut yang belum disiapkan buat makan malem ternyata ikut ngangguk-angguk, “Iya Mas Bardiq, kalo bakso aku sih yes.” Ini Ernita bakso bikin sendiri, bikin dalam jumlah banyak dan difreezer. Bisa dimakan sewaktu-waktu tinggal bikin kuah kaldu. “Sabar ya perut, aku juga yes,” kata Om Lambung.
Sudah mulai gelap, kami langsung pamit, karena udah kenyang dikasih makan. Wkwkwkwk.
Di perjalanan pulang ke Airbnb, kami memutuskan buat mampir dulu di sekitar Gamla Stan, karena pingin melihat suasana Gamla Stan di malem hari, kepikiran mana tau besok harus pulang cepet karena harus packing buat persiapan pulang. 😦

This slideshow requires JavaScript.

It was almost 10 p.m., so we decided to get back to our Airbnb by bus. Stockholm is a really decent place for you to have a city tour. Still one more day in Stockholm, and I can’t wait to tell you the rest. Stay tune in Bardiq Travel Magazine! See ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.