Day 3 in Norway, “The Capital of Norge to the Arctic Circle”

9 September 2018: Flåm, Oslo, Bodø
Alarm pagi membangunkan saya, dengan malas-malasan saya mencoba segera mematikannya. Tidak enaknya kamar dorm adalah bagaimana saya harus tidak berisik. Urusan bangun pagilah yang paling susah, karena alarm sholat subuh saya akan meraung-raung sebelum orang lain berencana untuk bangun pagi.
Saya berbaring sebentar. Merangkai kesadaran sebelum memaksa badan yang terasa remuk ini untuk beranjak dari ranjang. Sama seperti pagi sebelumnya, badan saya pegel semua, ada rasa ngantuk yang belum terbayar. Di kegelapan saya mencoba menerka-nerka situasi di kamar, dari enam kasur ternyata cuma tiga yang terisi. Saya, Adityo masih tidur, dan satu lagi cewek dari Australia yang katanya pagi-pagi sekali akan berangkat menuju Tyssedal – juga masih tidur.
Saya menuruni tangga pelan-pelan sekali karena setiap pijakan saya meninggalkan surat kreat kreot, takut membangunkan tamu lain. Yang saya suka dari bangun paling pagi adalah saya bisa menggunakan kamar mandi dengan leluasa. Dan benar saja, seisi hostel sepertinya baru saya yang bangun, di luar masih gelap dan sepi mengisi bangunan tua itu.
Kembali dari kamar mandi, kamar masih gelap tapi saya bisa melihat Adityo sudah duduk di atas lantai, merapikan barang bawaannya. Si cewek asal Australia juga sudah mulai berkemas. “Good morning,” saya menyapa. Dia tersenyum sambil membalas sapaan saya.
Setelah semua barang-barang saya tersumpal masuk ke dalam ransel, kami turun ke dapur dengan membawa bungkus spaghetti instant, yang ternyata pas kami buka cuma spaghettinya doang, nggak ada bumbunya. Saya salah beli dan terpaksa saya balik lagi ke kamar buat ambil Indomie Rebus rasa Soto Mie. Sebenernya saya membatasi buat makan Indomie, cukup setiap tiga hari sekali, tapi pagi itu saya terpaksa sarapan dengan Indomie lagi.
Dan pagi itu kami melakukan satu kesalahan besar: spaghetti yang kami kira salah beli itu kami tinggal di salah satu cabinet di dapur. Padahal kan bisa ya, tinggal beli bumbu spaghetti sachetan di super market. 😦
Saat kami kembali ke kamar untuk mengambil ransel agar segera berangkat menuju stasiun Flåm, saya menemukan si cewek Australia sedang menggerutu. Ternyata pizza yang tadi malam tergeletak di atas meja dapur miliknya. Dia sisakan untuk sarapan, saat dia berniat untuk sarapan, tinggal kardusnya aja, isinya melompong.
It is so rude! And they left the empty box for me, not even tried to put it on the trash!
Kami yang awalnya mau minta nebeng sampai ke stasiun langsung mengurungkan niat. Ogah ah, dari pada kena semprot.
Kereta kami akan berangkat dari Flåm jam 08.35 menuju Myrdal. Jadi jam 07.30 kami check out dari hostel kami. Nggak perlu balikin kunci atau apapun, kami cuma diminta melepas sprei dan melipatnya di atas kasur.
Langit masih mendung, dan sesekali terasa gerimis. Saya berdoa agar hujan ditunda dulu paling tidak sampai kami naik ke atas kereta api.
Bangunan-bangunan ini masih bagian dari hostel kami, tapi jenis room yang berbeda. Kalo kami mah pilih yang paling murah aja, yang penting bisa ngerebahin punggung.
Sampai di stasiun ternyata sudah banyak banget turis, dan saya yakin mereka semua juga menunggu keberangkatan kereta api yang sama dengan kami. Gerbong-gerbong kereta api sudah berjejer, tapi pintu masuk untuk antrean naik ke dalam gerbong masih dipalang dengan rantai. Jadi kami duduk-duduk saja sambil mengambil beberapa foto di sekitar stasiun.

This slideshow requires JavaScript.

Jam 08.15 para penumpang dipersilakan untuk naik. Para turis langsung menyerbu gerbong kereta api. Kami? Santai aja, sana gih pada duluan. Justru, kami sengaja untuk naik ke gerbong belakangan agar kami bisa tau gerbong mana yang paling sepi. Toh juga masih 10 menit lagi berangkatnya. Jadi kami memilih buat foto-foto dulu, mumpung platform sepi.
Photographed by: @prabowoadityo.

Perjalanan dari Flåm ke Myrdal menggunakan kereta api wisata yang sengaja didesign klasik dengan kursi berhadap-hadapan. The Flåm Railway, adalah perjalanan sekitar satu jam dengan rute membelah alam liar Norway. Gunung, lembah, air terjun tak henti-hentinya menemani kami. Railway ini merupakan salah satu dari world’s steepest railways dan sering dinobatkan sebagai “Ei Av verdas vakreste togreiser” atau dalam basa Jawa: One of the world’s rost beautiful train journeys. Saya tidak menyangkal, sepanjang perjalanan kami ribut gonta ganti sisi tempat duduk karena sisi jendela kanan dan kiri bersaingan memamerkan pemandangan yang membuat kami melongo, membuat kami sampai tak sempat mengarahkan kamera dan membidik.
Perjalanan kereta api dari Flåm ke Myrdal adalah sebagian dari serangkaian perjalanan luar biasa indah Norway in A Nutshell.  Untuk lebih detailnya, mampir aja ke tulisan saya tentang mengatur sendiri perjalanan Norway in A Nutshell ya.
Ini beberapa foto yang sempat saya abadikan selama perjalanan ke Myrdal:

Hasil jepretan Adityo. Seru ya ekspresi orang-orang ini.
Flåm adalah sebuah desa di Aurland Municipality di Sogn og Fjordane County. Satu hari satu malam di Flåm meninggalkan kesan bahwa Flåm sudah menjadi daerah wisata. Kami banyak berpapasan dengan turis juga banyak sekali penginapan di daerah sini. Meskipun begitu, Flåm tetap terasa sejuk dan tenang. Sampai jumpa lagi Flåm.
Kereta api sempat berhenti di tepi Kjosfossen (Air terjun Kjos) dengan fasilitas untuk turis berupa plataran yang diberi pagar pembatas. Begitu kereta api berhenti dan ada instruksi dari masinis yang bisa didengar dari speaker, para turis langsung turun dan membanjir.

Dan seperti biasa, saya menunggu semua turis untuk naik, agar bisa mendapatkan view air terjun ini untuk saya seorang diri.

This slideshow requires JavaScript.

Kereta api sampai di Myrdal hampir jam 09.30, sedangkan kereta api kami selanjutnya masih pukul 09.50 dengan tujuan Oslo. Begitu kami menginjakkan kaki di stasiun Myrdal, udara dingin langsung menghempas, angin meniupi kulit dari sela-sela jaket karena resletingnya memang sengaja tidak saya tutup.
Myrdal berada di ketinggian hampir 900 meter, berada di pegunungan dan stasiun ini adalah satu-satunya akses untuk mengunjungi desa kecil ini.

This slideshow requires JavaScript.

Ohyes, pas lagi saya ngefotoin si Adit, ada beberapa turis yang sengaja photobombing:

Hahahaha. And I asked these strangers to join a group selfie instead.
Saya seneng lihat foto ini, Ibu Ibu di belakang pun ikutan senyum, padahal di foto sebelumnya dia pasang muka cuek.
Kereta api kami datang. Kereta ini sama dengan yang kami naiki dari Bergen menuju Voss. Jadi sebetulnya kamu bisa berangkat dari Bergen langsung ke Oslo dengan kereta api secara direct. Tanpa harus mengikuti rute Norway in A Nutshell. Biasanya para turis yang landing terlebih dulu di Oslo, lalu ber-Norway in A Nutshell dari Oslo ke Bergen, nanti bakalan balik lagi ke Oslo dengan kereta api rute ini (atau pesawat). Tentu saja harga tiketnya tidak semahal rute Norway in A Nutshell. Emang berapa sih harga tiket Norway in A Nutshell? Yuk, sudah saya bahas tuntas di tulisan saya ini.
Perjalanan dari Myrdal ke Oslo seharusnya memakan waktu sekitar lima jam. Berbeda dengan kereta api dari Flåm ke Myrdal yang bisa duduk bebas di mana aja, di rute ini pada tiket kami tertera nomor gerbong dan kursi: Gerbong 7 kursi nomor 26. Kereta ini melewati pegunungan Norway dengan pemandangan yang tak kalah cantik dengan yang kami lewati saat perjalanan dari Flåm ke Myrdal tadi. Bahkan kami melewati danau-danau di atas gunung. Gunung-gunungnya pun berbeda, sebagian tak lagi hijau tapi berwarna coklat tandus, beberapa tempat tertutup salju, dan sungai-sungai dari lelehan salju. Sayangnya cuma satu: keretanya jalannya cepet banget. Tapi saya sempet dapet beberapa foto cantik.

This slideshow requires JavaScript.

Jam 13.15, setelah melewati stasiun Vikersund kereta api kami berhenti cukup lama, padahal bukan stasiun juga. Sampai kemudian ada accouncement tapi pakai Bahasa Norwegia, kami nggak paham dan orang-orang mulai berisik, ada beberapa yang sampai berdiri. Ada yang nggak beres nih. Kami di Oslo cuma sebentar, karena akan melanjutkan perjalanan dari Oslo ke Bodø dengan pesawat jam 19.25. Kami udah merencanakan makan siang di Oslo sebentar sebelum bergegas ke bandara. Dan harus sampai di bandara sekitar jam 18.30.
Saya coba cek aplikasi NSB, karena setahu saya aplikasi ini kasih updatean kereta api secara realtime. Betul aja, ada notifikasi dengan warning sign. Jalur kereta api Vikersund ke Hokksund ditutup, jadi kereta api akan bergerak mundur kembali ke Hønefoss. Lalu kereta api akan bergerak langsung dari Hønefoss ke Oslo. Kereta api tidak akan berhenti di stasiun Vikersund, Hokksund, Drammen, Asker, dan Sandvika. Penumpang yang akan turun di stasiun-stasiun itu akan dicarikan transportasi alernatif lain. Delays are to be expected.
Ehehehehe. Mulai panik? Belum sih, tapi udah khawatir karena memang kereta api tak juga segera bergerak mundur kembali ke Hønefoss. Ada sekitar 15 menit sebelum akhirnya kereta api ini bergerak. Saya sampe kirim email ke Travel Insurance, nanyain dokumen apa aja yang saya butuhin untuk claim semisal kami telat sampai di bandara dan terpaksa nginap satu malam di Oslo.
Setelah kereta api sampai di Hønefoss, beberapa penumpang turun, tapi kereta api juga nggak segera jalan. Kami sempet ngebayangin cari hotel yang bagusan di Oslo karena bakal diganti Asuransi. Hehehehehe.
Hønefoss.
Jadi sampe Oslo jam berapa nih Mas Bardiq? Jadi nginep hotel di Oslo kagak
Enggak. Kereta api kami sampai di Oslo jam 15.45. Bahkan masih sempat makan siang di Oslo. Kami googling singkat, tempat makan yang paling hits di dekat stasiun Oslo. Beberapa merekomendasikan Mathallen, lokasinya hanya 1.7 kilometer.

This slideshow requires JavaScript.

Begitu kami sampai di Stasiun Oslo, kami nyempetin buat beli tiket kereta api dari Oslo Central Station di vending machine NSB. Dari googling singkat, ada dua kereta yang berangkat dari Oslo Central Station di Oslo Lufthavn (Oslo Airport). Satu dioperasikan oleh NSB, satu lagi express train dioperasikan oleh Flytoget. Keduanya sekitar 30 menit, beda dikit. Kereta dari NSB akan berhenti di Lillestrøm baru kemudian akan ke Lufthavn di Gandermoen sedangkan express train punya Flytoget direct, itu aja bedanya. Harganya? Flytoget mematok harga 270 NOK sedangkan NSB hanya 101 NOK, nggak sampe setengahnya cuy. Tentu saja kami beli tiket dari NSB. Kereta api kami bakal berangkat jam 17.40an, cukup laah. Sampe bandara paling telat sekitar jam 18.30.
Kami segera menjinjing tas duffel dan menuju Mathallen untuk ngisi perut.
Satu setengah kilo tentang Oslo. Menurut saya untuk ukuran ibu kota negara, Oslo sangat sepi, tidak banyak mobil yang seliweran di atas aspal basah sehabis hujan. Kami berpapasan dengan beberapa tram dan bus. Sepanjang perjalanan pun tak banyak kami berpapasan dengan orang-orang.
Oslo adalah ibu kota Norway dan menjadi kota paling padat seantero Norwegia. Oslo berdiri sendiri sebagai suatu City atau Municipality sekaligus sebagai suatu County.
Ingat Mbak Beti yang kami temui di food staff di Flåm? Dia cerita kalau Oslo itu kota besar dan tak selalu aman. Banyak juga gang-gang sempit yang perlu dihindari oleh orang asing. Betul juga sih, kami ketemu beberapa gang kecil yang sepertinya tidak aman untuk dilewatin. Ohiya, Oslo banyak grafiiti, if you like that kind of arts, you’ll find Oslo interesting.

This slideshow requires JavaScript.

Mathallen berupa bangunan tua seperti hall besar dengan tulisan AA 1908 besar di atasnya. Apa dibangun sejak tahun 1908?
Di luar terdapat banyak meja dan kursi dengan payung taman yang dilipat, tapi tak ada satu orangpun yang duduk di sana, mungkin karena sehabis hujan jadi orang-orang lebih memilih untuk menikmati makanan di dalam.
Di dalamnya? Rame! Puluhan food stall berjejer di tepian sekeliling, lalu di sisi tengah bangunan. Belum lagi di lantai duanya! Orang-orang memenuhi ruangan. Kami sesekali sampai kesulitan untuk menembus kerumunan karena kami sadar membawa ransel-ransel besar. Kami berkeliling sekilas, banyak makanan yang tidak halal, sampai kami ketemu Italian food yang dari menunya hanya menyediakan daging sapi dan ayam. So, spaghetti it is!

This slideshow requires JavaScript.

Beres makan dan kami bergegas untuk kembali ke stasiun, karena sudah hampir jam keberangkatan kereta api ke bandara. Kami sampai di stasiun jam 17.30. Saya cek dari layar yang menampilkan jadwal kereta api, kereta api tujuan bandara jam 17.40 ada di jalur 13. Saya sampe dua kali memastikan kalo kereta api yang akan kami naiki ini betul tujuan bandara.
Tidak ada pengecekan sama sekali saat memasuki kereta api. Karena tak ada nomor tempat duduk, jadi kami asal saja duduk di tempat yang kosong. Perasaan tidak enak saat kereta api kami sama sekali tidak berhenti, ngacir aja terus dan baru 20 menitan kemudian melambat dan berhenti di sebuah stasiun. Inikah Lillestrøm tempat stasiun berhenti?
Saya menemukan nama stasiunnya: Oslo Lufthavn. Hahahaha, saya cuma bisa ketawa. “Dit, kita salah naik kereta api. Ini tuh express train yang mahil. Eheheheeheh.”
Adityo pun melongo karena merasa sama-sama bodohnya. Pantes aja design kereta apinya beda, dan emang nggak ada tulisan NSBnya sih. Semua penumpang termasuk kami turun dari kereta api. Dari platform ada pagar yang menggiring kami ke pintu keluar di hampir ujung platform. Pintu keluar otomatis yang langsung terbuka hanya dengan scan barcode yang ada di tiket. Yah, nggak ada pengecekan di awal ternyata tiket kereta discan ketika mau keluar dari platform. Mana di tiket NSB yang saya beli dari vending machine ada tulisannya “No Refund”.
Kami mendekati salah satu petugas yang berjaga di luar pagar pembatas.
I think we bought wrong tickets.” Saya menjelaskan ke petugas itu sambil menunjukkan tiket saya.*insert melas emoji here
Tanpa ngecek tiket saya dia menjawab, “Ah it’s okay. All you got to do is buy the ticket on that counter.” Dia menunjuk sebuah counter dengan jendela kaca hitam, tepat di sebelah pintu keluar otomatis. Seorang petugas saya lihat duduk di dalam counter itu. Tidak ada penalty, kami cuma diminta membeli tiket.
Kami menghampiri counter, pasang senyum melas dulu sebelum menjelaskan kalo kami salah beli tiket. Saya masih mencoba menanyakan apa yang bisa saya lakukan dengan tiket NSB, mana tau bisa dipake kan.
“I’m sorry, we’re different company.” Yak, sesuai dugaan saya. Dua operator kereta api yang berbeda. Kami beli tiket kereta api NSB sementara kereta yang kami naikin tadi dari Flytoget. Kami membayar 202 NOK untuk dua tiket NSB kami, dan sekarang harus bayar 540 NOK untuk dua tiket Flytoget. *sigh
“Okay, you can only buy one ticket. I’ll help you get through that door.” Whoala! Dia bilang saya boleh beli satu tiket untuk berdua aja. Ada orang baik yang mau bantu kami. Langsung aja saya keluarin Credit Card buat pembayaran. Dia kasih selembar tiket yang nggak tau kenapa disobek dulu di bagian bawah. Begitu tiket saya tempel di barcode scanner, dan pop! Gate terbuka, one ticket for two! Ya malu, ya seneng, ya wislah.
Ketika saya bikin tulisan ini, saya teliti lagi kesalahan-kesalahan saya. Kok bisa sih saya senggakteliti ini.
Ini foto layar jadwal di stasiun Oslo, kalo kamu perhatikan di sisi paling kiri. Ada jam keberangkatan, lalu tujuan, lalu nomor track, yang terakhir adalah operator. Jam 17.40 kereta api kode F2 tujuan Oslo Lufthavn ada di Track nomor 13 dengan operator Flytoget! Di bawahnya persis, jam 17.41 kereta api tujuan Lillestrøm dengan kode L1 ada di track nomor 9, dengan operator NSB! Yah gitu deh, rugi 270 NOK karena nggak teliti.

 

This slideshow requires JavaScript.

Oslo Lufthavn. Airport terbesar di Norway dan merupakan airport tersibuk kedua di Nordic Countries setelah Copenhagen Airport. Salah satu penerbangan yang berisiko buat kami untuk masalah bagasi. Kami nggak beli bagasi, sementara selain dua ransel besar, kami juga menenteng tas duffel isi makanan dan tripod si Adityo juga dia tenteng. Boleh masuk cabin enggak nih? Tas duffel emang udah jauh lebih kempes dari pada ketika sampai pertama kali di Norway. Kalau memang nggak boleh masuk cabin, ransum sepertinya masih bisa kami jejal-jejalkan ke ransel kami. Tinggal tripod si Adityo nih, deg-degan dia kalo tripodnya nggak boleh ditenteng ke cabin.
Setelah self check in dari kiosk Norwegian, kami sempet mampir ke Burger King buat beli makan malem. Yea, masih belum ada tanda-tanda bakal ketemu nasi dalam waktu dekat. Apalagi airbnb kami kali ini tidak ada dapurnya, jadi mau tak mau kami beli fast food untuk makan malam.

This slideshow requires JavaScript.

Sebelum ke ruang tunggu, seperti biasa, diperiksa dulu barang bawaan kami di airport security. Tas duffel kami dicek, dari semua makanan yang diperiksa, ternyata cuma satu yang diambil dan nggak boleh masuk ke cabin: minyak goreng. Hehehehe. Emang lebih dari 100 ml, saya malah lupa kalo bawa minyak goreng, karena selama ini emang belum pernah dipake. Giliran tripod si Adityo dicek dan lolos! Ternyata sejauh ini cuma Indonesia aja yang nggak memperbolehkan tripod masuk ke cabin.
Dan kami meninggalkan Ibukota Norway, untuk menjelajah Norway lebih jauh lagi, lebih dalam lagi, dan tentu lebih tinggi lagi, to the Arctic Circle!

Saat pelajaran SD dulu, kita sangat familiar dengan istilah garis ekuator atau garis khatulistiwa. Indonesia adalah salah satu negara yang dilewati oleh garis katulistiwa. Karenanya, Indonesia memiliki dua musim: kemarau dan penghujan. Dan sepanjang tahun, setiap harinya memiliki waktu gelap dan terang yang relatif seimbang. Sebetulnya nggak cocok sih kalo dibilang ‘garis’, lebih pas kalo disebut lingkar sebetulnya. Kecuali kalo kamu termasuk kaum flat earthers.
Mari kita zoom out foto bumi. Selain lingkar ekuator, ada lingkar-lingkar lintang imajiner yang lainnya, di selatannya ada Tropic of Capricorn lalu Antarctic Circle. Kalau ke utara kita ketemu Tropic of Cancer dan tentu saja Arctic Circle. Jam 20.50, pesawat kami, Norwegian, tiba di Bodø Lufthavn, A place where I was so away from home.

This slideshow requires JavaScript.

Hampir jam 9 malam dan baru mulai gelap. Anginnya kenceng bangeeeet, sepanjang perjalanan juga pesawat goncang-goncang parah, saya berkali-kali sampe pegangan kenceng hand rest, mulut komat kamit. Sejam setengah kami tersiksa, padahal penumpang lain selow aja, mungkin karena udah terbiasa terbang dengan cuaca begitu kali ya.
Airbnb kami hanya berjarak 350 meter dari airport. Kami berjalan melawan angin kencang, menembus dingin dan langit yang mulai gelap.
Airbnb kami sebuah kamar di lantai dua berupa ruangan luas dengan dapur yang hanya digunakan untuk menyimpan peralatan makan dan water heater, juga sebuah kamar mandi yang hanya ada wastafel dan toilet duduk. Shower? No. No shower. Saya sampe harus ngecek Airbnb lagi, dan ternyata memang host kami, Benedicte, menuliskan kalau tempatnya tidak punya shower. Oh.. hell.. no. Sirna sudah bayangan mandi air panas sebelum nyungsep di balik selimut.
Well, the story isn’t over yet.
Karena langit cerah, kami memutuskan peruntungan untuk berburu Northern Lights. Baru aja terlelap dua setengah jam, alarm HP membangunkan saya. Kepala sangat berat, saya sampe kerasa kebingungan karena badan kelewat capek dan tidur yang sangat kurang. Saya memaksa diri saya untuk berdiri, membuka jendela dan mendongak ke langit.
Cerah.
Berharap kalau saya bisa melihat cahaya hijau menjalar-jalar di langit dari jendela kamar. Ah, ternyata nggak semudah ini. Saya terpaksa bangunin si Adityo. “Yok, jalan ke dermaga.”
Dari hasil googling, ada yang kasih rekomendasi dermaga di Bodø buat tempat nungguin Northern Lights. Jadi setelah mengemasi barang-barang yang kami rasa perlu untuk berburu Northern Lights, kami segera menuju dermaga.
Arem-arem.
Pintu dibuka, angin kencang begitu saja menyerang kami. Kami berjalan sejauh satu kilo hingga kami menemukan dermaga dengan mercu suar yang menyala-nyala. Tak satupun kami berpapasan dengan orang, tapi kami nemu Joker Supermarket, dan langsung merencanakan untuk beli roti buat sarapan besok paginya.
Dermaga ini sebetulnya tempat yang lumayan ideal untuk menanti Northern Lights, cukup gelap. Dan saya udah mantengin aplikasi Aurora Forecast. KP Index 2.3, langit gelap dan sedikit awan. Tapi saya coba ratapi langit, nggak ada tanda-tanda cahaya berwarna hijau. Saya coba setting kamera berdasarkan artikel-artikel yang saya baca di internet. Saya coba arahkan ke utara, tapi nihil. Lama kami nungguin sampe tiba-tiba si Adityo teriak, “Whaaa! Keliatan! Noh, noh di sono noh!”
Dia yang dari tadi ngarahin kamera ke barat manggil-manggil saya. Saya masih terngiang, suaranya melengking saking senengnya. Saya coba liat pake mata tapi nggak ada apa-apa tuh. Saya berjongkok lihat ke layar kamera si Adit. EH IYA! Ada garis hijau tipis memanjang. Lah, gua kira di utara ya, namanya aja Northern Lights, lah ini keluarnya malah bukan di utara. Enggak lama, hanya sekitar 15 menit sebelum KP Index turun jadi 1.8 dan nggak ada warna hijau di langit lagi yang tertangkap kamera.
Dan inilah beberapa foto yang bisa saya ambil dari hasil hampir ngompol di celana karena nahan pipis.

This slideshow requires JavaScript.

Mau tau tips untuk berburu Aurora Borealis? Yok baca-baca tulisan saya tentang Nine Rules to Witness Northern Lights ala Mas Bardiq.
Well, after rereading this story. I kind of feel the day 3 is soooo long.
Click here to read all my stories in Norway.
Advertisements

15 thoughts on “Day 3 in Norway, “The Capital of Norge to the Arctic Circle”

  1. Wahh kereta apinya klasik macam di film2 hollywood itu mas.. sepanjang perjalanan juga disuguhkan pemandangan yang aduhai..

    Oya btw duka kita sama mas.. kamar tipe dorm memang ribut.. kemaren aku malah ada yang ngorok di samping kamar.. 😂

    Liked by 1 person

    1. Iya Bang. Karena kereta wisata ya, jadi sengaja didesign begitu. 😁

      Hahahaha. Iya Bg, untungnya selama ini nggak pernah sekamar yang ngorok, cuma nggak enak aja kalo mau tidur ada yang masih bersuara.

      Liked by 1 person

    1. Halo Mas Rizky. Ah setuju banget Mas! Salut ya, padahal Flåm rame banget sama turis dari banyak negara, tapi turisnya pun bisa kompak buat jaga kebersihan ya. Ntah kenapa kalo di Indonesia kok nggak bisa se-care ini.

      Nanti ya, saya ajak jauh ke utara lagi. Makasih udah mampir Mas Rizky.

      Like

  2. Mas Bardiq, seseneng itu aku baca tulisan hari ketiga di Norway ini. 😍 Rasanya ikut traveling sama kalian. Seru! Dan surprise banget Mas Bardiq dibolehin beli 1 tiket buat berdua gara-gara salah naik kereta. Baik banget orangnya! Hehehe. Lebih seneng lagi pas tau Mas menutup hari dengan Northern Lights. Hari ketiga luar biasa, yaa. 👍🏻👍🏻

    Liked by 1 person

    1. Halo Mbak Sintia! Makasih banget ya sudah ngikutin. 😁
      Iya Mbak, udah pasrah itu kalo disuruh bayar dua tiket, dan nggak nyangka banget kalo di negara maju petugas mau ngebantu turis dengan ngakalin gate out. 🙈

      Like

  3. Baguslah pada photobomb, daripada pada risih, hehe 😀

    Emang tricky banget ya kalo jadwal keretanya cuma beda satu menit, di stasiun yang sama, tujuan yang sama, nggak ada petugas, juga nggak ada petunjuk apa pun. Puji Tuhan terselesaikan dan tetap tiba di bandara sesuai ekspektasi, mas. Meski harus membayar sedikit mahal. Overbudget saat traveling emang harus disiapkan sih.

    Ternyata Oslo itu nggak aman juga ya, kirain aman banget.

    Liked by 1 person

    1. Iya Mas. Iseng sekalian ya, jadi selfie bareng. 😁

      Alhamdulillah Mas. Udah pasrah juga kalo emang harus bayar lagi. 😁

      Bayanganku juga nggak seperti ini kotanya Mas. Mungkin kalah pamor juga dengan Stockholm sama Copenhagen. Karena sepanjang jalan juga nggak banyak ketemu turis.

      Liked by 1 person

  4. Wah seru banget baca petulangan mas Akbar, serasa ikut travelling bareng. Saya gak sengaja nemu blog Mas akbar, karena kebetulan rencananya nov ini mau ke Norway, makanya saya browsing2 dan ketemu blog MAs Akbar yang keren dan informatif banget.

    Liked by 1 person

    1. Haaai Mbak Rina. Really glad knowing someone out there enjoying my stories. 🙂

      Waah, mulai masuk ke winter tuh ya Mbak. Jangan lupa prepare gear dan outfit untuk segala cuaca Mbak, katanya November di Norway sangat basah dan cuaca nggak tentu. But Norway is always wonderful in any weather, each month has its own charming mood.

      Semoga lancar ya. You’ll love Norway! 🙂

      Like

      1. Thank you Mas Akbar, saya follow juga IG nya mas Akbar sakin keponya.
        Baca blog Mas Akbar saja, saya langsung fall in love sm Norway. Can’t wait to be there. Keep writting yah mas Akbar, biar saya dapat info2 yang menarik.

        Liked by 1 person

      2. Waaah. Terima kasih ya Mbak. Saya kalo habis baca komen begini jadi makin semangat buat ngelanjutin cerita Norway kemaren. Maklum, tersendat banyak kesoksibukan. Hehehehehe.

        Lancar ya preparationnya!

        Like

Leave a Reply to Matius Teguh Nugroho Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.