Kulo Tresno Marang Kvlatresna

My Honest Reviews – Kvlatresna (Villa in Bantul, Yogyakarta Special Region)
Cukup lama saya tenggelam dalam rutinitas. Berbulan-bulan blog nganggur, selain kerjaan kantor yang memang lagi banyak-banyaknya, sepertinya saya juga lagi ngambek! Karena setelah trip Norway di autumn 2018 yang membuat perkonomian dan tabungan cuti tergoncang parah, selama 2019 mencoba anteng sambil mengumpulkan pundi-pundi dan cuti. Dan setelah sekian lama penantian, bisik-bisik sama travelmate buat nyusun itinerary panjang, muter otak bikin roadtrip sampai 16 hari untuk perjalanan akhir Maret 2020, musibah datang! Pandemi menyerang! Awshit.
“Emang rencananya mau ke mana Mas Bardiq?”
Nope! Canceled trip itu hukumnya tabu untuk diceritakan. But someday, I will be there. And when that time comes, I will share the stories with you. The entire story.
And….
It’s my first post as a married man!

Introducing my wife, you can simply call her Dektsal.
Jadi, selain trip akhir Maret 2020 yang memang harus dibatalkan, sebelum pandemi menyerang sebetulnya sempat membahas beberapa trip juga yang mau diexplore sama istri, beberapa tempat yang emang udah lumayan lama masuk di saved folder di Instagram. Berbeda dengan trip akhir Maret 2020 yang beneran tinggal berangkat, trip bareng istri ternyata nggak perlu ngajuin proses refund apa-apa, karena preparationnya masih melompong besar. Ya sudah, hikmahnya disuruh nabung dulu yang banyak, biar ketika beres trip nanti, perekonomian nggak dedel duel.
Dalam sejarah pertravelingan saya, belum pernah saya menyisakan cuti ataupun tabungan untuk staycation. Tapi untuk momen yang satu ini, setelah jenuh karena nggak bepergian sejak Maret, penat setelah membongkar ulang acara nikahan secara massive, yes we deserve some time to be ‘just us’ in some moments. Jadilah kami berdua memutuskan untuk staycation. Agak-agak aneh untuk saya pada awalnya, karena sebenernya saya sendiri kurang bisa menikmati konsep dari staycation. Biasanya mah cari tempat nginep ya yang penting nyaman, nggak penting yang WAH atau cemana ya kan, toh juga cuma untuk istirahat dan naruh barang. Karena selama traveling sejauh ini selalu lebih banyak di luar penginepan. So, let’s try it!
Dari sekian banyak villa/resort yang kami lirik di sekitar Semarang – Magelang – Jogja muncul beberapa tempat: Di sekitaran Bantul ada Yabbiekayu, Portum Villa, Villa Saluka, lalu beberapa villa di Salatiga, sampai beberapa hotel seperti Plataran, Yatscolony, sampai MesaStila.
Hmm.. pusing juga ya milih tempat buat staycation.
Akhirnya setelah membandingkan satu demi satu, dari harga, dari review, dari foto-fotonya, kami memilih Kvlatresna di daerah Bantul. Banyak tanggapan dari beberapa temen yang kami ceritain mau nginap di Kvlatresna dari yang “Wah, gue tau tempat itu tuh. Reviewnya bagus kok.” sampai “Di Bantul? Bantul kan panas yak? Ngapain ke Bantul, cari tempat yang dingin dingin aja laah.”
Dan jawaban saya untuk respon-respon itu, “Ntar yak, gue bikinin review di blog, ntar pada baca.”
Jadi, selamat datang saya ucapkan bagi wan kawan yang sampai pada postingan ini karena lagi cari review tentang Kvlatresna, saya ceritakan kenapa kulo tresno marang Kvlatresna (aku cinta dengan Kvlatresna).
Kvla, pronounced Kula = aku, tresna = cinta. Kvaltresna = Kucinta, adalah sebuah authentic villa di tengah hutan jati di desa Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jauh dari kota, ramai ditemani jangkrik dan belalang, meski saat kemarau angin terasa hangat menyapa di sela daun jendela-jendela yang kami biarkan terbuka lebar. Tapi jangan tanya kenapa mereka menggunakan ‘V’, instead of a ‘U’, mungkin ownernya terinspirasi dari Repvblik?
Setelah berkendara hampir satu jam dari rumah mertua di ujung Sleman dan sempet mampir di swalayan untuk membeli bahan makanan, kami sampai di sebuah titik yang diarahkan google maps. Sebuah gerbang dari kayu lebar ada di sisi selatan. Saya memarkir sepeda motor sejenak, melepas helm yang mulai terasa sangat gerah. Dektsal turun dan memencet-mencet HPnya, mencari kontak Mas Tiko dan mendekatkan HP di telinganya, ngobrol sebentar sebelum Dektsal mencoba mendorong pintu gerbang agar terbuka sedikit lalu menyelinap.

Saya membuka gerbang lebih lebar lagi, mencoba agar sepeda motor saya bisa masuk. Ada Mbak Imah yang kemudian menyambut kami ramah. Saya tersenyum membalas sapanya. Mbak Imah mengajak kami masuk ke sisi timur bangunan. Saya memarkir sepeda motor, mengecek sekali lagi barang-barang yang perlu saya bawa masuk, dan mengikuti langkah Mbak Imah melewati jalanan kecil dari kerikil sebelum berbelok pada tembok dari tumpukan batu.

Di baliknya, sebuah bangunan dengan tembok dan pintu kayu bercat putih menyapa kami. Mbak Imah membuka pintu, mempersilakan kami masuk, dan dengan cekatan menyulap dua baris dinding dari kayu di ujung ruangan yang awalnya nampak seperti jendela, tetapi memiliki poros di kusen penyangga di tengahnya sehingga bisa diputar 90 derajat.
Monggo Mas, Mbak masuk.”

Kami disambut sebuah ruangan luas dengan tegel berwarna oranye dengan ranjang lebar yang paling mencuri perhatian diletakkan tepat di tengah-tengah ruangan, dengan empat pilar mengeliling dan tirai yang menjuntai namun diikat rapih di setiap pilar.
Ranjang dengan sprei serba putih menghadap pintu-pintu terbuat dari kaca lebar di seberang ruangan, yang menyajikan pohon pisang berjejer dan disambut hutan pohon jati di baliknya.
Tepat di sebelah jendela putar yang tadi saya ceritakan, dinding dari kaca besar membentang dengan meja kerja ditata di tepinya bersanding sebuah kursi.

Sebuah sofa bulat penuh bantal dengan lampu menggantung di atasnya memaksa saya untuk duduk sejenak, menjajal empuknya sebelum terpaksa beranjak karena terlalu tertarik dengan hal-hal lain di villa ini.

Ini meja makan dan dapurnya, ada peralatan masaknya juga.”

Sebuah meja dari kayu lebar dengan dua pasang kursi saling berhadapan berada tak jauh dari dapur dengan meja bar bewarna putih. Di sepanjang dinding pada dapur dipasang cermin membentang sampai tepian dapur, dengan sebuah kulkas satu pintu.
Ini kamarnya rajin dibersihkan lho Mas, dilap satu-satu sampai yang di sela-sela jendela ini juga dilap. Kacanya dua-tiga hari sekali dibersihkan juga.”

Mbak Imah mengajak saya ke balcony tanpa pagar yang terhubung langsung dengan kamar. Berlantaikan kayu yang dipasang berjejer sekitar dua meter. Dan sebuah bean bag bermotif garis-garis biru abu-abu. Lantai kayu terasa bersih tak berdebu, padahal selalu diterpa angin, mengiyakan pernyataan Mbak Imah kalau setiap sudut villa ini memang rutin dibersihkan.

Di sini kamar mandinya Mas.”

Mbak Imah kembali mengajak kami ke dalam villa. Pintu menuju kamar mandi tepat berada di sebelah kanan saat saya pertama kali memasuki villa. Sepasang pintu kayu bercat putih menyambut saya menuju kamar mandi.

Ada dua bagian pada kamar mandinya, di sisi indoor yang sekaligus menjadi dressing room dilengkapi lemari besar dari kayu yang dipasang menempel pada dinding. Lalu cermin lebar dan dua wastafel sebelum sebuah pintu kaca sebagai akses menuju kamar mandi sisi outdoor.

Kamar mandi sisi outdoor berukuran sekitar 3×4 meter berdindingkan batu, dengan kerikil mengisi lantainya. Khusus untuk area shower lantai menggunakan kayu agar tak terasa panas saat siang hari. Semua urusan kamar mandi yang membuatmu basah ada di sisi outdoor. Shower yang dipasang pada sebuah pohon tepat di tengah area, dengan bunga anggrek bermekaran yang menjuntai. Sebuah bathtub beratapkan langit dengan keran berwana emas. Khusus untuk WC duduknya, disediakan atap agar kamu nggak kehujanan atau kepanasan saat buang hajat.

Sebelum meninggalkan kami, Mbak Imah menawarkan makan siang bisa dipesan nggak jauh dari villa kami. Ada Sirjakula, rumah makan yang masih satu area dan menawarkan makanan plant based. Salah satu menunya, Gula Asem Dingin sempat kami cicipin sebagai welcome drink.
Menjawab tawaran Mbak Imah, kami hanya mengiyakan sambil tertawa ala kadarnya, karena sudah merencanakan akan selalu masak di setiap kesempatan. Apalagi peralatan masaknya lengkap cuuy.

This slideshow requires JavaScript.

Saya memang belum sependapat dengan konsep staycation. Namun, tiga hari dua malam yang saya habiskan di Kvlatresna menjadi saat-saat yang ternyata sangat bisa saya nikmatin. Dengan ketenangannya, suasananya yang jauh dari hiruk pikuk, terhindar dari bising dan suara klakson.

Saya menyukai setiap sisi dan detil yang dipilih untuk mengisi Kvlatresna. Pemilihan warna dan bahannya terasa serasi dan nyaman, penempatan jendela-jendela yang lebar membuat ruangan yang sudah luas terasa sangat lega, sirkulasi udaranya yang apik membuat suhu di puncak kemarau pesisir Yogyakarta jauh lebih tertolong meskipun dua buah AC tidak kami nyalakan saat siang hari.
Penataan perabot yang minimalis dan modern, and of course the outdoor bathroom which I like the most. I could do stargaze while having a night bath! Jangan tanya kalau hujan gimana, ya pasti kehujanan. Hehehehehe.
Untuk orang-orang seperti saya yang selalu ingin untuk explore, tentu ada kalanya merasa bosan meskipun semua hal yang ditawarkan Kvaltresna sudah pas bahkan melebihi ekspektasi dari sebuah staycation di area Yogyakarta. Jangan mau diam saja kalau gitu, Kvlatresna punya dua buah sepeda yang bisa kamu pinjam untuk menelusuri jalanan desa di tengah hutan jati lebih jauh lagi.

This slideshow requires JavaScript.

Pun lagi, ada tiga buah curug yang bisa kamu datengin: Pulosari, Banyunibo, dan Pengilon yang bisa jadi area main kamu. Kecualiiiii, kalau kamu berkunjung saat musim kemarau seperti kami yang ketiga curug nggak ada airnya. Huhuhuhuhu.

This slideshow requires JavaScript.

Lokasi Kvlatresna bisa kamu cek di sini.
Memang sulit dijangkau dengan kendaraan umum, tetapi ojek online sudah sangat bisa kok sampai ke sini. Kalau malam-malam butuh cemilan tinggal pencet pencet aplikasi juga bisa, meskipun pilihan menu tak sebanyak di pusat kota Yogya, dan ongkirnya bisa bikin senyum sepet.

Untuk harga… hahahaha. Ini dia. For me… yea, it’s pricey. Apalagi setiap saya traveling, biaya penginapan selalu jadi anggaran yang bisa dihemat habis-habisan. Dari semua platform sudah saya bandingin, mana yang nawain harga paling murah. Ternyata harganya beda-beda tipis. Saya yang punya credit di Airbnb ternyata setelah saya hitung-hitung lebih murah reserve ke ownernya langsung. Harga per malem kami dapat 1,5ish IDR tanpa breakfast.
Untuk reservasinya bisa langsung dari websitenya, (kulatresna.com), langsung via WhatsApp ownernya Mas Tiko (+62 818 433 188), by email info@kulatresna.com, atau bisa juga melalui aplikasi pemesanan seperti Airbnb atau Agoda.

Sabtu siang setelah kami check out, kami nyempetin mampir ke Sirjakula, sepertinya wajib mencoba beberapa menu yang ditawarkan. “Harus nyobain makan di Sirjakulanya lah Mas Bardiq, justru plant based food-nya itu yang dicari orang, “ begini deh komentar salah satu temen saya. Yodah manut.
Jadi baiklah, mari kita pesan beberapa menu di Sirjakula sebelum meninggalkan villa yang asik banget ini.
I’m not good at reviewing a hotel, but I just did try, didn’t I? But for food, hands up, I give up. Mungkin ada jiwa Joey Tribbiani dalam diri saya. Review makanan di lidah saya cuma bisa enak atau enak banget. Hahahaha.
Well, let me drop some Sirjakula pictures below.

This slideshow requires JavaScript.

2 thoughts on “Kulo Tresno Marang Kvlatresna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.