Secuil Curhat Menyusun Itinerary ke Norway

Oke, oke. Saya bohong kalo tulisan ini bakal cuma secuil. Karena saya mau cerita tentang gimana stressfulnya menyusun itinerary ke Norway dengan total perjalanan 22 hari. Tulisan ini sebetulnya penting nggak penting sih. Saya sebut nggak penting, kalo kamu pergi ke Norway pakai travel agent, yang tau beres tinggal duduk manis. Dan saya bilang penting kalo kamu juga berencana untuk menjelajah Norway tanpa pake travel agent/organizer manapun. Hanya mengandalkan googling, yang kebanyakan referensi yang saya dapet dari tulisan orang luar dan berbahasa Inggris. Dengan mengandalakan skill bahasa Inggris ala kadarnya dan kemampuan meneliti geografis Norway semampunya, jadilah itinerary perjalanan saya ke Norway September 2018!
Saya bukan tipikal go show traveler. Saya tipikal orang yang suka merencanakan. Bahkan dalam keseharianpun, dalam satu minggu ke depan, kegiatan selain ngantor udah saya rencanain. Jadi kalo ada kegiatan baru yang mendadak harus menggeser rencana saya yang lain, atau bahkan kerjaan kantor yang terpaksa bikin lembur, saya bisa uring uringan. Makanya, ketika saya dihadapkan dengan trip seperti Ladakh yang susah untuk ditebak (kalo jalan satu atau dua orang), beneran menguras kesabaran dan bikin stres. Nah, makanya setelah saya membeli tiket berangkat rute Singapore-Bergen, dan pulang dengan rute Stockholm-Singapore, saya harus bener bener merencanakan trip ini. Norway itu panjang banget Pak, total perjalanan 22 hari harus digimanain biar dapet perjalanan yang sesuai impian saya. Belum lagi ternyata maskapai tiba tiba tanpa nanya nanya dulu, langsung mereschedule jadwal keberangkatan dan kepulangan! Dua duanya direschedule, apa nggak pening palak awak!
Jadi kalau kamu memang berniat untuk backpackeran ke Norway, ayok saya curhatin derita saya menyusun itinerary ke sana. Biar kamu tak menderita menderita kali lah, karena lumayan terbantu dengan curhatan saya ini.
Biasanya, saya posting tulisan di blog setelah pulang ngetrip, bakal berurutan. Mulai yang menurut saya paling penting, kayak ngurus visa, cari tempat nginep, cari pesawat, baru akhirnya saya post satu satu tentang cerita setiap harinya yang kurang lebih jadi kayak diary-yang tak lagi pribadi. Ini postingan kedua saya tentang perjalanan saya ke Norway, agar kamu tahu seberapa pentingnya menyusun itinerary ke sana – dan juga seberapa peningnya. Oke bro?
Pening Fase 1: Rute Pesawat
Setelah nemu LCC yang bakal kami andalkan untuk trip ini: Norwegian Air Shuttle (Norwegian), kami mulai mantengin harga tiketnya. JIka kami beli tiket return Singapore-Oslo, maka kami akan mengeluarkan biasa sekitar 5,4 juta dengan harga sekali terbangnya sekitar 2.7 juta. Tapi banyak yang kami pertimbangkan. Dan akhirnya rela untuk keluar lebih banyak tapi dengan rute yang lebih masyuk.
Karena kami mau ikut ikutan tour mainstream-yang hampir semua turis jalanin-kalo punya perjalanan singkat ke Norway: Norway in A Nutshell (NiN). NiN memiliki rute dari Oslo ke Bergen, ataupun sebaliknya, ataupun pulang pergi. Nggak perlu saya bahas NiN lebih lanjut di postingan ini karena saya janji bakal saya buat postingan tersendiri (meskipun tentang NiN sudah banyak banget yang ngeshare, nggak papa, nambah nambahin jumlah postingan). Nah, dengan landing di Bergen, maka NiN bisa kita jalani dalam satu kali perjalanan agar kita bisa segera sampai Oslo. Bayangkan kalo kami harus landing di Oslo, lalu ber-NiN ke Bergen. Terus dari Bergen? Masa iya balik ke Oslo lagi? Selain rugi biaya, juga yang pasti rugi waktu! Karena tujuan utama kami ada di Norway bagian utara, dan rute kereta api ke utara akan kami mulai dari Oslo. Maka dari itu, akhirnya kami memutuskan untuk merubah rencana tempat landing kami dari yang awalnya di Oslo menjadi Bergen (transit di London Gatwick). Bye bye 600 ribu.
Untuk rute kepulangan, ini yang bikin kami memutar otak. Awalnya kami buat rute untuk pulang adalah Oslo-Singapore, tapi setelah banyak browsing di sana sini, saya menyimpulkan kalo nggak banyak yang bisa dilihat di Oslo. Satu hari aja bosen, lah ini rencana mau saya buat 2-5 hari? Kentang.
Terpaksa saya harus melihat rute mana lagi yang disediakan maskapai dambaan dengan rute ke Singapore. Saya melirik Stockholm. Dari hasil browsing, ternyata Stockholm kota yang sangat cocok untuk dijadikan tempat singgah ber-city tour. Kenapa saya bilang cocok? Ah, nanti aja saya share di cerita saya ya? Save it for the last.
Nah, karena sudah memutuskan untuk pulang dari Stockholm (transit di London Gatwick), saya harus menambah lagi biaya tiket yang seharusnya sekitar 2.7 juta sekali jalan, menjadi 2.9 sekali jalan. Tak apalah beda 200 ribu. Pening Fase Rute Pesawat: Solved.
Pening Fase 2: Cuti Kerja
Saya membeli tiket pesawat Singapore-Bergen untuk hari Jumat tanggal 7 September 2018 jam 23:40 dan sampai di Bergen hari Sabtu tanggal 8 September 2018 jam 11:35. Lalu pulangnya dengan rute Stockholm-Singapore untuk hari Senin tanggal 24 September 2018 jam 17:40 dan sampai di Singapore hari Selasa tanggal 25 September 2018 jam 19:15. Saya punya waktu perjalanan keseluruhan selama 19 hari. Untuk kebutuhan cuti? Saya harus cuti 12 hari kerja, ditambah dengan libur Tahun Baru Hijriyah. Hari Jumat pas berangkat tidak saya ikut ajukan cuti karena jadwal pesawat dari Singapore hari Jumat jam 23:40. Yah, bisa lah izin atasan setengah hari buat ngejar pesawat dari Semarang ke Singapore. Karena saya lihat pesawat Semarang ke Singapore tidak setiap hari. Dan kebetulan ada di hari Jum’at jam 16.00 dengan AirAsia. Cuti saya tinggal 11 hari kerja, ah 1 hari kerja pikir keri.
Kalo dicermati, ada perbedaan kah satu paragraf di atas dengan cerita saya di awal tulisan? Di awal tulisan saya bercerita kalo saya punya total waktu perjalanan selama 22 hari, lah kok di paragraf di atas saya cerita cuma punya 19 hari? Tentu saja, karena tiba tiba saya dapet email dari Norwegian kalo penerbangan saya dari Singapore ke Bergen direschedule, khususnya untuk penerbangan Singapore ke London yang awalnya hari Jumat tanggal 7 September 2018 jam 23:40, direschedule menjadi hari Kamis tanggal 6 September 2018 jam 10:57! Maju 2 hari. Lah cutiku piye? Yang awalnya butuh 12 hari kerja, jadi butuh 14 hari kerja. Ah yasudah, sudah terlanjur beli tiket, mau tak mau harus dijalani.
Karena perubahan tersebut, saya harus meminta perubahan tiket untuk pesawat dari London Gatwick ke Bergen yang hanya bisa dilakukan melalui Call Centernya. Akhirnya terpaksa saya telpon Call Center Norwegian yang berada di London, waktu tunggunya lama banget, total telpon sampai 50an menit dan menghabiskan pulsa 300 ribu!! – yang bodohnya saya, #akibatkurangbrowsing, ternyata Telkomsel punya paket nelpon ke luar negeri, telpon ke London per menit cuma 3.500 per 30 menit untuk satu hari. Nangis nggak? Dan dan dan… pesawat saya dari Stockholm ke Singapore, untuk rute London Gatwick ke Singapore juga mengalami perubahan jadwal, dari yang awalnya hari Senin tanggal 24 September 2018 jam 22:30, menjadi hari Senin tanggal yang sama jam 10:30 pagi. Lagi lagi saya harus menelpon Call Center Norwegian untuk mereschedule tiket kepulangan dari Stockholm yang untuk transit ke London Gatwick. Untuk kepulangan ini untungnya tidak sampai harus menambah cuti. Jadilah akhirnya saya punya waktu 22 hari (dengan perjalanan) dan membutuhkan cuti 14 hari kerja dari kantor. Yang untungnya lagi, ketika cuti bersama saat lebaran, saya dapat tugas untuk piket. Alhamdulillah, saat cuti bersama lebaran, saya piket selama tiga hari, dan saya punya libur pengganti tiga hari juga! Pas lah bekal cuti saya untuk menghadapi 22 hari perjalanan di Scandinavia. Pening Fase Cuti Kerja: Solved!
Pening Fase 3: Tujuan Eksplorasi
Setelah saya hitung hitung, saya punya 17 hari 18 malam untuk saya maksimalkan. Dengan catatan: tiba di Bergen, Norway dan kepulangan dari Stockholm, Sweden. Artinya, dari 17 hari 18 malam tersebut, saya potong 2-5 hari untuk explore Stockholm. Lalu saya estimasikan, waktu yang saya punya untuk menjelajah Norway tinggal 12-15 hari. Nah, ke mana aja? Saya bagi tujuan saya menjadi empat wilayah utama.
Wilayah 1: Norway in A Nutshell
Kami akan ber-NiN dari Bergen ke Oslo sebelum melanjutkan perjalanan dari Oslo ke utara. Berapa hari yang harus saya siapkan untuk NiN? Satu hari pun sebenernya bisa. Tapi lihat apa dong? Ngetrip dari Bergen, menjelajah Voss sampai cruising ke Flåm dan menaiki kereta api dengan view yang luar biasa indah, masa cuma satu hari? Setelah browsing sana sini, ternyata paling tidak 2-3 hari. Setelah melihat beberapa destinasi yang bisa dijadikan tempat nginep, kami ambil 3 hari 3 malam. Oke, berarti kalo kami tiba di Bergen pada Kamis malam, dan mulai bisa mengexplore Bergen pada hari Jumat, berarti kami harus tiba di Oslo hari Minggu untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke utara. Rencana menginap: Bergen, Voss, dan Oslo.
Sisa hari dikurangi Wilayah 1: 14 hari 15 malam
P.S.: Beberapa minggu setelah kami memesan penginapan di Bergen, Voss, dan Oslo, saat kami buat itinerary rinci, ternyata tiga tempat tersebut tidak memungkinkan. Akhirnya kami harus cancel penginepan di Oslo (kena admin feenya airbnb), dan pindah ke Flåm.
Wilayah 2: Lofoten
Sebetulnya Lofoten adalah tujuan utama kami mengunjungi Norway. Sebuah kepulauan dengan desa desa indah, yang letaknya sudah berada di Arctic Circle. Piye ceritane, kok bisa pilih Lofoten, saya ceritakan di tulisan saya yang lain aja yak. Intinya aku pingin ke Lofoten. Untuk sampai ke Lofoten ada banyak cara, dan bagaimana akses untuk sampai ke Lofoten juga saya janji bakal bahas di tulisan saya yang lain. Yes, a lot of posts to go about Norway. Tulisan ini cuma curhat tok pokoknya.
Berapa waktu yang perlu saya siapkan untuk Lofoten? At least 5 days! Okay then, let’s make it 5 days and 5 nights in Lofoten. Tapi tunggu dulu, ternyata Lofoten itu jauh banget dari Oslo. Dengan kereta api kami bahkan harus menghabiskan waktu 17 jam lebih untuk meniti Norway menggunakan kereta api dari Oslo ke kota pilihan kami untuk ke Lofoten: Bodø. Berarti harus kita pecah dong ya? Kami pilih salah satu kota di antara Oslo ke Bodø yang dilewati jalur kereta api: Trondheim. Oke, berarti kita ambil kereta api Oslo ke Trondheim, menginap satu malam di Trondheim, lalu besoknya lanjut dari Trondheim ke Bodø. Satu malam di Bodø, baru menyeberang ke Lofoten.
Setelah dihitung? Kami menghabiskan waktu dua hari dua malam untuk perjalanan dari Oslo ke Bodø. Berarti sisa 14 hari 15 malam kami berkurang menjadi 12 hari 13 malam dan belum sampai Lofoten. Dikurangi di Lofoten 5 hari 5 malam, tinggal 7 hari 8 malam. Lalu kami mulai mencari tiket kereta api dari Oslo ke Trondheim, lalu Trondheim ke Bodø untuk hari esoknya.
Harganya? Astaghfirullah! Tiket kereta api dari Oslo ke Trondheim, dengan perjalanan selama 9 jam 21 menit seharga 249 NOK atau sekitar 450 ribu. Ini harga minipris (promo) tak bisa direschedule atau direfund. Setelah itu harus melanjutkan perjalanan lagi kereta api dari Trondheim ke Bodø, perjalanan selama hampir 10 jam, dengan harga 820 ribuan. Kalau ditotal? Hampir 1.3 juta. Belum lagi ditambah penginapan di Trondheim, penginapan di Bodø, dan waktu kami habis di jalan. Paniang!
Saya coba cari tiket kereta api direct dari Oslo ke Bodø, harganya? Dengan total 17 jam 14 menit kami harus mengeluarkan biaya sekitar 1.25 juta. Lah, beda dikit. 😦
No, pasti ada jalan lain. Pasti ada yang lebih murah. Daaaan. Mari terbang saja! Norwegian sering ngirimin email notifikasi promo, jadi saya tungguin lah. Pas tiba tiba ada promo, saya cek harga tiket pesawat dari Oslo ke Bodø. Harga yang biasanya 1.5 juta Rupiah, saat promo saya dapat seharga 825 ribu. Alhamdulillah. Dengan memangkas sekitar 400 ribu, juga waktu tempuh 17 jam menjadi 2 jam saja naik pesawat. Berarti sisa hari dari 14 hari 15 malam, kami pakai untuk 1 hari 1 malam di Bodø. Sisa hari sebelum sampai Lofoten adalah 13 hari 14 malam.
Karena belum merinci di kota mana kami nginap di Lofoten, kami cuma ambil estimasi bakal 5 hari 5 malam di Lofoten.
Sisa hari dikurangi Wilayah 2: 8 hari 9 malam.
Lalu saya terhenti. Lanjut ke mana lagi ini? Apa harus naik ke utara lebih jauh lagi? Sejauh apa? Tromsø? Atau malah Alta? Saya pause dulu sejenak. Saya mau cari tahu dulu, gimana cara kami sampai di Stockholm jika udah sampai di Northern Norway.
Setelah beberapa hari browsing, di salah satu forum TripAdvisor, saya nemu jalur kereta api dari utara Norway ke Stockholm, tepatnya dari kota Narvik. Night Train dari Narvik ke Stockholm selama 17 jam. Sekarang saya perlu bikin estimasi, berapa lama waktu yang saya perlukan untuk keliling Stockholm?
Wilayah 4: Stockholm
“Hlaaah? Mas Bardiq, mana Wilayah 3nya? Kok langsung Wilayah 4?” Yes, saya lompati Wilayah 3 karena saya mau buat perhitungan untuk Stockholm terlebih dulu. Saya coba buat waktu terlama di Stockholm 5 hari. Sempet browsing browsing juga apa sih bagusnya lima hari di Stockholm. Hasil saya explore tentang Stockholm, kami sepakat untuk menghabiskan 2 hari 2 malam aja di Wilayah 4.
Sisa hari dikurangi Wilayah 4: 6 hari 7 malam.
Kami akan singgah di Narvik, tentu saya harus kasih estimasi satu malam untuk perjalanan Night Train dari Narvik ke Stockholm kan. Berarti sisa hari setelah dikurangi satu malam untuk perjalanan kereta api dari Narvik ke Stockhom: 6 hari 6 malam.
Hoayow! Mau ke mana lagi coba 6 hari 6 malam ini? Tujuan kami Wilayah 3: Senja Island.
6 hari 6 malem? Start kami mulai dari mana ya untuk mengakhiri Lofoten? Setelah saya buka map Lofoten, kota terbesar dan lumayan di ujung utaranya adalah Svolvær. Saya coba cari rute dari Svolvær ke Senja Island.
Pertama saya list dulu, mau ke mana aja nih di Senja Island. Karena ternyata luas banget. Dan ditarik rute pakai google maps membutuhkan waktu 5 jam lebih. Ah bisa ini mah.
Nah, di sini saya lupa akan satu hal krusial: Kami naik transportasi umum. Bukan kayak trip di New Zealand yang rent car dan bisa kemana aja, kapan saja. Di sini kepeningan saya mulai level up. Di sini baru kerasa betapa stressfulnya traveling ke daerah suburb Norway belasan hari dengan mengandalkan transportasi umum.
Saya mulai browsing browsing tentang kereta api dan bus yang bisa saya pakai. Tanpa melirik dulu rincian penginepan di Lofoten, yang penting cari jalan dulu buat sampai ke Senja Island dari Svolvær. Saya punya waktu 6 hari 6 malem sebelum harus sampai Narvik. Ke mana aja 6 hari 6 malem saya untuk explore Senja Island?
Saya cari kota besar di Senja Island yang kira kira bisa menghubungkan dengan Svolvær. Saya nemu salah satu kota yang ternyata juga terhubungan via ferry dengan Tromsø. Kota tersebut adalah Finnsnes. Berarti dapat dipastikan kami harus menginap satu malam dulu di Finssnes sebelum menuju Senja Island. Saya potong dari sisa hari perjalanan, 1 hari 1 malam di Finssnes.
Ada jalan yang terhubung dari Tromsø ke Narvik. Berarti bisa dong ya, sebelum mengakhiri Norway di Narvik, kami mampir dulu 1 hari 1 malam di Tromsø. Sebetulnya hanya memenuhi rasa penasaran akan terkenalnya kota terbesar di Norway utara ini: Tromsø. Oke, berarti dikurangi lagi 1 hari 1 malam di Tromsø. Dari 6 hari 6 malam sisa hari kami, dikurangi 1 hari 1 malam di Tromsø sebelum ke Narvik, sisa hari perjalanan kami tinggal 5 hari 5 malam. Daaan, dikurangi lagi 1 hari 1 malam di Finnsnes, sisa hari kami adalah 4 hari 4 malam.
Sampai detik ini level kepeningan saya makin naik. Karena begitu saya lihat jadwal bus dari Svolvær ke Finnsnes, susah banget! Beda hari, dan mau tak mau harus cari satu tempat istirahat sebelum melanjutkan ke Finnsnes.
Saya bentangkan lagi peta Svolvær sampai Finnsnes. Saya browse satu satu kota besar yang terlihat, saya cari rute bus SATU DEMI SATU dari Svolvær ke kota itu, lalu dari kota itu ke Finnsnes.
Sesekali saya campakkan HP karena mata saya sampai capek dan ngilu karena keseringan natap layar HP.
Saya runut lagi jalur dari Svolvær ke Finnsnes. Kota kota besar yang kelihatan, saya googling satu satu, saya zoom di google map satu satu: mana tau ada titik titik biru di laut tanda jalur ferry. Sempet seneng nemu jalur ferry dari ujung utara Lofoten di Andenes langsung menuju sisi barat Senja Island di Gryllefjord. Sampai coba merubah kota terakir hasil explore Lofoten dari Svolvær ke Andenes. Tapi ternyata rute ferry Andenes ke Gryllefjord hanya dibuka ketika summer. Pffft.
Singkatnya lah ya, setelah mantengin beberapa kota besar di jalur Svolvær ke Finnsnes: Narvik, Sistermoen, dan Bardufoss, selain bus umum, ada juga airport bus dari Bardufoss ke Finnsnes. Resmi sudah tempat kami beristirahat adalah Bardufoss, selama 1 hari 1 malam. Berarti sisa perjaalanan kami tinggal 3 hari 3 malam.
Oiya, sampai detik ini, kami sudah memutuskan kalau perjalanan sampai Svolvær dan menuju Bardufoss (sebelum persiapan menuju Senja Island), serta perjalanan dari Tromsø sampai ke Narvik dan ber-Night Train ke Stockholm sudah fix, tidak dapat diganggu gugat lagi. Jadi, kami tinggal mengotak atik 3 hari 3 malam untuk perjalanan kami ke Senja Island.
Cukupkah kami mengexplore 3 hari 3 malam di Senja Island yang besar sekali ini? Mau ke mana aja sih? Tujuan utama saya sebenernya adalah Segla dan Husøy.
Ada masalah lagi. Oke, kita udah nemu tujuan utama di Senja Island. Tapi gimana dengan tempat nginepnya? Ketika saya browsing tentang Wilayah 2: Lofoten, saya cek sekilas di airbnb, banyak sekali pilihan kami. Kami nggak begitu khawatir. Tapi, ketika kami coba browsing airbnb di Senja Island, tempat yang tersedia dengan harga kantong kami ada di ujung barat Senja Island di Gryllefjord dan dari daerah timur Senja Island di Lysnes, itupun masih ke timur lagi melewati main road. Padahal kami cuma naik bus umum, jadi kami jangan sampai ambil rute jauh jauh dari main road.
Segla dan Husøy yang awalnya jadi tujuan utama kami, malah nggak bisa kami lirik. Semua penginapan di Husøy penuh. Dan untuk Segla, airbnb yang available ada di kota Fjordgård yang harganya udah jauh melambung dari budget kami.
Terpaksa kami melirik daerah yang bisa dieksplor di sekitar Gryllefjord dan Lysnes yang harga airbnbnya lebih bisa kami tanggung. Kami coba satu malam di Lysnes dan dua malam di Gryllefjord, tapi sayangnya kami nggak menemukan rute bus yang bisa mengcover kedua tempat tersebut karena terlampau jauh. Dengan berat hati kami mencoret Lysnes dan mencoba 3 hari 3 malam kami untuk menjelajah sekitar Gryllefjord.
Beberapa tempat yang menarik, ada tempat hiking: Sandsvika. Yang sebenernya kurang wah, dan lagi kami punya waktu sampai tiga hari.
Berhari hari saya otak atik rute bus, saya cari cari tempat hiking sekitar Gryllefjord, saya paksain cari akses dari Gryllefjord biar tetep bisa ke Segla: rental mobil, sepeda. Aih, mahal kali bah.
Stres level? Naik teruuus.
Di saat stres stresnya, saya coba nyusun itin Lofoten. Nggak nyusun juga sih, cuma bikin list tempat tempat yang seru aja. Pas lagi browsing, saya nggak sengaja sampai di blognya seorang traveler dari Australia, Oliver Descoeudres di https://hikingtheworld.blog/. Saya nemu postingan dia tentang Storhaugen Hike. Tapi lokasinya jauh banget dan berlawanan arah dari Senja Island. Storhaugen ada di dekat daerah kecil bernama Djupvik, di kota Olderdalen, Troms. Kalo kamu mau cari ada di utara Narvik, dua pulau ke timur dari Tromsø.
Saya sambil lihat lihat juga list airbnb di sekitar Djupvik. Ada satu airbnb yang tepat berada di dekat Storhaugen, dengan minimum stay: 2 nights. Kalaulah saya geser Senja Island ke Djupvik (Olderdalen), apa bisa? Apa worth it? Saya masukin ke wishlist aja deh airbnb di Djupvik ini, karena saya masih fokus ke Senja Island.
Di saat kegundahan ini, saya coba buka buka Saved Photos di Instagram saya. Dan saya baru lihat postingan salah satu referensi saya di Norway: @eventyr, yang udah saya save dari pertengahan April 2018. Sebuah foto danau berwana sangat biru jernih dengan background gunung gunung bersalju. Sayangnya, Even Tryggstrand termasuk fotografer yang sukanya rahasia rahasiaan. Locationnya cuma: Lyngen Alps, captionnya cuma: Ice Blue Lagoon, Norway. Saya ublek ublek comment juga nggak ada yang terang terangan ngasih tau nama lokasinya. Dengan bermodalkan keyword ala ala di googling, ketemu juga tempat itu: Blåvatnet. Dan lokasinya? Cuma seberang pulau dengan Storhaugen. Lalu saya mulai browsing rute bus dari Bardufoss (sudah terlanjur book airbnbnya) ke Djupvik, lanjut ke kota terdekat di Blåvatnet: Svensby, lalu lanjut lagi ke Tromsø. Ketemu, dan saya runutin sekali lagi. ADA DAN MEMUNGKINKAN! Sabar Bar, jangan seneng dulu. Penginepan di Djupvik sudah ada, gimana dengan Svensby?
Begitu saya search di airbnb, muncul satu yang harganya sangat pas dengan keuangan kami. Lebih ke utara sih dari Svensby, tepatnya di desa Jægervatnet (malah makin deket dengan Blåvatnet). Yang pertama saya lakukan: googling bike rental di Svensby: ada! Biarpun harganya 250 NOK per sepeda setiap 24 jam.
Lalu saya cari lagi transportasi dari Svensby ke Tromsø, cuma satu bus aja, tanpa transit bahkan sudah include nyebrang pakai ferry yang sudah termasuk dari rute bus Svensby – Tromsø.
Plong sudah. Lega. Beban pikiran yang terasa selama berminggu minggu, keangkat sudah. I’m so relieved.
Dengan ini, resmi sudah saya mencoret Wilayah 4 dari Senja Island menjadi Lyngen Alps. Saya cocokkan, 3 hari 3 malam sisa hari perjalanan kami, cocok sudah untuk 2 hari 2 malam di Djupvik, Olderdalen dan 1 hari 1 malam di Jægervatnet. Karena batal ke Senja Island, 1 hari 1 malam yang sudah saya estimasikan untuk di Finnsness, saya tukar menjadi 1 hari 1 malam di Narvik saja.
Setelah kami bentangkan tempat tempat yang bakal kami explore di masing masing Wilayah. Sekarang waktunya mengurutkan rinci kota kota tersebut. Naik bus apa, jam berapa, berapa biayanya. Sebetulnya proses ini sudah kami lakukan sambil jalan. Jadi ketika bingung mau explore ke mana di Senja Island, sisa 3 hari 3 malam yang membingungkan, kami sudah punya detail fix kota kota mana kami akan menginap selain dari 3 hari 3 malam itu.
Nah, berikut website yang saya pakai untuk mencocokkan rute bus/ferry dari satu kota ke kota lain:
https://www.tromskortet.no/
https://177nordland.no/
Sebetulnya kedua website ini sama aja merepresentasikan rute bus, dan dua duanya user friendly. Tapi saya lebih suka pakai tromskortet, ada status saat bus berangkat. Bus yang sedang berjalan, ditandai dengan lingkaran warna kuning. Dan kalo ada perubahan jadwal, langsung diupdate secara realtime. Luar biasa.
Itinerary Kasar
Lalu kami mulai mencocokkan kota kota tempat kami bermalam. Sebetulnya, di mana kami menginap di tiap malam ini sangat bergantung dengan penginapan yang tersedia. 17 dari 18 malam kami pakai airbnb, karena memang harganya yang masuk dengan keuangan kami. Hanya satu penginapan di Flåm yang terpaksa reserve lewat booking.com karena nggak ada airbnb yang harganya affordable. Itupun sampai satu juta seratus tiap malemnya untuk berdua! Jadi begini list kota di mana 18 malam kami menginap:
  1. Bergen – Tempat kami bermalam untuk pertama kali tiba di Norway;
  2. Voss – Dari Bergen kami ambil kereta api ke Voss pada sore harinya;
  3. Flåm – Dari Voss ke Flåm kami naik bus 950 terlebih dulu ke Gudvangen. Dari Gudvangen naik cruise menuju Flåm. Sampai di Flåm masih sekitar jam 2 siang;
  4. Bodø – Setelah naik kereta api selama 7 jam dari Flåm ke Oslo, kami naik pesawat pada malam harinya ke Bodø, dan menginap satu malam di sana;
  5. Å – Dari Bodø kami naik ferry menuju Lofoten. Desa pertama yang kami singgahi adalah Moskenes. Dari Moskenes ke Å, kami berjalan kaki sejauh 5 KM. Atau hitchhiking jika ada yang berbaik hati mau berhenti. Lucunya, kami menginap di Å, karena namanya yang unik, desa dengan nama terpendek di dunia!
  6. Reine – Salah satu desa terindah di dunia, dan wajib banget buat diinepin, jadi memang harus kami pilih;
  7. Fredvang – Awalnya kami bingung, antara Leknes, Ramberg, atau Fredvang. Tapi setelah melihat Fredvang Bridge dan beberapa tempat hiking di sekitar Fredvang, kami memilih Fredvang! Ada bus langsung dari Reine ke Fredvang krs (Fredvang Cross) karena masih satu jalur di main road E10;
  8. Henningsær – Alasan utama menginap di Henningsær adalah lapangan bolanya. Salah satu lapangan bola terindah di dunia! Please google it. Yah, walaupun lokasi Henningsær yang agak jauh dari main road E10, jadi kami harus cari kendaraan lagi dari pemberhentian di main road E10 menuju Henningsær;
  9. Svolvær – Menjadi kota tujuan akhir kami di Lofoten, karena merupakan kota terbesar di Lofoten. Jadi tentu transportasi untuk kembali ke Norway Mainland lebih mudah. Ah iya, untuk malam nomor 5-9, lokasinya ada di Lofoten. Kami sengaja memilih kota ktoa yang berada (atau dekat) dengan main road E10, agar mempermudah transportasi kami. Karena sesungguhnya banyak sekali desa desa yang lebih remote lagi kalau dijelajah. Yah, paling enak kalau rent car sih;
  10. Bardufoss – Jadi pesinggahan dari Svolvær sebelum menuju Lyngen Alps, karena nggak memungkinkan untuk ditempuh dalam satu hari. Bukan masalah waktunya, tapi ngikutin jadwal kendaraan umumnya;
  11. Djupvik, Olderdalen – Ada dua daerah bernama Djupvik di Norway (atau lebih). Satu di Olderdalen, satu lagi di Narvik. Kami pilih di Olderdalen yang sudah sampai di Lyngen Alps;
  12. Djupvik, Olderdalen – Kami ambil dua  malam karena berencana hiking di Storhaugen yang lumayan tinggi, dan membutuhkan waktu yang lebih lama dari tempat hiking yang lain;
  13. Jægervatnet – Ada bus sekali jalan dari Djupvik ke Svensby dengan sekali naik ferry (sudah include dari bus fare). Lalu dari Svensby rencana kami akan sewa sepeda untuk melanjutkan perjalanan sampai Jægervatnet;
  14. Tromsø – Kami pilih karena kami penasaran dengan kota ini. Terkenal banget buat hunting Nothern Lights;
  15. Narvik – Kota terakhir di Norway, sebelum melanjutkan trip kami menyebrang ke Sweden dengan Night Train selama 17 jam;
  16. Night Train Narvik to Stockholm – Menggunakan SJ Train, dan menempuh waktu 17 jam;
  17. Stockholm – Kami pilih Stockholm untuk city tour. Yeah, setelah belasan hari berada di alam, we need city tour too;
  18. Stockholm – Menjadi malam terkahir kami dalam trip ini.
Setelah ketemu 18 tempat ini, yang sudah kami intipin satu satu airbnbnya, kami browsing satu demi satu kota, lalu bandingkan mana airbnb yang paling affordable, selain itu juga yang tempatnya paling seru! Semua penginepan kami menggunakan airbnb kecuali Flåm, yang memang setelah bolak balik diotak atik, nggak ketemu juga airbnb yang sanggup kami bayar.
Sampai di sini, saya sudah sangat lega. Sudah jelas runutan trip kami, sudah selesai itinerary kasar fix kami (setelah bolak balik dicoret sejak bulan Januari, baru beres sekitar awal bulan Juni).
Barulah kemudian kami bikin itinerary rinci, kami buat terlebih dulu masing masing hari ada di mana, dan kami list tempat tempat yang mau kami kunjungin di daerah situ. Belum sampai di situ, kemudian kami cari jam pasti dari jadwal bus/kereta api apa yang bakal membawa kami dari satu tempat ke tempat lain, termasuk di mana lokasi stasiun/bus stopnya. Lalu kami buat estimasi waktu di setiap tempat. Karena kami banyak hiking, dan referensi tempat tempat hiking kami dari blog orang luar, kami memberi estimasi 1-2 jam lebih lama dari estimasi yang disediakan di masing masing blog referensi. Maklum, speed mereka hiking lebih cepet, langkah lebih lebar, dan mereka nggak berhenti sebanyak kami, baik istirahat atau foto foto aja.
Untuk referensi tempat tempat hiking, saya banyak membaca dari blognya Paklik Cody Duncan di 68north, dan blog Pakde Oliver Descoeudres di Hiking the World. Selain itu juga browsing browsing di Tripadvisor dan Instagram.
Untuk tempat tempat hiking kami, akan saya buat postingan satu demi satu nanti ya. Biar lebih mempermudah untuk cari referensi hiking di Norway versi Mas Bardiq.
Biasanya, saya nggak pernah ngeshare itinerary rinci saya di blog. Tapi yah, saking senengnya saya dengan banyak cobaan saat bikin itineraray yang bikin stres, saya share di sini ya.
Please click me. 🙂
Tapi kamu sendiri tahulah, biarpun nyusun itinerary sendiri kayak gini kadang bikin stres, tapi saya menikmati setiap prosesnya. Exactly where I found the fun, apalagi saat satu demi satu hal yang bikin stres ketemu jalan keluarnya.
Sudah, cukup sampai di sini aja curhatan saya tentang menyusun itinerary ke Norway dan Stockholm. Hope it helps.
Advertisements

8 thoughts on “Secuil Curhat Menyusun Itinerary ke Norway

  1. SERU BACA CERITA PERSIAPANMU, MAS! Salah satu hal terseru dalam sebuah perjalanan itu menurutku memang menyusun itinerary.

    Sama, mas. Aku juga tipe planned traveler, meski nggak terlalu kaku (nggak sampai menentukan jam-jam an). Sebelum berangkat, aku udah browsing tempat2 wisata yang mau dikunjungi dan kapan mengunjunginya, transportasi umumnya, lalu book hotel dengan lokasi yang pas. Pernah sekali ngetrip sama orang yang go-show, dan kami malah sempat konflik.

    Mas, situ kerja apa sih bisa ngetrip 22 hari? Gue aja maksimal cuti 4 hari kerja, nggak tau ya kalo dengan bujuk rayu 😀
    22 hari buat Norway (dan sedikit Stockholm) menurut gue udah lama banget. If I were you, dalam jangka waktu segitu gue udah akan nambah Finlandia dan Denmark.

    Sedih bet gue baca lu habis pulsa Rp300rb T..T

    Nggak sabar baca cerita-ceritamu, mas.

    Liked by 1 person

    1. Ahiya banget Mas. Apalagi pas mulai satu satu masalah terurai. Stres keangkat. Hahahaha.

      Sebenernya aku juga pinginnya nggak kaku sih Mas. Lebih fleksibel biasanya. Cuma ini agak susah di transport. Bus umum antar daerah jarang. Sehari bisa cuma dua kali. Jadi setelah diurut itin sehari, misal harus naik bus yang sore, cuma satu kali kesempatan naik busnya Mas. Kalo sampe keasikan/kelamaan di satu tempat terus gagal naik bus, bisa kacau Mas. Karena pasti harus nyari penginapan lagi, dan acara besok harinya terpaksa mundur. Nggak enaknya di situ aja sih. Ada tempat yang bagus dan pingin berlama lamaan, karena kepentok jadwal bus yang jarang, jadi mau nggak mau harus ditinggal. 😦

      Hahahaha. Itu dia Mas. Cuti kerjanya 14 hari. 22 udah ditambah sabtu minggu tiga kali, sama tanggal merah satu. Udah pasrah kalo nggak disetujuin Mas. Untung kantor fleksibel masalah cuti, karena memang haknya.
      Soalnya sayang Mas Nug, pas dirasain 15 hari di Norway kek kurang, mau dilama lamaain lagi. Hahahahaha. Kalo negara lain, insyaallah ada rezeki lagi, nabung lagi, baru dijelajahin lagi Mas. Ntah kapan tapi dijelajahinnya. Wkwkwkwk.

      Siap Mas, terima kasih banyak. Ada trouble nih, laptop error, nggak mau nyala. Jadi cuma bisa bikin draft di sela sela jam istirahat pake PC kantor. 😦

      Liked by 1 person

  2. Halo Mas, salam kenal. Saya follow blog Mas setelah baca cerita liburannya ke NZ (kalo ga salah inget, hahaha).
    Seru banget sih ini cerita persiapannya, ga sabar nunggu kelanjutannya. 😀

    Liked by 1 person

    1. Feeling so flattered! Terima kasih ya Mbak.
      Iya nih, udah gregetan pingin mulai ngepos ngepos, tapi balik cuti kerjaan banyak banget. Hahahahahaha.
      Sekali lagi terima kasih ya! 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s