Day 1 in Norway, “The Old Wharf of Bergen”

7 September 2018: Bergen, Voss
Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, saya terlelap dengan sangat cepat. Sebelum kemudian begitu saja terbangun karena suara alarm. Setengah lima pagi, saya memeluk erat ujung selimut, Kasur Fredrik kelewat empuk, kelewat nyaman, rasanya belum rela untuk bangun.
Saya menyeret kaki ke kamar mandi, dan ber-tiptoeing saat melewati ruang tengah, takut membuat suara dan membangunkan host Airbnb kami. Selesai sholat subuh, saya menatap lama langit Bergen yang terlihat dari jendela kamar. Kamar kami berada di lantai paling atas, dan bisa saya bilang posisinya sudah di attic. Atap-atapnya miring dengan jendela yang langung menghadap ke langit Bergen.
Saya sedikit berjinjit untuk dapat menggapai daun jendela, mencari-cari gerendel kunci, dan saya dorong sedikit jendela yang menempel pada atap-atap. Angin dingin langsung masuk melalui sela-sela jendela. Suara angin bercampur dengan kicauan burung camar yang saling bersaut-sautan. Langit Bergen sudah mulai terlihat walau tertutup mendung, satu dua burung camar melintas di atas jendela kami. Genting atap rumah mengeliling dengan latar belakang sebuah gunung hijau lebat dengan banyak rumah yang berjejer.
Saya sengaja menarik selimut Adityo. Memaksanya untuk bangun. “Dit! Bagus Dit! Bagus!” Rasa kantuk saya sirna, jendela saya buka makin lebar meski angin langsung menyulap suhu ruangan kamar kami menjadi sangat dingin. Adityo ikut beranjak dan melongok dari sisi kosong jendela. Matanya masih setengah merem tapi mulutnya tersenyum lebar. Kami seperti dua orang bodoh, melongok kegirangan menatap langit Eropa.
Ini foto yang saya dapat dari sela-sela jendela kamar.
Setelah beres mandi, kami memilah-milah menu sarapan dari dalam tas duffel. Karena kelaperan, kami memilih Indomie Goreng Jumbo ditambah dengan satu kaleng Rendang. Satu kaleng rendang isinya banyak dan bisa untuk makan empat orang. Jadi sekaleng ini juga kami persiapkan untuk makan siang nanti.
Setelah kami membereskan kamar dan barang bawaan, jam 8 tepat kami meninggalkan Airbnb kami. Belum nampak si Fredrik, jadi kami meninggalkan pesan aja dari aplikasi Airbnb, kalo kami mau nitip tiga tas besar juga coat tebal saya. Yes, saya memutuskan untuk tidak membawa coat tebal. Tshirt aja dengan trekking pants, dan tentu saja rain coat yang saya masukan di tas Quechua.
Bergen adalah salah satu kota ter-rainy di Eropa, dan hari itu kami berniat untuk hiking. Karena takut bakal kegerahan, saya memilih untuk meninggalkan coat tebal saya. Memang pagi itu langit terlihat mendung, dan belum kelihatan tanda-tanda matahari bakal bersinar.
Tujuan pertama kami adalah ke store Telia di Bergen Storsenter, yang bisa kami jangkau dengan jalan kaki. Tapi karena masih jam 8 lebih dan store Telia masih belum buka, sambil berjalan menuju Storsenter, kami sempet mampir juga di sebuah kolam luas di tengah kota.
Kata google maps kolam besar ini namanya, Lille Lungegårdsvannet.

Di seberang Bergen Storesenter tepat berdiri megah stasiun kota Bergen. Karena mall belum dibuka, kami sempat mampir dulu di stasiun Bergen.
Difotoin Adityo.
Inside the Togstasjon.
Store Telia ada di lantai 2 Bergen Storesenter. Bergen Storesenter ini sebuah mall yang tidak begitu luas, dengan fast food Burger King ada di dekat pintu masuk. Seorang laki-laki muda menyapa kami, dan ngasih selembar brosur yang berisi pilihan paket internet dari Telia. Untuk lebih jelasnya, bisa mampir aja di tulisan saya tentang Telia ya.
Tujuan utama kami untuk memaksa Bergen menjadi kota pertama yang menyambut perjalanan kami di Norway adalah agar kami bisa memulai trip Norway in A Nutshell dengan rute Bergen-Oslo sekali jalan. Sebetulnya alasannya lebih dari itu dan sedikit pelik. Bisa kamu baca-baca di tulisan saya tentang curhatan saat menyusun itinerary ke Norway.
Kereta api kami akan berangkat dari Bergen menuju Voss pada pukul 17.58, jadi kami masih punya waktu seharian keliling Bergen. Kemana aja? Ayok disimak. Siapa tahu kamu juga cuma waktu satu hari untuk keliling Bergen.
Photographed by: @Prabowoadityo
Setelah memastikan ponsel kami sudah terkoneksi internet, kami langsung menuju tourist trap pertama di Bergen: Bryggen. Kalo kamu search image Bergen, saya yakin yang pertama muncul adalah foto Bryggen. Bryggen sudah menjadi icon utama kota Bergen, dan merupakan salah satu UNESCO’s World Heritage List. Bangunan pertama yang didirikan di Bergen bermula dari daerah Bryggen ini, dan merupakan salah satu dari pelabuhan tertua di Eropa.
Jarak dari Bergen Storsenter ke Bryggen tidak terlalu jauh, 1.3 kilo saja. Sepanjang jalan pun kami ditemani dengan rumah-rumah unik yang tak bisa kami nikmati setiap hari.

This slideshow requires JavaScript.

Yang sangat familiar dari Bryggen adalah rumah-rumah dari kayu yang saling berjejer dengan warna-warni rumah khas Scandinavia. Kalo kamu perhatikan, rumah-rumah yang saling berhimpit ini bentuknya udah miring ke sana ke sini. Jadi, untuk terus mempertahankannya, rumah-rumah ini sering direnovasi. Termasuk saat kami ke sana, ada beberapa rumah yang sedang direnovasi.

Houses at Bryggen
Tak jauh dari jejeran rumah-rumah di Bryggen, ada Fish Market, cukup berjalan memutar. Di Fish Market banyak sekali orang berjualan baik hasil laut yang masih mentah segar, atau kamu request untuk dimasakin. Kami cukup lihat-lihat aja karena masih terlalu pagi untuk makan berat.

This slideshow requires JavaScript.

Bohong! Untuk jajan di wilayah sini memang harus mengeluarkan uang yang nggak sedikit. Jadi kami bergeser ke Rema 1000 aja yang lokasinya nggak jauh dari Fish Market. Rema 1000 ini salah satu supermarket yang tersebar di seluruh Norway dan termasuk salah satu yang kami andalkan selain Coop.
Karena udah mempersiapkan rendang untuk makan siang nanti, di Rema 1000 kami beli roti tawar. Sampai momen ini, kami masih sombong untuk nggak melirik beli beras. Cukup lah makan dengan roti tawar, asalkan lauknya kita gonta-ganti biar nggak bosen. Selain roti tawar, karena udah terlanjur tergiur lihat ikan salmon di Fish Market tadi, kami beli sushi aja, yang dibungkus di kotak plastik warna hitam. Saya lupa harganya, tapi percayalah dari sekian banyak variant, kami beli yang harganya paling murah.
Kami cari tempat duduk dan menikmati sushi kami, dengan pemandangan Bryggen Port dan rumah-rumah unik yang dikerubutin turis dari kejauhan. Langit mendung yang tadi saya lihat menemani pagi kota Bergen entah ke mana perginya. Langit mulai terbuka, matahari bersinar terik. Bergen tersenyum menyambut kami!
The Old Wharf of Bergen.
A little friend.
Hari itu Jumat, dan kami berencana untuk mencari masjid untuk sholat Jumat. Dari aplikasi Muslim Pro, adzan dzuhur di Bergen adalah 13.25. Saat itu masih jam 12 siang. Ada satu masjid yang muncul saat saya coba cari di google maps. Lokasinya pun nggak terlalu jauh, hanya satu kilo. Sebetulnya kami masih menimang-nimang, sempet apa enggak untuk sholat Jumat di Bergen. Mengingat kereta api kami akan meninggalkan Bergen jam 6 sore, dan kami masih ingin hiking. Yah, nggak sholat Jumat pun nggak papa sih, tapi kami ingin mengunjungi masjidnya. Kalau memang waktunya pas, ya kita sempatkan waktu untuk sholat Jumat dulu.
Kami sampai di lokasi yang ditunjukan sebagai masjid di google maps. Tapi, nggak ada satu bangunan pun menyerupai masjid yang kami bayangkan. Di jalanan menanjak itu, ada tangga terbuat dari batu-batu kerikil yang mungkin akan menuntut kami ke masjid yang dimaksud. Tapi setelah ngos-ngosan sampai di atas, kami malah sampai di University of Bergen. Hlaah? Mana nih masjidnya. Karena kebingungan, kami coba nanya ke beberapa mahasiswa yang lagi ngobrol di depan pintu salah satu gedung. Dan mereka hanya bengong dan geleng-geleng ketika kami tanya soal “mosque”. Nyerah, kami coba turunin lagi tangga tadi.
Kami sampai di lokasi awal. Dengan sebuah rumah besar dengan cat warna putih yang tertutup rapat. Apa iya sih ini masjid? Kami coba mengelilingi rumah ini, beberapa jendelanya ditutup, pada sebagian jendela yang terbuka, kami coba ngintip. Tapi sepi, kami malah takut kalo menunjukkan gerak-gerik mencurigakan malah dikira maling. Semua pintunya pun tertutup rapat, jadi kami memilih untuk balik kanan aja. Beberapa langkah saat kami memutuskan untuk meninggalkan rumah itu, kami berpapasan dengan seorang gadis muda berjilbab, sepertinya sih mahasiswi ya. Saya memberanikan diri untuk menyapa. Dia ramah membalas sapaan saya.
Saat saya menanyakan tentang masjid, betul saja, rumah besar bercat putih tadi memang betul masjid. Dan dia mengantar kami ke pintu masuknya yang berada di belakang dan harus berjalan memutar.
Is there any Friday prayer here?”
Yeah, around 2 or 3 I think. I’m not really sure.” Dia tertawa ramah, dan menyarankan kami untuk bertanya ke jamaah laki-laki di dalam masjid.
Inside the mosque.
Selesai ambil air wudhu, saat saya merapikan boots di rak sepatu, dari arah pintu datang seorang laki-laki gondrong dengan coat tebalnya. Rambutnya lurus sebahu, diikat ke belakang agar tetap terlihat rapih. Dari mukanya, Indonesia banget dah. Jadi tanpa basa-basi ber-“Where are you from?” Saya langsung menyapa, “Mas orang Indonesia?”
Dia langsung ketawa mendengar pertanyaan saya. “Betul Mas!” Jawabnya singkat.
Setelah dia mengambil air wudhu, dia mempersilakan kami masuk. Namanya Alfi, mahasiswa asal Tangerang yang lagi kuliah entah S berapa di Bergen. Dulu dia kuliah di Perancis, tapi karena ketemu dengan cewek asli Bergen di sana, dia mengusahakan untuk pindah (atau lanjut ya?) di University of Bergen. Dan yes, mereka udah nikah. He’s not fighting only for his education, but also for his love. Salut ah. Dan Alfi secara resmi adalah orang Indonesia pertama yang kami temui dalam perjalanan ini.
Alfi, Akbar, Adit
Kata Mas Alfi, sholat Jumat di masjid ini lama, baru adzan sekitar jam 2.30 sore, ditambah khutbah, nanti mulai sholat baru sekitar jam 3 sore. Karena terlalu lama, dan takut terlalu buru-buru saat hiking, jam 2 kurang setelah sholat kami segera melanjutkan perjalanan kami.
Tujuan hiking kami di Bergen tentu saja Mount Fløyen. Selain Mount Fløyen, sebenernya ada juga Mount Ulriken yang sering dijadikan tempat hiking saat di Bergen. Mount Ulriken memiliki ketinggian 643 m asl, sedangkan Mount Fløyen hanya 320 m asl. Maka hiking ke Mount Ulriket akan memakan waktu lebih banyak dari pada Mount Fløyen, sementara waktu kami di Bergen sangat terbatas.
Untuk menuju Mount Fløyen, bisa menggunakan funicular, berbentuk kereta/tram yang digerakkan dengan cable. Nah, untuk menuju Mount Ulriken pun sebenernya bisa menggunakan cable car. Untuk biaya funicular sekali jalan ke Mount Fløyen adalah 50 NOK, kalau cable car ke Mount Ulriken adalah 115 NOK. Kalo kami sendiri sih lebih memilih untuk hiking ajah yang gratis. Oiya, informasi tentang funicular ke Mount Fløyen bisa kamu cek di website mereka di sini. Juga informasi tentang cable car ke Mount Ulriken bisa dicek di sini.
Bergen nih kotanya berbukit-bukit dan semakin naik ke Mount Fløyen, perjalanan kami tetap ditemani banyak rumah-rumah penduduk. Warga Bergen pasti sehat-sehat ya, tiap hari kalo mau ke kota harus naik turunin jalan setajam ini. Oiya, baru ketemu Alfi, pas perjalanan menuju Mount Fløyen, kami berpapasan dengan Mbak Mbak dengan anaknya yang ngobrol dengan Bahasa Indonesia. Tanpa malu pun saya langsung ber, “Halooo Mbak.”
“Orang Indonesia?” Jawabnya sambil ketawa sedikit kaget, nggak menyangka ditegur sama orang mirip preman, takut dipalak kali ya. Saya lupa nama Mbak ini, padahal udah kenalan.

This slideshow requires JavaScript.

Nah, yang berikut ini adalah puncak Mount Fløyen, kamu bisa melihat kota Bergen membentang luas di bawah kamu. Bergen ternyata luas, untungnya tempat-tempat yang mau kami datengin sangat berdekatan, jadi  kami nggak perlu menjelajah terlalu jauh. Hemat waktu, bro.

This slideshow requires JavaScript.

Yeees, Bergen is so shiny that day. Tak seperti yang dibilang orang-orang tentang Bergen si kota hujan. Mungkin bagi yang pernah ke Bergen dan melulu ketemu mendung atau hujan, sampai tidak mengenali foto foto ini. Kami menemukan sebuah meja dengan dua kursi panjang yang mengapit, tempat yang sangat pas untuk membuka bekal dan menyantap menu sandwich rendang seadanya.
Sudah jam 3 sore dan kami masih harus kembali ke tempat Fredrik untuk mengambil barang bawaan yang kami titipkan.
Saat kami sampai di tempat Fredrik, apartementnya kosong. Sepertinya tak ada tamu setelah kedatangan kami. Selimut bekas kami sedang dibentangkan di sisi kamar, spreinya sudah dilepas. Setelah mengisi air minum dari tap di dapurnya, kami pun segera mengunci pintu dan meninggalkan tempet Fredrik. Tak banyak obrolan dengan Fredrik di malam sebelumnya, tapi saya senang bisa bertemu host kami. Karena sebagian dari Airbnb tempat kami menginap, kami bahkan tak sempat berjabat tangan dengan pemiliknya.
Fredrik’s Place.
Saat berjalan menuju stasiun, kami teringat kalo kami belum punya persediaan makan malam. Dan sepertinya bakalan males kalo harus manas-manasin makan dulu. Jadi kami mampir di Burger King di Storsenter dulu sebelum menuju stasiun.
Kami menunggu sekitar 10 menit sebelum kereta NSB kami meninggalkan Bergen sekaligus memulai perjalanan Norway in A Nutshell yang kami atur sendiri (click here to read the tips about arranging Norway in A Nutshell). So let’s go to Voss!
Perjalanan kereta api dari Bergen menuju Voss memakan waktu sekitar sejam seperempat. Dan berhenti di beberapa kota kecil. Ini pemandangan yang kami temuai sepanjang perjalanan menuju Voss.

This slideshow requires JavaScript.

Sampailah kami di Voss. Sepintas, tak ramai orang lalu lalang di sini. Kami coba cek lokasi Airbnb kami di Voss, jaraknya 1.7 kilo dari stasiun dan menjauh dari arah city center. Bukan jarak untuk dikeluhkan kalau kami tak menentang tas duffel yang penuh dengan persediaan makan kami. Hahahaha. Jadi sering kali kami sampai berputar posisi, dan memutuskan untuk istirahat di tepi danau yang kami temui saat perjalanan menuju tempat host kami di Voss, Vegard.

This slideshow requires JavaScript.

Lumayan susah payah, akhirnya kami sampai di tempat Vegard. Sebuah rumah dua lantai yang mengahadap ke arah danau, lantai dasar bercat putih, dan lantai dua bercat hitam. Saat memasuki rumah terdapat sebuah ruangan berukuran 3×4 meter dengan rak sepatu dan beberapa perkakas di ujung ruangan. Kami dihadapkan dengan tiga buah pintu. Satu pintu tepat di depan kami, pintu di sebelah kanan, dan pintu di sebelah kiri. Lumayan lama kami menerka-nerka check in instruction dari Vegard. Sebelum akhirnya kami yakin kalau ruangan di sebelah kanan adalah kamar kami, ruangan di sebelah kiri adalah dapur dan kamar mandi yang bisa kami pakai, dan pintu di depan kami adalah bagian rumah pribadi Vegard yang berantakan banget. Maaf Om Vegard, nggak ada niat buka-buka rumah bagian pribadi kamu, langsung kami tutup kok begitu tahu itu bukan bagian rumah yang bisa kami pakai.
Kamar kami, hmmm… sepertinya dipersiapkan dengan sangat tergesa-gesa. Sprei untuk kasur, bantal dibiarkan terlipat tak rapih di atas kasur. Kami membiarkan begitu aja, karena kami segera bergegas mempersiapkan barang-barang yang mau dibawa karena kami mau berkeliling di sekitar jembatan lebar yang kami temui saat perjalanan ke tempat Vegard, sebelum gelap.
Makan malem yang kami beli di Burger King sebelum meninggalkan Bergen kami bawa sekalian, biar kami bisa makan malem sambil jalan-jalan.

This slideshow requires JavaScript.

Di dekat rumah Vegard, kami menemukan lahan lebar yang dipagari dengan kabel berwarna orange. Ada belasan domba yang sedang asik mengunyah rumput. Kami pun nggak sabar untuk mengambil foto. Tapi domba itu hewan yang malu, setiap saya coba mendekat, mereka malah kabur. Saya harus bener-bener sabar. Sampai berjongkok-jongkok dan pelan-pelan mengarahkan lensa kamera di sela-sela pagar. Mungkin saking senengnya saya lihat domba-domba ini, nggak kerasa jari-jari kanan saya yang lagi megang kamera menyenggol kabel orange.
Teretek.. teretek.. teretek..
Dibarengi suara tersebut, saya tersengat listrik yang langsung merambat sampai ubun-ubun. “WHAA!” Saya berteriak lumayan kenceng sampai posisi awal saya yang setengah berlutut langsung berdiri tegak sampai melompat. Adityo? Ngakak nggak berhenti. Kepala saya pusing, lutut saya saat kesetrum nempel ke tanah sampai nyut-nyutan. Saya bengong sedikit melotot, mencoba mengira-ngira apa yang barusan terjadi. Si Adit sampai jongkok-jongkok nggak berhenti ngetawain saya.
Kurang lebih begini posisi saya. Ini percobaan kedua, nggak mau ngintip dari viewfinder, takut kejadian bodoh terulang.
Demi foto ini.
Ada suasana sendu pada sore itu, yang gelap karena awan yang saat siang hari saya tanyai, “Kemana nih awan di Bergen tadi pagi? Kok ngilang semua?” Ternyata bergerak ke Voss, turut menutup hari kami.
Click here to read all my stories in Norway.
Advertisements

6 thoughts on “Day 1 in Norway, “The Old Wharf of Bergen”

  1. Bergen ini kota yang nyaman banget buat jalan-jalan santai gitu ya, mas. Ternyata lumayan juga ketemu 2 orang Indonesia di sana. Yang mbak-mbak itu turis atau tinggal di Bergen juga?

    Domba-dombanya sadar kali mas kalo mereka tuh cakep, makanya sok jual mahal gitu pas mau difoto.

    Liked by 1 person

    1. Karena lagi cerah Mas, jadi enak buat keliling. Katanya biasanya harus prepare payung atau rain coat soalnya Mas. 😅
      Mbaknya ikut suami kerja di Bergen dia Mas.

      Hahahaha. Padahal memang minta difoto ya Mas.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.